Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Rhea pulang
"Kita mau kemana?" tanya Rhea bingung saat motor Dave berhenti di lampu merah. Dia merasa asing dengan jalan dan gedung gedung yang ada di sekitarnya.
"Ke apartemenku."
Jawaban Dave membuat Rhea langsung protes.
"Aku mau pulang."
"Ke Surabaya?" Dave menelengkan wajahnya ke arah Rhea yang langsung mengerutkan keningnya.
"Ke apartemen, Tante Puspa. Ngapain ke Surabaya," koreksi Rhea tegas.
Dave menyeringai di balik helm fullfacenya. Matanya menyorot sinis.
"Papamu sedang berada di semua apartemen milik Tante Puspa. Termasuk di apartemenmu," jelas Dave kemudian memalingkan wajahnya ke arah depan.
Tadi Tante Puspa yang memintanya membawanya ke rumah opanya sebenarnya. Tapi Dave beralasan, bisa saja Om Nazar memantau semua rumah kerabat keluarga Airlangga.
Memang perkataannya ada benarnya, karena beberapa pengawal Om Herdin melaporkan kalo ada orang orang asing berada di sekitar sebagian rumah milik keluarga Airlangga hari ini.
Tapi soal Om Nazar tau apartemen yang ditempati Rhea, hanya tebakan Dave saja.
Rhea terdiam dengan perasaan jadi kalut.
Papanya benar benar mencarinya?
Obrolan mereka tidak berlanjut lagi karena lampu lalu lintas sudah berganti warna hijau.
Motor Dave akhirmya tiba di apartemennya.
"Pacarnya, ya, mas?" sapa sekuriti kepo.
Dave hanya tertawa kemudian melewatinya memasuki area basemen.
Dalam hati Rhea mulai menduga duga kalo Dave sering bawa perempuan ke apartemennya.
"Kamu sering bawa perempuan ke apart kamu, ya?" tuduh Rhea sambil menyerahkan helmnya pada Dave.
Dave lagi lagi tertawa sambil menyantelkan helm Rhea di motornya. Dia merapikan rambutnya sebentar sambil melihat kaca spion. Rhea juga ikut melakukannya.
Dave melirik dengan senyum miring membuat Rhea yang keciduk jadi salah tingkah. Tapi kemudian bersikap cuek.
Tanpa kata Dave berjalan duluan yang diikuti Rhea dengan jantung tambah deg degan.
"Masa Tante Puspa ngijinin aku ke apartemen kamu," ngeyel Rjea ngga yakin. Sekarang mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Terpaksa, kan," jawab Dave sambil menahan tawa melihat mimik khawatir Rhea. Dia hanya mengantarkan saja gadis itu ke apartemennya.
"Mending aku di hotel aja." Rhea mau keluar dari dalam lift, tapi Dave menarik tangannya dengan tangannya yang bebas. Sedangkan tangannya yang satu lagi menekan tombol close di pintu lift.
"Udah, di sini aja."
Rhea yang tertahan menatap Dave kesal.
"Ngga akan aku apa apain."
Rhea melengos mendengarnya.
Dave hanya tersenyum miring sambil menatap Rhea.
Sejak ditolak, dia mulai memperhatikan gadis ini lebih intensif lagi.
Opanya aja bisa langsung suka, itu yang membuat dia heran. Atau opanya sudah ngga punya kandidat yang lain lagi karena sudah ngebet mau lihat dia nikah?
Dave melirik Rhea lagi yang tidak mengeluarkan protesnya lagi.
"Kamu memang bisa ngajar anak tk?" Dave jadi teringat ketakyakinan dia karena gadis yang suka.clubbing ini mengajar keponakan keponakannya.
"Udah terbukti, kan?" sahut Rhea sinis.
"Belumlah. Baru dua hari," ejek Dave.
Rhea masih menyorotkan tatapan sinisnya.
"Ngga kamu ajarin bocil bocil itu clubbing, kan?" ejek Dava lagi.
TING
Belum sempat Rhea membantah, pintu lift sudah terbuka.
"Ya enggaklah. Lagian bocil juga dilarang masuk ke club," bantah Rhea sambil menjejeri langkah Dave dengan perasaan dongkol.
"Syukurlah. Keponakanku masih polos."
Hampir saja Rhea mengeluarkan suara dengusan kesalnya.
Tapi langkah keduanya melambat ketika melihat ada dua pasangan muda yang berdiri di depan sebuah unit dan kini menatap dengan senyum penuh makna di bibir ke arah mereka.
Tante Puspa sudah antisipasi, ya, batin Dave geli.
Rhea yang tidak mengenali keempat orang itu menoleh ke arah Dave.
"Teman kamu?"
"Keponakan Tante Puspa."
Rhea lega mendengarnya karena mereka tidak hanya berdua saja di dalam unit laki laki kurang ajar itu nanti.
"Hai, kamu pasti Rhea, kan?" Nevia mengulurkan tangannya dengan ekspresi sangat ramah.
"Iya." Rhea ikut mengulurkan tangannya, membalas jabat tangan gadis cantik di depannya.
"Aku Nevia."
Rhea mengangguk.
Setelah Nevia melepaskan jabat tangannya, Karla ganti yang menjabat tangan Rhea.
"Aku Karla."
"Rhea."
"Kita berdua yang bantu tante pilihin pakaian pakaian kamu. Kamu suka?" Sambil berkata begitu Karla mengamati pakaian yang dikenakan Rhea.
"Kelihatannya pas, ya." Nevia juga ikut mengomentari setelah mengamati penampilan Rhea juga.
"Oooh... " Rhea tersenyum manis.
"Terimakasih, ya," lanjutnya lagi.
Nevia dan Karla sama sama menganggukkan kepala.
Perhatian mereka teralihkan pada pintu apartemen yang sudah dibuka Dave.
"Ayo, kita masuk," ucap Milan-suami Nevia sambil melingkarkan tangannya di bahu istrinya itu.
Haykal juga melakukan hal yang sama pada Karla.
Rhea yang ditinggal Dave, sempat menatap kedua pasangan itu dengan menebak dalam hati.
"Ini suami suami kita," tukas Nevia dengan senyum lebarnya.
"Ohya, anak anak kita ngga nakal, kan?" sela Karla teringat kalo Rhea mengajar di kindergarten Tante Puspa.
"Dia pasti ngga tau yang mana anak kita, Kar. Kita, kan, belum pernah ngasih tau yang mana anak kita," tawa Nevia berderai ketika menyadari kebingungan Rhea.
"Oh iya." Karla reflek tergelak juga menyadari kesalahannya.
"Oh ya, Kita bawa pakaian ganti buat kamu. Tante Puspa yang minta," ucap Karla.setelah tawanya mereda sambil mengulurkan goodie bag yang dia bawa.
Ooh, batin Dave mengerti kenapa mereka datang ke apartemen Rhea. Tadinya rencana Dave akan meminta Rhea membeli pakaiannya secara online di butik keluarga setelah mereka tiba di apartnya.
"Makasih, ya." Rhea bersyukur sambil menerima dua goodie bag dari tangan Karla dan Nevia.
"Sama sama," jawab kedua sepupu itu serentak.
Sementara itu Dave dan kedua suami kerabatnya, mengekorinya yang berjalan ke arah dapur.
"Sudah cocok itu jadi istri." Milan mengungkapkan juga kalimat yang sejak tadi ditahannya saat mereka bertemu tadi.
"Tapi si Dave gila juga. Bawa calon tunangan orang lain ke apartnya, " kekeh Haykal mengejek.
"Kalo kita ngga datang, pasti sudah macam macam dia," timpal Milan juga tertawa.
'Kasian, rencananya gagal total," imbuh Haykal lagi. Mengejek Dave lagi.
Dave pura pura ngga peduli, dia membuka kulkas dan mengambil botol minuman dinginnya.
Dalam hati bersyukur Abiyan dan Jayden tidak datang bersama mereka.
"Kamu memang belum pernah ketemu Rhea waktu di Surabaya?" tanya Haykal dengan tatapan selidik. Dia sudah melihat rekaman cctv pertemuan Dave dan Rhea saat menjemput anak Baim di kindergarten.
Dia juga merasa curiga dengan ekpresi keduanya yang tertangkap jelas saat itu sama sama terkejut. Walaupun Dave berusaha menyembunyikannya.
"Kalian ngga bosan nanya itu lagi?" bantah Dave jengah.
"Dia belum jadi tempat tidur kamu, kan?" tuduh Milan, sepimikiran dia dengan Jayden dan Abiyan.
"Baru mau malam ini. Tapi kalian keburu datang," kilah Dave santai.
"Sia-alan," maki Milan kemudian tergelak lagi.
Haykal juga tergelak mendengarnya.
Karya kk sll kami tunggu
apapun bakal dilakukan dgn segala cara, meskipun itu harus melukai hatinya sendiri