NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dialektika Panas dan Dingin

Surabaya di bulan ketiga bukan lagi sekadar perpindahan koordinat bagi Kania, melainkan sebuah ujian ketahanan mental. Jika Devan berurusan dengan saraf manusia yang nyata di meja operasi, Kania berurusan dengan "saraf" ego para korporat di ruang mediasi.

Pagi itu, suhu di luar sudah menyentuh 33 derajat Celsius padahal jarum jam baru menunjuk angka sembilan. Di dalam ruang rapat firma hukum tempat Kania bekerja, suasananya jauh lebih dingin bukan karena AC sentral yang dipasang maksimal, melainkan karena tatapan tajam dua pihak yang sedang bersengketa mengenai pembagian aset pelabuhan.

"Ibu Kania, saya rasa mediasi ini membuang waktu," cetus Pak Baskoro, salah satu klien dengan nada tinggi. "Pihak lawan tidak memiliki itikad baik untuk membicarakan kompensasi logistik."

Kania merapikan tumpukan berkas di depannya. Ia merasakan sebuah tendangan kecil di perutnya si kecil tampaknya ikut bereaksi terhadap ketegangan di ruangan itu. Kania menarik napas dalam, mengingat pesan Devan pagi tadi: "Jaga saturasi oksigenmu, Kania. Jangan biarkan emosi lawan menurunkan efisiensi pernapasanmu."

"Pak Baskoro," suara Kania terdengar tenang, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. "Dalam hukum, waktu yang kita 'buang' di ruangan ini jauh lebih murah daripada waktu yang akan Bapak habiskan di pengadilan selama tiga tahun ke depan. Mari kita bicara soal angka, bukan soal perasaan."

Sementara itu, di kampus kedokteran, Devan sedang menghadapi "pemberontakan" kecil. Setelah insiden "Dosen Killer yang Berlari" di bab sebelumnya, para mahasiswa mulai merasa mereka memiliki celah untuk bersikap lebih santai kepada Devan.

"Dokter Devan," interupsi seorang mahasiswa di tengah kuliah tentang Subarachnoid Hemorrhage. "Apa benar Dokter lari dari lantai empat ke parkiran cuma dalam waktu dua menit kemarin? Kami dengar Dokter bahkan hampir melompati pagar taman."

Ruang kuliah riuh dengan tawa kecil. Devan menghentikan slide presentasinya. Ia melepaskan kacamata, membersihkannya dengan kain mikrofiber sebuah gestur yang biasanya menandakan bahwa ia sedang menyiapkan serangan verbal yang mematikan.

"Saudara sekalian," Devan kembali mengenakan kacamatanya. Matanya menyapu ruangan dengan tajam. "Kecepatan saya kemarin adalah respons terhadap variabel darurat yang tidak terduga. Jika kalian bisa menunjukkan kecepatan yang sama dalam mendiagnosis perdarahan otak pada pasien IGD, saya akan memberikan kalian nilai A tanpa ujian akhir. Tapi selama kalian masih butuh sepuluh menit hanya untuk mencari letak pupil, saya sarankan kalian fokus pada layar, bukan pada gosip di kantin."

Hening. Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Devan kembali ke mode profesor robotnya, namun di balik saku jas putihnya, ia menyentuh layar ponselnya memastikan tidak ada panggilan masuk dari rumah.

Makan siang seharusnya menjadi waktu istirahat, namun sebuah panggilan telepon dari Jakarta mengacaukan ritme Kania. Itu adalah ibunya.

"Kania, Mama dengar dari teman Mama di Surabaya, kamu masuk rumah sakit karena Arlo jatuh? Kenapa nggak cerita? Kalau di Jakarta, kan ada Mama, ada supir banyak, Arlo nggak mungkin sampai jatuh begitu," suara di seberang telepon penuh dengan nada menghakimi yang dibalut perhatian.

Kania memijat pelipisnya. "Ma, itu kecelakaan kecil. Arlo sudah sehat. Devan juga sigap banget."

"Devan itu sibuk, Kania. Dia itu dokter bedah, bukan pengasuh. Kamu juga, sudah hamil besar masih saja sibuk urus kasus orang. Apa nggak sebaiknya kamu berhenti saja? Uang Devan kan sudah lebih dari cukup."

Kalimat itu memicu sesuatu dalam diri Kania. "Ma, aku di Surabaya bukan cuma buat ikut Devan. Aku punya karier sendiri di sini. Dan Arlo baik-baik saja karena kami bekerja sebagai tim. Tolong, jangan buat aku merasa gagal sebagai ibu hanya karena aku memilih untuk bekerja."

Setelah menutup telepon, Kania merasa sesak. Ia membutuhkan udara. Ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Devan.

Kania: "Dok, bisa jemput aku makan siang? Aku butuh 'reboot' sistem."

Hanya butuh sepuluh detik bagi Devan untuk membalas.

Devan: "Sepuluh menit. Tunggu di lobi. Saya baru saja menyelesaikan kuliah. Kita cari tempat dengan suhu di bawah 22 derajat."

Devan datang dengan mobil yang sudah dalam keadaan dingin maksimal. Ia melihat wajah Kania yang kuyu. Tanpa banyak bicara, ia membawa Kania ke sebuah restoran kecil yang tenang di area pemukiman kolonial.

"Mama telepon lagi?" tebak Devan sambil menyodorkan segelas air putih hangat.

Kania mengangguk lesu. "Dia bilang aku egois karena tetap kerja. Katanya Arlo jatuh itu karena aku nggak ada di rumah. Kenapa ya, Dok, setiap kali perempuan mau punya aktualisasi diri, variabel yang diserang selalu perannya sebagai ibu?"

Devan meletakkan tangannya di atas tangan Kania. "Kania, secara biologis, kamu adalah ibu yang luar biasa. Secara profesional, kamu adalah mediator yang tajam. Mama kamu menggunakan logika masa lalu untuk menilai realitas masa kini. Itu adalah kesalahan metodologi."

Kania tersenyum tipis. "Logika masa lalu ya? Tapi tetap saja rasanya sakit, Dok."

"Dengarkan saya," Devan menatap mata Kania dalam-dalam. "Kemarin, saat saya lari dari kampus, saya tidak menyalahkan kamu. Saya lari karena saya mencintai Arlo, bukan karena kamu gagal menjaganya. Jika kita terus hidup berdasarkan ekspektasi orang lain di Jakarta, kita tidak akan pernah benar-benar sampai di Surabaya."

"Makasih, Dok. Kadang aku cuma butuh dengar itu dari kamu."

"Sekarang, makan sup ikan ini. Kadar proteinnya tinggi, bagus untuk neurotransmiter kamu yang sedang lelah," perintah Devan, kembali ke mode dokter gizinya.

Sore harinya, saat Kania kembali ke kantor, ia menerima email dari sebuah firma di Jakarta. Isinya mengejutkan: Malik pria yang seharusnya dijodohkan dengan kakaknya, Najwa sedang berada di Surabaya untuk urusan bisnis dan ingin bertemu untuk membicarakan "masalah keluarga".

Kania terdiam. Malik adalah variabel dari masa lalu yang penuh komplikasi. Najwa adalah istri pertama Malik, dan Zea adalah istri kedua. Konflik mereka di Jakarta adalah alasan mengapa Kania merasa Surabaya adalah tempat pelarian yang sempurna.

"Kenapa dia harus ke sini?" gumam Kania.

Ia tahu ia harus memberitahu Devan. Devan tidak suka kejutan, terutama yang melibatkan orang-orang dari masa lalu mereka di Jakarta.

Malam itu, setelah Arlo tertidur pulas dengan buku dongeng tentang luar angkasa, Kania menunjukkan email itu kepada Devan di ruang kerja mereka. Devan membaca email tersebut dengan dahi berkerut.

"Malik. Dia ingin bertemu kamu tanpa kehadiran saya?" tanya Devan, nada suaranya berubah dingin—suhu 'Dosen Killer'-nya keluar.

"Dia bilang ini soal Najwa, Dok. Katanya ada sesuatu tentang warisan keluarga yang harus disampaikan secara langsung karena ini sensitif."

Devan menyandarkan punggungnya di kursi kerja. "Secara prosedural, masalah warisan harusnya diselesaikan lewat notaris atau pengacara keluarga. Mengajak bertemu secara personal di kota lain adalah tindakan yang memiliki motif ganda."

"Jadi menurut Dokter, aku jangan datang?"

"Bukan jangan datang," Devan berdiri, berjalan mendekati Kania. "Tapi kita akan datang bersama. Dia harus tahu bahwa di Surabaya, tidak ada lagi 'Kania yang bisa disetir'. Kamu memiliki pendamping yang ahli dalam mendeteksi anomali perilaku."

Kania tertawa, memeluk pinggang suaminya. "Dokter protektif banget ya."

"Bukan protektif, Kania. Ini adalah manajemen risiko. Saya tidak mau stres kamu hari ini ditambah oleh kehadiran Malik yang tidak efisien itu."

Malam kian larut. Surabaya akhirnya mendingin, menyisakan suara jangkrik dari taman belakang yang kini sudah dipasangi lampu sensor keamanan oleh Devan.

Di ranjang mereka, Devan membacakan jurnal medis dengan suara rendah sebuah rutinitas yang anehnya menjadi pengantar tidur paling efektif bagi Kania. Sebelum Kania benar-benar terlelap, Devan membisikkan sesuatu.

"Kania, apa pun yang Malik bawa dari Jakarta entah itu masalah Najwa atau harta jangan biarkan itu mengganggu resonansi kita di sini. Kita sudah membangun benteng di Surabaya. Jangan biarkan orang luar membawa runtuhannya kembali ke dalam."

Kania bergumam setuju dalam tidurnya, mencari kehangatan di pelukan Devan. Di tengah panasnya Surabaya dan bayang-bayang masalah dari Jakarta, mereka menyadari bahwa rumah bukanlah sebuah bangunan, melainkan sebuah sinkronisasi antara dua orang yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

Besok, mereka akan menghadapi Malik. Besok, babak baru perjuangan keluarga Dirgantara di Surabaya akan dimulai. Namun untuk malam ini, hanya ada ketenangan, napas yang teratur, dan detak jantung yang saling menyahut di bawah langit Jawa Timur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!