Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
Amelia terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ketika membuka mata, Amelia harus menutup matanya kembali karena silau. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, Amelia baru bisa menyesuaikan diri. Ia menoleh ke kanan dan kiri, menyadari bahwa dirinya berada di ruang rawat klinik atau rumah sakit. Ketika Amelia mencoba bangun, seseorang menghampiri dan membantunya.
“Bagaimana perasaanmu?”
Orang yang menanyai Amelia adalah seorang perawat.
“Kepalaku pusing,” jawab Amelia.
“Wajar saja, kau mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri cukup lama.”
Amelia panik mendengar dirinya sudah tidak sadarkan diri cukup lama. “Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” Lalu ia teringat Caelan. “Caelan! Suamiku! Bagaimana suamiku?!” Amelia langsung bangun membuat kepalanya terasa sangat pusing.
“Tenang, Nyonya.”
“Bagaimana keadaan Caelan? Katakan, dia baik-baik saja!” Amelia panik karena tidak menemukan Caelan di ruangan itu. Ia sangat takut, terjadi hal yang buruk pada Caelan. Meskipun seingat Amelia saat kecelakaan terjadi, airbag di mobil berfungsi dengan baik.
Amelia mencoba turun dari ranjang meskipun kepalanya masih pusing. Namun, perawat menahan tubuhnya.
“Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Suami Anda selamat dan juga dirawat di rumah sakit ini,” ujar perawat berusaha menenangkan Amelia.
Amelia mencengkeram lengan bawah perawat itu. “Apa lukanya parah? Aku ingin bertemu dengannya!”
“Sebentar, Nyonya. Kami perlu memeriksa Anda terlebih dahulu. Setelah itu, saya akan mengantar Anda ke ruang rawat Tuan Harrison.”
“Tapi-“
“Anda harus memerhatikan diri sendiri sebelum orang lain. Bagaimana bisa merawat suami Anda apabila Anda tidak sehat?”
Amelia terdiam. Beberapa saat kemudian dia bicara, “Aku hanya ingin tahu keadaan suamiku?”
“Saya mengerti, tapi biarkan kami memeriksa Anda dulu,” ujar perawat dengan lembut berusaha menenangkan Amelia.
“Bisakah kau panggilkan keluargaku?” pinta Amelia. “Mertua, Anna atau Simon. Mereka mungkin ada bersama Caelan, suamiku.”
Perawat itu mengangguk. “Baiklah, tunggu sebentar.” Setelah membaringkan Amelia, perawat itu keluar ruangan dan kembali beberapa saat kemudian. “Keluarga Anda sudah dihubungi, sebentar lagi akan datang. Sekarang, saya akan memeriksa Anda. Sebentar lagi dokter juga akan datang.”
Tidak lama seorang dokter masuk diikuti seorang perawat. Amelia diperiksa kemudian dokter memberi tahu hasil pemeriksaan.
“Dari hasil city scan tidak ada organ dalam yang terluka maupun perdarahan. Tidak ada tulang yang patah, hanya beberapa luka luar.” Dokter membaca catatan medis. “Kondisimu cukup baik, hanya perlu istirahat beberapa hari untuk mengembalikan stamina, dan pengobatan luka luar. Mungkin akan ada nyeri di beberapa bagian, bisa diredakan dengan pereda nyeri. Saya akan resepkan obat pereda nyeri. Rawat inap satu malam lagi untuk observasi, jika kondisi membaik, besok sudah boleh pulang.”
“Terima kasih, Dokter,” ucap Amelia. “Sekarang aku boleh pergi melihat suamiku?”
Dokter bernama Dion itu diam sesaat. Dokter Dion menatap perawat, lalu berkata dengan hati-hati. Sikap Dokter Dion membuat Amelia waswas, mungkinkan sesuatu yang buruk terjadi pada Caelan. Pikiran Amelia sudah memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin menimpa Caelan, ketika Dokter Dion menjawab.
“Tentu saja, Suster Marie akan mengantarmu.”
Perawat bernama Marie yang membantu sejak Amelia sadar tersenyum. “Mari kita lihat apakah Anda bisa berjalan sendiri.”
Dengan bantuan Marie, Amelia mencoba berdiri. Namun, kekuatan kakinya belum kembali sehingga Marie mengambilkan kursi roda. Amelia duduk di kursi roda yang didorong Marie. Di tangan kirinya masih terpasang infus, botol infus tergantung di tiang infus yang melekat di kursi roda.
Ingin rasanya Amelia menyuruh Marie mendorong kursi roda lebih cepat agar ia bisa segera menemui Caelan. Di sepanjang jalan Marie mengajak Amelia mengobrol ringan, Amelia menanggapi seadanya karena pikirannya fokus pada Caelan.
“Apakah masih jauh?” tanya Amelia tidak sabar.
“Sebentar lagi sampai,” jawab Marie, tapi perawat itu menghentikan laju kursi roda dan berjalan hingga berhadapan dengan Amelia. “Begini, Nyonya Harrison …” Marie terlihat ragu.
“Apakah keadaan Caelan buruk? Dia belum sadar atau mengalami-“ Amelia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hatinya serasa diremas ketika memikirkan kalau Caelan mengalami luka serius atau harus kehilangan fungsi salah satu bagian tubuh. Namun, semua itu masih bisa Amelia terima, asalkan Caelan masih hidup. “Katakan padaku kalau Caelan masih hidup,” pinta Amelia yang hampir menangis.
“Tuan Harrison masih hidup. Kecelakaan itu tidak menyebabkan Tuan Harrison kehilangan nyawanya. Dia sempat tidak sadar sehari penuh, tapi sekarang sudah siuman. Namun, kaki kirinya mengalami dislokasi sehingga harus digips.”
Amelia sedikit lega setelah Marie menjelaskan keadaan Caelan. Dari penuturan Marie sepertinya Caelan tidak menderita cedera yang menyebabkan nyawa terancam.
“Tolong segera antarkan aku padanya,” pinta Amelia.
“Sebentar, Nyonya. Ada hal lain yang perlu saya katakan,” ujar Marie. “Benturan yang dialami Tuan Harrison menyebabkan-“
“Amelia, kau sudah sadar.”
“Mama!” Amelia sangat senang melihat Anna. Mertuanya itu pun sama, ketika melihat Amelia, Anna langsung menghampiri dan memeluknya.
“Bagaimana perasaanmu, Sayang?” tanya Anna yan menatap Amelia penuh kasih sayang.
“Aku baik-baik saja, Ma,” jawab Amelia. “Mama dari kamar rawat Caelan? Bagaimana keadaannya? Aku ingin menemuinya.” Lalu Amelia teringat pada Emi. “Bagaimana keadaan Emi, Ma? Astaga, bagaimana bisa aku melupakan Emi.”
“Tenang, Sayang. Emi baik-baik saja, Sandra merawatnya di rumah,” jawab Anna.
“Caelan? Bagaimana dengan Caelan? Aku ingin menemuinya,” pinta Emi. “Bawa aku pada Caelan, Ma.”
Anna dan Marie saling tatap, membuat Amelia frustrasi karena tidak mengerti apa yang terjadi.
“Pasti terjadi sesuatu pada Caelan, kan? Katakan padaku!” Amelia berteriak membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka menoleh.
Anna terlihat hampir menangis. Membuat Amelia semakin panik.
“Tenang, Nyonya. Saya akan segera membawa Anda ke kamar Tuan Harrison,” ujar Marie mencoba menenangkan Amelia.
“Cepatlah! Aku ingin bertemu suamiku!” Amelia tidak bisa tenang karena orang-orang di sekitarnya bersikap misterius dan keinginannya bertemu Caelan terus ditunda. “Ada apa sebenarnya, Ma? Kumohon katakan padaku.” Amelia memohon dengan memelas.
“Amelia sayang, dengarkan Mama.” Anna menarik napas sebelum melanjutkan. “Begini, keadaan Caelan baik-baik saja. Tidak ada luka parah yang membahayakan nyawa, tapi kakinya harus digips.” Melihat wajah Amelia memucat, Anna melanjutkan menjelaskan keadaan Caelan. “Dokter bilang, keadaannya akan membaik dalam tiga empat bulan asalkan dirawat dengan baik.”
“Lalu apa masalahnya? Kenapa aku tidak boleh bertemu Caelan?” tanya Amelia tak sabar.
“Bukan tidak boleh, tapi kau harus mempersiapkan diri sebelum bertemu Caelan. Dia-“
Belum selesai Anna berbicara, Amelia berseru, “Caelan!”
Amelia berdiri, dilepaskan infus yang menghalangi pergerakannya, lalu tertatih menghampiri Caelan yang baru saja keluar dari kamar rawat tak jauh dari posisi Amelia.
Amelia berdiri di depan Caelan, memberikan senyum terbaiknya sebelum berkata, “Aku senang kau baik-baik saja. Bagaimana perasaanmu? Apa kakimu sakit? Ah, bodohnya aku, tentu saja sakit, sudah sampai digips.” Amelia menyentuh gips di kaki Caelan. “Kata dokter, kakimu akan segera pulih jika dirawat dengan baik. Aku akan merawatmu sampai sembuh.”
Amelia menatap Caelan sebab suaminya itu tidak bereaksi sama sekali padahal Amelia sudah berkata panjang lebar. Namun, ada yang aneh ketika Amelia menatap Caelan. Pria itu melihat Amelia dengan tatapan bingung.
“Kurasa hubungan kita tidak begitu baik sampai kau harus merawatku.”