Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
*****
"Bagaimana Lu?
Kau sudah menemukan markas pemimpin Serikat Bulan Darah ini? ", tanya Tumenggung Rengga menatap Ludaka yang baru saja kembali.
Dua hari mereka menyelidiki seluk-beluk markas besar Serikat Bulan Darah di Bangunan Suci Nawagraha. Mereka berdua mengandalkan kemampuan telik sandi yang dipelajari dan berhasil mengumpulkan tata letak senjata, gudang makanan, gudang senjata maupun jumlah pengikut Serikat Bulan Darah secara tepat.
"Dugaan ku, ada tempat rahasia di tempat ini Gusti Tumenggung. Aku kerap melihat Ki Bayuseta masuk ke dalam bangunan keempat dan baru keluar setelah setengah hari lebih. Aku menduga disitulah pusat sesungguhnya markas besar mereka", ujar Ludaka yang membuat Tumenggung Rengga manggut-manggut.
"Sepertinya tugas kita disini sudah selesai. Kita harus secepatnya melaporkan apa yang kita temukan pada Gusti Pangeran.
Kita tunggu malam hari agar lebih mudah bergerak turun dari tempat ini", giliran Ludaka menyetujui omongan Tumenggung Rengga.
Ketika malam hari mulai turun di kawasan Bangunan Suci Nawagraha, Tumenggung Rengga dan Ludaka bergerak hati-hati meninggalkan tempat itu. Beberapa kali hampir berpapasan dengan anggota Serikat Bulan Darah, mereka yang patuh kepada perintah Pangeran Mapanji Wijaya untuk tidak membuat keributan apapun dengan mereka, memilih untuk menghindari masalah.
Dengan sedikit susah payah Tumenggung Rengga dan Ludaka berhasil keluar dari wilayah Serikat Bulan Darah dan langsung menuju ke arah Wanua Tuntang.
Keduanya langsung menuju ke arah kediaman Rama Mpu Jambal. Tepat saat itu sedang ada pertemuan dimana Resi Mpu Lodra bersama Pandu dan Rukmaka menghadap Pangeran Mapanji Wijaya untuk bergabung dengan pengikut sang pangeran.
Tumenggung Rengga dan Ludaka segera menghormat sebelum duduk bersila.
"Kedatangan kalian pas sekali waktunya..
Oh iya perkenalkan Resi Mpu Lodra, ini adalah Tumenggung Rengga dan Ludaka dua orang kepercayaan ku yang baru ku tugaskan untuk memata-matai markas besar Serikat Bulan Darah. Tumenggung Rengga, kalian juga harus mengenal Resi Mpu Lodra, guru Wulan dan itu dua saudara seperguruan nya", Pangeran Mapanji Wijaya memperkenalkan mereka satu sama lain.
"Lantas bagaimana tugas yang aku berikan? Sudah ada hasilnya? ", lanjut Pangeran Mapanji Wijaya kemudian.
" Lapor Gusti Pangeran..
Kami sudah memata-matai bekas Bangunan Suci Nawagraha yang menjadi markas besar Serikat Bulan Darah. Disana kami menemukan bahwa kelompok ini..... "
Tumenggung Rengga dan Ludaka bergantian melaporkan apa yang mereka temukan di markas besar Serikat Bulan Darah. Hal yang paling mengejutkan adalah mereka punya hubungan dengan orang di Kotaraja Watugaluh meskipun tidak jelas siapa orang yang berhubungan dengan kelompok ini.
Hemmmmmmmmmmm...
"Jangan jangan orang ini ada hubungannya dengan sekelompok pendekar yang berusaha untuk membunuh ku selama perjalanan kemari? Menarik...!!!
Tumenggung Rengga, siapkan para prajurit kita. Besok pagi kita serbu markas Serikat Bulan Darah. Selain untuk membela rakyat yang tertindas, kita juga mencari dalang dibalik rencana pembunuhan ku", Pangeran Mapanji Wijaya mengalihkan perhatian pada Tumenggung Rengga.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran.. ", ucap Tumenggung Rengga segera.
" Orang-orang Wanua Tuntang juga siap membantu, Gusti Pangeran.. ", sahut Ki Jagabaya Panut yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya menganggukkan kepala.
" Aku punya dendam tersendiri dengan Bayuseta, Gusti Pangeran...
Aku bersama dua murid ku akan ikut serta dalam aksi Gusti Pangeran menumpas kebatilan ", Resi Mpu Lodra ikut bersuara.
Malam itu taktik pun diatur sedemikian rupa. Nararya Candrawulan yang turut hadir diam-diam kagum dengan pengaturan Pangeran Mapanji Wijaya. Ia bisa merasakan bahwa taktik yang disusun oleh Pangeran Mapanji Wijaya merupakan gabungan dari beberapa gelar perang yang diajarkan dari beberapa buku peperangan.
'Darimana dia bisa menata siasat seperti ini? Seorang senopati pun pasti akan berpikir seribu kali jika menghadapi musuh yang jumlahnya lebih banyak, tetapi ia sama sekali tidak terlihat gentar bahkan malah terlihat percaya diri. Benar-benar seorang pangeran yang penuh kejutan', batin Nararya Candrawulan.
Keesokan harinya..
Ratusan orang bergerak menuju ke arah Bangunan Suci Nawagraha. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok yang dipimpin oleh satu orang. Selain kelompok besar yang terdiri dari warga Wanua Tuntang dan para prajurit pengawal Pangeran Mapanji Wijaya, ada juga beberapa kelompok kecil yang dipimpin oleh Tumenggung Rengga yang membawahi dua puluh orang prajurit pemanah handal dan satu kelompok kecil lainnya yang dipimpin oleh Resi Mpu Lodra.
Dalam kelompok kecil ini adalah Nararya Candrawulan, Ratri, Subadra, Rukmaka dan Pandu. Mereka ditugaskan untuk memberikan serangan kejutan terlebih dahulu. Ini adalah taktik memancing ular keluar dari sarangnya. Karena itu kelompok kecil ini bergerak paling depan.
Dua orang anggota Serikat Bulan Darah yang bertugas di kaki bukit langsung menghadang kala rombongan kecil itu datang.
"Siapa kalian? Mau apa kemari? ", tanya sang anggota Serikat Bulan Darah dengan garang.
Rukmaka tanpa basa-basi langsung menghunus pedangnya dan menebas sang anggota tanpa bicara.
Chhrraaaaaasssssss...
Aaaaaarrrrrrrrrrgggggggghhh!!
Sang anggota Serikat Bulan Darah itu langsung tersungkur bermandikan darah segar. Kawannya yang di belakang langsung tahu bahwa tujuan kedatangan orang-orang ini jelas tidak baik. Dia langsung meniup peluit yang merupakan isyarat tanda bahaya sekuat tenaga.
Prrriiiiiiiiiiittttttttt!!!!
Ratri langsung mengayunkan pedangnya ke arah sang anggota Serikat Bulan Darah yang sedang berlari menuju ke arah pintu gerbang markas besar mereka. Tebasan itu langsung mengantarkan nya menemui ajal.
Rupa-rupanya tanda bahaya itu benar-benar bekerja. Dalam hitungan detik puluhan orang berpakaian merah hitam yang mengenakan kalung berbandul bulan sabit terbalik berwarna merah muncul dengan senjata terhunus. Melihat kawan mereka terbunuh, tanpa harus diperintah puluhan orang itu langsung menerjang ke arah kelompok Resi Mpu Lodra.
Pertarungan antara mereka pun segera terjadi.
Suara nyaring peluit tadi juga membuat seorang lelaki berbadan tegap berpakaian seperti seorang bangsawan dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah bangunan. Dia langsung memanggil seorang anggota Serikat Bulan Darah yang sedang berlari ke arah pintu gerbang.
"Ada apa diluar?? Kenapa sampai membunyikan peluit tanda bahaya? ", tanya lelaki yang kira-kira berusia antara 3 dasawarsa ini.
" Ampun Tuan Penjaga..
Ada sekelompok orang yang membuat keributan. Kata kawan saya tadi, mereka sepertinya adalah pendekar aliran putih. Ini saya mau membantu kawan-kawan", jawab si anggota Serikat Bulan Darah segera.
Cihhhhhhhh....!
"Siapa yang cari mati sih? Cepat antar aku menemui mereka.. ", geram lelaki bertubuh tegap dengan kumis tipis itu segera. Keduanya segera berlari menuju ke arah pintu gerbang.
Tetapi sebelum sampai, seorang lelaki bertubuh gempal berpapasan dengan mereka. Lelaki ini memiliki wajah tak biasa dengan dua taring mencuat keluar dari bibir dan memiliki satu tanduk kecil pada dahinya. Dia adalah Wrehaspati atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tapak Siluman Gunung Karungrungan.
"Gandamana!
Apa yang sedang terjadi? Kenapa berisik sekali? Aku tidak bisa tidur siang ini", keluh Wrehaspati yang memang terlihat menguap lebar menahan kantuk.
" Aku sendiri juga tidak tahu Kakang Wrehaspati..
Tapi kata para penjaga, ada sekelompok pendekar yang datang mengacau. Kita harus segera menghentikan mereka ", ucap lelaki bertubuh tegap itu. Ya, lelaki bertubuh tegap ini adalah Gandamana, salah satu dari Empat Penjaga Arah Serikat Bulan Sabit darah bersama dengan Wrehaspati, Si Tapak Siluman. Julukan Gandamana sendiri adalah Jari Penghancur Bintang.
" Brengsek..!!!
Dasar pengganggu! Aku pasti akan mencabik-cabik mereka semua sampai mampus!", umpat Wrehaspati atau Si Tapak Siluman sambil melesat kearah pertarungan antara para pengikut Pangeran Mapanji Wijaya dengan anggota Serikat Bulan Sabit Darah. Gandamana tak mau kalah hingga segera mengejar ke arah perginya Wrehaspati.
Thhrraaaaaaaaaannnggggg thhrraaaaaaaaaannnggggg!!
Jlleeeeeeebbbbbb...
Aaauuuuuuuuggghhh!!!
Jerit kesakitan bercampur dengan darah tumpah ke bumi terdengar dari setiap anggota Serikat Bulan Darah yang tewas di tangan kelompok kecil Resi Mpu Lodra. Kemunculan Wrehaspati dan Gandamana diketahui oleh Resi Mpu Lodra yang segera memberi isyarat kepada anak buah nya untuk mundur meskipun mereka belum kalah.
Seluruh anggota kelompok kecil itu segera berlari ke arah bawah bukit. Wrehaspati yang kadung termakan amarah langsung memerintahkan untuk mengejar mereka.
"Bunuh mereka!! Jangan biarkan mereka hidup!! ", teriak kencang Wrehaspati yang membuat para anggota Serikat Bulan Darah langsung mengejar ke arah perginya kelompok kecil Resi Mpu Lodra.
Tetapi tiba-tiba..
Shhrriiiinnnggg shhrriiiinnnggg shhrriiiinnnggg shhrriiiinnnggg shhrriiiinnnggg shhrriiiinnnggg!!
Puluhan anak panah langsung menghujani orang yang sedang mengejar itu. Tak ayal mereka pun tak bisa berbuat banyak untuk bertahan.
Jlleeeeeeebbbbbb jlleeeeeeebbbbbb jlleeeeeeebbbbbb...!!
Aaaaaarrrrrrrrrrgggggggghhh!
Puluhan orang anggota Serikat Bulan Darah terjungkal dengan anak panah menembus tubuh. Yang selamat langsung berpencar menyelamatkan diri. Gandamana tahu ini adalah jebakan yang digunakan musuh untuk menarik mereka keluar dari Bangunan Suci Nawagraha.
Belum sempat Gandamana bergerak, ratusan orang bergerak dari kaki bukit dan seseorang diantaranya berteriak lantang,
"Serang!! Jangan biarkan mereka lolos..!! "