Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Yang Tidak bisa Dihindari
Untung saja Jeevan tidak memiliki luka serius saat Valerie tidak sengaja mendorongnya, kejadian itu membuat semua orang panik dan ketakutan. Hanya saja bagian pelipis sebelah kanannya terbentur bagian buritan speed boat saat jatuh.
Valerie merasa bersalah setelah melihat keadaan Jeevan yang segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian dan mengobati lukanya. Dengan membawa kotak P3K, Valerie masuk ke kamar dan lagi-lagi tanpa permisi Vale segera membuka pintu kamar yang tidak terkunci.
Sial, kejadian terulang kembali. Kecerobohan Valerie kembali membuat dirinya merasa malu di depan Jeevan. Bagaimana tidak ketika Valerie tanpa permisi hendak masuk membuka pintu kamar kapal, ia sudah melihat Jeevan melepaskan pakaian diving dan tanpa dibalut sehelai kain. Lagi-lagi Valerie melihat Jeevan telanjang untuk kesekian kalinya.
Memang benar ucapan Jeevan jika Valerie tidak perlu malu lagi karena sudah sering melihat dirinya tidak memakai pakaian lengkap. Matanya kembali membulat karena kaget, tubuhnya mendadak mematung tidak bergeming. Segera Valerie membalikkan tubuhnya untuk menghindari pemandangan yang tida boleh dilihatnya.
Berbeda dengan Jeevan yang begitu sangat santai dengan kedatangan Valerie, seolah ia sudah terbiasa dengan hal ini. Senyum ringan terlukis di bibir Jeevan seraya mengambil handuk yang ada di tempat tidur, lalu di lingkarkan ke pinggang.
"Sorry." Valerie dengan suara gugup dan menyesal sambil membalikan tubuhnya menghadap pintu yang masih terbuka.
"Seneng banget sih main masuk aja?" sindir Jeevan menggoda.
"Lagian kenapa nggak dikunci pintunya?" Valerie masih merasa menyesal memejamkan kedua bola matanya dan rasanya ingin cepat pergi dari sana.
Melihat tubuh Jeevan yang sangat bagus membuat hatinya terasa sedikit sesak, bagaimna tidak roti sobek di perut Jeevan begitu sempurna dan menggoda membuatnya enggan untuk memalingkan pandangannya.
"Kuncinya rusak, heran kapal mahal bisa kaya gini."
"Ini obatnya." Valerie memberikan kotak P3K dengan tangan kanannya namun tubuhnya masih membelakangi Jeevan.
Melihat sikap Vale membuat Jeevan terus tertawa ringan, sepertinya Valerie terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya, padahal ini bukan pertama kalinya melihat keadaan Jeevan tanpa busana.
"Kenapa masih malu, bukannya udah sering kamu lihat aku telanjang?" Jeevan terus menggoda Valerie sehingga membuatnya kesal.
"Cepet ambil nggak!"
"Aku jatuh gara-gara kamu, harusnya kamu yang obatin. Nggak lihat pelipis ku bengkak sama berdarah?"
Mau tidak mau Valerie harus mengobatinya, sesaat menarik napasnya sejenak lalu berusaha untuk tenang. Ditutupnya pintu kamar lalu Valerie membalikan tubuhnya, melihat Jeevan sudah memakai handuk. Tapi lelaki itu hanya tersenyum menyapanya membuat Valerie sedikit kesal.
Lukanya memang tidak parah tapi bengkaknya terlihat jelas, untung saja kepalanya tidak berdarah atau terluka serius. Valerie begitu cekatan mengobati Jeevan, meski sebenarnya ia merasa tidak nyaman dan sedikit ketakutan berada di sisi Jeevan yang bisa berbuat apa saja.
Masih hanya dengan handuk Jeevan di obati oleh Vale di atas tempat tidur. Jarak wajah Valerie begitu dekat sekali sehingga Jeevan bisa mendengar dekat jantungnya yang tidak beraturan.
"Kamu ketakutan ya?" tebak Jeevan bertanya saat Valerie memberikan salep menggunakan cotton bud.
Deg, tangan Valerie terdiam sesaat ketika Jeevan berbicara, napasnya terasa sampai ke bagian depan leher Valerie. Tangannya mendadak gemetaran dan begitu gugup, sebisa mungkin Valerie mencoba untuk tenang.
"Nggak siapa bilang?" tampik Valerie berbohong masih di posisi yang sama.
Tapi Jeevan tidak bisa dibohongi olehnya, detak jantung Valerie begitu terdengar sangat kencang saat bersamanya. Apalagi Valerie terlihat sedikit gugup saat setiap kali di dekatnya.
"Tenang. Aku nggak akan macem-macem, kok. Aku tahu batasan dan nggak akan pernah memaksamu buat melakukan itu."
Spontan Valerie menjauhkan Jeevan darinya, lagi-lagi tangan Valerie mendorong Jeevan begitu kuat sehingga membuatnya jatuh terpental ke lantai masih dengan menggunakan handuknya. Buukk...Jeevan jatuh tersungkur dari atas tempat tidur membuat Valerie terkejut karena telah membuat Jeevan celaka lagi.
"Jeevan!" Teriak Valerie khawatir berdiri sambil melihat ke arah Jeevan.
Rasa sakit dirasakan oleh Jeevan di bagian pinggang, kenapa Valeri begitu mudah mendorong dirinya tanpa rasa kasian dan beban. Aarghhh.....Teriak Jeevan kesakitan memegang bagian pinggangnya. Tidak lama Valerie menghampiri Jeevan yang masih mengeram kesakitan.
"Jeevan! Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Valerie menghampiri Jeevan yang mengeram kesakitan.
Dengan wajah ketakutan Valerie melihat seluruh tubuh Jeevan apakah ada luka baru yang diperbuat olehnya. Kenapa juga Valerie harus mendorongnya kembali, padahal Jeevan hanya menggoda dirinya.
"Kamu tuh seneng banget sih dorong aku?" Jeevan masih merasakan kesakitan memegang pinggangnya.
"Maaf, aku spontan. Abisnya kamu jailin aku mulu," ucap Valerie gugup dan ketakutan.
"Mana yang sakit?" tanya Valerie menatap Jeevan yang masih dalam posisi terbaring di lantai.
Deg, Jeevan terdiam saat Valerie bertanya kepadanya, ekspresi Valerie begitu menggemaskan saat dirinya gugup dan ketakutan. Membuat Jeevan sangat senang untuk terus menggodanya. Tidak lama kemudian Jeevan bangun lalu duduk di hadapan Valerie yang terlihat cemas dengan keadaannya.
Senyum simpul terlukis begitu masih dengan tatapan sendu membuat Valerie mendadak salah tingkah dan gugup, kedua bola matanya berkedip sebagai tanda bahwa dirinya sedang dilanda rasa gugup saat Jeevan menatapnya, sebisa mungkin Valerie mengendalikan perasaannya.
"Sakitnya di sini," jawab Jeevan meraih tangan kanan Valerie lalu mendekatkannya ke dada bidang Jeevan yang tidak memakai baju.
Wajah Valerie mendadak memerah merona karena malu, aliran darahnya mendidih dan detak jantungnya begitu sangat cepat tidak karuan, napasnya sedikit terdengar sesak dan lidahnya terasa kelu. Jeevan berhasil membuatnya tidak berkutik.
Tangan lembutnya menyentuh bagian dada bidang Jeevan, Valerie bisa merasakan detak jantung Jeevan yang begitu sangat cepat. Apalagi kulitnya begitu sangat lembut dan dadanya begitu kekar seperti lelaki bertubuh atletis kebanyakan. Valerie tidak bisa menahan gejolak yang ada di hatinya, saat tanna Jeevan menggenggam erat tangannya. Valerie mencoba melepaskan genggaman tangan Jeevan, namun Jeevan lebih dulu menahannya.
"Udah berapa kali kamu bikin aku celaka? Apa sengaja kamu ngelakuin ini sama aku?" tanya Jeevan dengan nada lembut sambil menatap Valerie penuh arti.
"Lepasin aku! Dan jangan pernah menggodaku lagi!" Valerie melepaskan tangannya dari genggaman Jeevan lalu pergi meninggalkannya.
Melihat kepergian Valerie membuat Jeevan hanya tersenyum ringan menatapnya, ternyata dia masih sama seperti yang dulu, sulit untuk didekati. Apakah Valerie lupa akan dirinya?
Sudah tiga hari ini keadaan tubuh Kenzie sedang tidak baik-baik saja, ia merasakan lelah dan begitu sakit di bagian tenggorokannya. Kurang istrahat dan pola makan tida teratur selama ditinggalkan Jeevan liburan membuat Kenzie sakit. Meskipun keadaan tubuhnya tidak fit tapi ia masih terus bekerja untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.
"Kapan balik? Nggak kasian sama gue lembur terus sampe kering nih otak gue?" isi pesan Kenzie kepada Jeevan saat dirinya hendak mengambil setelah jas yang dipesannya di butik milik Isabel kakak iparnya Jeevan.
Dua hari lagi ada acara pertemuan bersama relasi di kantornya, Jeevan dan Kenzie memesan setelan jas di butik Isabel. Meskipun Isabel tidak ada di sana ada Angel asistennya. Sebenarnya Kenzie sudah tidak sanggup lagi berjalan karena ia ingin sekali cepat pulang dan beristirahat. Lima menit kemudian balas pesan dari Jeevan terlihat di pesan masuk ponsel Kenzie.
"Ganggu aja lo. Gue lagi menikmati hidup sebagai pengantin baru. Mungkin seminggu lagi gue balik." Balasan pesan dari Jeevan membuat Kenzie tertawa melihatnya.
Seorang menyapa ketika Kenzie baru saja memasuki butik, senyum manis terpancar dengan sapaan ramah khas sekali pelayanan butik milik Isabel.
"Sore, Mas Ken," sapa salah seorang resepsionis butik menyapa Kenzie saat memasuki ruangan dengan senyuman manis yang ramah.
"Mbak Angel ada?" tanya Kenzie tidak kalah ramah menghampiri meja resepsionis.
"Ada di atas, langsung aja ke atas, Mas. Tapi Mbak Angel lagi ada tamu dulu, Mas Ken di suruh langsung ke atas aja katanya," jawabnya menyampaikan pesan dari Angel asisten Isabel yang sidak akrab dengannya.
"Oke, makasih ya," kata terakhir Kenzie sambil berjalan menuju lantai atas butik milik Isabel.
Tanpa curiga langkah kaki Kenzie menaiki anak tangga satu persatu menuju tempat di mana Angel berada, untuk mengambil setelan jas yang sudah dipesannya dua bulan lalu. Seharusnya Jeevan yang mengambilnya, tapi karena sedang sibuk mau tidak mau Kenzie yang mengambilnya untuk acara dua hari lagi.
Setelah sampai di lantai atas salah satu pegawai menghampiri Kenzie yang baru saja sampai, dengan ramah dan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda salam dan sapaan.
"Sore Mas Ken," sapa salah satu pegawai menghampiri Kenzie dengan membungkukkan sedikit badannya ke depan saat bertemu Kenzie.
"Mbak Angel di mana?"
"Ada di sana sedang ada tamu," jawabnya ramah masih membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan sambil menundukkan kepalanya.
"Ya udah, tolong bilangin kalau aku udah datang."
"Mbak Angel bilang kalau Mas Ken langsung menemui dia di sana," jelasnya menyampaikan pesan Angel.
Kenzie sedikit keheranan dan berpikir sejenak, mungkin tamunya hanya mengambil baju bukan untuk fitting. Tanpa berpikir panjang Kenzie segera menuju ke ruangan di mana Angel berada bersama dengan tamunya. Kenzie tidak akan lama dan tentunya tidak akan mengganggunya.
"Sore, Mbak," sapa Kenzie saat sampai di sebuah ruangan melihat Angel sedang bersama dengan seseorang perempuan.
"Sore. Lama banget sih datangnya, jasnya udah ready dari lama tuh," balas Angel berjalan menghampiri Kenzie.
Saat itu Angel sedang menemani seseorang calon pengantin perempuan fitting baju kebaya. Perempuan itu membelakangi Kenzie tanpa bisa melihat wajahnya. Angel berjalan menghampiri Kenzie meninggalkan perempuan itu bersama satu asistennya.
"Sorry, Mbak. Aku sibuk," jawab Kenzie ramah sambil tersenyum manis.
"Oh, iya. Kamu kenal dia kan?" tiba-tiba saja Angel mengenalkan Kenzie dengan seorang perempuan tamunya.
Mendengar ucapan Angel tiba-tiba saja Kenzie mengerutkan keningnya sambil menatap keheranan, siapa yang dimaksud oleh Angel? Ternyata perempuan yang dimaksud oleh Angel, tamunya itu adalah Rania yang sedang fitting baju pengantin sendirian tanpa kehadiran Biyan.
Rania mencoba untuk tidak membalikkan tubuhnya karena ia sudah mengetahui dari suaranya, bahwa lelaki yang sedang berbicara dengan Angel adalah Kenzie. Semoga saja mereka tidak harus saling menyapa satu sama lain, tapi nyatanya Angel tahu jika ternyata Rania adalah sahabat baiknya Valerie yang tidak lain adalah adik iparnya Isabel dan tentunya Angel pikir jika Kenzie pasti mengenalnya.
"Siapa?" tanya Kenzie penasaran menatap Angel begitu lekat.
"Sahabatnya Valerie, istri Jeevan," jawab Angel yang membuat Kenzie kaget bukan main dan seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi datar dan dingin.
maaf sebelumnya
narasinya itu di tiap chapter semuanya panjang
mungkin bisa dipecah untuk kenyamanan pembaca kak
sebagian pembaca ada yang sensitif liat narasi panjang satu blok penuh
cuma saran teknis aja kak 👍
semangat ya.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪