NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Kuburan

"Mmh, tau malu juga lu! Tadi gak dipikir, waktu sengaja ngelanggar larangan babe, hah?!" Mulut Babe kembali berkicau sambil melepas jewerannya saat telah keluar pagar. "Kalo lu tau malu, jangan pernah bikin kayak gini lagi. Ngerti kagak lu!"

"Iye, be. Maaf," ujar Collins dengan nada menyesal. Ia masih mengusap-ngusap telinganya yang memerah.

"Udeh, sekarang balik ke toko!" ucap pria paruh baya itu dengan melangkah lebih dulu.

Babe memang sudah curiga. Beberapa kali setiap Collins mengantar Aida pulang ke kostan, butuh waktu lama untuk kembali ke toko. Padahal setiap Collins mengantar Aida, motornya pasti lewat depan toko. Jadi tidak mungkin Babe tidak penasaran dengan apa yang dilakukan Collins di kontrakan sang wanita, hingga membutuhkan waktu sekian lama untuk kembali.

Collins mengekor Babe sambil mendorong motornya dengan kepala tertunduk.

***

Jalan tak selamanya mulus. Terkadang ada batu kerikil atau topan badai mungkin akan datang menghadang. Namun, siapkah mereka dengan sebuah fakta yang memaksa mereka untuk berpisah?

"'Kan aku udah bilang, Bang, tapi Abang gak mau dengerin!" Kembali Aida menasehati.

"Iya, maaf. Aku sebenarnya ingin memelihara kucing, tapi orang rumah gak peduli. Terutama Enyak, musuhan banget sama kucing dan tikus di dapur!"

Aida tertawa. "Ya udah, yuk!"

Motor sampai juga ke sebuah tempat pekuburan umum. Daerahnya masih asri karena banyak pohon besar yang rindang. Setelah membeli bunga tabur di depan jalan, motor kemudian parkir di sebuah jalan kecil beraspal, lalu keduanya berjalan sedikit ke dalam. Mereka berhenti pada sebuah kuburan.

Batu nisannya sudah teramat tua tapi masih bisa terbaca nama dari pemilik nisan. Aida yang hapal tempat itu, bisa memastikan setelah menyentuh nisannya. Collins membantu membersihkan kedua kuburan yang berdampingan.

"Assalamualaikum, Ibu, Ayah. Perkenalkan ini Bara ya, Yah, Ibu. Semoga Ayah dan Ibu merestui kami untuk menikah," sahut Aida yang tampak riang di sela-sela membersihkan dan memberi bunga pada kedua makam. Kemudian ia berdoa, diikuti Collins. Setelah itu ia mulai bercerita. "Waktu aku kecil, aku sering lihat Ayah membuat barang pecah belah dari keramik. Ibu juga terkadang membantu setelah memasak di dapur. Aku juga pernah membantu mereka membuat keramik, tapi sekarang sudah tidak bisa."

Collins melongo. Ia tak menyangka cerita yang baru saja ia dengar. "Du-dulu Mbak bisa melihat? Sejak kapan Mbak buta?"

"Lima tahun yang lalu. Aku kecelakaan bersama paman dan bibiku. Mereka orang tua Aning. Keduanya meninggal di tempat kejadian." Aida menunjuk sepasang kuburan lainnya, tak jauh dari sana.

"Li-lima tahun yang lalu?" Seketika jantung Collins berdetak kencang.

Aida membawanya ke sana. Setelah memastikan nisannya dengan meraba, sang wanita bicara lagi. "Lihat, ini tanggal 22 Desember lima tahun yang lalu. Mereka meninggal tepat di hari ibu."

Collins membaca kedua nisan itu. Keduanya meninggal di hari yang sama. Ia yang tengah berjongkok, syok hingga hampir terjatuh ke belakang. Kenapa dunia tak adil padanya? Kenapa?

Terbayang lagi kejadian lima tahun yang lalu dan Collins ingat betul, hari itu adalah hari di mana sang ayah memberitahunya bahwa ia akan menikah dengan sekretarisnya. Padahal sang ibu baru sebulan meninggal. Ia sangat kecewa sehingga ia mabuk-mabukan di sebuah bar.

Kecelakaan itu terjadi ketika ia pulang dalam keadaan mabuk berat dan memaksakan membawa mobil pulang. Ia bahkan tidak tahu, bagaimana kecelakaan itu terjadi dan siapa korbannya. Yang ia tahu dari sang ayah, semua korbannya tidak ada yang selamat. Sejak itu Collins tak lagi berani menyentuh minuman keras.

Jadi ... apa ia sebenarnya yang menyebabkan Aida buta? Juga penyebab kedua orang tua Aning meninggal? Manusia jahat seperti dirinya, apa pantas menikahi wanita sempurna seperti Aida? Collins menatap wanita cantik di depannya itu dengan pandangan nanar.

'Apa yang akan dikatakannya bila dia tahu, akulah penyebab segala penderitaannya? Harusnya Aning punya orang tua, dan terlebih, Mbak Aida masih punya paman dan bibi satu lagi yang bisa merawatnya. Aku seorang pembunuh, harusnya aku di penjara!'

Collins menatap kedua tangannya dengan gemetar. 'Dengan tangan ini, aku sudah merenggut kebahagiaan mereka. Masih pantaskah aku bersanding dengannya? Mendapatkan maaf saja dari mereka, harusnya aku sudah sangat bersyukur. Mbak Aida pasti bisa gila bila dia tahu dengan siapa dia akan menikah.'

Ia menatap Aida dengan wajah sendu. Wanita itu tak tahu apa yang terjadi karena sibuk membersihkan rumput liar yang menjalar di atas kedua kuburan itu. Kemudian ia memberi bunga tabur yang tersisa.

"Bang, tolong bukain." Aida menyodorkan botol air mawar pada Collins.

"Eh, iya." Collins berusaha memutar tutupnya dengan sedikit tekanan, kemudian memberikannya pada Aida.

Saat Aida menuang ke kedua kuburan itu, Collins menatap wajah wanita itu lekat. 'Ya Allah, apa karena ini kamu mempertemukan aku dengannya? Tapi kenapa kau selipkan juga rasa cinta dan sayang ini padaku, ya Allah ... Apa ini untuk menghukum semua kejahatanku? Tapi aku memang jahat telah menghancurkan keluarga dan masa depan orang lain.' Napasnya mulai sesak.

Collins mengikuti Aida mengangkat kedua tangannya untuk memanjatkan berdoa. Namun ia tak sanggup melanjutkan karena air matanya sudah terlanjur menetes.

'Kenapa tidak Kau biarkan saja aku mati saat itu juga? Aku yang sudah kehilangan tempat untuk pergi, mengapa Kau buat menjadi pendosa seperti ini? Apa salahku? Tidak cukupkah cobaan yang kau berikan sehingga kau menambahnya menjadi seorang pembunuh? Kenapa tak kau biarkan saja aku menderita dan mati membusuk di penjara agar segala kesalahanku bisa termaafkan? Kalau begini, bagaimana lagi caranya aku akan menghadapkan wajahku pada Mbak Aida, selain berlari dan menghilang. Aku tak sanggup menghadapi ini semua, ya Allah. Menghadapi kemarahannya ketika ia menyadari, siapa sebenarnya orang jahat yang telah merusak hidupnya saat ini.'

Collins memejamkan mata. 'Bagaimana caranya aku menghilang jika aku sangat mencintainya? Sanggupkah aku menghilang dari sisinya?' Teringat lagi rencana bahagia yang sudah disusun berdua. Rasanya semua itu sudah menguap seketika setelah mengetahui fakta kejam ini.

Kini ia memutar otak bagaimana cara lepas dari Aida. 'Haruskah Abang menjadi orang jahat dulu dan kau maki, atau Abang menghilang saja?' Ia membuka matanya.

Dilihatnya Aida tengah mengurut dahi. "Mbak, kamu kenapa?"

"Kepalaku sakit."

"Pusing? Mbak udah sarapan?" Collins berubah cemas.

"Udah ... tapi ini sakit." Dibukanya kedua bola mata wanita itu menghadap Collins. Kedua mata itu seperti tengah berkaca-kaca. Sepertinya ia tengah menahan nyeri yang tidak biasa. "Bang, aku mau ke dokter," rengeknya.

Collins bisa merasakan ada yang tak beres dengan Aida. Ia teringat ada rumah sakit tak jauh dari sana. Dengan segera ia berdiri dan menggendong Aida dengan kedua tangannya.

"Bang!" Wanita itu terkejut dan berpegang pada bahu Collins karena takut jatuh.

"Tenang saja Mbak, kita akan segera ke sana!" Collins berlari ke arah motor dan mendudukkan Aida di sana. Kemudian motor pun melaju ke arah jalan raya.

***

Collins syok. Untung mereka cepat sampai di rumah sakit, karena setelah itu, Aida pingsan. Wanita itu menjalani serangkaian pemeriksaan yang membuat Collins menunggu mondar-mandir di depan UGD. Setelah sekian lama, ia dipanggil dokter ke ruang praktik. Seorang dokter pria paruh baya yang botak di bagian atas kepalanya dengan rambut setengah memutih, menunggunya dengan wajah serius. "Anda siapanya ya?"

Bersambung ....

1
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
lanjut thor
Wiwi Sukaesih
aida sakit apa Thor
Baby_Miracles: sakit mata
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor.
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Wiwi Sukaesih
babe ganggu aj ni 🤣
elief
lanjut thor
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!