Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motor Kesayangan Terbakar
DEG!
Darah di sekujur tubuh Aca seolah mendidih dalam sekejap. Wajahnya yang tadi mulai merona karena suasana hangat di ruang kesehatan, kini berubah merah padam.
Napasnya memburu, menciptakan rungu yang kasar di keheningan ruangan. Matanya menyala, memancarkan kilatan emosi yang sanggup membakar apa saja yang ia lihat.
“DIA BAKAR MOTOR GUE?! SERIUS LO?!”
Suara Aca menggelegar, memantul di dinding-dinding ruang kesehatan yang putih bersih.
Suasana yang beberapa menit lalu terasa intim dan penuh ketenangan antara dirinya dan Aron, kini menguap tak berbekas.
Aura di ruangan itu mendadak berat, terisi oleh tekanan dingin yang mematikan.
Anak buah yang melapor itu bergeming di tempatnya, menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
“I-Iya, Nona maafkan kami yang terlambat menghalau. Dia benar-benar menyiram bensin di depan gerbang utama dan apinya sudah menjalar saat kami sampai.”
BRAK!
Kursi kayu yang diduduki Aca terdorong kasar hingga terjatuh ke belakang saat gadis itu bangkit berdiri. Amarahnya sudah di ubun-ubun.
“Gue bunuh dia! Sumpah, gue bakal bikin dia nyesel seumur hidup karena udah nyentuh barang gue!”
Tanpa menunggu perintah atau penjelasan lebih lanjut, Aca langsung melangkah lebar menuju pintu.
Langkahnya mantap, penuh dengan niat untuk menghancurkan. Namun, baru tiga langkah berjalan, sebuah tangan besar dengan cengkeraman kuat menarik pergelangan tangannya.
Langkah Aca terhenti paksa. Sentakan itu cukup kuat untuk menariknya kembali ke posisi semula.
“Lepasin gue, Ar! Jangan halangi gue sekarang!” marah Aca, mencoba menyentak tangannya.
Namun, cengkeraman Aron tidak goyah sedikit pun. Pria itu berdiri dengan tenang, namun tatapannya jauh lebih tajam dan berbahaya dibandingkan amarah Aca yang meledak-ledak. Ada otoritas yang tak terbantahkan di matanya.
“Diam.” Hanya satu kata, namun volume suaranya yang rendah memberikan tekanan yang membuat bulu kuduk merinding.
DEG!
Aca terdiam kaku. Napasnya masih memburu, dadanya naik turun dengan cepat menahan gejolak emosi yang ingin meledak keluar.
Ia menatap Aron dengan tatapan menantang, namun perlahan nyalinya sedikit menciut melihat betapa gelapnya iris mata pria itu.
“Lo mau keluar ke halaman dengan kondisi kayak gini?” lanjut Aron, suaranya tetap rendah, nyaris seperti bisikan maut.
“Emosi, nggak mikir, dan siapa aja yang berdiri di depan lo? Itu bukan gaya petarung, Aca. Itu gaya orang yang mau mati konyol.”
“Tapi dia bakar motor gue, Aron!” balas Aca, suaranya bergetar antara marah dan rasa kehilangan yang mendalam.
“Itu motor kesayangan gue! Lo nggak tahu berapa lama gue nabung, berapa banyak balapan yang gue ikutin cuma buat modif bagian-bagiannya! Itu bukan cuma kendaraan buat gue!”
Aron menatapnya lekat-lekat, seolah sedang membaca setiap inci kesedihan di balik amarah Aca. “Motor bisa dibeli lagi. Gue bisa beliin lo sepuluh yang lebih mahal dari itu sekarang juga.”
“Ini bukan soal bisa beli apa enggaknya, bodoh!” bentak Aca, air mata kemarahan mulai menggenang.
“Ini soal harga diri! Dia nantang gue secara terang-terangan di markas lo sendiri!”
Hening sejenak menyelimuti mereka.
Tatapan mereka bertabrakan dua ego besar, dua emosi yang berbeda kutub, dua dunia yang selama ini mencoba saling memahami.
Aron menghela napas pelan. Tekanan pada cengkeramannya mengendur. Tangannya yang tadi menahan pergelangan tangan Aca kini berpindah.
Menggenggam telapak tangan gadis itu dengan erat. Bukan lagi untuk menahan, tapi untuk menyalurkan ketenangan yang dingin.
“Kalau kamu keluar sekarang dengan teriakan dan makian, kamu cuma kasih dia apa yang dia cari,” ucap Aron dengan nada yang lebih stabil.
“Dia butuh melihat kamu hancur agar dia merasa menang.”
Aca terdiam. Kepalanya tertunduk sedikit, mencoba mencerna logika Aron.
“Dia sedang memprovokasi kamu, Aca. Dia pengen kamu lepas kendali agar kamu terlihat lemah di depan anak buah ku. Dan kalau kamu jatuh ke dalam perangkap receh kayak gitu…”
Aron menarik tangan Aca sedikit lebih dekat, sudut bibirnya terangkat tipis, memberikan seringai yang menyeramkan. “Kamu udah kalah sebelum perang dimulai.”
DEG!
Aca menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Emosinya masih membara, tapi kata-kata Aron perlahan mulai mendinginkan kepalanya. Logikanya yang sempat mati kini mulai berfungsi kembali.
“Tapi gue nggak bisa diem aja, Ar. Gue bukan tipe orang yang bakal diem kalau diinjak,” gumamnya pelan, suaranya kini lebih terkontrol.
“Siapa bilang kita bakal diem?” balas Aron.
Aca mendongak, menatap mata Aron. Ada sesuatu di sana.
Bukan sekadar amarah yang membabi buta seperti miliknya. Tapi sesuatu yang jauh lebih terukur. Sesuatu yang terencana dengan rapi dan mematikan.
Aron menoleh ke arah anak buahnya yang masih mematung di dekat pintu. “Apinya sudah padam kan?”
“Sudah, Tuan. Tapi motornya hampir delapan puluh persen hangus. Rangkanya rusak parah.”
Rahang Aron mengeras sedikit, sebuah tanda bahwa ia pun sebenarnya tidak terima. “Siapkan mobil. Sekarang.”
“Baik, Tuan!” Anak buah itu langsung bergegas pergi seolah nyawanya baru saja diselamatkan.
Aca mengerjap, menatap Aron dengan bingung. “Lo mau ke sana? Lo mau ngasih pelajaran sama dia kan?”
Aron menatap Aca kembali, tangannya masih menggenggam tangan gadis itu. “Kita ke sana bersama.”
Nada suaranya datar, namun penuh arti. Ini bukan tentang meluapkan emosi. Bukan tentang keributan tanpa arah. Tapi tentang sebuah penyelesaian akhir.
Beberapa menit kemudian, udara malam di halaman depan markas terasa mencekam.
Sisa asap hitam masih mengepul tipis dari gundukan logam yang kini sudah tidak berbentuk. Itu adalah motor sport milik Aca.
Motor yang dulu berkilau dengan warna kebanggaannya, kini hanya menjadi bangkai hitam yang mengenaskan.
Bau bensin dan karet terbakar memenuhi atmosfer, menusuk hidung siapa saja yang mendekat.
Aca berdiri kaku beberapa meter dari puing motornya. Matanya menatap kosong ke arah rangka yang menghitam.
DEG!
Dadanya terasa sesak, seolah-olah asap itu masuk ke dalam paru-parunya. Baginya, itu bukan sekadar mesin. Itu adalah saksi bisu setiap pelariannya dari masalah, teman setianya saat ia merasa dunia terlalu berisik. Dan sekarang, temannya itu telah tiada, menyisakan abu.
Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, sebelum amarahnya kembali mengambil alih, pintu mobil di belakangnya tertutup dengan dentuman pelan.
Aron turun. Aura yang dipancarkannya langsung mengubah suasana halaman itu. Para anak buah yang tadi berbisik-bisik langsung bungkam.
Mereka menepi, memberi jalan bagi sang penguasa markas seolah-olah laut yang terbelah. Tidak ada yang berani menatap mata Aron.
Di depan sana, berdiri seorang wanita dengan gaun merah elegan yang kontras dengan latar belakang asap hitam. Rambutnya tertata sempurna, tidak ada sehelai pun yang berantakan.
Ia memegang korek api emas di tangannya, memainkannya dengan senyum yang terlalu tenang.
Sandra ia berdiri santai, seolah-olah ia baru saja melakukan tindakan amal, bukan pembakaran properti. Matanya langsung tertuju pada Aca, penuh dengan ejekan yang halus.
“Oh akhirnya sang putri keluar juga dari sarangnya,” ucap Sandra dengan suara yang manis namun beracun.
Aca maju satu langkah dengan gigi gemeretak. “Lo…”
Namun, sebuah tangan besar mendarat di bahu Aca. Aron menahannya dengan sentuhan yang sangat ringan, namun penuh peringatan. Aca menarik napas dalam, mencoba tetap pada posisinya sesuai janji pada Aron tadi.
Aron melangkah maju, melewati Aca. Ia berdiri tepat di hadapan Sandra. Tatapan mereka bertemu dua orang yang berbagi masa lalu, namun kini berada di dua sisi yang berseberangan.
“Lo bikin keributan besar di halaman markas gue, Sandra,” ucap Aron pelan, suaranya tenang namun mengandung getaran yang mengintimidasi.
Sandra tersenyum tipis, merapikan gaunnya. “Aku cuma ingin memastikan kalian tidak terlalu nyaman di dalam sana. Anggap saja ini kembang api selamat datang untuk kesembuhanmu.”
“Dengan membakar barang milik orang lain di wilayah gue?” tanya Aron, matanya menyipit.
“Barang?” Sandra melirik sekilas ke arah bangkai motor itu dengan pandangan rendah, lalu kembali menatap Aca yang berdiri di belakang Aron.
“Ah itu cuma mainan mahal untuk anak kecil yang hobi cari perhatian, kan? Aku pikir aku membantunya untuk tumbuh dewasa.”
DEG!
Darah Aca kembali naik. Ia hampir saja menerjang jika Aron tidak mempererat cengkeramannya di bahu gadis itu.
Kali ini, Aron tidak hanya menahan. Ia seolah mengunci pergerakan Aca agar tidak melakukan tindakan bodoh.
“Jalang kecil yang bodoh.” ejek Sandra sambil tertawa kecil.