Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pertemuan Dua Pemangsa
Sisa hujan semalam nyaris tandas. Yang tertinggal hanyalah gerimis tipis yang jatuh dengan malas, mengetuk atap kayu dengan irama yang lebih pelan dari detak jantung seseorang yang sedang meminimalisir setiap tarikan napasnya.
Tak banyak perubahan, Huang Shen masih duduk bersila di atas tikar pandan. Posisi tubuhnya memang masih seperti patung, namun panca inderanya telah siaga penuh sejak denting lonceng pertama menyapa telinga. Sementara di ambang pintu, pria bercaping bambu itu masih berdiri layaknya pembatas antara dunia luar yang basah dan keheningan di dalam ruangan. Lonceng-lonceng kecil di tepian capingnya bergemerincing halus setiap kali tersentuh jenggala angin, padahal udara pagi itu nyaris tak berhembus.
Sedangkan Gerbang Iblis dalam Darah di dada Huang Shen tetap diam, tak memberikan gejolak merah yang biasanya muncul saat ancaman mendekat. Namun, justru itulah yang membuatnya waspada. Pria di depannya adalah jenis ancaman yang tak terukur oleh nalar biasa.
Insiden saling tatap menatap itu sedikit melunak setelah pria itu perlahan melepas capingnya.
Wajah yang muncul tidaklah muda, namun belum bisa dikatakan tua. Mungkin di awal usia tiga puluhan, dengan garis-garis tegas yang tidak lahir dari garis keturunan, melainkan dari sisa-sisa pertempuran yang tak pernah diceritakan. Matanya bergerak liar namun tajam, menyapu setiap sudut ruangan sebelum berakhir pada wajah Huang Shen, lagi. Itu adalah tatapan seorang predator yang selalu menghitung jalur pelarian sebelum benar-benar masuk ke sarang lawan.
"Rumah ini telah kulapisi dengan Formasi Pelindung Qi," suara pria itu berat, memenuhi ruangan dengan intimidasi yang tak terbantahkan. "Seharusnya irang awam takkan mampu melihatnya. Kultivator tingkat menengah pun akan merasa jengah dan memilih menjauh. Tapi kau bukan hanya masuk, kau bahkan bisa seenaknya terlelap di sini."
Ia menjeda kalimatnya, menatap Huang Shen dengan sorot yang sulit dibaca.
"Yang terbesit di benakku hanya ada dua kemungkinan. Kau bukan manusia biasa, atau kau adalah salah satu cecunguk yang dikirim oleh Sekte Iblis Hitam."
Merasa jika dirinya memang salah, Huang Shen bangkit berdiri. Gerakannya luwes, tidak terburu-buru, dengan kedua tangan yang tetap berada di sisi tubuhnya. "Kau mengenal Sekte Iblis Hitam?"
Pria itu tidak segera menjawab. Jemarinya mengusap hulu empat pedang dengan sarung berbeda warna yang melingkar di pinggangnya. "Aku rasa aku sudah cukup mengenal untuk tahu bahwa mereka tidak pernah membiarkan anjing pesuruhnya berkeliaran sendirian." Ia menatap Huang Shen lebih dalam. "Jadi, katakan padaku. Kau ini iblis peliharaan mereka, atau hanya utusan yang sedang tersesat?"
Huang Shen tetap bergeming. Gerbang di dadanya masih tertidur. Cakar Iblis maupun Pedang Darah Naga belum ia panggil. Ia hanya berdiri dengan telapak tangan terbuka, setenang langit biru tanpa awan.
Sedangkan pria itu terus saja mengamati Huang Shen seperti seorang ahli kitab yang mencoba mengeja aksara kuno yang asing. "Kau bahkan tidak berniat menarik keluar senjatamu?"
Kesunyian pun timbul di antara mereka, pekat dan menekan seperti atmosfer sesaat sebelum guntur menggelegar, apalagi karena Huang Shen tidak menjawab pertanyaan barusan. Sementara di luar, gerimis benar-benar berhenti. Air yang menetes dari tritisan atap jatuh dengan tempo teratur, seolah sedang menghitung detik menuju ledakan.
Hingga ketegangan pun berakhir setelah pria itu tertawa singkat layaknya seseorang yang menemukan teka-teki menarik di tengah hutan yang sepi.
"Kau memang mempunyai nyali yang besar, atau kau memang cukup bodoh untuk tidak merasa takut. Tapi setidaknya, kau punya ketenangan yang menarik," pria itu melepaskan genggamannya dari hulu pedang. "Orang-orang biasa memanggilku Xin Jielong, dan rumah ini milikku, meski aku lebih sering menjadikannya tempat persinggahan singkat. Masuklah ke dalam cahaya. Aku punya teh, meskipun rasanya mungkin sudah sedikit hambar dimakan waktu."
Keduanya kini duduk berhadapan di meja kayu yang tadi digunakan Huang Shen untuk merenung. Meja itu kini telah bersih dari debu, diterangi pelita minyak dan dua cangkir yang tak seragam. Tanpa banyak bicara Xin Jielong menyeduh air di atas tungku sederhana dengan gerakan yang sudah terlalu lama terbiasa hidup dalam kesunyian.
"Aku adalah seorang pemburu bayaran lepas," Xin Jielong memulai percakapan sembari menuangkan air panas ke dalam cangkir. uapnya mengepul, membawa aroma herbal dari teh. "Aku tidak terikat pada sekte atau organisasi mana pun. Sementara keempat pedang ini adalah hidupku, masing-masing mewakili teknik berbeda yang kutempa selama dua puluh tahun." Ia mendorong satu cangkir ke hadapan Huang Shen. "Aku lebih sering bekerja sendirian, dan aku tidak suka keramaian, apalagi aturan. Setidaknya itu yang perlu kau ketahui dariku."
Huang Shen menerima cangkir itu, namun hanya menatap uapnya tanpa meminumnya. "Namaku Huang Shen."
"Aku sudah menduganya," Xin Jielong tersenyum tipis. "Sang Kaisar Darah. Rekor tanpa cela, target yang selalu merupakan sampah dunia. Kupikir itu hanya bualan para pedagang informasi di kedai-kedai. Namun melihatmu berdiri setenang tadi tanpa senjata, sepertinya kabar burung itu ada benarnya."
Ia menghirup tehnya perlahan sebelum melanjutkan. "Huang Shen… apa kau tahu tentang tingkatan misi di dunia bawah? Itu pengetahuan dasar bagi pembunuh bayaran seperti kita."
Tidak sesuai dugaan Xin, Huang Shen justru menggeleng pelan.
Karenanya Xin Jielong meletakkan cangkirnya. "Baiklah, akan aku jelaskan sedikit. Singkatnya tingkatan misi terdiri dari empat jenjang. Biasa, untuk target rakyat jelata atau preman pasar. Sulit, untuk target kultivator tingkat Inti Emas ke bawah. Berbahaya, untuk tingkat Jiwa Baru, yang biasanya membutuhkan kerja sama tim, dan yang terakhir... adalah tingkatan Maut, targetnya di atas Pembentuk Jiwa. Oleh karena itu, hanya orang-orang gila atau yang sudah bosan hidup yang berani mengambilnya."
Sepasang mata tajamnya mengunci tatapan Huang Shen. "Jika sama seperti dengan kabar yang beredar, selama ini kau hanya bermain-main di tingkat Biasa dan Sulit. Itulah sebabnya rekormu sempurna. Namun kau belum menyentuh kegelapan yang sesungguhnya." Ia berdehem, memberikan penekanan. "Asal kau tahu, saat ini aku sedang menjalankan misi tingkat Berbahaya. Targetnya adalah seorang master Jiwa Baru tahap akhir dengan pengawalan ketat, dan aku butuh seorang pendamping."
"Karena kau tidak punya faksi, tidak mengenal takut, dan kau berani menantangku tanpa senjata namun masih bisa bernapas sampai sekarang,” lanjut Xin Jielong mencondongkan tubuhnya. "Itu membuktikan kau menyimpan kartu as yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Karena itulah aku berniat mengajakmu dalam misi ini."
"Kau mengambil misi yang tidak bisa kau selesaikan seorang diri?" Huang Shen bertanya tanpa ekspresi yang jelas. Tidak terlihat bingung, alih-alih penasaran.
"Tentu saja," Xin Jielong menyeringai. "Masalahnya itu karena imbalannya terlalu menggoda, tiga kali lipat dari misi Berbahaya pada umumnya. Aku tidak serakah, tapi ada sesuatu yang sangat mahal yang harus kubeli dengan uang itu."
Huang Shen tidak bertanya lebih jauh, namun ia juga tidak menunjukkan penolakan.
Oleh karena itu Xin Jielong bangkit, mengambil selembar selimut dari lemari tua di sudut ruangan. "Besok, sebelum fajar menyingsing, kita berangkat. Akan kutunjukkan targetnya padamu, lalu kau bisa memutuskan untuk lanjut atau pulang." Ia melemparkan selimut itu ke arah Huang Shen. "Istirahatlah di sini. Selama kau di bawah atap ini, takkan ada yang berani mengusikmu."
Langit masih berselimut kelabu saat Huang Shen membuka mata. Tak ada suara langkah kaki maupun gesekan logam, hanya kesunyian fajar yang terasa lebih dingin dari kemarin.
Pagi itu Xin Jielong sudah menanti di pelataran dengan caping yang telah terpasang. Lonceng-lonceng di tepinya bergemerincing pelan mengikuti embusan angin pagi, menciptakan suara aneh yang terdengar seperti lagu pemakaman yang tenang.
Mereka melangkah ke arah timur, memunggungi jalan menuju utara. Huang Shen tidak bertanya, dan Xin Jielong sepertinya belum berniat menjelaskan.
Saat gembur cahaya jingga mulai menyembul di cakrawala, Xin Jielong membuka mulutnya. "Kudengar kau menghabisi target tanpa memegang sebilah pedang pun. Aku penasaran, bagaimana cara kau melakukannya?"
"Aku memanifestasikan senjata dari esensi Qi-ku," jawab Huang Shen tanpa emosi.
Xin Jielong tampak tidak terkejut, namun dahinya sedikit berkerut. "Teknik manifestasi energi... aku pernah melihatnya. Tapi biasanya butuh konsentrasi dan waktu untuk membentuknya. Kau sanggup melakukannya dalam sekejap mata?"
Huang Shen memilih untuk bungkam, dan Xin Jielong cukup bijak untuk tidak mendesak lebih jauh.
Hingga sampailah mereka di sebuah pelataran terbuka di tengah rimba, dikelilingi pohon-pohon tua yang daunnya masih basah oleh embun pagi. Tanah di sana rata dan gersang, seolah sering digunakan untuk pertarungan yang mematikan.
Xin Jielong melangkah ke tengah, lalu berbalik menghadap Huang Shen. Di bawah sinar mentari yang masih muda, auranya terasa memenuhi seluruh penjuru tempat itu, menciptakan tekanan yang tidak bisa diabaikan.
"Sebelum kita mengikat janji sebagai rekan," ucapnya serius, "aku harus memastikan kau adalah orang yang layak. Bukan hanya soal kekuatan kasar, tapi soal nyali. Aku harus tahu apakah kau jenis orang yang akan kabur saat maut menjemput, atau justru orang yang akan menusuk punggungku saat aku lengah."
Tangannya bergerak ke pinggang. Namun, ia tidak menyentuh pedang utama yang biasa ia gunakan. Ia memilih untuk melepas salah satu dari keempat pedangnya, lalu melemparkannya ke arah Huang Shen.
Senjata itu meluncur di udara dengan presisi yang mengerikan. Gagangnya berhenti tepat di hadapan dada Huang Shen, seolah-olah pedang itu sendiri yang memilih tuannya.
"Gunakan itu," tantang Xin Jielong sembari mengambil kuda-kuda, jemarinya kini berada di hulu pedang kedua. "Aku ingin melihat bagaimana caramu bertarung menggunakan sesuatu yang asing di tanganmu."
Huang Shen menangkap gagang pedang tersebut. Beratnya terasa seolah pedang itu membawa beban kenangan dan darah dari pemilik lamanya yang enggan untuk berpindah tangan.
Sementara Xin Jielong justru menyeringai tipis, matanya berkilat penuh minat. "Jangan khawatir, aku tidak berniat mencabut nyawamu hari ini. Tapi jangan harap kau bisa lolos dariku tanpa meninggalkan setetes darah pun di tanah ini."