Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
.
Dirga menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah Amanda dengan tatapan yang tetap datar dan tak berubah sedikit pun. Tangannya yang masih menggenggam kartu hitam itu tetap terulur lurus ke arah wanita di hadapannya.
"Ini?" tanyanya balik dengan nada sedikit meninggi, seolah heran dengan pertanyaan itu. "Jangan bilang kamu tidak tahu kalau ini kartu hitam. Di dalamnya tentu saja ada uang, banyak," ucap Dirga dengan kesalnya.
Amanda mendengar itu seketika bangkit dan duduk tegak, menatap pria itu dengan mata melotot tak percaya.
"Heh, duda gila!" serunya tak tahan lagi. "Siapa juga yang tidak tahu kalau itu kartu hitam?! Yang aku maksudkan, untuk apa kamu memberikan benda semahal ini padaku, hah?!"
Dirga kembali menghela napas panjang, seolah sangat malas harus menjelaskan hal yang menurutnya sudah jelas. Tanpa berkata-kata lagi, sebelah tangannya yang tidak sedang memegang kartu itu tiba-tiba bergerak, menarik paksa pergelangan tangan Amanda, lalu…
Plak!
Dirga meletakkan kartu hitam itu ke telapak tangan wanita itu dengan cukup keras hingga terdengar bunyi cukup keras saat benda itu menyentuh kulit.
"Ini uang belanja untukmu. Anggap saja uang nafkah," ucapnya singkat dan ketus, lalu kembali memalingkan wajah dan pandangannya ke depan, seolah urusan itu sudah selesai begitu saja.
“Haaa…?” Amanda terbengong menatap kartu di tangannya. "Uang nafkah? Untuk apa? Kita ini kan cuma nikah kontrak? Gak perlu juga lah, kamu ngasih uang nafkah. Udah kayak suami istri sungguhan aja?"
Dirga kembali menoleh dan menatap Amanda dengan tatapan yang sama datar, namun kali ini ada ketegasan yang terselip di dalamnya.
"Bawel!" umpatnya kesal. “Dengar, ya? Walaupun cuma nikah kontrak, tapi pernikahan kita sah di mata agama dan juga negara. Yang menikahkan kita penghulu asli, bukan orang main film. Ada akad, ada saksi. Jadi aku tetap wajib untuk menafkahimu sebagai," jawabnya tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Tinggal terima saja, cerewet!" gerutunya lalu membaringkan badan dan memunggungi Amanda.
Amanda diam terpaku, mulutnya terbuka sedikit namun tak ada kata-kata yang keluar. Dia sama sekali tak menyangka pria yang mulutnya tajam dan sering kali menyakitkan hati itu ternyata memiliki prinsip yang begitu kokoh. Prinsip yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
"Oh iya,” Dirga kembali menoleh ke arah Amanda. "Kartu untuk kebutuhan rumah tangga ada pada Bu Rani. Besok baru aku minta!"
“Ada kartu lain lagi? Bukannya uang nafkah juga untuk keperluan rumah?” tanya Amanda bingung.
"Oh my God…?" Dirga memejamkan matanya frustasi. "Dengar, ya, perawan tua telmi!” ucap Dirga kesal.
"Uang rumah tangga ya uang rumah tangga. Itu untuk memenuhi segala kebutuhan rumah. Mulai makanan, bayar listrik, ini, itu, anu, sampai gaji pelayan, ada di kartu itu," jelas Dirga panjang lebar. “Sedangkan uang nafkah itu khusus buat kamu. Terserah mau kamu apain! Sudah paham? Katanya guru? Tapi o’on!"
"Apa kamu bilang? Telmi? O’on?” Amanda mengeratkan genggaman dua tangannya menahan diri untuk tidak mencakar pria di hadapannya yang mulutnya seperti bon cabe level sepuluh.
"Memang telmi!” jawab Dirga tak mau mundur. "Kalau tidak telmi kenapa urusan seperti itu saja tidak paham?" ejek Dirga lagi lalu kembali berbaring dan memunggungi Amanda, seolah tak ingin lagi berdebat soal hal itu. "Sudah sana tidur! Besok aku harus kerja. Awas kalau kamu telat bangunkan aku!" ancamnya.
Dengan menahan geram, Amanda menatap punggung lebar Dirga yang kini memunggunginya, lalu menatap kembali kartu hitam yang terasa dingin dan berat di tangannya. Ada rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya, tapi rasa itu kalah dengan rasa kesal karena dikatain telmi dan o’on.
"Dasar duda gila!” umpatnya pelan, lalu memasukkan kartu itu ke bawah bantalnya, sebelum kemudian bersiap berbaring kembali.
Belum sempat Amanda memejamkan matanya, tiba-tiba Dirga kembali membalikkan badannya secara tiba-tiba, hingga kini berhadapan kembali dengan wanita itu. Tatapannya menatap lurus ke arah Amanda, ada sedikit kilatan kemenangan di balik sorot matanya yang biasanya datar.
"Kamu lupa, ya? Rupanya ingatanmu benar-benar payah!" ucap Dirga tepat di depan wajah Amanda. "Aku sudah bukan lagi duda. Beberapa jam yang lalu, aku kembali mengucap ijab kabul."
Amanda menelan ludahnya susah payah. Posisi mereka yang begitu dekat membuat mereka seolah saling bertukar nafas.
"Tetap saja," jawabnya menahan rasa gugup. "Bagiku, kau tetap duda gila. Tak ada bedanya sama sekali."
“Kamu…?!” Dirga menghentikan ucapannya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan kencang. Niat hati ingin menakut-nakuti Amanda, tapi entah apa yang terjadi pada dirinya.
"Apa aku terkena serangan jantung?" batinnya lalu melepaskan tubuh Amanda dan secepat kilat membalikkan tubuhnya membelakangi wanita yang beberapa jam lalu sah menjadi istrinya.
"Dan bagiku... kau tetap saja perawan tua," ucap Dirga ketus lalu menarik selimutnya hingga batas dada.
“Duda gila!" ucap Amanda dengan gerakan tangan mencakar udara di belakang punggung Dirga, lalu ikut berbaring saling memunggungi.
rasanya manis legit loh pak mandud,,yakin deh pasti nanti ketagihan
maunya lagi dan Lagiii
minta nambah terus malah nantik
.mewek q bacanya sedih dan bahagia ah gk tau lah😂