NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ujian LDR

Sesampainya di Bandung, mobil hitam yang ditumpangi Aline berhenti tepat di depan gedung kantor cabang. Tanpa ragu, ia turun dengan langkah anggun, sepatu haknya berbunyi tegas di lantai marmer. Penampilannya rapi, elegan, dan penuh percaya diri—seolah tempat itu memang miliknya.

Para karyawan yang melihat hanya bisa menatap heran, tapi tidak ada yang berani menghentikan.

Aline berjalan lurus menuju lift, lalu naik ke lantai tempat ruang kerja pribadi Yoga berada.

Tanpa mengetuk.

Tanpa izin.

Pintu itu terbuka begitu saja.

Di dalam, Yoga sedang fokus pada berkas di meja kerjanya. Alisnya sedikit berkerut, tanda ia sedang serius memikirkan sesuatu.

Suara pintu membuatnya menoleh.

Dan seketika—

raut wajahnya berubah.

Kaget.

“Aline?”

Wanita itu tersenyum manis, berjalan masuk seolah tidak terjadi apa-apa. “Kaget?”

Yoga langsung berdiri. “Kamu ngapain di sini?”

Aline mendekat pelan. “Masa aku nggak boleh jenguk kamu?”

Yoga menatap tajam. “Ini kantor, bukan tempat main-main.”

Aline tetap santai. “Aku cuma kangen.”

Yoga menghela napas kasar. “Keluar.”

Nada suaranya tegas.

Namun Aline tidak berhenti.

Ia justru semakin mendekat.

“Jangan dingin gitu dong…” bisiknya pelan.

Yoga mundur sedikit. “Aline, cukup.”

Tapi Aline mengangkat tangannya, menyentuh kancing kemeja Yoga.

Yoga langsung menahan pergelangan tangannya. “Jangan macam-macam.”

Aline tersenyum miring. “Santai aja… Bella nggak ada di sini.”

Kalimat itu membuat rahang Yoga mengeras.

“Aline.”

“Di sini cuma kamu sama aku…” lanjut Aline, suaranya sengaja dipelankan.

Ia mencoba membuka kancing kemeja Yoga.

Namun Yoga menepis tangannya.

“Aku bilang cukup.”

Tapi Aline tidak menyerah.

Dengan tiba-tiba, ia mendorong Yoga ke kursi kerja di belakangnya.

Gerakan itu cukup cepat.

Yoga sedikit kehilangan keseimbangan dan terduduk.

Belum sempat bangkit—

Aline langsung duduk di pangkuannya.

“Aline!” bentak Yoga.

Namun sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh—

Aline mencondongkan tubuhnya dan mencoba mencium bibir Yoga.

Yoga langsung menahan bahunya dan memalingkan wajah.

“Berhenti!”

Dengan kasar, Yoga mendorong Aline menjauh.

Aline hampir kehilangan keseimbangan, tapi masih berdiri.

Wajahnya berubah, tidak lagi sepenuhnya santai.

Yoga berdiri dengan cepat, matanya penuh amarah.

“Keluar dari sini.”

Nada suaranya dingin. Tajam.

Aline masih mencoba tersenyum. “Yoga—”

“Keluar.”

Kali ini lebih keras.

Pintu terbuka.

Asisten Yoga masuk dengan wajah tegang, mendengar suara tadi.

“Pak?”

Yoga menunjuk ke arah Aline tanpa ragu. “Keluarkan dia.”

Aline langsung menatap tidak percaya. “Kamu serius?”

Yoga tidak menjawab, hanya menatap dingin.

“Asisten itu mendekat dengan sopan tapi tegas. “Silakan, Non.”

Aline menghela napas kesal, menatap Yoga dengan emosi yang tertahan.

“Kamu berubah…”

Yoga akhirnya bicara. “Aku memang bukan orang yang kamu kenal lagi.”

Kalimat itu menusuk.

Aline terdiam beberapa detik.

Namun akhirnya ia tersenyum tipis—senyum yang penuh arti.

“Lihat aja nanti…”

Ia berbalik.

Melangkah keluar dari ruangan.

Pintu tertutup.

Suasana langsung hening.

Yoga berdiri diam di tempatnya.

Tangannya mengepal.

Napasnya masih berat.

Beberapa detik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar.

Kesal.

Marah.

Dan… terganggu.

Matanya kemudian melirik ponsel di meja.

Nama Bella terlintas di pikirannya.

Tanpa sadar, rahangnya mengendur sedikit.

“Kenapa harus sekarang…” gumamnya pelan.

Di luar—

Aline berjalan di lorong dengan langkah cepat.

Wajahnya terlihat kesal, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lain.

Ambisi.

“Aku nggak akan berhenti…” bisiknya pelan.

"aku akan membuat kamu kembali ke pelukan ku apapun caranya "

Aline tidak benar-benar pergi.

Begitu keluar dari ruangan Yoga, langkahnya memang menjauh… tapi bukan untuk pulang.

Matanya menyipit, pikirannya bekerja cepat.

“Belum selesai…” gumamnya pelan.

Ia berbelok menuju area pantry kantor.

Dengan langkah santai, ia masuk ke dalam. Beberapa karyawan yang melihat hanya mengira ia tamu penting, tidak ada yang curiga.

Di sana, seorang OB sedang menyiapkan minuman.

Aline mendekat, senyumnya kembali muncul.

“Itu buat siapa?” tanyanya ringan.

OB itu menjawab polos, “Untuk Pak Yoga, Non. Biasanya kopi siang.”

Senyum Aline perlahan berubah.

“Oh ya…”

Matanya menatap cangkir itu.

Kesempatan.

“Boleh saya bantu bawa?” tanyanya lembut.

OB itu sempat ragu. “Eh… nggak apa-apa, Non, nanti saya saja—”

“Tidak apa-apa,” potong Aline halus. “Sekalian saya mau ke sana.”

Nada suaranya meyakinkan.

OB itu akhirnya mengangguk. “Baik, Non.”

Namun saat OB itu berbalik sebentar mengambil camilan tambahan—

Aline berdiri sendiri di depan meja.

Matanya menatap kopi itu.

Beberapa detik hening.

Tangannya perlahan menyentuh gelas.

Namun—

ia berhenti.

Tatapannya berubah.

Bukan ragu…

tapi berpikir.

Perlahan, tangannya ditarik kembali.

“Kalau dia sadar…” gumamnya pelan.

Ia tersenyum tipis.

“Permainan yang terlalu kotor… malah bikin aku kalah.”

Aline mengambil cangkir itu… tanpa melakukan apa pun.

Saat OB kembali, ia menyerahkannya dengan tenang.

“Aku yang antar.”

OB itu mengangguk.

Di dalam ruangan, Yoga masih berdiri di dekat meja, mencoba menenangkan pikirannya.

Ketukan kecil terdengar.

Sebelum ia menjawab—

pintu terbuka.

Yoga langsung menoleh.

Dan lagi-lagi—

“Aline?”

Wanita itu masuk dengan santai, membawa kopi di tangannya.

Yoga langsung kesal. “Aku sudah bilang keluar.”

Aline meletakkan kopi di meja. “Minum dulu. Kamu kelihatan capek.”

Yoga tidak bergerak. “Aku nggak butuh.”

Aline mendekat sedikit. “Masih keras kepala ya…”

Yoga menatap tajam. “Aline, jangan paksa aku bersikap lebih kasar.”

Aline berhenti.

Beberapa detik mereka saling menatap.

Lalu—

Aline tersenyum.

Namun kali ini… berbeda.

Lebih tenang.

Lebih dingin.

“Aku cuma mau ingetin kamu sesuatu.”

Yoga tidak menjawab.

“Aku satu-satunya orang yang pernah ada di titik terendah kamu,” lanjut Aline pelan.

Nada suaranya berubah serius.

“Waktu semua orang ninggalin kamu… aku ada.”

Yoga sedikit terdiam.

“Aku tahu semua sisi kamu. Yang orang lain nggak tahu.”

Aline melangkah mundur perlahan.

“Termasuk Bella.”

Nama itu membuat Yoga langsung menegang.

“Jangan bawa dia.”

Aline tersenyum miring. “Kenapa? Takut dia tahu kamu yang sebenarnya?”

Yoga mengepalkan tangan.

Aline menatapnya dalam.

“Dia nggak sekuat aku, Yoga.”

Nada suaranya menusuk.

“Dia nggak akan bertahan di dunia kamu.”

Hening.

Yoga akhirnya bicara.

“Dan itu bukan urusan kamu lagi.”

Aline terdiam.

Untuk pertama kalinya—

senyumnya sedikit memudar.

Namun hanya sesaat.

“Aku nggak akan berhenti,” ucapnya pelan.

Tatapannya tajam.

“Karena kamu… harusnya milik aku.”

Setelah itu, ia berbalik.

Melangkah keluar.

Kali ini benar-benar pergi.

Di dalam ruangan, Yoga berdiri diam.

Beberapa detik.

Lalu tangannya menyentuh cangkir kopi itu.

Namun bukan untuk diminum.

Ia hanya menatapnya.

Pikirannya jauh.

Sangat jauh.

Ke satu orang.

Bella.

Yoga menarik napas panjang, lalu mengambil ponselnya.

Menatap layar.

Tanpa sadar—

namanya yang pertama muncul di pikirannya…

adalah Bella.

yoga meminum kofe nya tanpa menaruh curiga sedikit pun ia minum perlahan sampai habis lima menit berlalu yoga merasakan pusing dan panas di seluruh tubuhnya

'kenapa rasanya gerah sekali padahal ac sudah nyala'

Aline masuk lagi keruangan yoga melihat kondisi yoga yang kepanasan aline tersenyum rencana nya berhasil

Aline telah menuang obat perangsang di minuman yoga

Kali ini kamu tidak bisa kabur lagi dari ku yoga

Aline membantu yoga melepaskan kemeja nya mencium bibir yoga

dengan kamera terpasang di meja yoga

Aline membuka baju yoga yang sudah tak berdaya itu

Mencium leher hingga tubuh yoga.

Aline ingin melepaskan celana yoga namun

"pal ada "

"astagah' ucap kabin asisten yoga

'kavin tolong"ucap yoga lirih

"dasar perempuan gila,aku tadi sudah mengusir mu" kavin mengusir bella dari sana

"hah dasar mengganggu saja tapi untung aku sudah mengambil beberapa foto ku dan yoga

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!