Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tepuk Tangan yang Tak Terdengar
Lampu spotlight putih keperakan jatuh tepat di tengah panggung National Opera & Ballet Amsterdam. Di sana, Nina berdiri tegak, namun bahunya terasa memikul beban yang lebih berat dari kostum tari megah yang dikenakannya. Musik orkestra mulai mengalun, sebuah komposisi yang memadukan denting gamelan kontemporer dengan gesekan selo yang menyayat hati.
Nina mulai bergerak. Setiap putaran tubuhnya, setiap jentikan jemarinya, bukan lagi sekadar teknik yang dipelajari selama bertahun-tahun. Itu adalah manifestasi dari rasa sakit, ketakutan, dan doa yang tak terucap. Penonton terpaku. Mereka melihat seorang penari yang seolah sedang bertarung dengan bayangan yang tak terlihat. Gerakannya penuh ledakan emosi, lalu tiba-tiba melambat menjadi sebuah kepasrahan yang rapuh.
Di sisi panggung, Sari menatap sahabatnya dengan air mata yang mengalir. Ia tahu, Nina sedang menarikan nyawanya sendiri. Nina sedang mengirimkan energi dari belahan bumi utara menuju sebuah kamar steril di Jakarta.
Saat musik mencapai puncaknya dan perlahan meredup hingga keheningan total, Nina bersimpuh di tengah panggung. Napasnya memburu, keringat bercampur air mata jatuh ke lantai kayu yang dingin. Keheningan itu pecah oleh gemuruh tepuk tangan yang berdiri (standing ovation). Penonton Amsterdam yang biasanya kritis kini memberikan penghormatan setinggi-tingginya bagi "Matahari dari Timur" yang baru saja menggetarkan jiwa mereka.
*
Di belakang panggung, suasana begitu riuh. Buket-buket bunga besar berdatangan. Julian segera menghampiri Nina, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan. Ia memeluk Nina erat di depan rekan-rekan penari lainnya.
"Nina! Itu adalah penampilan terbaik yang pernah ada di panggung ini! Kamu luar biasa, darling!" seru Julian sambil mencium kening Nina. "Semua kritikus seni akan menulis namamu besok pagi. Kamu sudah sampai di puncak, Nina."
Nina memaksakan sebuah senyum tipis. Ia menerima buket bunga mawar putih dari Julian, namun matanya terus mencari sosok Sari. "Terima kasih, Julian. Terima kasih banyak."
"Malam ini kita harus merayakannya. Aku sudah memesan tempat di restoran terbaik," lanjut Julian dengan antusias.
"Maaf, Julian... aku merasa sangat lelah. Bisakah kita melakukannya besok?" suara Nina terdengar sangat kecil.
Julian tertegun. Ia melihat kelelahan yang luar biasa di mata Nina, sebuah kelelahan yang melampaui fisik. "Tentu, tentu saja. Kamu butuh istirahat. Aku akan mengantarmu pulang."
Namun, begitu mereka sampai di belakang ruang ganti, Sari sudah menunggu dengan ponsel di tangan. Tatapan mata Sari memberikan sinyal yang hanya bisa dimengerti oleh Nina. Nina segera pamit ke toilet, meninggalkan Julian yang masih berbincang dengan direktur panggung.
"Ada kabar, Sar?" tanya Nina dengan suara bergetar begitu mereka hanya berdua di sudut yang sepi.
"Dimas baru saja mengirim pesan," Sari mengatur napasnya. "Arya sudah melewati masa kritisnya, Nin. Dia... dia sudah sadar dari komanya."
Nina menutup mulutnya dengan tangan, lututnya lemas hingga ia harus bersandar di dinding. "Syukurlah... Ya Tuhan, terima kasih."
"Tapi, Nin..." Sari menjeda, wajahnya tampak prihatin. "Dia benar-benar tidak ingat apa-apa. Amnesia itu terjadi. Dia tidak mengenali Mami, Papi, bahkan Maura sekalipun. Dia terjebak dalam kegelapan memorinya sendiri."
Kegembiraan Nina mendadak membeku. Hidup, namun tidak ingat. Ia merasa seolah Arya telah kembali dari kematian, namun jiwa yang mencintainya di Jogja telah tertinggal di persimpangan jalan maut itu.
***
Di Jakarta, suasana di ruang ICU RSPAD berubah dari mencekam menjadi penuh haru yang campur aduk. Setelah berhari-hari dalam kegelapan koma, kelopak mata Arya bergerak perlahan. Mami Lastri yang sedang menggenggam tangannya langsung berdiri dengan napas tertahan.
"Arya? Ini Mami, Nak... Arya?"
Mata Arya terbuka sepenuhnya. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan. Ia menoleh ke arah Mami Lastri, lalu ke arah Papi Sudrajat yang duduk di kursi roda di samping tempat tidur. Terakhir, matanya tertuju pada Maura yang berdiri di kaki tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat.
"Siapa..." suara Arya keluar dengan sangat serak, hampir tidak terdengar karena tenggorokannya yang kering akibat selang ventilator yang baru saja dilepas.
"Ini Mami, Sayang. Ini Papi. Dan ini Maura, istrimu," isak Mami Lastri sambil menciumi tangan putranya.
Arya mengernyitkan dahi. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan asing. Tidak ada binar pengenalan. Tidak ada emosi yang meluap. Hanya ada kekosongan yang membingungkan.
"Aku... di mana? Kalian siapa?" tanya Arya lagi, kali ini lebih jelas.
Papi Sudrajat menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah di depan putranya. "Kamu di rumah sakit, Arya. Kamu kecelakaan. Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu sudah sadar. Masalah ingatan, kita bisa perbaiki pelan-pelan."
Maura mendekat, mencoba menyentuh kaki Arya, namun Arya secara insting menarik kakinya sedikit. Penolakan itu, meski dilakukan oleh seseorang yang sedang tidak sadar akan identitasnya, tetap terasa menyakitkan bagi Maura. Namun, di balik rasa sakit itu, Maura merasa memiliki kesempatan kedua.
Dia tidak ingat siapa aku, tapi dia juga tidak ingat siapa Nina, batin Maura.
Tim dokter segera masuk untuk melakukan pemeriksaan neurologis. Mereka melakukan berbagai tes dasar. Hasilnya jelas: Arya mengalami retrograde amnesia yang cukup parah. Ia kehilangan potongan besar memorinya, termasuk identitas orang-orang terdekatnya. Namun, bagi keluarga Sudrajat, fakta bahwa Arya masih bernapas dan bisa berbicara adalah mukjizat yang sudah lebih dari cukup.
***
Kembali ke Amsterdam, Nina duduk di tepi tempat tidurnya, masih mengenakan riasan panggung yang belum sempat dihapus. Ia menatap selendang ungu pemberian Arya yang ia letakkan di atas bantal.
Berita bahwa Arya sadar adalah jawaban dari doanya, namun berita bahwa Arya amnesia adalah hukuman bagi hatinya.
"Dia lupa padaku, Sar," bisik Nina pada Sari yang sedang menyiapkan teh hangat. "Semua janji di Kaliurang, semua ciuman itu... semuanya terhapus dari kepalanya. Aku tidak ada lagi dalam ingatannya."
"Mungkin itu yang terbaik untuk kalian berdua, Nin," Sari duduk di sampingnya, mengusap punggung Nina. "Semesta sedang memberinya kesempatan untuk memulai hidup baru tanpa rasa sakit. Dan semesta juga memberimu kesempatan untuk benar-benar fokus pada Julian dan kariermu di sini."
Nina tertawa getir. "Bagaimana aku bisa fokus jika aku tahu satu-satunya orang yang memegang kunci hatiku kini bahkan tidak tahu siapa namaku?"
Ponsel Nina bergetar. Sebuah pesan dari Julian masuk: "Istirahatlah, My Queen. Besok pagi aku akan membawakan sarapan favoritmu. Aku sangat mencintaimu."
Nina menatap pesan itu dengan tatapan hampa. Ia merasa sangat berdosa pada Julian. Pria itu mencintai sosok "Nina sang penari sukses", tanpa tahu bahwa di dalam raga penari itu, ada jiwa yang sedang menangis merindukan seorang pria yang sedang terbaring di Jakarta tanpa ingatan.
Malam itu, Nina mematikan lampunya. Di kegelapan kamarnya di Amsterdam, ia membayangkan Arya sedang mencoba belajar mengenali dunia kembali. Ia membayangkan Maura yang kini pasti sedang mendampingi Arya, menulis ulang narasi hidup Arya sesuai dengan keinginannya.
Nina menyadari bahwa amnesia Arya adalah dinding baru yang lebih tinggi dari kasta militer maupun restu orang tua. Ia tidak bisa melawan sesuatu yang sudah dihapus oleh takdir.
"Selamat hidup kembali, Kak Arya," bisik Nina ke arah kegelapan. "Meskipun aku sudah tidak ada lagi di dalam kepalamu, Kakak akan selalu ada di setiap gerak tariku. Selamanya."
Bab ini ditutup dengan dua kutub yang kontras: Arya yang mulai belajar mengenali nama-nama keluarganya di Jakarta di bawah bimbingan Maura yang penuh rencana, dan Nina yang mulai meniti karier gemilangnya di Eropa dengan hati yang telah ia kunci rapat-rapat dalam peti kesunyian.