Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grub.
Hening itu belum benar-benar hilang. Pesan terakhir masih menggantung di kepala mereka.
| Aku pikir kamu lebih pintar dari itu.
Hana menatap layar sedikit lebih lama. Arga akhirnya menghela napas pelan, lalu menggeser pandangannya ke Kenzo.
“Gue ada ide,” katanya.
Kenzo langsung menoleh. “Hm."
“Serius,” lanjut Arga, mengabaikan. “Kalau kita terus ngomong langsung gini, dia bisa aja denger lagi.”
Hana mengangguk kecil. “Iya…”
Kenzo menyilangkan tangan. “Terus?”
“Kita pindahin komunikasi,” kata Arga. “Sekarang lewat grub aja."
Hana sedikit mengernyit. “Grup?”
“Iya,” jawab Arga. “Lewat chat kayaknya lebih mending daripada ketemu teeus. Lebih aman, lebih rapi.”
Kenzo langsung nyengir tipis. “Lo yakin ‘lebih aman’?”
Arga melirik tajam. “Lebih aman daripada ngomong di lorong terbuka.”
Kenzo mengangkat bahu. “Fair.”
Hana pelan-pelan mengangguk. “Terus… kita bahas semua di situ?”
“Semua,” jawab Arga. “Pesan, dugaan, apa pun yang kita temuin.”
Kenzo menambahkan, “Dan jangan pakai nama grup aneh-aneh. Yang normal aja.”
Hana hampir tersenyum tipis. “Kenapa?”
“Gapapa." Jawab Kenzo santai.
Arga langsung mengeluarkan ponselnya. “Gue bikin sekarang.” Beberapa detik. “Nama?”
Hana ragu sebentar. "Terserah aja.”
Kenzo melirik Arga. “Gitu aja nanya."
Arga mendecih. “Gue juga nggak niat bikin nama dramatis.”
Beberapa detik lagi. “Udah,” katanya. “Gue masukin kalian.”
Ponsel Hana bergetar. Notifikasi masuk. Ia menatap layar. Nama grupnya sederhana. Terlalu biasa, bahkan. Tapi justru itu— terasa pas.
Kenzo juga melihat ponselnya. “Bagus. Nggak mencurigakan.”
Arga mengangguk kecil. “Mulai dari sekarang, kita pakai ini.”
Hana mengangguk. “Iya…”
Kenzo menatap keduanya bergantian. “Dan satu lagi.”
Arga melirik. “Apa?”
“Jangan kirim hal penting di tempat terbuka,” kata Kenzo. “Kalau bisa, tunggu sampai aman.”
Arga mengangguk. “Setuju.”
Hana menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. "Oke.”
Hening sebentar. Tetapi Kali ini— tidak setegang sebelumnya.
Arga melirik ke arah tangga. “Udah, balik aja. Kebanyakan di sini malah makin aneh.”
Kenzo mengangguk. “Iya.”
Hana menarik napas pelan. “…hati-hati ya.”
Arga menatapnya. "Lo juga.”
Kenzo hanya mengangkat tangan sedikit. “Nanti update di grup.”
Setelah itu mereka berlisah. Langkah kaki kembali bercampur dengan keramaian sekolah. Tapi sekarang—tidak benar-benar terasa sama.
***
Jam pelajaran terakhir belum selesai ketika guru mengingatkan— “Yang piket hari ini jangan lupa ya. Kelasnya dirapikan sebelum pulang.”
Beberapa orang mengangguk seadanya. Hana hanya diam. Ia tahu jadwalnya, dan entah kenapa— sejak pagi, ia sudah merasa hari ini tidak akan berjalan normal.
Begitu bel pulang berbunyi, kelas langsung riuh. Kursi digeser, tas diangkat, suara tawa dan langkah kaki saling bertabrakan.
Hana tidak langsung bergerak. Ia menunggu.
Menunggu Nisa. Atau Eliza. Atau siapa pun dari kelompok piketnya.
Tapi— bangku mereka kosong. Nisa tampaknya tidak datang sejak pagi, sedangkan Eliza— ia tidak tahu. Hana menarik napas pelan.
Tangannya meraih sapu di sudut kelas. “…ya udah.”
Ia mulai menyapu dengan pelan. Suara gesekan sapu terdengar jelas di kelas yang perlahan kosong. Satu per satu orang keluar.
Tinggal beberapa. Lalu— semakin sedikit. Sampai akhirnya— hanya Hana. Dan suara sapu. Ia berhenti sebentar. Menegakkan badan. Menatap kelas yang setengah bersih.
“…harusnya berempat ya.”
Tapi yang ada— hanya dia. Ia lanjut lagi. Menggeser kursi. Mengelap meja. Mengumpulkan sampah kecil. Pikirannya tidak benar-benar diam. Tentang pesan itu. Tentang Kenzo. Tentang Arga. Dan tentang seseorang yang mungkin sedang melihatnya.
“Hana?.”
Hana langsung berhenti. Menoleh sejenak. Andre. Teman sekelasnya.
“Oh… lo juga piket?”
Andre mengangguk. “Maaf telat. Tadi ke ruang guru.”
“Nggak apa-apa.”
Mereka mulai bersih-bersih. Tanpa banyak kata. Tapi tidak canggung. Beberapa menit. Andre bersuara lagi.
“Yang lain nggak datang?”
“Eliza gatau. Nisa ga masuk."
“Oh.”
Hening sebentar.
“Berarti tinggal kita berdua.”
“Iya.”
Andre tersenyum tipis. “Tadi pelajaran terakhir… susah ya.”
Hana tertawa kecil. “Iya banget.”
“Gue nyatet sih,” kata Andre. “Tapi kayaknya salah semua.”
Hana menoleh. “Serius?”
“Iya. Kalau lo mau, nanti gue kirim.”
Hana mengangguk. “Boleh.”
Kelas akhirnya rapi. Andre pamit lebih dulu. Hana menyusul. Menutup pintu kelas, lalu keluar. Langit sudah gelap. Tetes pertama jatuh di tangannya. Lalu— hujan turun. Semakin deras.
“…nggak bawa payung.”
Ia berdiri di dekat gerbang. Menunggu. Ponselnya di tangan. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi grup baru.
| Arga: “Udah aman?”
| Kenzo: “Belum mati kan?”
Hana menatap layar ponselnya sejenak, sebelum kemudian mengetik pelan.
| “Masih di sekolah.”
| Arga: “Jangan sendirian.”
| Kenzo: “Tunggu."
Hana hampir membalas— tapi suara mesin mobil berhenti di depannya. Ia menoleh. Kaca mobil turun. Kenzo.
“Masuk.”
Hana mengernyit. “Nggak usah, aku pesan aja.”
Kenzo diam sebentar. Menatapnya.
“Hujannya makin deres,” katanya. “Mau nunggu sampai kapan?”
Hana ragu. “Aku bisa—”
“Han.” Nada suaranya lebih tegas.
“Masuk aja.” Hana menatapnya beberapa detik.
Hana membuka pintu. Dan masuk. Lalu pintu tertutup. Suara hujan meredam.
Mobil mulai jalan. Keheningan jatuh di antara mereka selama beberapa detik. Lalu— Kenzo bicara.
"Kamu nggak boleh sendirian.”
Hana menoleh sedikit. “Barusan juga nggak sendiri.”
“Sekarang iya,” balas Kenzo.
Hujan masih turun deras. Setiap tetesannya bergerak dengan ritme.
Kenzo bicara lagi. “Kamu kepikiran terus ya?”
Hana tidak langsung jawab. “…iya.”
“Pesannya?”
“Iya.”
Kenzo mengangguk kecil. “Wajar.”
Hana menoleh sedikit. “Kakak nggak takut?”
Kenzo diam sebentar.
“…takut itu ada,” katanya. “Cuma nggak guna kalau dipakai buat panik.”
Hana menatapnya. “Tapi kakak keliatan santai terus.”
Kenzo tersenyum tipis. “Biar kamu nggak tambah panik.”
Hana sedikit tersipu, buru-buru memalingkan wajahnya menghadap ke jendela. "Makasih.”
Kenzo tidak langsung jawab. Hanya mengangguk kecil. Mobil terus melaju. Hujan belum reda. Dan di antara suara hujan, percakapan mereka perlahan mulai membuka sesuatu yang sejak tadi ditahan.
“Han,” kata Kenzo pelan.
“Iya?”
“Kalau nanti dia kirim lagi—”
Hana langsung menoleh.
“Jangan baca sendirian.”
Hana diam. Lalu mengangguk pelan. "Iya.”
Hening kembali turun. Tapi kali ini tidak sepenuhnya menekan. Karena sekarang, meski belum aman, ia tidak benar-benar sendirian.