NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Rumah yang Sama

Begitu mobil masuk ke area basement apartemen, keheningan di dalem kabin makin kerasa "berat". Arga akhirnya ngelepasin kaitan kelingkingnya pelan-pelan, terus ngerapihin jasnya yang udah agak kusut gara-gara drama seharian ini. Nara juga buru-buru benerin rambutnya yang berantakan, nyoba bersikap biasa aja seolah jantungnya nggak lagi dangdutan.

"Capek banget ya?" tanya Nara pas mereka jalan beriringan nuju lift.

"Lumayan. Tapi lebih capek ngadepin wartawan daripada ngurusin audit sepuluh perusahaan sekaligus," sahut Arga sambil mencet tombol lantai unit mereka.

Pas pintu lift kebuka di lantai tujuan, suasana lorong apartemen kerasa sunyi banget. Tapi pas mereka buka pintu unit, ada yang aneh. Suara *beep-beep* nyaring kedengeran dari arah lorong kamar.

"Suara apaan tuh, Ga?" Nara langsung lari masuk, nyari sumber suaranya.

Ternyata, itu alarm dari panel kontrol AC di deket kamar Nara. Di bawahnya, lantai kayu yang mahal itu udah basah kuyup. Nara ngedongak dan langsung melongo. Atap di sudut kamarnya rembes parah, airnya netes-netes pas di atas kasurnya yang empuk.

"Yah... Arga! Kamar gue banjir!" teriak Nara panik. Dia buru-buru ngeraih bantalnya yang udah setengah basah.

Arga nyamperin, tangannya dimasukin ke saku celana sambil ngerutin dahi liat pemandangan itu. "Kayaknya pipa saluran AC di atas pecah. Efek hujan gede kemarin plus nggak pernah dicek."

"Terus gimana? Gue tidur di mana dong?" Nara celingukan. Sofa di ruang tamu emang empuk, tapi ukurannya kecil banget buat badan Nara yang suka tidur muter-muter.

Arga ngecek jam tangannya. Udah jam satu pagi. Nggak mungkin manggil tukang *maintenance* jam segini, apalagi di gedung yang privasinya ketat banget.

"Nggak mungkin lo tidur di sini, baunya udah lembap," kata Arga lempeng. Dia balik badan, terus nengok ke arah Nara yang masih melas megangin bantal. "Tidur di kamar gue aja."

Nara keselek ludah sendiri. "Hah? Maksudnya... sekamar?"

"Ya kamar gue kan ranjangnya king size, Nara. Cukuplah buat dua orang tanpa harus senggolan," Arga ngomongnya santai banget, seolah lagi nawarin makan siang, padahal muka Nara udah kayak kepiting rebus. "Daripada lo sakit karena tidur di sofa atau maksain di kamar yang bocor begini."

Nara diem bentar. Di satu sisi, dia ngerasa canggung setengah mati. Di sisi lain, kepalanya udah berat banget dan dia butuh kasur yang kering.

"Ya udah... tapi ada pembatasnya ya!" Nara akhirnya nyerah.

Sepuluh menit kemudian, Nara udah ganti baju pakai piyama satin warna maroon, berdiri kaku di depan pintu kamar Arga yang selama ini jadi "wilayah terlarang". Pas dia masuk, bau maskulin khas Arga langsung nyengat—wangi kayu cendana sama aroma dingin AC yang bikin rileks.

Arga udah di atas kasur, tapi dia nggak tidur. Dia nyender di kepala ranjang sambil mainin iPad-nya, kacamatanya nangkring di hidung, bikin dia kelihatan makin ganteng tapi versi "rumahan".

"Sisi sebelah kiri punya lo. Jangan lewat garis tengah," kata Arga tanpa nengok, tapi ada nada jahil di suaranya.

Nara ngerangkak naik ke kasur dengan gerakan selembut mungkin, takut ganggu "wilayah" sang CEO. Pas punggungnya nyentuh kasur yang super empuk itu, Nara ngerasa dunianya mendadak tenang.

"Ga..."

"Hm?" Arga naruh iPad-nya di meja nakas, terus matiin lampu utama, nyisain lampu tidur yang remang-remang.

"Makasih ya. Buat semuanya hari ini. Buat rumah kayu, buat sate padang, buat... belain gue tadi," bisik Nara di tengah kegelapan.

Arga nggak langsung jawab. Di tengah sunyi, Nara bisa ngerasain Arga narik selimut buat nutupin badan mereka berdua.

"Gue bilang kan, kita pulang ke rumah yang sama," gumam Arga, suaranya kedengeran serak dan rendah banget di deket telinga Nara. "Sekarang tidur. Besok kita hadapin dunia lagi sama-sama."

Nara merem, senyumnya ngembang tipis. Ternyata, "pulang" itu bukan cuma soal bangunan apartemen mewah ini, tapi soal siapa yang ada di sampingnya saat semua lampu dimatiin.

---

Nara nyoba buat merem, tapi matanya kayak ada lemnya—susah banget diajak kompromi. Kamar Arga yang biasanya cuma dia intip lewat pintu yang kebuka dikit, sekarang jadi tempat dia bakal ngabisin malam. Bau seprainya bener-bener Arga banget, wangi mahal yang maskulin tapi bikin rileks, bukan bau kantor yang kaku.

"Ga, lo udah tidur?" bisik Nara pelan banget, lebih kayak mastiin kalau dia nggak sendirian di tengah kecanggungan ini.

"Belum. Kenapa? Kasurnya kurang empuk?" sahut Arga. Suaranya rendah banget, kedengeran lebih berat karena posisi mereka yang deketan.

"Nggak, empuk banget malah. Cuma... gue ngerasa aneh aja. Tadi siang kita masih diserbu wartawan, terus lo ngamuk-ngamuk di depan Rio, sekarang kita malah rebutan selimut begini," Nara ketawa kecil, nyoba ngilangin rasa canggung yang sebenernya masih ngegantung di udara.

Arga ngerubah posisinya jadi miring, ngadep ke arah Nara. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, Nara bisa liat siluet muka Arga yang tegas. Nggak ada lagi kacamata yang tadi nangkring di hidungnya.

"Hidup emang lucu, Nara. Kadang plot twist-nya lebih gila daripada novel yang lo tulis," gumam Arga. Dia ngeraih ujung selimut yang agak merosot di bahu Nara, terus ditarik pelan buat nutupin leher cewek itu. "Tidur. Jangan mikir macem-macem. Gue nggak bakal gigit, kecuali lo duluan yang nendang gue keluar dari kasur."

Nara mendengus pelan, tapi hatinya ngerasa anget. Dia balik badan jadi membelakangi Arga, nyoba nyari posisi paling enak. "Gue nggak bakal nendang ya! Gue kalau tidur anteng kok, paling cuma muter seratus delapan puluh derajat doang."

"Ya itu namanya balapan di kasur, bukan anteng," celetuk Arga, bikin Nara refleks nyikut pelan ke belakang—yang ternyata malah kena perut Arga yang keras.

"Aduh! Keras banget sih perut lo, kayak beton!" keluh Nara sambil narik tangannya balik.

Arga ketawa pendek, tipe tawa yang jarang banget keluar kalau mereka lagi di depan umum. "Makanya jangan asal nyikut. Udah, diem. Merem sekarang, atau gue beneran bakal tagih janji kontrak soal 'kewajiban istri' malam ini?"

Mendengar kata "kewajiban istri", Nara langsung diem seribu bahasa. Dia narik selimutnya sampai nutupin idung, jantungnya kembali maraton. Dia tahu Arga cuma bercanda, tapi tetep aja bikin merinding disko.

Suasana kembali sunyi. Cuma ada suara AC yang mendesis pelan sama detak jam dinding. Lama-lama, rasa capek yang luar biasa dari drama seharian ini mulai menangin ego Nara. Matanya mulai berat, napasnya perlahan jadi teratur.

Arga yang denger napas Nara mulai tenang, pelan-pelan ngeraih bantal pembatas yang tadi ditaruh Nara di tengah-tengah. Dia geser bantal itu sedikit ke pinggir, terus dia maju dikit buat mastiin Nara nggak kedinginan.

"Pulang ke rumah yang sama... ternyata rasanya begini ya," bisik Arga ke arah punggung Nara yang udah terlelap.

Dia nggak ngelepasin pandangannya dari Nara sampai akhirnya dia sendiri ikut nyusul ke alam mimpi. Malam itu, di unit apartemen mewah yang kedap suara, dua orang yang tadinya cuma terikat selembar kertas kontrak, akhirnya bener-bener ngerasain apa artinya punya "tempat pulang" yang nyata.

---

Nara udah mulai hanyut ke alam mimpi, napasnya pelan dan teratur banget. Tapi di sisi lain ranjang, Arga malah makin melek. Dia natap langit-langit kamar yang gelap, kepikiran semua kejadian hari ini. Dari mulai koordinat di rumah kakeknya, drama mie instan yang gagal total gara-gara Rio, sampai momen dia harus pasang badan di depan wartawan tadi.

"Ternyata jagain lo lebih capek daripada jagain harga saham, Ra," gumam Arga pelan banget, hampir kayak bisikan angin.

Dia nengok dikit ke arah Nara. Cewek itu tidur miring membelakangi dia, tapi selimutnya udah mulai merosot lagi karena Nara hobi gerak pas tidur. Arga ngehela napas, terus pelan-pelan dia narik lagi selimut itu sampai ke pundak Nara. Tangannya sempet berhenti bentar pas ujung jarinya nggak sengaja nyentuh kulit leher Nara yang anget. Ada sengatan aneh yang bikin Arga refleks narik tangannya balik.

"Gila, gue beneran udah nggak waras," umpat Arga ke diri sendiri.

Dia nyoba merem lagi, nyari posisi yang enak. Tapi kasurnya yang biasanya kerasa luas banget, sekarang mendadak jadi sempit—bukan karena tempatnya kurang, tapi karena dia terlalu sadar kalau ada "orang asing" yang sekarang jadi dunianya lagi tidur cuma sejengkal dari dia.

Nara tiba-tiba ngeracau pelan, "Jangan... jangan ambil bukunya..."

Arga ngerutin dahi. Dia denger Nara ngigau soal novel atau mungkin soal masa lalunya yang tadi diungkit-ungkit. Arga mutusin buat nggeser bantal pembatas yang tadi ditaruh Nara di tengah. Dia singkirin bantal itu ke lantai, terus dia nggeser badannya dikit biar lebih deket ke arah Nara.

Bukannya mau macem-macem, Arga cuma pengen mastiin kalau Nara nggak mimpi buruk lagi. Dia naruh tangannya di atas bantal Nara, deket banget sama kepala cewek itu, seolah lagi bikin pelindung tak kasat mata.

"Gue di sini, Ra. Nggak bakal ada yang bisa ambil apa pun dari lo lagi," bisik Arga mantap.

Lama-lama, kantuknya Arga dateng juga. Suara napas Nara yang tenang jadi melodi paling ampuh buat bikin CEO yang otaknya selalu jalan 24 jam ini akhirnya tumbang. Dia mulai merem, tangannya yang tadi cuma di bantal, perlahan turun dan tanpa sadar jari kelingkingnya nyentuh ujung rambut Nara.

Di unit apartemen yang kedap suara itu, semua kemewahan di luar sana nggak ada artinya. Mau mobil sport di basement atau saldo rekening yang digitnya nggak abis-abis, semuanya kalah sama rasa tenang yang mereka dapetin malam ini. Mereka pulang ke rumah yang sama, bukan cuma secara fisik, tapi secara batin yang mulai saling nemuin pintunya masing-masing.

Malam itu, nggak ada kontrak. Nggak ada Rio. Nggak ada wartawan. Cuma ada dua manusia yang akhirnya berani nurunin ego mereka buat sekadar tidur tenang di bawah atap yang sama.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!