NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:970
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Lidah Belati dari Paris dan Akuisisi Media

Kehadiran Julian de Luca baru saja memberikan warna baru (dan lakban pembatas) di butik Arunika, namun kedatangan Isabelle Vantier ke Jakarta terasa seperti badai salju yang membekukan suhu tropis. Isabelle adalah kritikus mode paling ditakuti di Eropa; ulasannya bisa membuat sebuah rumah mode hancur dalam semalam atau melambung ke langit ketujuh.

Pagi itu, Isabelle masuk ke butik dengan langkah yang begitu tajam hingga bunyi hak sepatunya terdengar seperti detak jantung yang panik. Ia mengenakan setelan hitam simetris, kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya, dan ekspresi yang menunjukkan seolah ia sedang mencium aroma sampah di tengah taman bunga.

"Julian," suara Isabelle dingin saat melihat mantan tunangannya sedang berdiri di belakang garis lakban buatan Devan. "Jadi, di sinilah kamu menghabiskan bakatmu? Di butik kecil yang baunya seperti... apa ini? Gorengan?"

Nika, yang baru saja keluar membawa nampan berisi bakwan jagung (niatnya untuk camilan pagi), terpaku. Ia menatap wanita itu dari atas ke bawah. "Maaf, ini bakwan jagung organik. Dan siapa Anda?"

Julian berdehem canggung. "Nika, kenalkan, ini Isabelle Vantier. Isabelle, ini Nika, desainer yang aku ceritakan."

Isabelle tidak menyalami Nika. Ia justru berjalan menuju manekin yang mengenakan gaun "Reborn" kebanggaan Nika. Ia menyentuh kainnya dengan ujung jari yang dibalut sarung tangan kulit, lalu menariknya dengan kasar.

"Hambar," ucap Isabelle pedas. "Konstruksinya lemah, pemilihan payetnya terlalu berisik seperti pasar malam, dan teknik draping-nya... Julian, apakah kamu mengajarinya sambil tidur? Ini bukan Haute Couture. Ini hanyalah sampah kelas teri yang dipaksakan tampil di panggung besar."

Wajah Nika memucat. Seluruh perjuangannya, air matanya, dan malam-malam tanpa tidurnya baru saja disebut "sampah" oleh wanita yang belum ada lima menit berada di butiknya.

Tepat pada saat itulah, pintu kantor belakang terbuka. Devan melangkah keluar. Ia sudah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Isabelle. Devan tidak tampak marah; ia justru terlihat sangat tenang—jenis ketenangan yang biasanya membuat para saingan bisnisnya gemetar ketakutan.

"Nyonya Vantier," suara Devan bergema, berat dan penuh otoritas. "Saya Devan Adiguna. Pemilik gedung ini, pemilik perusahaan konstruksi yang membangun setengah dari cakrawala kota ini, dan yang paling penting... suami dari desainer yang baru saja Anda hina."

Isabelle berbalik, sedikit terkesan dengan aura Devan, namun tetap angkuh. "Ah, sang taipan. Maaf, Tuan Adiguna, uang Anda mungkin bisa membangun gedung, tapi uang Anda tidak bisa membeli selera dan estetika."

Devan berjalan mendekati Nika, merangkul bahu istrinya yang gemetar. "Anda benar. Selera tidak bisa dibeli. Tapi platform untuk menyuarakannya? Itu sangat bisa dibeli."

Devan merogoh ponselnya, menekan satu tombol panggilan cepat. "Siska? Hubungi pemilik saham mayoritas majalah L'Elite Mode Indonesia dan cabang Asia-nya. Saya ingin membeli 80% saham mereka hari ini juga. Pastikan transaksi selesai sebelum jam makan siang."

Nika melongo. Julian melongo. Bahkan Isabelle sedikit menurunkan kacamata hitamnya.

"Mas! Kamu gila?" bisik Nika panik. "Membeli majalah mode hanya karena dia menghinaku?"

"Aku tidak suka ada orang yang memberikan penilaian buruk pada investasi hatiku, Ni," jawab Devan santai. Ia kembali menatap Isabelle. "Nyonya Vantier, mulai pukul satu siang nanti, saya adalah atasan dari editor kepala Anda di wilayah Asia. Dan saya baru saja memutuskan bahwa butik Arunika akan menjadi sampul utama selama tiga bulan berturut-turut dengan ulasan bintang lima tanpa syarat."

"Ini konyol! Anda tidak bisa mendikte integritas jurnalistik mode!" seru Isabelle mulai panik.

"Saya tidak mendikte. Saya hanya memastikan bahwa 'sampah kelas teri' menurut Anda akan menjadi 'mutiara paling bersinar' di seluruh kios majalah di benua ini," Devan tersenyum tipis, jenis senyum pemenang.

Suasana butik mendadak menjadi sangat aneh. Isabelle yang tadi begitu angkuh, kini sibuk menelepon kantor pusatnya dengan wajah pucat. Julian hanya bisa geleng-geleng kepala, menyadari bahwa ia sedang berurusan dengan pria yang level cemburu dan protektifnya sudah mencapai tingkat "akuisisi korporat".

Namun, Nika tidak merasa senang. Ia justru berjalan menuju Devan dan menarik kerah kemejanya.

"Mas Bos yang terhormat," ucap Nika dengan nada yang mulai meninggi. "Terima kasih sudah menjadi pahlawan super dengan buku cek. Tapi aku tidak mau menang karena kamu membeli majalahnya! Aku mau menang karena desainku memang bagus!"

"Tapi dia menghinamu, Ni!"

"Biarkan saja! Dia hanya satu orang dengan kacamata hitam kegelapan!" Nika kemudian melakukan keranduman yang membuat semua orang terdiam. Ia mengambil sepotong bakwan jagung yang masih hangat, lalu dengan berani menyodorkannya tepat ke depan mulut Isabelle yang sedang mengomel di telepon.

"Makan ini," perintah Nika pada Isabelle.

Isabelle terhenti bicara. "Apa? Saya tidak makan makanan berminyak—"

"Makan. Atau aku akan minta suamiku membeli pabrik sepatu favoritmu dan menutupnya hari ini juga!" ancam Nika dengan gaya yang meniru Devan.

Karena takut, Isabelle akhirnya menggigit bakwan jagung itu. Ia mengunyahnya perlahan, lalu matanya sedikit membelalak. Rasa gurih jagung manis, aroma daun jeruk, dan tekstur renyahnya meledak di mulutnya.

"Bagaimana? Lebih baik daripada ulasan pedasmu, kan?" tanya Nika bangga. "Dengar, Nyonya Vantier. Anda boleh benci desainku, tapi Anda tidak bisa membantah kalau hatiku ada di setiap jahitannya. Sekarang, silakan keluar dari butikku sebelum aku memaksa Anda menghabiskan satu bakul bakwan ini."

Isabelle, yang merasa harga dirinya hancur sekaligus lidahnya dimanjakan oleh bakwan, segera berbalik dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Julian mengikuti dari belakang sambil memberikan jempol pada Nika.

Setelah mereka pergi, Devan menatap Nika dengan tatapan bingung. "Jadi... aku harus membatalkan pembelian majalahnya?"

"Tentu saja tidak! Sudah terlanjur dibeli, kan? Biarkan saja. Aku mau pakai majalah itu untuk mempromosikan UMKM kain tenun dari desa-desa terpencil. Itu lebih berguna daripada hanya untuk memuji gaunku," jawab Nika sambil membersihkan remah bakwan di meja pola.

Devan tertawa lepas, ia menarik Nika ke dalam pelukannya. "Kamu benar-benar tidak terduga, Ni. Aku menawarkanmu kekuatan media, kamu malah membalasnya dengan bakwan jagung."

"Karena bakwan jagung adalah bahasa universal untuk 'diamlah', Mas," Nika menyandarkan kepalanya di dada Devan. "Tapi Mas, janji ya... besok-besok kalau ada yang menghinaku lagi, jangan beli perusahaannya. Beli saja cokelat yang banyak."

"Tergantung seberapa pedas mulutnya, Ni," gumam Devan sambil mencium puncak kepala Nika.

Malam itu, butik Arunika kembali hangat. Devan akhirnya benar-benar membantu Nika memotong pola (meskipun hasilnya sedikit miring karena ia terlalu fokus menatap Nika). Namun, di luar butik, seorang pria misterius sedang memotret papan nama "Arunika" dari dalam mobil. Ia mengirimkan pesan ke sebuah grup rahasia: "Target sudah merasa aman. Kirimkan paket 'masa lalu' itu sekarang."

Nika dan Devan belum tahu, bahwa Isabelle hanyalah pembuka jalan bagi rahasia gelap tentang ibu kandung Nika yang selama ini disembunyikan oleh Pak Batubara di dalam sebuah brankas tua di Swiss.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!