NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

Arka menutup pintu mobilnya, setelah berhasil memarkirkan mobilnya di trotoar jalan yang sempit itu.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan sosok pria yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang bingung.

"Pak Arka," ucap Revan kaget.

"Kamu sedang apa disini?" tanya Arka setengah bingung.

"Saya.. ingin mengunjungi Aluna, apakah dia sudah lebih baik." Ia melanjutkan kalimatnya, "sebagai rekan kerjanya.. saya peduli."

"Saya juga ingin memastikan apakah karyawan saya sudah lebih baik," kalimatnya terhenti, "sebagai atasannya.. saya peduli."

Mata mereka saling menatap dengan tajam, seolah sedang memperebutkan sesuatu yang berharga.

Arka melirik kantong plastik yang di bawa Revan, begitupun Revan melirik paperbag yang berbeda di tangan Arka.

Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dari dalam—

Aluna keluar, matanya menemukan dua orang yang tidak asing lagi di matanya.

Ia terkejut, sesaat berdiri mematung, seolah ingin memastikan bahwa dia orang itu adalah atasannya dan rekan kerjanya.

"Kalian.. sedang apa?" tanya Aluna bingung.

Tangannya berhenti pada gagang pintu yang tadinya ingin ia tutup.

Hening—Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

Sampai kemudian..

"Kamu mau kemana?" tanya Arka memecah suasana.

"Saya.. tadinya mau cari sesuatu untuk menghilangkan rasa mual."

Sontak kedua pria itu mengangkat barang bawaannya. "Aku bawain sesuatu."

Mereka berbicara secara bersamaan, lalu keduanya saling menoleh.

Aluna hanya diam melihat tingkah kedua pria itu.

Seolah ia sudah tahu tujuan mereka, Aluna menyuruh keduanya untuk duduk di kursi teras.

"Aluna.. aku bawain kamu matcha. Ini pasti bisa menghilangkan mual kamu."

Revan menyodorkan satu cup matcha dingin.

Melihat itu, Arka tidak tinggal diam.

Ia pun menawarkan barang miliknya, "matcha tidak baik untuk kesehatan, lebih baik minum susu saja."

Arka menyodorkan susu kotak.

Aluna tidak bereaksi apapun, wajahnya datar, matanya melihat kedua minuman di hadapannya.

Kemudian ia meraih susu kotak, menusuknya dengan sedotan, lalu meminumnya.

Tangan satunya meraih matcha, lalu menyedotnya.

Kini di bibir perempuan itu tengah menyedot susu dan matcha secara bersamaan.

Arka dan Revan hanya diam menyaksikan tingkah konyol perempuan itu.

"Aku juga bawain kamu coklat chip." Revan memecah keheningan, lalu mengeluarkan coklat chip yang di bawanya.

Tiba-tiba Arka mengeluarkan sesuatu dari paperbag miliknya. "Biasanya kalau habis makan yang manis, pasti pengen makan yang asin."

Ia melanjutkan kalimatnya, "saya bawakan potato chips."

Aluna melirik kedua snack itu, ia diam sejenak kemudian meraih keduanya, membuka bungkusnya—

Lalu mencampurkan kedua makanan itu.

Tangannya mengguncang-guncangkan kedua snack yang telah menjadi satu.

"Ini varian rasa baru," katanya. "Asin dicampur manis." Ia mencobanya, "emm.. luar biasa."

Ia tersenyum kepada kedua pria itu, namun senyumannya tidak benar-benar terlihat jujur.

Arka dan Revan menghela nafas.

Mereka berakhir mengobrol ringan, membicarakan pekerjaan dan hal-hal receh.

Di sela-sela obrolan, Arka mencuri pandang pada Aluna.

Aluna yang menyadari itu, berpura-pura tidak tahu.

Malam semakin larut.

Arka melirik jam di tangannya. "Sudah larut malam, sebaiknya para pria kembali."

"Yasudah.. kalau begitu saya balik," Revan melirik Arka. "Pak Arka juga kan."

Arka menoleh padanya. "Ya.. tentu." Ia tersenyum sekilas.

Mereka pun berpamitan dan pergi.

Aluna membereskan sisa makanan dan membawanya ke masuk ke dalam kos.

Beberapa menit kemudian..

Tok.. tok.

Pintu di ketuk dari luar.

Aluna berpikir sesaat, lalu membuka pintu.

"Pak Arka," menatap tak percaya. "Ada yang ketinggalan?"

Arka mendorong tubuh Aluna ke dalam, lalu menutup kembali pintu itu.

"Ada apa?" Aluna merasa bingung.

Arka tidak menjawab, ia hanya menatap perempuan itu.

"Pak Arka." Aluna mencoba menghentikan tatapan pria itu.

"Bisakah kamu terbuka dengan ku." Kalimat yang tiba-tiba keluar dari mulut Arka.

Aluna mengerutkan keningnya. "Bapak ingin saya buka baju?"

Arka terkejut dengan kalimat Aluna.

Ia menghela nafasnya, "Aluna.." ucapnya tegas.

Aluna terkekeh kecil, "maaf.. saya bercanda."

Ia hanya berusaha memancing suasana agar tidak terlalu tegang.

"Bahkan saya tidak sedang menyembunyikan apapun," lanjutnya.

"Mual.. anemia.. itu terdengar tidak masuk akal," nadanya terdengar tegas, wajahnya mulai serius.

"Tetapi jika.. mual. Dan ini.."

Arka mengeluarkan sesuatu dari sakunya—

Foto USG.

Aluna tercekat. Matanya melotot.

"Kedua hal itu bisa di artikan sebagai sesuatu, Aluna," jelas Arka.

Aluna mundur beberapa langkah, kepalanya menggeleng, wajahnya terlihat ketakutan.

Arka melangkah mendekatinya, kedua tangannya meraih pundak Aluna.

"Aluna.. ada apa? Dan apa maksud dari foto USG ini?" Arka menuntut penjelasan.

"Itu bukan apa-apa," nadanya bergetar. "Itu.. hanya.. hasil penyakit saya."

Aluna berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi.

Arka menghela nafas, seolah kata-kata yang keluar dari bibir perempuan itu hanya omong kosong.

"Aluna," bentak Arka.

"Aku bisa saja mendatangi rumah sakit ini, aku bisa saja dengan mudah mencari tahu."

Arka sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Aluna.

"Tapi aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mu," nadanya kini terdengar lembut.

Air mata yang sedari tadi Aluna coba tahan, akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Ia menggigit bibirnya, seolah takut untuk berbicara.

Arka memeluk perempuan itu. "Aku sudah bilang.. jangan mencoba berjalan sendirian, kamu tidak akan mampu."

Dan disanalah—

Air mata itu akhirnya mengalir lebih deras, perempuan itu menangis sesenggukan di dalam pelukan Arka.

Beberapa saat setelah Aluna merasa tenang.

Pria itu terus mengelus pipi Aluna, perempuan itu tertunduk, jarinya meremas-remas punggung tangannya.

"Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arka lirih.

"Kenapa Pak Arka peduli?" tanya Aluna tiba-tiba.

"Karna aku.. mencintai mu," ucap Arka dengan tegas.

"Tapi.." kalimat Aluna terhenti.

"Ucapan cinta dari Anda.. terdengar seperti lelucon bagi saya."

Kalimat itu membuat Arka terdiam, tangannya berhenti mengelus pipi Aluna.

Hening menyelimuti ruangan itu.

Ada sesak yang tiba-tiba merambat di dada Arka.

Seolah bibirnya pun tak mampu mengucap sepatah kata.

Ia tahu, ungkapan cinta itu terdengar aneh.

Bukan karena ia tidak mencintainya,

tapi karena bagi Aluna… hal itu terdengar mustahil.

Seorang pria seperti Arka dan seseorang seperti dirinya—

tidak seharusnya berada dalam satu kalimat yang sama.

"Aku tahu terdengar mustahil bagimu." Tangan pria itu menggenggam erat tangan Aluna.

"Entahlah.. aku hanya mencoba untuk berkata jujur."

"Setelah ungkapan cinta itu, terucap.. lalu apa?" suara Aluna sedikit meninggi. "Apa yang Bapak harapkan?"

Arka mengusap wajahnya, terlihat sangat frustasi.

"Bahkan Anda tidak bisa menjawabnya. Anda sendiri pun tidak tahu apa yang Anda inginkan."

Aluna tertawa kecil, seolah sedang meledek pria itu.

"Seandainya aku bisa, Aluna," suaranya bergetar. "Aku sangat ingin membersamai mu."

"Tapi Bapak tidak bisa kan?" Aluna kini menatap tajam pria itu.

Arka kini tertunduk pasrah.

"Kalau begitu.. sekarang saya tahu jawabannya. Dan saya tahu harus bagaimana."

Aluna menghela nafas panjang, kemudian..

"Saya hamil."

1
Amiura Yuu
percakapan nya huruf nya jangan dibuat miring kak berasa ngomong dalam hati
Lass96: Wah noted kak... Makasih udah ngingetin! Aku coba evaluasi lagi biar lebih nyaman dibaca yaa
total 1 replies
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!