“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 29
Tawa masih menggantung di kamar beraroma lavender, mengusik Adam yang sudah terlelap di gendongan. Bayi gembul itu kembali merengek seolah memanggil pelukan yang lebih menenangkan.
Rizal menimang pelan putra kesayangannya sebelum memindahkannya ke tangan Nadya, bibirnya berbisik pelan.
“Abang serius, Nad, Abang bersedia jadi rumah untuk kamu. Dalam artian tempat nyaman buat kamu berbagi cerita, bukan hanya tentang percintaan kaya anak remaja. Tapi, kalau akhirnya jadi cinta, ya … sah-sah aja ‘kan?”
Nadya terhenyak singkat, tawa pendek terbit dari bibirnya yang sedikit mengerucut. “Istighfar, Bang! Kuburan bini baru juga kering tanahnya udah gombalin betina baru aja.” Tatapannya memicing. “Udah sana keluar, saya mau netekin Adam,” lanjutnya sambil membawa Adam masuk ke dalam kelambu.
Rizal mengusap wajahnya kasar, sudut bibirnya terangkat pelan, tatapannya mengikuti gerakan Nadya yang begitu telaten menyiapkan tempat tidur untuk sang putra.
Menyadari Rizal masih memperhatikannya, Nadya kembali berujar setengah bercanda. “Buruan keluar, Bang. Atau Abang mau liat Adam netek?”
“Boleh?” sahut Rizal.
“Silahkan, Asal jangan nafsu aja!” balas Nadya.
Mendengar selorohan Nadya, seringai nakal terbit di wajah tampan Rizal, ia melangkah mendekat, lalu tanpa permisi turut masuk ke dalam kelambu—berbaring di samping Adam yang masih merengek menahan kantuk.
Sontak, Nadya mendelik, rahangnya mengeras, namun bukan karena emosi melainkan rasa tak percaya dengan apa yang dilakukan Rizal.
“Lawang ini orang,” panik Nadya sambil menendang kecil kaki Rizal. “Cepetan keluar, ah, udah rewel ini Adam.”
Rizal terkekeh pelan seraya mengambil bantal di samping Adam. “Kata kamu boleh?
“Ada gila-gila bener ini orang. Abang.” Nadya terus saja menendang kaki Rizal.
“Apa sih, ya udah tinggal tetekin Adam. Nggak … nggak kalo Abang minta. Kalau dikasih, ya …?”
Bugh
Nadya melempar Rizal dengan bantal.
“Cepet keluar nggak?!”
Rizal terbahak seketika melihat wajah panik Nadya, niat jahil semakin membara di pikirannya.
“Cepet di tetekin anaknya, Nad, kasian udah haus banget ini,” sambil menepuk pelan paha sang putra.
“Ya Abang buruan keluar!” cicit Nadya.
“Orang belum mau keluar kok disuruh keluar, gimana Mami mu ini, Dam,” seloroh Rizal semakin membuat wajah Nadya memerah.
“Abang!”
Rizal mencium ringan pipi gembul Adam, kemudian beranjak duduk di samping bocah gembul itu. Tangannya terulur meraih puncak kepala Nadya, lalu mengacaknya dengan gemas.
“Tadi nantangin, giliran diseriusin panik.” Guraunya lagi.
Nadya mencebik sambil merapikan kembali rambutnya, membenarkan posisi Adam sebelum dia juga mengambil posisi berbaring.
Belum sempat Nadya meletakkan kepalanya, Bu Harmi masuk ke dalam kamar dengan wajah panik.
“Zal, di depan ada Amelia, katanya Mamahmu sama Dewi jatuh dari motor.”
Seketika, Rizal terlonjak dari duduknya, buru-buru keluar dari kelambu, lalu berjalan menuju pintu depan.
Tak selang berapa lama, ia kembali ke kamar seraya berpamitan pada Nadya untuk melihat keadaan mantan mertua dan adik iparnya itu ditemani Bu yang juga turut serta.
Di rumah Bu Sartini.
Beberapa tetangga berkumpul di teras rumah, mengerumuni Bu Sar dan Dewi yang tergeletak sambil merintih kesakitan.
“Kayak mana ceritanya, Sar kok bisa nyungsep ke selokan?” tanya Nurjanah, wanita yang sedang masak sop itu buru-buru mematikan kompornya, lalu berlari keluar rumah saat mendengar bunyi keras dari halaman depannya.
Bu Sar mendesis pelan sambil memegangi kakinya. Matanya melirik kanan-kiri. “Ini gara-gara si Nadya, perempuan pembawa sial itu. Baru juga disebut namanya udah bikin orang apes begini.”
“Anahhh, kayak mana pula, Wak Sar ini malah nyalahin orang,” Fatimah menyahut dengan raut heran.
“Istighfar, Sar. Kamu apes ini peringatan dari Alloh biar nggak jahat sama Nadya. Di tuntut sama bapaknya baru tau rasa kamu,” timpal Nurjanah.
Bu Sar menegakkan punggungnya, matanya memicing tajam. “Kalian percaya Nadya itu anaknya yang punya PT. Amara? Kalau saya nggak. Seratus persen nggak percaya. Jangan-jangan si Nadya itu wanita simpenan yang ngaku-ngaku jadi anaknya, lawong kata temen Dewi anaknya yang punya PT. Amara itu laki.”
“Ma—”
Bu Sartini buru-buru menarik tangan Dewi saat anak gadisnya itu ingin menyergah ucapannya yang penuh fitnah. Matanya mendelik—mengisyaratkan pada Dewi untuk diam saja.
“Tunggu aja, kalau saya udah dapet buktinya, saya usir si Nadya itu dari rumah Rizal. Kalau perlu saya minta ganti rugi karena Adam udah tercemar Asi penyakitan dia.” berang Bu Sar.
“Alloh Rabbi Sartini! Nyebuttttt!” pekik Nurjanah. “Kalau sampe yang kamu bilang itu ternyata nggak terbukti, habis mulut kamu di tebas sama bapaknya Nadya.”
Bersamaan dengan itu mobil double cabin milik Rizal berhenti di halaman Bu Sar, disusul Rizal dan Bu Harmi yang turun dengan raut panik.
“Bener, Wak Sar. Orang berduit itu kalo bertindak nggak pake banyak omong, tau-tau masuk sel kita kalo sampek pencemaran nama baik,” timpal Fatimah.
“Siapa yang mau masuk sel?” tanya Bu Harmi begitu berjalan mendekat ke teras rumah itu.
“Itu Bu, Wak Sar bilang katanya Nadya itu bukan anaknya Pak Ilyas tapi perempuan simpanannya. Katanya anaknya yang punya PT. itu laki,” lapor Fatimah. “Apa bener, Bang?” imbuhnya tanpa melihat mata Bu Sartini yang sudah melotot— mengisyaratkan Fatima untuk tidak melanjutkan ucapannya.
Pundak Rizal merosot seketika, dadanya naik turun, tangannya mengepal. “Ya Alloh, harus pake cara apalagi saya ngomong sama kalian?”
Bu Sar menegakkan duduknya, satu tangannya mencubit lengan Fatima yang duduk tak jauh darinya, sudut matanya melirik tajam.
Rizal berjalan mendekat, tarikan napas berat berhembus dari bibirnya yang sedikit pucat. “Salah Nadya sama, Mamah apa saya tanya?”
“Mamah itu cuma mau memastikan Adam—”
“Salah Nadya apa!” bentak Rizal, membuat semua yang ada di teras itu terkejut seketika.
Laki-laki itu kemudian mengedarkan pandang, menatap tajam satu-persatu orang yang duduk di teras, lalu kembali ke arah Bu Sartini dan Dewi.
“Berhenti menyalahkan Nadya, atau kalian akan tau seberapa batas kesabaran saya!” ucapnya tegas.
“Mamah itu tidak menyalahkan Nadya, Zal. Mamah cuma—”
“Cuma apa! Dari awal saya bawa Nadya ke rumah Mamah selalu cari masalah sama dia, Nadya diem pun salah dimata Mamah. Apa mau Mamah sebenernya, Saya menikahi Dewi? Jangan harap! Nadya yang akan saya nikahi. Puas Mamah!” tegas Rizal.
Mendengar itu, mata Bu Sar memerah, napasnya memburu. “Kamu tega sekali, Zal. Kuburan Sukma bahkan belum kering tanahnya! Kamu lupa Sukma meninggal gara-gara apa?! Anakku mati gara-gara ngasih keturunan buat kamu, Rizal!”
Rizal tertawa sinis di sela emosinya yang pecah, tatapannya nanar. “Mamah yang lupa. Sukma meninggal karena keegoisan Mamah yang terus maksa dia untuk melahirkan normal.”
Ia kemudian menghela napas panjang, satu tangannya bertopang di pinggang satu lagi mengusap wajah kasar.
“Seharusnya, hari itu Mamah memberi tanda tangan saat Rizal belum sampai di rumah sakit. Tapi, Mamah memilih mengulur waktu hanya demi menuntut dia jadi wanita sempurna! Mamah yang salah. Mamah yang sudah membiarkan Sukma meninggal.” lanjutnya dengan suara getir.
Bu Sartini terduduk seketika, satu tangannya mengusap dada, nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu menyalahkan Mamah, Zal? Mamah melakukan itu karena Mamah juga bingung harus berbuat apa! Kamu pikir Mamah mau kehilangan anak perempuan Mamah.”
“Kalau begitu kenapa Mamah menahan sampai Sukma terlambat mendapat penanganan. Mamah beralasan biaya operasi mahal?” Rizal menjeda ucapannya sejenak.
“Bahkan harta saya bisa untuk membeli rumah sakit itu, tapi Mamah membiarkan istri saya terlantar di UGD dengan menahan rasa sakit! Dan saat saya datang … Mamah dengan enteng bilang pihak rumah sakit yang tidak mau menangani!”
Bu Harmi yang berdiri di samping Rizal, mengusap lembut lengan putranya itu—mencoba menenangkan seraya berujar pelan. “Sudah, Zal, malu dilihat orang.”
Rizal menepis tangan Bu Harmi, tatapannya masih nyalang ke arah Bu Sartini. “Nggak Bu, Rizal harus selesaikan semua malem ini, kalo nggak mereka akan terus memakai kepergian Sukma untuk menekan kita.”
Ia kemudian maju selangkah, berdiri tepat di hadapan Bu Sartini. “Mah, mulai sekarang saya sudah nggak bisa bantu kebutuhan bulanan, Mamah juga nggak usah terlalu sering dateng ke rumah, cukup jenguk Adam seperlunya saja dan satu lagi,” Rizal semakin menekankan ucapannya. “Jangan pernah usik Nadya.”
Tatapan laki-laki itu kemudian berpindah ke arah Dewi yang duduk tertunduk sambil memegang sikunya. “Dan buat kamu, Dew. Abang sudah sekolahkan kamu sampai lulus SMA, Abang pikir itu udah cukup buat bekal kamu. Abang juga nggak akan kasih jatah bulanan lagi buat kamu.”
Dewi melongo seketika, matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya ingin menjawab, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Begitupun Bu Sartini, wanita berambut keriting itu hanya bisa terpaku melihat mobil Rizal yang perlahan meninggalkan halaman rumahnya. Disusul para tetangga yang juga membubarkan diri sambil bergunjing pelan.
.
.
.
“Sebentar saja, Nad.”
Bersambung.
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻