NovelToon NovelToon
Dialah Sang Terpilih

Dialah Sang Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: julieta

Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAM PEMBUKA

Yohanes de Fleur masuk ke dalam kamar sang adik menyusul kedua penyihir dari Menara Suci yang sudah masuk kedalam kamar Charlotte de Fleur terlebih dahulu.

"Kalian bisa melakukan  pembersihan sekarang." ucap Yohanes de Fleur yang memberikan perintah pada kedua penyihir dari Menara Suci itu.

Iliana dan Marcus segera mengeluarkan beberapa barang yang akan mereka gunakan untuk melihat apakah jiwa yang ada di dalam tubuh Charlotte de Fleur itu benar-benar miliknya atau ada jiwa lain yang masuk ke dalam tubuhnya.

Marcus mengeluarkan sebuah bola kristal berwarna putih cerah kemudian meletakkan bola itu di meja tempat Charlotte de Fleur menaruh kue dan minuman.

"Nona Charlotte de Fleur silahkan letakkan tangan Anda di atas bola kristal ini", ucap Marcus dengan nada yang sangat halus namun sorot mata penyihir lelaki itu menunjukkan rasa tidak suka yang bisa dilihat dengan sangat jelas oleh Charlotte de Fleur.

"Mengapa saya harus melakukan perintah kalian? “, jawab Charlotte de Fleur dengan sorot mata tajam.

Jika bisa, ingin sekali ia menghancurkan kepala kedua penyihir dari Menara Suci itu ketika mengingat kembali apa yang terjadi pada penyihir Beatrix, smeuanya ulah dari dua orang munafik didepannya itu.

Sayangnya, sekarang bukan waktu yang tepat. Kematian yang cepat terlalu mudah bagi mereka. Ia ingin menyiksanya sehingga rasa sakit hati dan dendam penyihir Beatrix bisa benar-benar terbalaskan.

Melihat adiknya masih membantah, Yohanes de Fleur semakin tak sabar. "Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang mereka perintahkan”, ucapnya dengan tatapan garang.

Charlotte de Fleur hanya bisa tersenyum sinis, “Untuk apa saya menuruti perkataan mereka? Disini, sayalah tuan rumahnya. Sebagai tamu, seharusnya mereka berdua sadar diri dan bersikap sopan. Sebaiknya Tuan Muda Yohanes de Fleur dan kedua tamunya segera keluar dari kamar saya karena saya masih banyak hal yang harus dilakukan ", ucap Charlotte de Fleur sambil mengacungkan jempol tangannya kearah pintu, berharap kakak sulungnya dan kedua penyihir dari Menara Suci segera pergi dari sini.

Plakkk!

Sebuah tamparan yang keras mendarat langsung di pipi Charlotte de Fleur, gadis itu menatap tajam ke arah Iliana si pelaku yang telah menampar pipinya.

"Bisakah Nona Muda Charlotte de Fleur sedikit lebih Sopan pada Tuan Muda Yohanes de Fleur, bagaimanapun ia adalah kakak laki-laki Anda," ucap Iliana dengan santai tanpa merasa bersalah setelah menampar Charlotte.

Belum puas hanya menampar Charlotte de Fleur, Iliana  yang masih memiliki dendam karena aksinya gagal di beberapa malam sebelumnya segera menarik paksa tangan kanan Charlotte de Fleur kemudian meletakkan tangan gadis itu di atas bola kristal untuk diuji.

Charlotte de Fleur membiarkan semua perlakuan kasar yang didapatkannya dari Iliana karena ia memiliki rencana lain yang pastinya akan membuat hidup wanita muda itu menderita. Sebersit pemikiran jahat pun sudah muncul dikepalanya, membuatnya merasa jika ide tersebut bukanlah sesuatu yang buruk.

Beberapa saat setelah tangan Charlotte de Fleur diletakkan diatas bola kristal, bola penguji itu menunjukkan reaksi dengan berubah warna menjadi putih bening kemudian berubah menjadi warna keemasan yang jernih.

Perubahan warna itu menunjukkan bahwa jiwa yang ada di dalam tubuh Charlotte de Fleur sangat murni tanpa terganggu oleh jiwa makhluk lain.

Ya, tentu saja masih murni karena penyihir Beatrix bukan mengambil alih jiwa Charlotte, melainkan hanya mewariskan kekuatan dan ingatannya saja sehingga seberapa keras para penyihir dari Menara Suci menyelidikinya tak akan pernah mendapatkan apapun karena tubuh dan jiwa gadis berusia empat belas tahun itu memang milik Charlotte de Fleur tanpa ada yang lainnya.

Charlotte de Fleur tersenyum miring akan hasil tersebut dan kemudian tanpa disadari semua orang ia melepaskan jarum beracun yang sangat kecil ke pergelangan tangan Iliana.

Jarum beracun itu perlahan masuk kedalam pembuluh darah Iliana dan meleleh, tercampur dalam darah dan dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh.

Racun yang Charlotte de Fleur berikan  adalah racun yang Iliana pernah berikan kepada penyihir Beatrix.

Sebuah racun yang tak memiliki aroma dan proses penyebarannya cukup lambat serta tak bisa dideteksi oleh para healer.

"Apa kalian sudah puas?", ucap Charlotte de Fleur, gadis itu menarik tangannya yang masih di pegang dengan kuat oleh Iliana dengan kasar.

"Kami hanya menjalankan tugas saja, saya harap Nona Charlotte de Fleur tak tersinggung atas perilaku rekan saya",ucap Marcus, ia juga sedikit terkejut dengan sikap kasar dan agresif Iliana yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Maaf saya adalah orang yang pendendam dan masalah ini tak sampai disini saja", jawab Charlotte de Fleur dengan senyuman lebar dan sorot mata tajam.

Samar-samar gadis itu memancarkan aura kemarahan yang membuat kedua penyihir dari Menara Suci merasa sesak dan kesulitan untuk bernafas.

"Apa yang kau lakukan pada mereka berdua? Charlotte, hentikan!", teriak Yohanes de Fleur panik setelah melihat Iliana dan Marcus mencekik pelan leher mereka sendiri hingga wajah mereka membiru kehabisan nafas.

"Saya tak melakukan apapun, Tuan Muda Yohanes de Fleur. Bukankah Anda dan semua orang tahu jika saya tak memiliki kekuatan apapun dalam tubuh saya, lalu bagaimana saya bisa melakukannya? ", jawab Charlotte de Fleur dengan wajah polos seolah-olah ia tak melakukan apapun pada kedua penyihir dari Menara Suci itu.

Tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk, Yohanes de Fleur segera menghempaskan tubuh keduanya hingga keluar kamar dan  mendarat sempurna di taman bunga mawar yang penuh duri di halaman depan kamar Charlotte de Fleur.

Marcus dan Iliana yang sudah berada di luar kamar Charlotte de Fleur, mulai bisa mengendalikan kedua tangan mereka segera melepaskan cengkeraman dari leher masing-masing.

Keduanya segera menghirup oksigen yang ada diudara dengan rakus, ketika hendak bangkit mereka baru sadar jika tubuh keduanya telah jatuh di taman bunga mawar membuat mereka berteriak kesakitan dan terkejut oleh tusukan duri mawar yang tak sengaja mereka senggol.

Charlotte de Fleur yang menyaksikkan semua kejadian tersebut dari dalam kamarnya tersenyum senang.

Tadi, ketika Yohanes de Fleur menghempaskan tubuh keduanya keluar, ia sengaja menggunakan kekuatan elemen angin miliknya untuk merubah haluan sehingga keduanya pun terjatuh ditaman bunga mawar berduri miliknya.

Iliana yang merasa yakin bahwa semua itu adalah ulah Charlotte de Fleur karena pada malam itu ia juga merasakan aura kuat ini, aura yang sama yang membuatnya terpaku ditempat tak bisa bergerak dan menggunakan kekuatan yang dimilikinya hingga membuatnya merasa sedikit frustasi, menancapkan kuku jari tangannya ke telapak tangan hingga berdarah.

Ingin sekali ia meluapkan amarahnya saat ini juga, tapi begitu ia menatap Marcus yang terlihat menggelengkan kepala, niat buruk itupun ia urungkan.

“Sial! Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas perbuatan gadis busuk itu”, batin Iliana penuh dendam.

Marcus yang juga merasakan jika ada yang berbeda dari Nona Muda de Fleur ini, tapi karena bola kristal tak menunjukkan adanya jiwa lain dalam tubuhnya maka ia tak bertindak gegabah dan akan mendiskusikannya dengan ketua Merara Suci dan para saintes lain begitu tiba nanti.

Merasa jika Nona Muda Charlotte de Fleur ini tak biasa, Marcuspun tak lagi membuang waktu. "Kami pamit terlebih dahulu Tuan Muda Yohanes de Fleur, jiwa yang ada di dalam tubuh adik Anda sangat murni. Kemungkinan besar perubahan yang terjadi pada Nona Muda Charlotte disebabkan oleh faktor lain".

Yohanes de Fleur yang merasa jika tak ada gunanya menahan kedua penyihir dari Menara Suci lebih lama lagi di kediamanannya, apalagi melihat kemarahan sang adik, ia takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada kedua tamunya maka iapun segera merogoh saku bagian dalam pakaiannya untuk mengambil dua kantong uang yang sudah ia siapkan sebelumnya.

"Terimakasih karena telah bersedia membantu saya, maaf karena banyak kejadian tak menyenangkan. Ini bayaran sesuai dengan harga yang telah ditentukan dan ini bonus untuk kalian berdua", ucap Yohanes de Fleur sembari memberikan dua kantong berisi koin emas pada kedua penyihir itu.

Saat kedua penyihir dari Menara Suci tersebut hendak melangkah menjauh dari depan kamar Charlotte de Fleur tiba-tiba gadis berusia empat belas tahun itu mengatakan sesuatu yang membuat kedua penyihir itu sedikit waspada.

"Akan saya pastikan Menara Suci tak akan bisa bertahan lebih lama lagi di wilayah Kerajaan Matahari. Camkan itu baik-baik",teriak Charlotte de Fleur dari dalam kamarnya, ia  mengatakan hal itu dengan suara lantang serta sungguh-sungguh dan akan memastikan hal tersebut benar-benar terjadi.

Mendengar ancaman yang adik bungsunya berikan, Yohanes de Fleur pun menjadi semakin panik.

"Kalian pergilah dan jangan dengar ocehan gadis itu, ia hanya merasa kesal saja", ucap Yohanes de Fleur, pemuda itu berusaha menenangkan kedua penyihir dari Menara Suci yang tiba-tiba merasakan firasat buruk dalam hati mereka.

1
Aie Saragih
kk lanjut ya kk trus snang kli kk karya kk trus gak pernah terlewatkan 😍😍
Aie Saragih
sangat Sukak sekali cerita nya bgus tidak bertel tele
lanjutkan trus y kk karya nya
Lili Inggrid
lanjut
PengGeng EN SifHa
Sikap tegas seorang dara 14thn memang tiada kaleng...meskipun kekuatan milik orang lain...semoga bisa mengendalikan kekuatan itu dgn sangat baik.
PengGeng EN SifHa
BEST👏👏👏👏👏👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!