Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 30
"Gaviiinnn .... Astaga capek bener tiap hari harus bangunin bayi kingkong yang tumor kek gini!" kesal Ayana saat membangunkan Gavin. Ada saja drama di setiap paginya. Gavin sulit sekali di bangunkan.
"Gaviiiiinnn bangun nggak! Atau beneran aku siram pake air panas!" teriak Ayana di telinga Gavin.
sreeeeetttt
Braaaakk
"Berisik! Lima menit lagi, Aya ..." jawab Gavin menarik tangan Ayana hingga membuat Ayana jatuh di a-tas Gavin.
"Lepas nggak! Apa mau ku buat wajahmu bonyok!" ancam Ayana saat Gavin malah melingkar akan tangannya dan memeluk erat Ayana. Sedangkan kedua tangan Ayana berada di dada menghalangi mereka bersen-tu-han.
"Lakukan saja, paling nanti Mami marah padamu karena sudah melakukan ke-ke-ra-san kepada suaminya saat aku sedang memeluk kamu begini!" jawab Gavin menatap wajah Ayana yang terlihat kesal.
"Bodo amat! Aku nggak peduli! Lepasin nggak!" kesal Ayana yang sudah merasa tak nyaman dengan posisi begini. Posisi yang membuat keduanya merasa sengatan laur biasa di seluruh tubuhnya. Gavin malah semakin mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata, dia berusaha untuk mencoba menghindar dari tatapan mata Ayana yang membuatnya merasa bingung dengan perasananya sendiri sekarang kepada istrinya. Ayana terus berontak dan meronta.
Duuugh
Ayana menyundul kepala Gavin sehingga membuatnya suaminya itu berteriak kesakitan dan melepaskan pelukan tangannya kepada Ayana.
bugh
"Sekali lagi kamu mencoba me-sum padaku ku pastikan kedua tanganmu itu tak akan berfungsi dengan baik!" kesal Ayana setelah memberikan satu pukulan ke perut Gavin.
Gavin hanya bisa meringis menahan sakit di perutnya. Sedangkan Ayana sudah pergi meninggalkan Gavin dengan kesal luar biasa.
"Astaga! Apakah dia seorang petinju? Kenapa pukulannya keras sekali! Apa salahnya peluk-peluk kan sudah suami istri juga!" celoteh Gavin masuk ke dalam kamar mandi.
"Loh kamu kenapa memegangi perutmu?" tanya Mami Tanisa membuat Gavin kaget dengan kedatangan maminya di pagi hari. Bukan hanya Gavin yang kaget melainkan Ayana juga yang sedang bersiap untuk pergi. Gavin melirik sedikit ke arah Ayana, istrinya mendelik tajam membuat Gavin menelan ludahnya kasar. Sepertinya di rumah, Ayana yang berkuasa.
"Ah .. Itu anu ..." jawab Gavin gugup.
"Ngomong yang bener kamu tidak gagu kan Gavin?" kesal Mami Tanisa.
"Ayana tadi meninju perut Gavin karena meluk-meluk aku tanpa izin! Ayana bangunkan dia tidur malah peluk-peluk" jawab Ayana.
Wajah Gavin memerah mendengar jawaban Ayana sedangkan Mami Tanisa mengulum senyum. Dua Minggu menikah rupanya anak lelakinya yang lebih dulu jatuh cinta kepada Ayana. Sedangkan sikap menantunya masih dingin seperti itu. Mami Tanisa malah gemas sendiri dengan kelakuan mereka berdua.
"Loh kamu mulai berani peluk-peluk Ayana? Kenapa?" tanya Mami Tanisa setelah menetralkan perasananya.
"Ah itu, tadi nggak sengaja saja Mi! Habisnya Ayana bangunin Gavin teriak bener-bener di telinga Gavin. Makanya karena kesal Gavin tarik Ayana eh malah pelukan! Kan yang salah Ayana juga bukan Gavin!" jawab Gavin membela diri.
"Ck! Ngeles aja!" kesal Ayana.
"Aku bicara kenyataan! Mana ada seorang Istri membangunkan suaminya dengan menggunakan air dingin dan juga berteriak sampai membuat gendang telingaku sakit!" jawab Gavin mencari pembelaan atas perbuatannya.
Sebenarnya dia malu mengakui merasa nyaman memeluk Ayana tadi. Sehingga mencari alasan yang masuk akal untuk bisa menutupinya.
"Makanya kalau tidur jangan seperti bayi kingkong ma-ti jadinya orang teriak bangunin nggak kamu dengar sama sekali! Lagian kamu itu kebiasaan tidur malam cuma melototin ponsel saja! Memang matamu nggak perih apa?" Cerocos Ayana di depan mertuanya tanpa ragu.
Mami Tanisa bahkan kembali tertawa terbahak mendengar panggilan Ayana untuk maka lakinya. Bayi kingkong. Astaga so sweet sekali mereka ini. dari sering bertengkar nanti akan tumbuh cinta karena terbiasa bersama-sama.
"Mi ! Kenapa malah tertawa!" kesal Gavin setelah mengambil cangkir kopi yang di berikan Ayana.
"Bayi Kingkong! Papimu kalau dengar pasti akan tertawa juga," jawab Mami Tanisa.
"Nih, keberadaan Vania terakhir ada di pulau sebrang. Sedang mendekati anak dari salah satu pengusaha batu bara di sana!" Ayana memberikan tab miliknya kepada Gavin.
"Apa di Kalimantan? Nyari mangsa lagi?" tanya Mami Tanisa. Ayana menaikkan kedua bahunya.
"Sepertinya seperti itu,", jawab Tanisa.
Gavin hanya melirik saja, dia sudah tak seantusias sebelumnya saat mendapatkan informasi tentang Vania. Malah semakin kesini dia merasa mual dan muak dengan semua kenyataan yang dia terima. Seperti sekarang dia tak begitu excited dan memilih mengambil roti panggang dan memakan sarapannya. Mami Tanisa dan Ayana saling pandang dan berbicara melalui kode mata. Gavin malah di buat bingung dengan kelakuan keduanya.
"Kalian kenapa?" tangga Gavin.
"Kamu yang kenapa? Bukannya kamu ingin mengetahui keberadaan Vania? orang-orang Yang aku bayar sedang bergerak menuju ke Kalimantan. Semoga saja dalam waktu dekat mereka bisa membawa Vania kembali kepadamu!" jawab Ayana.
"Aku tak perlu orangnya! Aku hanya perlu uang aku kembali! Apa orang-orang suruhan bisa melakukan hal itu? Kalau bisa aku akan tambah upah untuk mereka!" jawab Gavin santai.
"Kamu serius? Aku tidak sedang sakit, Nak? atau mungkin kamu mengalami benturan di kepala?" tanya Mami Tanisa kaget dan bahkan memegang kening anaknya.
Jawaban Gavin benar-benar di luar dugaan mereka berdua. Sedangkan Gavin terlihat masih santai dengan makanannya. Dia tak terganggu sama sekali dengan ucapan ibunya.
"Aku serius Mi! Sekarang aku hanya butuh semua uangku kembali semuanya. Tiga miliar beserta barang-barang yang dia bawa. Memangnya Mami mau punya menantu modelan dia? Kalau aku sih nggak mau punya istri dengan sifat dan kelakuan seperti itu!" jawab Gavin semakin membuat rahang ibunya ternganga tak percaya.
"Apa anakku semalam tidak kenapa-kenapa, Aya?" tanya Mami Tanisa menatap penuh tanya kepada Ayana. Ayana menggeleng.
"Mungkin dia semalam mimpi sakaratul maut Mi, makanya otaknya bener!" celetuk Ayana.
"Ayana! Nyumpahin suamimu ma-ti?" kesal Gavin mendelik.
"Tidak! Hanya takut ada tanda-tanda mengarah ke sana. Biasanya orang yang tiba-tiba aneh dan berubah itu umurnya tak akan lama lagi. Mereka memberikan tanda kepada orang-orang di sekitarnya!" jawab Ayana jujur.
"Amit-amit jabang bayi! Mulutmu itu!" kesal Gavin.
Dia menggetok-getok kepalanya kemudian ke meja. Mami Tanisa masih menatap tak percaya ke arah anak lelakinya. Apakah benar Gavin tak mengharapkan lagi wanita itu. Perasaannya senang tapi campur takut. Takut jika anaknya hanya berpura-pura saja di depannya.