NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Meja Keluarga yang Terbelah

Rumah utama keluarga Wicaksana malam itu terasa lebih tegang dari biasanya. Kursi di ruang makan hampir terisi penuh. 

Pak Rama di kursi utama. Di sebelah kanan kirinya, Bu Lucy dan Bu Shinta, ibunya Zaka dan adik dari Pak Rama, duduk dengan wajah tegang. Pak Aksa, adik bungsu Pak Rama, duduk di sisi lain meja dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dan Zaka berdiri di ujung meja.  Namun malam itu, tidak ada yang benar-benar datang untuk makan.

Langit baru saja masuk ketika suara Zaka sudah terdengar dari dalam ruangan. 

“Ini tidak masuk akal!”

Langit berjalan masuk tanpa terburu-buru.

Begitu melihat Langit masuk, Zaka langsung menoleh tajam. “Bagus. Orang yang kita tunggu akhirnya datang.”

Langit menarik kursi dan duduk dengan tenang. “Ada apa?”

Zaka tertawa pendek. “Kamu benar-benar bertanya seperti tidak tahu apa-apa?”

Langit tidak menjawab.

Zaka melemparkan sebuah map ke atas meja. “Bacalah.”

Langit tidak menyentuhnya.

Pak Rama akhirnya berkata pelan, “Arvantara Group menghubungiku lagi pagi ini.”

Langit mengangguk kecil. Ia sudah menduga. 

Pak Rama melanjutkan, “Mereka konfirmasi untuk melanjutkan proyek asuransi–”

Zaka langsung memotong dengan nada tajam. “Dengan syarat!”

Pak Rama menatap Langit sebelum melanjutkan. “Mereka ingin kamu menjadi Direktur Utama Wicaksana Insurance.”

Zaka tertawa pahit. “Lucu sekali.” Ia menatap Langit dengan mata penuh kemarahan. “Kenapa harus kamu?”

Langit menjawab datar. “Itu bukan keputusan aku.”

Zaka memukul meja dengan keras. “Ini karena kamu membatalkan pertunangan itu!”

Langit mengangkat alis. “Kamu benar-benar berpikir bisnis sebesar itu diputuskan karena urusan perasaan?”

“Jangan pura-pura bodoh!” bentak Zaka.

Bu Shinta akhirnya ikut berbicara. “Langit, kamu tahu posisi itu sekarang dipegang Zaka.”

“Aku tahu.”

“Lalu kamu tidak merasa ini tidak pantas?”

“Kenapa tidak pantas?” Bu Lucy berkata sambil menatap Bu Shinta dengan tajam. “Langit adalah pewaris dari keluarga ini.”

Bu Shinta terlihat semakin kesal.

“Iya… dan dia sudah menjadi CEO Wicaksana Corp.”

Pak Aksa ikut menimpali, “Benar. Perusahaan ini bukan milik satu orang saja.”

Langit menoleh ke arah pamannya. “Justru karena itu kita harus bicara dengan jujur.”

Zaka menyilangkan tangan. “Silakan.”

Langit akhirnya membuka map yang tadi dilempar ke meja. Ia membalik beberapa halaman sebelum menutupnya lagi. Lalu ia menatap Zaka. “Berapa kerugian Wicaksana Insurance kuartal terakhir?”

Zaka langsung menjawab dengan nada tajam. “Itu hanya penurunan sementara.”

Langit menggeleng pelan. “Empat puluh dua persen.”

Semua orang di meja itu diam. Langit melanjutkan, “Dan dua kontrak besar dibatalkan bulan lalu.”

Pak Rama menatap meja.

Zaka menggeram. “Bisnis memang ada naik turunnya.”

Langit menatapnya lurus. “Turun karena keputusan yang salah, bukan karena pasar.”

“Keputusan apa yang kamu maksud?”

Langit menjawab tanpa ragu. “Investasi proyek properti yang kamu setujui enam bulan lalu.”

Zaka langsung berdiri lebih tegak. “Itu proyek besar!”

“Proyek yang sekarang berhenti di tengah jalan.”

Pak Aksa mengerutkan kening.

Langit melanjutkan, “Dana perusahaan tersangkut di sana.”

Zaka menatapnya tajam. “Kamu bahkan tidak terlibat dalam keputusan itu.”

Langit tersenyum tipis. “Benar. Karena kamu tidak pernah meminta pendapat siapa pun.”

Bu Shinta langsung berkata tegas, “Zaka hanya mencoba mengembangkan perusahaan.”

Langit menoleh padanya. “Dengan mempertaruhkan seluruh likuiditas perusahaan?”

Semua terdiam. 

Zaka menatap Langit penuh kemarahan. “Kamu ingin mengatakan aku tidak mampu memimpin?”

Langit tidak langsung menjawab. Namun tatapannya sudah cukup jelas. “Ini bukan soal mampu atau tidak,” katanya akhirnya.

“Ini soal tanggung jawab.”

Zaka tertawa sinis. “Jangan bicara seperti pahlawan.”

Langit berdiri dari kursinya. “Kalau kamu ingin jujur, kita bisa bicara lebih jauh.”

Zaka menyilangkan tangan. “Silakan.”

Langit menoleh ke arah Pak Aksa. “Bagaimana dengan Wicaksana Entertainment?”

Pak Aksa mengangkat alis. “Apa maksudmu?”

Langit menatapnya datar. “Berapa kali aku harus menutup skandal artis yang keluar dari perusahaan itu?”

Ekspresi Pak Aksa langsung berubah. “Itu urusan industri hiburan.”

Langit menggeleng lagi.  “Tidak ketika nama keluarga kita ikut terseret.”

Bu Shinta terlihat tidak senang. “Langit, ini tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita.”

Langit menatapnya tenang. “Justru ada.”

Ia melanjutkan, “Setiap kali ada skandal, siapa yang harus membersihkannya?”

Tidak ada yang menjawab.

Langit menjawab sendiri. “Aku.”

Ia menatap Pak Aksa. “Kontrak rahasia dengan artis muda. Pesta yang bocor ke media. Dan video yang hampir menghancurkan reputasi perusahaan tahun lalu.”

Pak Aksa terlihat semakin kesal. “Itu semua sudah diselesaikan.”

Langit tersenyum tipis. “Karena aku yang menyelesaikannya.”

Zaka menatap Langit dengan mata menyala. “Jadi sekarang kamu merasa paling hebat?”

Langit menghela napas. “Tidak.”

“Lalu?”

“Aku hanya mengatakan fakta.”

Zaka menatap Pak Rama. “Om benar-benar akan membiarkan ini terjadi?”

Pak Rama belum menjawab.

Namun suara lain terdengar dari pintu ruang makan.

“Kenapa tidak?”

Semua orang langsung menoleh. Seorang wanita tua berdiri di sana dengan tongkat di tangannya. 

Nenek Haura. 

Langit langsung berdiri sedikit lebih tegak.

Zaka terlihat tidak nyaman. “Nenek, ini urusan perusahaan.”

Wanita tua itu berjalan perlahan masuk. “Tentu saja ini urusan perusahaan.”

Ia duduk di kursi kosong di ujung meja. Tatapannya tajam meski usianya sudah tua. “Aku mendengar semuanya.”

Ia menatap Zaka. “Kamu marah karena dicopot dari jabatanmu.”

Zaka langsung berkata, “Nenek tahu aku bekerja keras untuk perusahaan ini.”

Nenek Haura mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi…” Wanita tua itu menatapnya lebih tajam. “…bekerja keras tidak selalu berarti membuat keputusan yang benar.”

Zaka terlihat tidak percaya. “Nenek juga setuju dengan ini?”

Nenek Haura menghela napas pelan. “Perusahaan ini dibangun dengan hati-hati selama puluhan tahun.”

Ia menatap semua orang di meja itu. “Aku tidak akan membiarkannya hancur karena ego siapa pun.” Tatapannya akhirnya berhenti pada Langit. “Kamu sudah membersihkan terlalu banyak kekacauan keluarga ini.”

Langit tidak menjawab.

Nenek Haura melanjutkan, “Kalau Arvantara Group meminta kamu memimpin perusahaan asuransi itu… maka aku setuju.”

Kalimat itu seperti palu yang menghantam meja. 

Zaka terlihat benar-benar marah sekarang. “Ini tidak adil!”

Langit akhirnya berkata pelan. “Ini bukan soal adil.”

Zaka menatapnya dengan penuh kebencian. “Lalu apa?”

Langit menjawab dengan tenang. “Ini soal menyelamatkan perusahaan.”

Hening. 

Namun di dalam keheningan itu, sesuatu telah berubah. Keluarga Wicaksana tidak lagi berada di satu sisi yang sama. Dan perang yang sebenarnya… baru saja dimulai.

1
Lisa
Moga aj Langit dpt menepati kata² nya.
Lisa
Tetap bertahan ya Shani..
☠️⃝🖌️M⃤ʟɪʟʏ vey༉‧♬⃝♥
nahkann, langit pasti uda mulai tertarik sama ishani, sedikit demi sedikit pelan tapi pasti😄
Xlyzy
menikah bukan hal yang bisa di putuskan dengan mudah lebih baik fikiran dulu matang matang
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
bisa lho ada orang yang segininya banget 😭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
bener lho yg dibilang bu maura ini 😭
Three Flowers
akhirnya Ishani menerima wasiat dari sang suami, dan mungkin itu akan menjadi awal yang indah bagi mereka untuk mengarungi rumah tangga, tanpa melupakan Biru
PrettyDuck
kalo kamu di sisi ishani karena sayang, akui aja
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
PrettyDuck
tapi kamu mau teruss
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
PrettyDuck
langit mau nikahin ishani bukan cuma gara2 biru nih
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
PrettyDuck
bukan tugas langit jaga biru
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
-Thiea-
sepertinya akan sulit menghadapi ayahnya.
-Thiea-
memang gak mudah di terima akal sehat. tapi kalo keduanya udah setuju dan sama-sama menerima, restui aja sudah.
Cimol krispy
kemarin berarti adalah kondisi terminal luciditas. sedih banget/Sob/
Miu Nuha.
kamu tetep punya hak atas dirimu sendiri, lang. tapi berusahalah bersikap bijak karena kamu udh dewasa 😌,, segala memang masih rumit sekarang...
Filan
lah... tapi pas mati maksa Langit berkorban juga...
Ini hanya mimpi sih ya...
Filan
Kasihan Langit yang harus selalu dipaksa kuat demi Biru ya.

Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲
Mentariz
Kamu juga berhak bahagia, lang
Mentariz
Mimpinya terasa nyata dan sangat buruk
Mentariz
Dari kecil, hidup langit udah gak adil 🥲 ibunya kayak pilih kasih gitu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!