Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Justin
Meski aktingnya diakui, reputasi Jenna belum membaik. Justru semakin banyak yang percaya dia memang seperti itu.
Sutradara mendekatinya. “Jangan khawatir. Pemeran pria kedua akan datang bulan depan.”
Jenna tersenyum. “Siapa sih dia? Kenapa dirahasiakan?”
“Rahasia. Yang jelas dia bintang besar!” jawab Mamayo misterius.
Prilly mendengar dan mencibir. “Memangnya sebesar apa? Bisa lebih terkenal dari Bimo Dewanto?”
Maoy hanya tersenyum.
Jenna tidak peduli. Dia malah mendekat ke sutradara. “Yang penting ganteng, kan?”
Dia memang punya banyak adegan dekat dengan pria kedua.
“Tentu ganteng! kamu pasti puas!”
“Serius?”
***
Hari-hari berlalu begitu cepat.
Sudah dua minggu Jenna tinggal di rumah keluarga Alamsyah.
Hubungannya dengan Juju semakin dekat. Syuting juga lancar. Maoy dan Prilly sering membuat masalah, tapi Jenna berhasil menghindar.
Dia juga merasa seperti ada seseorang yang diam-diam membantunya. Yang membuatnya pusing sekarang adalah harus menjemput seseorang di bandara.
Dia pulang ke rumah untuk mengambil barang.
“Kamu sudah pulang. Ada restoran hotpot baru, kita makan malam?” kata Marco santai.
Jenna sedikit terkejut. Interaksi mereka terasa seperti keluarga.
Dia cepat mengusir pikiran itu. “Maaf, aku harus jemput seseorang.”
“Dia nggak mau keluar kalau kamu nggak ikut,” kata Marco tentang Juju.
“Ya sudah, lain kali.”
“Jemput teman?” tanya Marco.
“Ya…”
“Cowok atau cewek?”
Jenna terdiam. Jenna sebenarnya sadar sikap Marco berbeda. Tapi dia selalu menjaga batas.
“Cowok,” jawabnya santai.
Tatapan Marco sedikit berubah. “Kamu pulang malam ini?”
Pertanyaannya makin aneh.
“Belum tahu. Nanti aku kabarin.”
Jenna buru-buru pergi. Dia mengambil tas besar dan pamit pada Juju.
Marco terlihat dingin. Juju melihat itu, lalu menulis sesuatu.
“Hah ... Kamu tanya kenapa aku nggak senang?” tanya Marco.
Dia berpikir, lalu berkata pelan, “Kalau suatu hari Tante Jenna jadi milik orang lain… kamu nggak bisa lagi dekat sama dia… kamu bakal senang?”
Juju langsung terlihat seperti dunia runtuh. Marco sedikit lebih tenang. Dengan air mata, Juju mengambil HP dan mengirim pesan ke Jenna.
Jenna yang sedang di jalan mengira dia sedih karena tidak jadi makan hotpot. Dia langsung membalas panjang.
“Sayang, kenapa? Jangan sedih! Besok kita makan bareng ya! Aku cinta kamu!”
Juju langsung tersenyum. Dia menunjukkan pesan itu ke ayahnya. Marco hanya bisa diam.
...***...
Dua jam kemudian, di bandara Halim.
Jenna sudah siap, tapi tetap terkejut melihat kerumunan.
“Justin!”
“Suamiku! Aku cinta kamu!”
Para Fans berteriak histeris. Keamanan pun kewalahan.
Suara Justin terdengar. “Tenang ya, jangan berisik…”
Semua semakin heboh. Jenna bersembunyi di balik pilar. Kalau dia keluar sekarang, bisa-bisa dia tidak selamat. Untung dia sudah siap…
Jenna menyelinap pergi dan berlari ke toilet di belakang. Ia masuk ke dalam salah satu bilik, membuka tas duffel hitam besar, lalu mengeluarkan peralatannya dan mulai merias diri.
Ketika keluar dari toilet, Jenna sudah berubah menjadi seorang nenek berambut putih.
HPnya berbunyi, notifikasi pesan masuk.
Ia mengeluarkan HPnya dan benar saja, pesan itu dari Justin.
"Jenna! aku kasih kamu 5 menit buat muncul di depan aku, atau aku bakal ngumumin hubungan kita!"
Sial!
Jenna mengecek riasannya sekali lagi, lalu buru-buru berlari ke area yang paling padat oleh kerumunan.
Ia memasang ekspresi cemas dan tak berdaya, lalu batuk dua kali. “Permisi, tolong kasih jalan... Nak-nak ... boleh nenek lewat sebentar? Nenek mau lihat Ah Nak...”
“Ah! Jangan dorong! Ada nenek-nenek di sini!”
“Eh, Nek, kenapa mau ketemu Justin? Jangan bilang nenek juga fans Justin?”
“Ya ampun! Justin kita ternyata digemari semua umur! Sampai ada fans nenek-nenek! Cepat, kasih jalan buat nenek ini!”
“Nek, umur nenek berapa?”
Jenna membungkuk, menepuk pinggangnya, sambil terus berterima kasih. “Nak-nak baik, makasih ya, makasih semuanya. Nenek udah 80 tahun. Nenek suka banget sama anak ini, soalnya dia mirip banget sama cucu nenek. Cucu nenek sekarang kerja di tempat yang jauh sekali, setahun cuma bisa ketemu beberapa kali...” Setelah itu, ia pura-pura mengusap air mata.
“Justin! Justin! Ada nenek fans kamu di sini! Tolong temui dia!”
“Iya, temui dia sekali aja! Kasihan banget...”
Dengan dorongan antusias para fans, Jenna dengan cepat terdorong ke barisan depan.
Di tengah kerumunan, Justin menyisir rambut pirangnya yang berantakan dengan jari. Ia melepas kacamata hitamnya, dan kilatan curiga muncul di wajah tampannya. “Nenek fans?”
“Iya, iya! Umurnya hampir 80! Dia datang khusus ke bandara di hari sepanas ini cuma buat ketemu kamu! Katanya dia suka banget sama kamu karena kamu mirip cucunya yang kerja di luar negeri!”
Setelah para fans selesai bicara, Justin mengikuti jalan yang terbuka di antara kerumunan, dan melihat seorang nenek tua berkeriput dengan pakaian lusuh, bertumpu pada tongkat.
Ekspresinya langsung berubah kacau. “Anyinngggg!”
Ia menahan sisa umpatan dengan susah payah, lalu menatap ‘nenek’ itu seolah ingin mencekiknya.
Semua itu terjadi dalam sekejap, jadi para fans tidak menyadari keanehannya.
“Ah... cucuku... cucu nenek yang baik... nenek kangen banget sama kamu...” Jenna melangkah maju dan langsung menjatuhkan diri ke arah Justin. Ia mengacak rambutnya dengan berantakan sambil menangis seolah hatinya hancur.
Semua orang di tempat itu menyaksikan momen hangat dan menyentuh itu, sampai ikut menangis haru. Suara jepretan kamera media terus berbunyi tanpa henti.
“Jenna! Tunggu aja nanti malam!” Justin menggertakkan gigi sambil berbisik di telinganya.
“Ah, cucuku, cucu kesayanganku! Kok kamu jadi kurus begini! Nenek sedih lihat kamu!” Jenna semakin mendalami perannya. Rambut yang paling dibanggakan Justin kini sudah seperti sarang burung.
Melihat Justin hampir kehilangan kendali, manajernya, Fevvey, segera maju menyelamatkan situasi. “Eh, semuanya, tolong beri jalan. Nenek ini terlalu emosional dan kondisinya kelihatan lemah, jadi kami akan bantu mengantarnya pulang!”
Justin tetap mempertahankan ekspresi hangat dan peduli, tapi diam-diam mencubit tangan seseorang dengan keras, lalu segera meninggalkan bandara.