NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Langit pagi masih pucat ketika mobil hitam Elena berhenti di depan gerbang proyek.

Di balik pagar seng tinggi terlihat rangka baja bangunan yang sedang naik lantai demi lantai. Suara mesin bor, dentang besi, dan teriakan para pekerja bercampur dengan debu yang beterbangan di udara.

Elena turun dari mobil lebih dulu.

Ia tidak mengenakan blazer kantornya hari ini. Hanya kemeja putih dengan lengan digulung dan celana kerja hitam yang praktis. Rambutnya diikat sederhana di belakang kepala. Seorang supervisor proyek segera mendekat sambil membawa dua helm.

"Pagi, Bu Elena."

"Pagi, Pak Arman." Elena menerima helm dan langsung memakainya tanpa ragu. Dari cara ia berjalan melewati area proyek jelas bahwa ini bukan pertama kalinya ia berada di tempat seperti ini.

Sebelum Elena sempat mendekat ke tim yang sudah menunggu sebuah mobil lain berhenti di belakangnya.

Elena menoleh.

Leon keluar dari mobil itu, kemeja abu-abu sederhana, celana kerja gelap, tidak ada jas seperti biasanya. Seorang staf proyek menyerahkan helm kepadanya dan Leon memakainya dengan gerakan tenang sebelum berjalan mendekat.

"Kamu datang," kata Elena.

"Kamu kirim alamatnya." Leon berhenti di depannya. "Jadi aku datang."

"Aku tidak mengira kamu benar-benar akan turun ke lapangan."

Leon menatap bangunan setengah jadi di belakangnya. "Aku punya uang di proyek ini. Masuk akal kalau aku ingin melihatnya langsung."

Elena mengangguk kecil. "Aku hanya memberitahumu, di sini tidak ada ruang rapat. Semua keputusan biasanya dibuat sambil berdiri di tanah yang penuh debu."

Leon melihat sekeliling, para pekerja mengangkat balok baja, truk material keluar masuk, bau semen basah bercampur dengan udara pagi. "Sepertinya menarik," katanya.

Elena tersenyum tipis.

Beberapa menit kemudian mereka berjalan melewati area fondasi bersama tim proyek. Supervisor membuka blueprint besar di atas meja kayu kasar.

"Struktur lantai lima sudah selesai minggu ini," jelas Pak Arman. "Kalau cuaca tidak terlalu banyak hujan kita bisa mulai lantai enam dua minggu lagi."

Elena menunduk melihat gambar. "Lima hari lebih lambat dari jadwal."

Pak Arman mengangguk canggung. "Betul, Bu. Pengiriman baja sempat tertunda."

Leon berdiri di samping Elena ikut melihat blueprint. "Seberapa besar dampaknya ke keseluruhan timeline?"

"Masih bisa dikejar kalau pengecoran berikutnya dipercepat, Pak."

Elena tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah bangunan yang sedang dikerjakan. "Kalau dipercepat kualitasnya bagaimana?"

Supervisor itu terdiam sebentar.

"Aku tidak tertarik mengejar jadwal kalau hasilnya retak enam bulan setelah bangunan berdiri." Elena menatap Pak Arman langsung.

"Tidak, Bu. Kami tetap jaga standar."

"Baik. Tapi aku ingin laporan harian sampai struktur lantai enam selesai."

"Siap, Bu."

Leon menatap Elena dari sudut matanya, memperhatikan cara ia memimpin percakapan itu, cara ia tidak memberi ruang untuk jawaban yang ambigu, cara ia tahu persis pertanyaan mana yang perlu ditanyakan. Ia tidak mengatakan apapun. Hanya memperhatikan.

Mereka berjalan menuju area pengecoran.

Debu beterbangan ketika mixer beton besar berputar di dekat mereka. Leon sedikit menyipitkan mata karena angin membawa debu ke arahnya.

Elena memperhatikan reaksi itu. "Masih mau ikut?"

"Kamu pikir aku akan mundur karena sedikit debu?" Leon mengangkat alis.

"Kebanyakan investor biasanya hanya melihat laporan di meja."

Leon menatap para pekerja yang sedang mengikat besi tulangan. "Kalau hanya lihat laporan kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi."

Elena mengangguk kecil. Mereka berjalan beberapa langkah lagi sampai berhenti di dekat rangka baja yang baru dipasang. Leon memandang ke atas bangunan yang masih setengah jadi.

"Berapa lantai totalnya?"

"Dua puluh tiga," jawab Elena.

Leon bersiul pelan. "Kedengarannya lebih ambisius kalau dilihat dari bawah seperti ini."

Elena menyilangkan tangan. "Kamu baru sadar?"

"Aku biasanya melihat angka." Leon menoleh padanya. "Bukan rangka baja setinggi ini."

Elena menatap bangunan itu juga. "Dua tahun lagi tempat ini akan penuh restoran, kantor, dan apartemen. Sekarang masih terlihat seperti kerangka."

Leon memandangnya beberapa detik. "Kamu suka melihatnya dari tahap ini?"

"Ini bagian paling jujur dari proyek," katanya. "Belum ada lampu indah, belum ada dekorasi. Hanya struktur."

Leon tersenyum tipis. "Kedengarannya seperti filosofi hidup."

Elena menoleh. "Mungkin memang begitu."

Angin kembali bertiup membawa debu tipis dari arah pengecoran. Leon menepuk sedikit debu di lengan kemejanya. Elena memperhatikan.

"Kamu tidak menyesal ikut?"

"Tidak." Leon melihat kembali ke bangunan itu. "Justru ini pertama kalinya proyek ini terasa nyata."

Elena tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya sejak mereka bekerja bersama ia tersenyum sedikit lebih lama dari biasanya.

Di tengah suara mesin, debu proyek, dan para pekerja yang sibuk dua orang yang biasanya hanya bertemu di ruang rapat yang rapi berdiri di tempat yang jauh lebih sederhana, dengan helm proyek di kepala dan debu di lengan baju, tanpa meja yang memisahkan mereka, tanpa dokumen yang perlu ditandatangani.

Hanya dua orang yang berdiri di bawah rangka baja yang belum selesai. Dan entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa lebih dekat dari biasanya.

1
Lee Mbaa Young
pelakor memang bgitu lbih galak, mau bangkrut masih sombong ngancam. gk pernh tau rasanya hidup miskin dan kehilangan anak sih si Clara.
Lee Mbaa Young
Yup tinggal nunggu karma kalian saja, karma tak Semanis kurma tentunya
Ma Em
Benci banget sama si Adrian , harusnya Alena jgn buka identitas nya dulu bahwa Alena putrinya tuan Wirawan agar Adrian langsung mau tanda tangan untuk perceraian Alena dgn Adrian , sekarang Adrian sdh tau status Alena putri dari tuan Wirawan ya otomatis Adrian tdk akan mau melepaskan Alena karena Alena anak orang kaya .
sunaryati jarum
Adrian hanya ingin dompleng nama besar Hana,di depan Clara katanya hanya ada dia.
arniya
bakal ada persaingan.....,
sunaryati jarum
Belum jadi janda sudah dapat perhatian dari dua pria pebisnis handal
sunaryati jarum
Jangan memanasi hati yang baru mulai hangat
sunaryati jarum
Kehancuran Clara dimulai
sunaryati jarum
Pasti Clara yg bilang
Ovha Selvia
Jgn sampai elena kalah sama clara dan adrian.. Clara padahal org ketiga alias pelakor, tapi seperti istri sah aja yg merasa tersaingi dgn kembalinya elena. Dia yg merebut adrian, tapi knp dia juga yg benci & dendam ke elena. Kemungkinan yg sabotase itu clara deh, tapi lets see 🤔🤔
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!