Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Kabut Perak
Sisa-sisa badai semalam meninggalkan kabut tebal yang menyelimuti perimeter mansion pegunungan, membuat jarak pandang tak lebih dari sepuluh meter. Di dalam kamar utama, sisa kehangatan dari pengakuan emosional Maximilian masih terasa di udara. Namun, bagi seorang pria seperti Maximilian Moretti, ketenangan hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya menghantam.
Pukul tiga dini hari, sebuah getaran halus terasa di bawah bantal Maximilian—bukan suara, melainkan sinyal taktil dari jam tangan pangatur keamanan pusat yang melingkar di pergelangan tangannya. Sensor perimeter zona empat terganggu. Maximilian membuka matanya seketika. Tidak ada kantuk, tidak ada keraguan. Dalam satu gerakan halus, ia sudah bangkit dari ranjang, meraih Glock 19 dari laci tersembunyi di meja samping tempat tidur. Ia melirik Rebecca yang masih terlelap, wajahnya tampak damai di bawah cahaya bulan yang pucat. Max merasakan denyut protektif yang menyakitkan di dadanya; trauma semalam tentang ibunya masih segar, dan ia bersumpah demi nyawanya sendiri bahwa sejarah tidak akan terulang.
Ia tidak membangunkan Rebecca. Belum saatnya.
Maximilian melangkah keluar menuju ruang kendali keamanan di lantai dua. Vargo sudah di sana, wajahnya diterangi cahaya biru dari belasan monitor CCTV.
"Laporan," desis Maximilian, suaranya sedingin es yang membeku.
"Penyusupan profesional, Tuan," bisik Vargo tanpa menoleh. "Mereka menggunakan setelan termal pengabur panas. Sensor laser kita dipotong dengan presisi militer. Mereka bukan amatir dari Valenti. Ini adalah unit elit... mungkin kiriman langsung dari Naples."
Maximilian menyipitkan mata. Kilat haus darah muncul di pupil matanya yang gelap. "Berapa orang?"
"Enam di sektor barat, empat di sektor timur. Mereka mencoba menjepit kita."
"Matikan semua lampu eksterior," perintah Maximilian. "Aktifkan protokol Silence of the Grave. Jangan ada suara tembakan kecuali aku yang memulainya. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya berburu di wilayah iblis."
Maximilian mengenakan rompi taktis tipis di balik kaos hitamnya. Ia tidak menunggu pengawal lainnya. Ia keluar melalui pintu rahasia yang terhubung langsung dengan hutan pinus di sisi barat mansion. Di luar, udara dingin menusuk kulit, namun Max tidak merasakannya. Ia bergerak seperti bayangan di antara pepohonan, kakinya tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas tumpukan daun kering.
Di sektor barat, tiga penyusup bergerak maju dalam formasi delta. Mereka menggunakan kacamata night vision terbaru, merasa aman di bawah perlindungan kabut. Namun, mereka tidak menyadari bahwa Maximilian Moretti adalah kabut itu sendiri.
Tiba-tiba, penyusup yang berada di posisi paling belakang merasakan sebuah tangan dingin membekap mulutnya. Sebelum ia sempat berontak, sebilah belati karambit telah merobek tenggorokannya dengan satu sayatan presisi. Tanpa suara, tubuh itu ditarik ke dalam kegelapan semak-semak.
Dua penyusup lainnya berhenti. Mereka merasa ada yang hilang. Saat mereka berbalik, Maximilian sudah berdiri di sana, hanya berjarak satu meter. Di bawah temaram cahaya bulan, wajah Max tampak seperti malaikat maut—datang tanpa peringatan, tanpa belas kasihan.
"Kalian salah memilih rumah untuk bertamu," bisik Maximilian.
Penyusup itu mencoba mengangkat senapan sub-mesin mereka, namun Maximilian lebih cepat. Ia menerjang maju dengan keganasan seorang predator yang kelaparan. Ia mematahkan pergelangan tangan pria pertama dengan satu hentakan keras, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai perisai saat rekannya melepaskan tembakan berperedam. Puff! Puff!
Maximilian membalas dengan dua tembakan tepat di dahi pria kedua. Saat pria di genggamannya mencoba mencabut pisau, Maximilian mencengkeram lehernya dan menghantamkan kepala pria itu ke batang pohon pinus yang keras hingga terdengar suara tengkorak yang retak.
Keganasan Maximilian malam ini berada di level yang berbeda. Ini bukan sekadar pertahanan diri; ini adalah pelampiasan dari trauma masa lalu yang baru saja ia buka. Setiap serangan yang ia lancarkan adalah pesan untuk siapa pun yang mengirim mereka: Jangan pernah menyentuh apa yang menjadi milikku.
Sementara itu, di dalam mansion, Rebecca terbangun karena suara sensor pintu kamar yang berbunyi lirih. Ia segera meraih senjatanya, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat tempat tidur di sampingnya kosong.
"Max?" bisiknya.
Ia berlari ke balkon dan melihat kilatan cahaya redup di tengah hutan. Rebecca tidak menunggu instruksi. Ia mengenakan jaketnya dan segera turun melalui tangga darurat. Ia bertemu Erica di lorong bawah.
"Nona, tetap di dalam! Tuan sedang membersihkan perimeter!" cegah Erica.
"Tidak, Erica. Aku tidak akan membiarkan dia bertarung sendirian lagi," sahut Rebecca tegas.
Mereka berdua keluar menuju sektor timur. Rebecca melihat sisa penyusup mencoba memanjat pagar beton. Dengan ketenangan yang ia pelajari dari latihan memanah, Rebecca membidik dari jarak jauh menggunakan senapan runduk yang ia ambil dari loker senjata.
DOR!
Satu penyusup jatuh dari pagar.
Di sisi lain hutan, Maximilian telah menyelesaikan empat orang di sektor barat. Ia berdiri di tengah mayat-mayat itu, napasnya teratur, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni. Ia mendengar tembakan dari arah mansion dan segera berlari kembali.
Saat ia mencapai halaman belakang, ia melihat Rebecca sedang berdiri tegak dengan senapan di tangannya, sementara dua penyusup terakhir mencoba mengepungnya dari balik tangki air.
Keganasan Maximilian memuncak. Ia tidak menembak dari jauh. Ia berlari dengan kecepatan penuh, menerjang salah satu penyusup dari belakang. Ia menjatuhkan pria itu ke tanah dan menghujamkan tinjunya berkali-kali ke wajah musuh hingga tangan Max berlumuran darah. Ia tidak berhenti sampai pria itu tidak lagi bergerak.
Penyusup terakhir, yang melihat rekannya dibantai secara brutal, menjatuhkan senjatanya dan mencoba melarikan diri. Namun, sebuah peluru dari Rebecca menghantam kaki pria itu, membuatnya tersungkur.
Maximilian berjalan mendekati pria yang terluka itu. Ia mencengkeram kerah bajunya dan mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung.
"Siapa yang mengirimmu?" suara Maximilian terdengar seperti geraman monster.
"D... d'Angelo... dan orang-orang dari Naples..." rintih pria itu di tengah sisa napasnya.
Maximilian menatap pria itu sejenak, lalu tanpa ragu, ia mematahkan leher pria itu dengan tangan kosong di depan mata Rebecca. Sunyi kembali menyergap mansion itu. Kabut mulai menipis, menyingkapkan pemandangan berdarah di halaman belakang yang tadinya indah.
Maximilian berdiri diam, tangannya gemetar karena adrenalin dan amarah yang belum padam. Darah musuh membasahi kaos dan wajahnya. Ia tampak seperti iblis yang baru saja keluar dari neraka. Ia menoleh ke arah Rebecca, takut jika keganasan yang baru saja ia tunjukkan akan membuat gadis itu ketakutan dan menjauh.
Namun, Rebecca melangkah maju. Ia tidak mundur. Ia mengambil saputangan dari sakunya dan mendekati Maximilian. Dengan lembut, ia menyeka noda darah di pipi Max.
"Sudah selesai, Max," bisik Rebecca. "Mereka tidak akan menyentuh kita."
Maximilian menatap Rebecca, perlahan-lahan kegilaan di matanya meredup, digantikan oleh rasa lelah yang amat sangat. Ia menarik Rebecca ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah-olah ia takut Rebecca akan menghilang ditiup angin pagi.
"Aku akan membunuh mereka semua, Rebecca," gumam Maximilian di pundak gadis itu. "Siapa pun yang berani melangkah ke garis ini... aku akan memastikan mereka tidak pernah melihat matahari lagi."
"Aku tahu," sahut Rebecca. "Dan aku akan membantumu melakukannya."
Malam itu berakhir dengan pesan yang jelas bagi dunia bawah tanah. Maximilian Moretti tidak lagi sekadar bertahan. Dengan keberadaan Rebecca di sampingnya, keganasannya telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih mematikan: sebuah janji untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik kedamaian mereka.
Vargo dan timnya mulai membersihkan mayat-mayat itu tanpa suara, sementara Maximilian menuntun Rebecca kembali ke dalam rumah. Bahaya memang ada di ambang pintu, namun malam ini, mereka membuktikan bahwa gerbang Moretti dijaga oleh dua pemangsa yang tidak akan pernah membiarkan mangsanya lolos.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘