Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara di Sunda Kelapa
Minggu pagi, Randy bangun dengan semangat 45, karena semalam barusan makan dan jalan-jalan sama Mulan dan dapat doorprize berupa first kiss yang romantis namun keganggu pelayan itu. Belum gosok gigi dan cuci muka, yang pertama dia raih adalah ponselnya dan mengirim pesan kepada Mulan.
“Pagi Lan, pagi-pagi ngapain?”
Nggak berapa lama datang balasan dari Mulan,
“Baru bangun ya? Aku udah bangun dari tadi, nyuci baju dan bantuin papa jualan di toko, sama mama juga. Kamu rencana ngapain?”
Kemudian Randy membalas,
“Wah rajin banget. Bantuin papa jualan? Pagi ini aku rencana mau ke Pelabuhan Sunda Kelapa, lihat-lihat.”
Lalu datang balasan dari Mulan,
“Iya, kalau minggu biasanya toko rame, kasihan papa kalau sendiri. Kok jalan-jalan terus, belajarnya kapan?”
Lalu Randy mengetik lagi,
“Mumpung belum masuk musim ujian, minggu depan udah ujian. Kalau udah liburan semesteran nanti aku mau ke Pulau Komodo, ikut ya? Aku sudah kumpulin hasil jualan di Shutterstock.”
Mulan lalu membalas:
“Sendirian ke Pelabuhan Sunda Kelapa? Hati-hati. Ke Pulau Komodonya, ya lihat nanti.”
Tak tahan kalau nggak becandain Mulan, Randy membalas begini:
“Maunya ngajak salah satu cewek, pasti mau. Tapi takut ada yang ngambek.”
Mulan membalas dengan emotikon marah dan menulis,
“Udah deh, jangan diungkit-ungkit lagi. Udahan dulu, ya, banyak yang lagi beli. Take care ya, Rand.”
Randy lalu menutup chatting WA itu dengan emotikon jempol dan hati, lalu beringsut ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mandi, dan segera bersiap-siap ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada tulisan di secarik kertas yang ditempel di pintu kamar mandi, ada tulisannya besar pakai spidol biru, “PAPA NGANTERIN MAMA KE PASAR. KALAU MAU PERGI. KALAU MAU MAKAN, UDAH ADA DI MEJA MAKAN. TUNGGU SEBENTAR SAMPAI MAMA PULANG DULU.”
Setelah mandi dan sisiran, Randy segera makan nasi dengan lauk yang sudah terhidang di meja makan. Baru 5 menit makan, papa dan mamanya pulang dari belanja.
“Rand, sudah makan?” tanya mamanya dari ruang tamu sambil membawa barang belanjaan.
“Ini lagi makan, ma,” jawab Randy lalu menyuap nasinya dengan sendok.
“Ada rencana pergi pagi ini?” kata mama Randy saat sudah tiba di ruang tamu.
“Mau ke Pelabuhan Sunda Kelapa, ma,” jawab Randy yang barusan menyuap sendok terakhirnya. “Mau hunting foto-foto, ma.”
“Oke, hati-hati ya, Rand,” ujar mama Randy. “Nggak lama kan? Cepetan jalan, keburu panas.”
“Emangnya mama,” canda Randy. “Takut kepanasan.”
Randy lalu menyiapkan “alat-alat perang”-nya berupa kamera, baterai cadangan, dan SD card cadangan.
“Pa, Randy jalan dulu, ya, mau ke Pelabuhan Sunda Kelapa hunting foto,” pamit Randy ke papanya yang sedang mencuci mobil.
“Oke, Rand, hati-hati ya,” kata papanya, menghentikan sejenak mencuci mobilnya, melihat Randy yang mengendarai motornya sampai tak kelihatan.
Sesampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, kesibukan tampak terlihat. Para pekerja melakukan bongkar muat ke dan dari atas kapal-kapal tradisional dari kayu itu. Randy mengambil beberapa foto pemandangan dan kegiatan yang cukup menarik itu.
“Kapal-kapal ini tujuannya ke mana saja, pak?” tanya Randy kepada seorang mandor yang tengah mengawasi para pekerja itu.
“Ke seluruh Indonesia, dik,” jawab mandor itu.
“Apa saja isinya?” tanya Randy lebih jauh.
“Macam-macam,” jawab bapak mandor itu lagi. “Ada bahan bangunan, sembako, pakaian, dan sebagainya.”
“Baik, pak, terima kasih,” ujar Randy lalu meneruskan mengambil beberapa foto yang menarik di situ. Matahari bersinar terik, kemudian Randy meneduh sebentar di sebuah warung di pelabuhan tersebut dan memesan es kelapa muda. Sambil iseng dia mencari informasi tentang Pelabuhan Sunda Kelapa di Google dengan ponselnya, dan dia dapati: “Pelabuhan Sunda Kelapa dibangun pada abad kelima, sejak zaman Kerajaan Tarumanegara.”
Dari kejauhan Randy melihat sepasang lelaki dan wanita mulai adu mulut, dan suaranya makin lama makin keras hingga beberapa orang menoleh. Tiba-tiba sang pria tersebut mengangkat laptop si wanita tinggi-tinggi. Secara refleks, Randy langsung berdiri dan segera bergerak.
Suara lelaki itu keras dan kasar membentak wanita itu, “Pulang sekarang! Atau kubanting laptopmu!”
“Jangan, mas!” teriak seorang wanita. “Laptop itu penuh data-data tentang skripsiku.”
“Makanya pulang sekarang!” teriak lelaki itu dengan suara keras. “Jangan paksa aku berbuat kekerasan!”
“Tapi aku belum selesai mengumpulkan data di sini, mas,” kata wanita itu sambil terisak. “Minggu depan harus sudah jadi.”
“Aku nggak peduli!” kata lelaki itu. “Kamu janjian sama Bram, kan? Ayo pulang sekarang!”
“Bram yang membantuku mengumpulkan data-data untuk skripsiku, mas,” jawab wanita itu masih dengan isak tangisnya. “Jangan berpikiran yang nggak-nggak, mas.”
“Pulang, kataku!” Lalu lelaki itu mengangkat laptop itu tinggi-tinggi dan bersiap akan melemparnya, namun dengan sigap Randy merebut laptop itu dari tangan lelaki itu.
“Bangsat, siapa kau ikut campur urusan orang?” Lelaki itu marah bukan main kepada Randy.
“Maafin saya, bang, saya bukan mau ikut campur, tapi kasihan mbak itu kalau data-data skripsinya rusak,” kata Randy. “Saya juga mahasiswa, bang. Sangat tahu rasanya kehilangan data-data tugas.”
“Jangan banyak bacot, lu!” Lalu lelaki itu memukul ke arah wajah Randy, tapi dengan sigap Randy menghindarinya dan meletakkan laptop yang dipegangnya ke meja.
Lelaki itu kemudian meraih sebuah gelas kosong di atas meja dan melemparkannya ke arah Randy, untung tidak kena. Tapi baju Randy terkena cipratan teh yang masih tersisa di gelas itu sedikit.
Wanita teman lelaki itu menjerit-jerit ketakutan dan orang-orang mulai ramai berdatangan.
Lelaki itu kemudian mengambil kursi dan memukulkannya ke badan Randy, tapi dengan sigap Randy menangkap tangan lelaki itu lalu dia menggunakan kakinya untuk melakukan sapuan kepada lelaki itu sampai terjengkang dan Randy siap memukul muka lelaki yang sudah tidak berdaya itu.
Mata kedua lelaki itu berpandangan, dan Randy siap melayangkan bogemnya ke arah lelaki itu, tapi tidak dilakukannya.
Sambil mencengkeram kerah lelaki itu, Randy mengancam lelaki itu, “Kalau kamu bikin keributan lagi di sini, tak segan-segan aku menghajarmu.”
Setelah itu Randy melepaskan cengkeramannya lalu lelaki itu segera bangun dan buru-buru ke arah sepeda motornya dan langsung meninggalkan tempat itu.
“Nggak apa-apa, mbak?” tanya Randy sambil mengibas-ngibaskan celananya dan mengambil tisu untuk mengeringkan cipratan air teh tadi di mejanya.
“Aku nggak apa-apa, mas,” kata wanita yang masih gugup dan pucat itu. “Terima kasih telah menyelamatkan aku dan laptopku.”
“Nggak apa-apa, mbak,” kata Randy sambil duduk dan memesan air mineral, padahal es kelapa mudanya belum habis. “Sebenarnya ada apa tadi, mbak?”
“Dia Mas Birowo, pacarku,” jelas wanita itu pelan. “Dia sangat pencemburu dan mencurigai aku selingkuh sama Bram, teman kuliah yang membantuku membuat skripsi.”
“Lha mbaknya ke sini ada janji sama Bram?”
Mbak itu menggeleng pelan. “Nggak, mas, nggak tahu kenapa tiba-tiba Mas Birowo datang dan ngamuk-ngamuk di sini.”
“Oh ya, omong-omong namaku Randy,” kata Randy mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Aku Maya,” kata wanita itu sambil menjabat tangan Randy, lalu meneguk es teh manis yang tadi dipesannya.
Saat mereka bercakap-cakap, pria bernama Birowo tadi datang lagi dengan dua orang kawannya dengan wajah yang garang dan penuh amarah.