Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anting
"Aku habis mandi. Mandi bareng sama seseorang."
Aku terkejut dengan jawaban Alana. Dia gila kah?
Aku yang sedari tadi berusaha agar kebersamaan kami tak ketahuan Liliana, malah dia berbicara apa adanya sesantai itu.
"Sama siapa?" Liliana mengulik.
"Pacarku."
"Pacar?!!!!" Aku tertegun.
"Pacarmu siapa? Dia ada di sini?" tanya Liliana.
"Ih, kepo banget sih kamu, Mbak."
Tap ... Tap ... Тар ...
Terdengar suara langkah kaki yang terdengar semakin samar. Sepertinya Alana melenggang pergi begitu saja meninggalkan Liliana.
"Dasar, bo_cah nggak jelas!!! "Liliana merutuk.
Tap ... Tap ... Тар ....
Liliana berjalan ke arah kamar ini. Aku cepat-cepat menjauh dari pintu. Aku berlari ke almari pakaianku.
Cekrekkk...
Pintu terbuka. Liliana masuk. Aku pura-pura sibuk memilih-milih baju yang akan kukenakan.
"Kamu udah selesai kan? Aku mau gantian mandi," kata Liliana. Dia mengambil handuk, lalu melenggang masuk ke ruangan lembab yang ada di kamar ini.
"Huffff ...." Aku kembali menghela nafas lega. Semua aman. Liliana tak curiga sedikitpun.
Aku mengenakan pakaianku. Berdiri di depan cermin. Memperhatikan penampilanku. Sudah oke.
Cekrekkk....
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
"Mas!" Kepala Liliana melongok keluar. Aku refleks menengok ke arahnya. Melihat dia yang sepertinya sudah tak mengenakkan apa-apa.
"Ya?"
"Kok, ada anting Alana di kamar mandi kita?"
Deg ....
Aku tercekat. Liliana memperlihatkan sebuah anting mu_ngil yang memang milik Alana. Anting yang mungkin terjatuh beberapa saat yang lalu.
'Mampuslah aku!' batinku.
Aku hanya berdiri mematung, belum menjawab.
Kepalaku kosong, tak tahu harus beralasan apa.
"Anu, itu_"
Cekrekkk....
Pintu terbuka tiba-tiba. Kepala Alana nongol di ambang pintu tersebut.
"Antingku jatuh di kamar mandi nggak?" Dia berkata begitu. Menatapku juga menatap Liliana.
"Ini kan?" Liliana yang masih nongol di pintu kamar mandi memperlihatkan anting yang dipegangnya.
"Iya." Alana masuk, berjalan mendekati Liliana. Ia meraih anting miliknya.
"Jelaskan, kok bisa jatuh di kamar mandi ini?" Liliana menginterogasi. Wajahnya ada sedikit kecurigaan.
"Biasa, aku kan selalu rajin."
"Maksudnya?"
"Tadi aku yang bersihin kamar mandi ini, dan semua kamar mandi di rumah ini.
Mbak sih nggak punya pembokat, terpaksa aku yang ngelakuin." Dengan santai Alana pintar berbohong. Padahal aku tak kepikiran sampai ke situ.
"Lain kali hati-hati, antingmu jangan sampai jatuh."
Ternyata Liliana percaya dengan alasan Alana.
"Iya-iya, bawel!!!"
Blammm....
Liliana menutup pintu kamar mandi. Meneruskan aktivitasnya di dalam sana. Sedang Alana, dia berjalan mendekatiku yang masih berdiri di tempat.
"Hihihihi ...." Dia tertawa kecil.
ya?" "Pasti Mas Juna udah panik
"Huffff...." Aku tak menjawab, aku hanya menghela nafas. Antara lega, dan geram dengan sikap santainya.
"Bantuin aku pakek ini dong, Mas!" Alana menyodorkan anting yang ada di tangannya.
"Lah, kenapa Mas?"
"Siapa lagi? Nggak ada orang lain lagi di sini. Lagian Mas Juna kan yang bikin antingku lepas."
"Emang kamu nggak bisa pakek sendiri."
"Enggak."
Aku diam. Ragu-ragu untuk menurutinya. Tetapi kemudian
Setttt....
Aku menerima anting tersebut. Aku mendekat ke arah Alana. Berdiri tepat di samping Alana.
"Permisi ya," ucapku sebelum menyentuh telinganya.
Aku konsen memasangkan anting itu ke telinga Alana. Telinga mu_ngil, yang baru sekali ini aku sentuh.
"Hehehe...." Alana tertawa geli.
"Kenapa?"
"Nafasnya Mas Juna anget banget di telingaku."
"Sorry." Aku sedikit menjauhkan wajahku dari telinganya.
"Kenapa bilang sorry, nggak pa-pa, aku malah seneng. Rasanya geli-geli enak."
Glekkkk....
Aku tertegun. Bisa-bisanya dia berkata begitu.
"Udah." Akhirnya anting berhasil terpasang di telinga Alana.
"Udah apa?"