Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Clara hampir berlari, tumitnya berkali-kali nyaris terpeleset karena langkah Arsen yang terlalu cepat untuk diimbangi. “Pak… Pak Arsen, tunggu!” Arsen tidak berhenti juga menoleh pun tidak. Seolah dunia dibelakangnya sudah tidak penting saat itu.
Clara menahan napasnya dan mempercepat langkahnya lagi, Map yang ditangannya hampir saja terjatuh "Pak Arsen, berkasnya pak,.."
Langkah Arsen akhirnya berhenti mendadak, Clara hampir saja menabraknya saat itu. Arsen tidak langsung berbalik namun langsung bilang "Taruh aja di ruangan gue." titah Arsen dengan tegasnya Clara hanya menelan ludahnya dengan susah payah. Sulit sekali untuk mendekati bos nya ini, sudah sekian lama Clara mengejarnya tapi tetap saja tak pernah sekalipun Arsen meliriknya sama sekali. Namun Clara tidak mau pesimis meski putus asa dan rasa insecure kerap kali menggelayutinya tiba tiba bahkan sering.
"Sa,..saya sudah lihat pak." ucapnya tiba tiba. Seketika Arsen langsung menghentikan langkahnya "Lihat apa?." tanya Arsen mengernyit heran. Clara menggenggam map itu lebih erat. " Hasil medis ini pak."
"Lancang kamu Clara, jadi elo buka map ini hah!."
"Se,..sedikit pak sa.,saya tidak sengaja." sahut Clara dengan menunduk takut karena tatapan Arsen yang begitu tajam membuatnya hampir saja menangis.
“Cukup.” jawab Arsen singkat. Clara mendongak dan ada rasa khawatir pada bosnya itu.
Arsen langsung melanjutkan langkahnya, seolah saat ini tak mempedulikan apa yang sudah asistennya lihat pada berkas penting tersebut. Seolah itu bukanlah hal yang besar baginya.
"Pak Arsen,.."
"Hmm." sahut Arsen hanya menjawab dengan deheman. Clara langsung membeku tapi tidaklah lama ia langsung melontarkan pertanyaan akan rasa penasarannya itu. "Ba,..bapak Buri buru sekali, memangnya kita mau kemana?."
"Ikut saja tidak usah banyak bicara,"
“Ba,..baik pak." Arsen menatap lurus ke depan ponselnya terus tak ada hentinya ia balas benar benar super sibuk dirinya saat ini. Beberapa kali Clara ingin mengintip siapa yang mengirim pesan pada Arsen bosnya itu tapi lagi lagi tidak berhasil.
"Ya tuhan, susah banget sih deketin dia, sama siapa lagi dia chatingan sampai segitunya, apa dia udah punya tunangan tapi mana mungkin, kayaknya gue denger dia masih jomblo." bisik Clara dalam hatinya.
"Urgent banget ya pak?." tanyanya lagi.
"Sangat penting." seketika Clara membeku menatap Arsen sendu.
melihat perubahan pada asistennya Arsen langsung melambatkan langkahnya, lalu menoleh sebentar "Kenapa?." tanya Arsen.
"Ti,..tidak pak."
"Oh oke, lanjut jalan, saya harus sudah sampai sebelum waktunya."
"I,..iya pak."
"Hubungin Hendrik kita naik jet."
"Baik pak."
"Urusan pekerjaan kah pak?."
"Bukan." lagi lagi Clara langsung terdiam, namun suaranya gemetar saat bertanya lagi. Arsen hanya menarik nafasnya pelan.
"Keluarga ya pak?."
"Lebih dari itu."
Degh..Clara langsung menunduk tak ingin bertanya lagi, hanya menjawab singkat kali ini "Baik pak." seolah harapannya langsung lebur sudah sesekali ia menyeka airmatanya yang hampir terjatuh dengan cepat.
Arsen kembali berjalan dan Clara masih berdiri ditempat namun matanya berkaca kaca. "Kenapa harus sejauh itu,..pak." gumamnya pelan namun tetap ia simpan rapat rapat dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Malam itu berubah jadi panggung dadakan di kota Jakarta, ini bukan sekedar panggung sandiwara maupun panggung biasa. Lebih tepatnya panggung yang disetting dan dibuat dadakan demi keinginan seseorang yang mendadak pulang demi satu tujuan. Semua orang sudah tau tapi hanya segelintir yang tidak tau, seperti Lola, pak gembul dan bapak Lola juga Darto saat itu.
Dikarenakan semua orang menyembunyikannya dari Darto, karena Darto kelewat ember tidak bisa menyembunyikan rahasia, acapkali ingin membuat kejutan auto gagal karena celetukan Darto yang membongkar rencana mereka, kapoklah intinya kalo sampai si Darto tau.
Arden hanya meminta tolong pada Arsen dan teman temannya mengatur tapi semua Arden serahkan pada Arsen saat itu. Jadi dalam hal ini Arden pun sudah pasti dibuat terkejut juga dengan konsep acaranya yang mungkin akan nampak kelewat meriah.
Lampu taman rumah catur mendadak terang benderang, semua orang sudah mulai pada berkumpul. ibu Ratna sudah berhasil mengalihkan bapak Lola dan pak gembul juga anaknya.
Saat semua satu persatu pada kumpul di satu titik dan saling membantu mendekor taman tersebut membuat rasa penasaran bapak Lola semakin meronta.
"Bu, ini kok pada mau keluar ada apa ya rame rame begini."
"Owalah saya juga Ndak tau toh pak." sahut Bu Ratna.
"Anjir, ada marching band." ucap Bimo pada Darto yang sama sama tidak tau, karena Bimo sudah lama tidak berkomunikasi baru lagi ke rumah catur pada hari itu.
"To ada acara apa sih dirumah catur kok tumben ini pada ke depan, yuk kedepan yuk penasaran gue, eh si Lola ada yang nyari tuh."
"Biarin aja mas, mbak Lola sengaja pengen ngindar dari bapaknya, yaudah yuk mending ke depan aja Darto juga penasaran soalnya."
" Gue kira elo tau To, yaudah yok kedepan penasaran gue, gila sih ini marching band di bawa ke rumah catur haha."
Surara drum menggema membuat riuh sekomplek, anak anak, ibu ibu bahkan bapak bapak dan para bayi mendadak digendong oleh ibu dan bapak mereka demi melihat ada apa dirumah catur tersebut.
Ibu-ibu mulai berkerumun satu persatu, dan ditengah itu semua, Darto berdiri dengan gaya sok sibuk padahal dia saja tidak tau acara apa, mukanya saja sudah mulai panik setengah mati karena banyaknya orang yang mulai memadati halaman rumah catur tersebut
"Woi, woi mundur mundur" ucap Darto tapi endingnya malah kesandung kabel.
"Waduh astaghfirullah, siopo yang naro ini sih?!." orang orang yang melihat malah pada ketawa berjama'ah seolah itu hiburan mereka malam itu.
didalam rumah Lola masih duduk menatap layar ponselnya meskipun suara riuh sedikit terdengar membuatnya begitu penasaran. Ingin melihat ke area balkon tapi takut bertemu dengan bapaknya. Ia pun memilih untuk menunggu kabar dari Arden saat itu.
Zahra tiba tiba mengetuk pintu dan menyuruh Lola segera membuka pintunya dan langsung masuk kedalam kamar Lola sambil terengah. "ada apa sih Ra, panik gitu?." tanya Lola heran.
"LOLA!, LO HARUS LIAT KE BAWAH BURUAN!"
"enggak mau turun gue, masih ada bapak gue sama pak gembul kan ogah gue takut."
"Enggak La, bukan Pak Gembul udah yuk ke bawah dulu ikut gue lewat pintu belakang aja" titah Zahra yang langsung menarik tangan Lola.
"Hah, maksud elo apa Zahra, ikh jangan tarik tarik tangan gue, sakit tau, biasa aja sih Ra."
"Makanya buruan cepet"
Pak gembul dan anaknya berjalan cepat saking penasaran dan disusul bapak Lola dan Bu Ratna, semua terdiam saat sudah sampai di area taman yang sudah banyak orang berkerumun.
Wajah pak gembul dan anaknya pun berubah tidak lagi tengil seperti sebelumnya malah seperti orang yang bingung saat itu.
Bapak Lola saja mulai gelisah saat itu, Darto hanya tersenyum saat sudah tau dari salah satu penghuni rumah catur yang memberi tahunya.
Tak lama mobil Arden datang dengan wireless ditangannya. Dengan pakaian kemeja jeans yang sedikit kusut rambutnya pun sudah tidak rapi karena mengejar waktu saat itu tidak ada persiapan dialog sama sekali. Hanya memiliki tekad dan nekat yang sudah ia pikirkan sebelumnya.
Tatapannya fokus menyapu area rumah tersebut mencari seseorang yang ia tuju saat itu. Ia menaiki atas mobil tersebut, tangannya pun gemetar sedikit.
"Anjir itu si Arden wkwkwk, mau ngapain dia pake naik ke atas mobil segala haha." ucap salah satu penghuni rumah catur tersebut.
“Iya anjir gentleman banget, mau nembak siapa sih dia?"
"Kagak tau gue juga, rasaan dia kan termasuk tim jomblo abadi tuh sama si Arsen kan."
Marching band pun berhenti, Arden menelan ludah dengan susah payah dan semua menunggu apa yang akan Arden ucapkan saat itu.
Masih menunggu sahabatnya tiba, karena ingin sekali moment tersebut disaksikan oleh para sahabatnya itu. Arsen meniupkan peluit "Lanjutkan bro gue udah datang."
"Alhamdulillah" ucap Arden menarik nafas lega.
Live streaming pun dimulai Prasha dan Aluna pun masih menunggu, "Mas seriusan itu mas Arden mau senekat itu."
"Kita lihat saja ini masih nunggu semuanya juga, lihat deh itu si Arden keliatan gerogi haha."
"Lolanya mana mas?."
"Enggak tau ini mas juga lagi nyari belum keliatan."
kedua pasangan yang masih berada di rumah sakit masih menunggu kabar dari sahabatnya itu, masih didepan layar ponsel yang menyala.
Lagi lagi Arden menelan ludahnya dengan susah payah, jantungnya sudah deg degan sedari tadi.
"Gila,..baru kali ini gue senekat ini" gumamnya sendiri. Sambil matanya mencari keberadaan Lola."
Arden maju selangkah, mobil masih berjalan perlahan." Arden dari atas pesawat dan meniupkan peluitnya memberi kode.
Semua pun melihat ke arah langit ada pesawat jet yang sedang memantau acara tersebut. Arden terdiam beberapa detik dan sempat tersenyum sebentar,
Lola pun keluar dari kamar dan mengikuti langkah kaki Zahra dengan langkah cepat sedikit berlari. Namun tak lama ia mematung saat melihat kerumunan dan taman yang sudah terdekor juga halaman yang sudah seperti ad acara hajatan dadakan, melihat Arden ada di atas mobil dan pesawat yang ada di langit sana. Dirinya seolah langsung linglung seketika.
Melihat itu Arden langsung cemas dan langsung bilang "La, jangan pingsan dulu gue belom ngomong"
"LOLA!."