Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Saya Akan Membuat Batasnya Sendiri
Malam telah bergeser dari titik tengah, ketika ketukan di pintu itu terdengar. Pelan, lembut, tapi tidak mau menunggu.
Shafiya menatap Winda yang terlelap sejak beberapa menit lalu di sofa. Perempuan itu setia menemani, meski Shafiya telah menyuruhnya beristirahat di kamarnya sendiri. Winda pasti sangat lelah, bahkan suara ketukan pintu tak membangunkan tidurnya.
Shafiya bangkit, berjalan ringan ke arah pintu kamar. Membukanya.
Ratri berdiri di depannya. Menunduk sesaat. "Selamat malam, Nona."
"Malam."
"Apa, Anda membutuhkan dokter?"
"Dokter? Untuk apa?"
"Perintah tuan. Anda tidak tidur sampai lewat tengah malam. Mungkin sedang tidak nyaman."
Shafiya terhenyak.
Sagara tahu ia tidak bisa tidur. Sedikitpun tidak bisa memejamkan mata. Itu pasti bukan karena koneksi perasaan mereka yang saling terhubung. Tapi mungkin masih ada sisa kamera pengawas di kamar Shafiya yang belum sepenuhnya dibersihkan.
"Saya tidak perlu dokter," kata Shafiya akhirnya.
"Baik." Ratri hendak berbalik pergi, namun segera ia ingat pesan Sagara yang lain.
"Jika ada hal lain yang, Anda butuhkan, Nona."
"Tidak ada," jawab Shafiya cepat.
"Baik." Ratri teruskan niatnya untuk berbalik pergi.
"Mungkin satu hal." Ucapan Shafiya menahan langkah Ratri.
"Bersihkan semua CCTV di dalam kamar saya. Jangan ada yang tersisa."
Ratri mengangguk. "Saya sampaikan pada tuan."
Ratri segera berlalu. Sepeninggalnya Shafiya menutup pintu kamar seraya menarik napas pelan.
Ketukan kedua tidak terdengar.
Namun beberapa menit setelah Ratri pergi, gagang pintu kembali bergerak. Kali ini tanpa suara. Tanpa ragu.
Shafiya yang belum benar-benar menjauh dari pintu, menoleh.
Pintu terbuka.
Sagara masuk.
Langkahnya tenang. Terukur. Seperti biasa. Tidak ada sapaan.
Tatapannya langsung menyapu ruangan. Berhenti sejenak pada titik di sudut atas--bekas posisi kamera yang tadi sempat disinggung. Lalu berpindah. Ke sisi lain. Memastikan.
Shafiya menutup pintu perlahan di belakangnya.
“Sudah terbiasa masuk tanpa izin?” suaranya datar. Tidak tinggi. Tapi cukup untuk menandai batas.
Sagara tidak langsung menjawab. Ia melangkah beberapa langkah ke dalam. Mendekati dinding. Jemarinya menyentuh permukaan kayu, tepat di bawah ornamen kecil yang tampak biasa.
“Sudah dimatikan,” ujarnya akhirnya. Singkat.
Bukan jawaban.
Lebih seperti laporan.
Shafiya menyandarkan punggungnya pada pintu. Menatapnya. Lama. Mencoba membaca sesuatu yang seperti biasa--tidak pernah benar-benar terbaca.
“Semua?” tanyanya.
Sagara berhenti. Tidak menoleh.
“Yang terlihat,” jawabnya.
Shafiya tersenyum tipis. Hambar.
“Berarti masih ada."
Sagara berbalik sekarang. Tatapannya jatuh tepat ke arahnya.
“Tidak semua yang merekam itu terlihat.”
Kalimat itu diucapkan tanpa penekanan. Tanpa perubahan nada.
Namun cukup untuk membuat hening dalam ruangan itu terasa makin tajam.
Shafiya terdiam.
Bukan karena tidak mengerti. Tapi karena terlalu banyak kemungkinan dari kalimat Sagara itu.
Ia mendorong tubuhnya menjauh dari pintu. Melangkah mendekat, meski jaraknya masih terjaga.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “Artinya saya masih diawasi."
Tidak ada jeda panjang.
“untuk keamanan,” jawab Sagara.
Jawaban aman. Terlalu aman.
Shafiya mengangguk kecil. Seolah menerima. Meski matanya mengatakan sebaliknya. "Selalu itu alasannya." Dia ingin ketawa tapi ditahan.
Hening turun.
Winda masih terlelap di sofa. Nafasnya teratur. Menjadi satu-satunya ritme yang tidak tegang di ruangan itu.
Sagara melirik sekilas ke arah itu. Lalu kembali pada Shafiya.
“Kamu seharusnya tidur."
Bukan perintah.
Shafiya menarik napas pelan.
“kamu juga tidak tidur."
Tatapan mereka bertemu.
Tak ada yang mundur.
Tidak ada yang benar-benar mendekat.
"Terbiasa tidak tidur, atau." Shafiya diam sejenak. "Tidak bisa tidur."
Sagara tak langsung menjawab. Banyak hal yang ia lalui malam ini. Tumpukan berkas yang menumpuk di ruang kerja. Semua menunggu giliran untuk diperiksa. Ia capek. Lelah. Tapi rasa kantuk memang tidak menghampirinya. Tidak sama sekali.
"Tidak bisa tidur," jawabnya, akhirnya.
Shafiya tak memberi tanggapan, meski pertanyaannya terjawab.
Ia memalingkan wajah sejenak. Tangannya terlipat di depan dada, seperti menahan sesuatu yang tidak ingin keluar terlalu cepat.
“Sagara.”
Kali ini Shafiya menyebut nama itu tanpa jarak.
Membuat Sagara sedikit mengangkat pandangannya.
“Ada berapa hal lagi yang kamu tahu… tapi tidak kamu katakan?”
Pertanyaan langsung dan tepat.
"Tentang anak ini," lanjutnya.
Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak sepenuhnya terkendali.
Sagara diam.
Hanya satu detik lebih lama dari biasanya.
"Yang saya tahu, tidak lebih dari yang kamu tau."
Sampai saat ini tidak ada laporan mengenai kehamilan Shafiya yang bisa dianggap janggal. Data medis perempuan itu di AMC bersih. Sesuai.
Tak ada celah yang mengarah pada hal lain. Kecuali sebatas dugaan yang tak bisa dibuktikan secara logika, apalagi data.
"Mengenai penegasan saya di sidang keluarga tadi ..." Jeda sejenak. Sagara menatap Shafiya cukup lekat. "... jika itu yang jadi dasar pertanyaanmu--jawabannya, memang harus. Untuk melindungi."
"Melindungi kursimu?" Shafiya menangkap arah itu dengan cepat.
Sagara mengangguk. Langsung, tanpa bantahan. "Juga kamu," ucapnya. Dua kata, datar, tapi tegas.
Shafiya menatapnya lama. Seolah masih menimbang--mana yang harus dipercaya, dan mana yang cukup disimpan saja.
Ia lalu mengangguk pelan.
“Baik.” Tarikan napas samar.
"Terima kasih."
Sagara berbalik menuju pintu.
"Tidurlah."
"Itu lebih tepat untukmu," sahut Shafiya cepat. Sebelum pintu benar-benar terbuka.
"Masih banyak yang harus saya selesaikan." Kebiasaan Sagara menolak memejamkan mata sebelum hal yang terasa janggal itu selesai.
“Untuk sesuatu yang memang tidak ditakdirkan kamu dapatkan malam ini…”
Suara Shafiya pelan. Nyaris seperti bisikan.
“…itu tidak akan terjangkau. Bahkan kalau kamu memaksanya.”
"Takdir." Bukan pertanyaan. Hanya mengulang.
"Iya."
“Saya tidak bekerja dengan kemungkinan yang menyerah pada keadaan.” Tatapan mata itu begitu tajam. Menunjukkan tekad--bahwa semuanya bisa ia gerakkan.
"Takdir itu bukan tentang menyerah pada keadaan." Shafiya cepat menjawab.
Jeda singkat.
Tatapannya tidak goyah.
"Takdir itu tentang garis… yang tidak bisa kita lampaui."
Sagara diam. Tapi tatapannya berubah.
"Seperti Ariana."
Shafiya menyebut nama itu pelan. Tanpa tekanan emosi berlebihan.
"Kamu memilih dia."
Shafiya menatapnya lurus.
"Menyiapkannya sebagai ibu anakmu. Mengatur segalanya."
Satu detik ia berhenti.
"Tapi takdirnya tidak memihak padamu."
Sunyi. Sagara diam.
Bukan diam biasa.
Ini jenis diam yang… menahan sesuatu.
Shafiya kembali ingin berkata, tapi Winda bergerak lebih dulu.
"Tuan, Nona..." winda reflek berdiri. Gugup. Namun dengan cepat menguasai situasi. "Sa-saya mohon diri."
Ia melangkah keluar kamar sedikit bergesa, tanpa berani menegakkan punggungnya.
Sepeninggal Winda, tatapan mereka bertemu. Tidak lama.
"Lanjut." Satu kata singkat dari Sagara.
"Dan seperti saya. Yang tidak kamu inginkan. Tidak direncanakan." Shafiya menunduk sejenak. "Tapi saya yang di sini."
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun sesaat--bukan pada lantai, tapi pada jeda yang Shafiya ciptakan.
Dan saat tatapan itu kembali naik.
"Kalau itu yang kamu sebut garis…"
suaranya rendah. Tetap tenang.
"…maka garis itu tidak pernah benar-benar tetap."
Shafiya mengangkat pandangannya.
"Orang menggambarnya," lanjut Sagara.
"Dan orang yang sama… bisa menggesernya."
Hening.
"Itu yang akan kamu lakukan?"
Suara Shafiya pelan. Tidak menantang. Tidak juga menerima.
"Menggeser garisnya… sampai semua terlihat sesuai?"
Sagara tidak menjawab langsung.
Namun kali ini, ia tidak menghindari tatapan itu.
"Kalau saya tidak melakukannya," katanya akhirnya,
"maka saya akan selalu berada di sisi yang ditentukan orang lain."
Ia maju satu langkah.
Bukan mendekat.
Tapi juga tidak menjaga jarak.
"Saya tidak tertarik hidup di batas yang dibuat untuk saya."
"Saya akan membuat batasnya sendiri."
Ucapan itu bukan sekedar tekad. Itu arah. Itu hidupnya.
Shafiya menatapnya lama.
Lalu, pelan ia berkata:
"Masalahnya…"
Perempuan itu menarik napas tipis,
"tidak semua batas dibuat oleh manusia."
Ia diam sejenak menatap Sagara.
"Dan Ariana," lanjutnya,
"bukan gagal karena kamu kurang berusaha. Tapi karena memang bukan jalannya."
"Ariana memang dihilangkan," kata Shafiya lagi. "Tapi itu memang sudah garisnya."
"Itu takdir."
Sagara diam.
Namun kali ini--bukan menahan.
Melainkan… menerima kalimat itu sebagai sesuatu yang tidak bisa langsung ia bantah dengan logika.
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...