NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Bab 30: Bisikan dari Masa Lalu

Hujan badai menghantam atap seng panti asuhan dengan bunyi berisik yang memekakkan telinga. Di dalam kamar sempitnya, Arka duduk di tepi ranjang. Lampu minyak yang berkedip-kedip menjadi satu-satunya sumber cahaya, memantulkan bayangan panjang yang gemetar di dinding semen yang lembap.

Ia menatap tangannya yang dibalut sapu tangan milik wanita bernama Sarah tadi siang. Sapu tangan itu halus, wangi lavender yang menenangkan masih tertinggal di sana—kontras dengan bau oli dan keringat yang melekat pada jaket kurirnya.

"Sarah... Elina..." Arka mengeja nama-nama itu. Kepalanya berdenyut.

Setiap kali ia mencoba mengingat mereka, sebuah dinding hitam besar muncul di benaknya. Ia merogoh saku, mengeluarkan bros perak yang penyok. Benda itu kini tampak berbeda. Akibat perkelahian di pasar tadi, salah satu sudut peraknya terkelupas, menyingkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana: sebuah lempengan hijau mikroskopis yang berkilau metalik.

Arka menyipitkan mata. Ia meraih sebuah obeng kecil dari kotak perkakas motornya. Dengan jemari yang biasanya ahli membedah mesin, ia mencongkel perlahan bagian perak yang retak.

Klik.

Bros itu terbelah. Di dalamnya bukan sekadar logam padat, melainkan sebuah sirkuit yang sangat canggih—sebuah mikrokontroler yang tampak seperti karya seni teknologi yang mustahil dimiliki oleh seorang kurir miskin.

Tiba-tiba, tanpa ada kabel atau baterai yang terlihat, sebuah cahaya biru lembut memancar dari sirkuit itu. Udara di dalam kamar seolah membeku. Sebuah suara statis terdengar, diikuti oleh tarikan napas berat yang sangat akrab di telinga Arka.

"Arka... jika kau mendengar ini, berarti kau telah memilih untuk menjadi manusia."

Arka tersentak. Obeng di tangannya jatuh ke lantai. "Ayah?" bisiknya, suaranya parau.

Itu adalah suara Aris Pramudya. Suara yang seharusnya sudah terkubur sepuluh tahun lalu di bawah reruntuhan proyek yang disabotase Thomas Van Heusen.

"Aku tahu beban yang kau pikul. Sistem itu... itu adalah karya terhebatku sekaligus penyesalan terbesarku. Aku membangunnya untuk memberi keadilan bagi mereka yang tertindas, tapi aku lupa bahwa keadilan tanpa emosi hanyalah tirani yang baru."

Arka terpaku. Air mata mulai menggenang tanpa ia sadari. Ia tidak ingat wajah ayahnya secara detail, tapi getaran suara itu memicu rasa hangat yang luar biasa di dadanya.

"Jangan mencari memorimu yang hilang, Nak. Memori yang hilang adalah harga untuk kebebasan jiwamu. Yang kau butuhkan bukan data tentang siapa kau di masa lalu, tapi nyali untuk menentukan siapa kau di masa depan. Di dalam chip ini, aku meninggalkan satu-satunya hal yang tidak bisa diberikan oleh Sistem: Kunci 'Lembah Sovereign'. Itu bukan emas, Arka. Itu adalah bukti kepemilikan sah lahan panti asuhanmu yang sebenarnya tidak pernah dijual pada Wijaya Group."

Pesan itu berakhir dengan suara desis pelan. Cahaya biru itu meredup, meninggalkan Arka dalam kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.

Di saat yang sama, di sebuah penthouse mewah di pusat kota Medan, seorang pria paruh baya berdiri menghadap jendela kaca besar yang menghadap ke arah pelabuhan. Ia adalah Hendra Wijaya, ayah Rian. Wajahnya keras, guratan di dahinya menceritakan ambisi yang tak pernah terpuaskan.

"Rian gagal," gumamnya pada seorang pria berjas abu-abu yang berdiri di belakangnya. "Anak bodoh itu membiarkan emosinya menghancurkan rencana sepuluh tahun kita. Sekarang Thomas di penjara, dan Arka... Arka masih hidup."

"Tapi dia hilang ingatan, Tuan Hendra," lapor si pria berjas. "Dia hanya kurir sekarang. Dia bahkan tidak tahu cara mengakses saldo banknya sendiri."

Hendra berbalik, matanya berkilat penuh kebencian. "Arka yang amnesia justru lebih berbahaya. Dia tidak terikat oleh aturan logika Sistem lagi. Dia bertindak dengan insting. Dan insting seorang Pramudya adalah racun bagi keluarga Wijaya."

Ia mengambil sebuah map merah dari mejanya. "Thomas memang rakus, tapi dia meninggalkan satu kartu as. Lahan panti asuhan itu. Cari cara untuk menghancurkan tempat itu sebelum Arka menyadari nilainya. Jika panti itu rata dengan tanah, Arka tidak akan punya tempat untuk kembali. Dan saat dia tidak punya apa-apa... saat itulah kita akan menghabisi sisa-sisa kedaulatannya."

Pagi harinya, Arka kembali ke jalanan. Namun, tujuannya bukan lagi mengantar barang. Ia pergi ke kantor Sovereign Architect—sebuah gedung megah yang ia rasa sangat asing namun sekaligus terasa seperti bagian dari dirinya.

Di lobi, para staf yang melihatnya langsung berdiri tegak. Mereka mengenali jaket kurir itu, mereka mengenali wajah pahlawan mereka. Namun, Arka hanya berjalan melewati mereka dengan tatapan bingung.

Di depan ruang CEO, ia bertemu Elina. Wanita itu mengenakan gaun formal berwarna marun, tampak anggun namun matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.

"Kau datang," ucap Elina. Ada secercah harapan di matanya. "Kau mengingat sesuatu?"

Arka mengeluarkan bros yang sudah terbelah itu. "Aku mendengar suara ayahku. Dia bilang... panti asuhan itu milikku. Bukan milik Wijaya."

Elina terdiam. Ia menatap bros di tangan Arka. "Arka, jika kau mengejar hal ini, kau akan memicu perang baru dengan Hendra Wijaya. Kau tidak punya kekuatan Sistem lagi untuk melindungimu. Kau hanya seorang diri."

"Aku tidak sendirian," sahut Arka pelan. Ia menunjuk ke arah jendela, di mana puluhan kurir sedang sibuk memuat barang di basemen. "Mereka... aku merasa aku berhutang pada mereka. Bukan uang, tapi martabat."

Tepat saat itu, Sarah muncul dari lift. Ia membawa setumpuk dokumen. Saat melihat Arka, langkahnya terhenti. Ia melihat bros yang hancur di tangan Arka dan segera menyadari bahwa Arka telah menemukan sesuatu.

"Arka," Sarah mendekat, suaranya gemetar. "Hendra Wijaya baru saja mengirimkan surat perintah pengosongan lahan panti. Mereka akan mengirim alat berat sore ini. Ini adalah jebakan. Mereka ingin memancingmu keluar agar mereka punya alasan untuk menangkapmu kembali."

Arka tidak tampak takut. Sebaliknya, ia melangkah maju, memperpendek jarak dengan Sarah. Aroma lavender dari sapu tangannya kembali tercium.

"Kenapa kau membantuku?" tanya Arka, matanya menatap tajam ke dalam mata Sarah. "Kau cantik, kau pintar, kau punya karir. Kenapa kau menangisi seorang kurir yang bahkan tidak tahu namamu?"

Sarah merasakan dadanya sesak. Ia ingin berteriak bahwa ia mencintainya, bahwa ia adalah wanita bodoh yang pernah membuang mutiara demi kerikil. Tapi ia hanya bisa berkata, "Karena aku ingin kau melihat dirimu sendiri melalui mataku, Arka. Kau bukan sekadar kurir. Kau adalah arsitek dari ribuan mimpi di kota ini."

Sore itu, langit Tanjungbalai berwarna oranye kemerahan, seolah-olah terbakar. Di depan panti asuhan, tiga buldoser raksasa sudah bersiap. Puluhan preman bayaran Hendra Wijaya berdiri berjajar, menghalangi anak-anak panti yang menangis ketakutan di bawah pelukan Ibu Fatimah.

"Ratakan tempat ini!" perintah seorang pria berseragam dinas yang sudah dibayar Hendra.

Saat mesin buldoser mulai meraung, suara knalpot motor yang memekakkan telinga terdengar dari ujung jalan. Bukan satu, bukan sepuluh, tapi ratusan motor kurir Sovereign Architect muncul, membentuk barisan blokade di depan alat berat tersebut.

Di barisan paling depan, Arka turun dari motornya. Ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa sebuah bros perak yang sudah hancur.

"Berhenti!" teriak Arka.

Pria berseragam itu tertawa. "Arka Pramudya. Kau tidak punya wewenang di sini. Lahan ini sah milik Wijaya Group berdasarkan dokumen yang kami miliki!"

Arka melangkah maju, melewati barisan preman. Ia berdiri tepat di depan moncong buldoser. "Dokumen kalian adalah palsu. Karena kunci kepemilikan yang asli... ada di sini."

Arka mengangkat chip dari dalam brosnya. "Kalian bisa menghancurkan gedung ini, tapi kalian tidak bisa menghancurkan data yang tersimpan di seluruh server Sovereign di kota ini. Detik ini juga, bukti pemalsuan tanda tangan ayahku sedang diunggah ke publik oleh timku."

Ia menoleh ke arah Sarah dan Elina yang berdiri di antara para kurir. Sarah mengangguk, jarinya menekan tombol 'Enter' pada laptopnya.

Seketika, ponsel para petugas di sana berbunyi serentak. Notifikasi berita nasional meledak: 'Skandal Terbesar Wijaya Group: Pemalsuan Dokumen Agraria Selama Sepuluh Tahun Terbongkar!'

Para preman itu mulai gelisah. Pria berseragam itu pucat pasi.

"Kau..." pria itu menunjuk Arka. "Kau bilang kau hilang ingatan!"

Arka tersenyum, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Arka yang dulu—dingin namun penuh kemenangan. "Aku memang lupa banyak hal. Tapi aku tidak lupa cara menghadapi kecoa seperti kalian."

Buldoser-buldoser itu akhirnya mundur, ditarik oleh perintah darurat dari pusat yang ketakutan akan amukan massa. Anak-anak panti berlari memeluk Arka. Ibu Fatimah menangis haru, mencium kening anak asuhnya itu.

Arka berdiri di tengah sorak-sorai para kurirnya. Namun, ia merasa ada sesuatu yang hilang. Ia menatap Sarah yang berdiri di kejauhan, tersenyum dengan air mata yang membasahi pipi. Arka berjalan mendekatinya.

"Sarah," panggilnya.

Sarah tertegun. "Kau... kau ingat namaku?"

Arka meremas sapu tangan di sakunya. "Tidak. Memoriku tetap tidak kembali. Tapi jantungku... jantungku sepertinya mengenalmu lebih baik daripada otakku."

Arka menyerahkan bros yang hancur itu pada Sarah. "Simpan ini. Ini adalah masa laluku. Aku tidak membutuhkannya lagi. Aku akan membangun masa depan yang baru, tanpa bantuan sistem apa pun. Sebagai manusia merdeka."

Sarah menerima bros itu, menggenggamnya erat di dadanya. Ia tahu jalan ke depan masih panjang. Hendra Wijaya tidak akan tinggal diam. Tapi malam ini, ia melihat sesuatu yang lebih kuat dari AI mana pun: ia melihat harga diri seorang Arka Pramudya yang telah bangkit dari abu.

Di bawah langit Tanjungbalai yang mulai berbintang, Arka tidak lagi memikirkan data atau angka. Ia hanya merasakan kehangatan tangan Ibu Fatimah dan tatapan penuh harapan dari Sarah.

Sang Arsitek telah kembali. Bukan dengan kekuasaan uang, tapi dengan kekuatan jiwa.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Founna: siap💪
total 1 replies
Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!