NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GONE

Niat hati ingin menenangkan diri dan bertemu Minawari, satu-satunya tempat pulang yang selalu membuatnya tenang. Untuk meminta doa agar persalinannya nanti lancar, malah di suguhkan bendera kuning di depan rumah. Bahkan sebelum Luz mengatakan permintaan maaf dan juga ia mencintai mama.

Usai menerima telepon dari pihak keluarga bahwa ibunya meninggal mendadak karena asam lambung naik. Hati Luz hancur dan merasa begitu terpukul.

Jelas Luz merasa hancur, karena niat awalnya pulang untuk bersandar, tapi malah kehilangan satu-satunya pelindungnya. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri, merasa terlalu sibuk melindungi diri dari Karel dan masalahnya, sampai lupa memberi kabar dan perhatian pada ibunya.

Di perjalanan pun dia tidak bisa menahan tangisnya. Ia menitihkan air mata diam-diam karna sesak di dada. “Bahkan di detik terakhirnya pun kita sebagai anak gak ada yang nemenin. Jahat banget kita Kak.”

Devan juga sama kacaunya, semua duduk tegak kini mulai memijat kepalanya. “Sebelum pergi mama nitip pesan, buat lo selalu jaga kesehatan. Mama gak sabar pengen ketemu sama lo, pengen meluk katanya. Tapi ternyata sekarang---ah gataulah.”

Mereka sampai di rumah malam hari, halaman rumah sudah penuhi tamu. Dan malam itu, langkah Luz yang semula terburu-buru terhenti seketika melihat seseorang yang tidak ia harapkan ada disana, di samping ayahnya.

Dia tidak lain tidak bukan, ibu tirinya. Istri kedua ayahnya, madu mamanya. Hati Luz kian memanas, ia berjalan masuk dan mamanya sudah terbujur di tutup kain.

Tiada yang bisa Luz lakukan selain menangisi kepergian mama. Orang yang selalu mencintainya tanpa syarat.

“Mama maafin aku, maaf. Maaf belum jadi anak yang mama banggain, maaf selalu bikin mama kesel. Maaf, kalau bisa ngilang hari, aku bakalan pulang lebih awal biar kita bisa lebih lama ngobrol nya.”

“Suara mama bakalan terus aku rindukan. Selalu. Selamanya.” Luz menangis tersedu-sedu. “Aku gatau setelah mama gak ada aku gimana, aku tetep butuh mama gak peduli aku nanti sekalipun udah jadi mama.”

Devan memukul tembok kamarnya. Ia merutuki diri dan menyesali perbuatannya. Lalu menemui Erwin. “Maksud Ayah apa?”

“Apa, Van?”

“Maksud kamu apa?”

“Ayah ngapain bawa orang itu kesini? Kesempatan ngenalin ke anak-anak ayah kalau dia ibu pengganti? Mama sampai kapanpun gak bisa di gantikan!” tegas Devan dan berlalu.

Devan menyuruh Luz duduk dan memberikannya minum. “Udah jangan nangis terus.”

“Gue sedih Kak, gue nyesel. Gue gak bisa bantu apa-apa bahkan sampe mama mati,” ucapnya lirih lalu memeluk Devan dan meredam tangisnya. “Mending ke kamar dulu tenangin diri.”

Luz mengangguk, ia berdiri di kamar ibunya, terasa linglung, dan sendirian. Menatap setiap inci ruangan yang dingin. Ada foto Luz kecil sama mama dengan senyum ceria. Ada fotonya sendiri di pajang pake figura di atas nakas, itu pas Luz SMP.

Masih banyak barang-barang masa kecilnya yang tersimpan rapih. Saat membuka lemari paling bawah, Luz menemukan catatan harian dan surat dari ibunya yang belum pernah ia baca. Isinya berupa dukungan, rasa rindu, dan harapan agar Luz dan bayinya selalu kuat.

Termasuk harapan Minawari untuk Luz sepanjang hidupnya agar selalu bahagia dan di cintai sebagai satu-satunya ratu di hidup pasangannya.

“Sesayang itu ternyata mama sama aku, bahkan pas aku ngecewain mama karna bikin aib keluarga. Mama tetep sayang aku tanpa kurang.” Air mata Luz tumpah ruah lagi, ia memeluk catatan itu dan salah satu lembarnya terlepas dan jatuh.

Ternyata ibunya sempat menulis pesan terakhir untuk Devan menikahi Bibi. Agar punya teman hidup dan rumah tidak kosong. Kertas itu seperti sempat basah dan kini telah mengering, tulisannya bergetar di akhir dan memudar. Sepertinya tintanya luntur karna air mata.

Reaksi Luz benar-benar tidak menyangka. Memang Bebingah baik, mungkin setelah mama pergi, mama tahu, kalau Devan akan sendirian. Ayah akan bersama keluarganya yang lain. Luz kembali ke suaminya.

“Kenapa?”

Luz terduduk lemas di ujung kasur. “Baca ini.”

Tersentak kaget, Devan ikut duduk di samping Luz cukup lama hingga akhirnya ia berlari ke luar menemui Bebingah yang tengah menangis di dapur.

“Beb!” panggil Devan. Demi mama, akan ia lakukan. “Mau nikah sama gue sekarang? Di depan jenazah majikan lo.”

Air mata Bebingah naik lagi berserta ingusnya. “Hah apa Mas?!”

“Mau enggak?!” Devan menunjukkan sepucuk surat itu. “Gak juga gapapa.”

Tak di sangkanya Bebingah mengangguk karna merasa hutang budi. Telah di bantu banyak hal.

Luz datang dan menasihati. “Kalau keberatan jangan, gue gamau lo ngerasa terbebani nantinya. Dia masalahnya kayak siluman babi, gak bisa noleh.”

“Gapapa Non, saya ikhlas.”

Devan pun berbicara dengan ayahnya, karna memang yang tertulis begitu dan jelas. Malam itu juga di depan jenazah Minawari, Devan menikahi Bebingah dengan semua seadanya bahkan mahar cuman yang cash yang Devan pegang, yaitu sisa 75 ribu kasih aja semua. Namun, syukurnya semua wali berkata sah.

Devan gatau harus seneng atau sedih. Tapi yang jelas ia ingin berbakti untuk terakhir kalinya Minawari ada di dunia ini walau sudah tidak bernyawa lagi.

“Semoga mama tenang disana dan seneng aku akhirnya nurut,” batin Devan.

Luz menguatkan kakaknya, pasti berat menikah kalau bukan karena cinta. “Tapi gue yakin mama mau yang terbaik.”

“Gue bukan bocah yang cinta-cintaan mulu, gapapalah gue pasrah,” balas Devan.

Padahal masih ingin berlama-lama bersama mama di detik terakhirnya sebelum di makamkan. Namun, Erwin langsung meminta pemakaman di percepat sebelum tengah malam.

Dengan langkah gontai, Luz memaksa ingin datang dan di papah oleh Bibi. Dia benar-benar lelah terus menangis. Terbayang saat bersama, lewati masa indah dan duka. Semuanya masih terbayang.

“Mama bilang mama mau bantuin aku ngerawat anak ini, mama gak sabar mau ketemu. Tapi dia belum juga lahir, mama udah pergi duluan. Mama gak takut aku gak bisa jadi mama? Mama juga butuh mama tau Ma!” gumam Luz dan kembali menangis.

Devan mengusap hidungnya pas ingus mau keluar. “Suami lo udah di kasih tau?”

Luz menggeleng. Ia pun merogoh tas dan menelepon Karel untuk memberitahukannya.

“Mau kesini silahkan, gak juga gak masalah, Rel.”

Ambulans berhenti di parkiran pemakaman. Prosesnya terasa begitu cepat, Luz memeluk pusara Minawari. Mengalirkan deras air mata kepedihan di tinggalkan. Seluruh dunianya terasa runtuh. Kini yang ia anggap ibu cuman Elena sisanya bukan.

Setelah pemakaman selesai, Luz menemui ayahnya dengan berurai air mata karna terpukul. Mengingat tadi ia membaca catatan Minawari dengan suara bergetar.

Akhirnya ia menyadari sesuatu bahwa selama ini Minawari hanya dimanfaatkan, dan ayahnya memang tak pernah benar-benar peduli.

“Jahat banget Ayah!” Dengan penuh emosi, Luz menampar pipi Erwin secara bergantian. “Bahkan kalau tau sebenernya, aku gak Sudi memendam semua ini. Lebih baik mama jadi janda, aku broken home, tapi tetep happy dan bahagia. Dari pada mama harus tertekan belasan tahun, demi mempertahankan cinta pria bajingan kayak Ayah!”

“Aku kecewa sama Ayah!”

“Ayah gak pernah menuhin tangki cinta aku, aku perempuan dan cinta pertanyaan itu Ayah. Makanya mungkin ini alasan aku punya kelakuan kayak gini, jadi salah sepenuhnya salahkan aku, tapi tanya diri ayah, pernah peduli sama aku? Peluk, support? No! Ayah lebih milih penuhin tangki cinta anak ayah yang lain. Ya bagus, Ayah peduli, tapi jatuhnya pilih kasih. Aku gak sudi ngakuin dia saudara aku!”

Luz langsung melenggang pergi dari hadapan Erwin. Bahkan mengeluarkan semua pakaian dan barangnya. “Pergi dan jangan pernah datang lagi menemui keluarga saya. Hubungan darah kita selesai disini.”

Pintu rumah di banting dengan keras. Luz bersandar di pintu dengan tubuh yang kian lemas. Tangisnya tidak mau berhenti mereda. Perlahan kakinya melangkah ke kamar lamanya di atas, cuman di perjalanan tangga, ia tidak kuat dan mengesot naik lalu memeluk dirinya yang sepi sambil terus memanggil mamanya.

“Mama aku kangen, kangen banget. Maaf, belum bisa sehebat mama.”

Bebingah hanya bisa berdiri di depan kamarnya yang tertutup. Tidak berani masuk dan turun ke bawah lalu duduk, sejak kecil ia tidak pernah punya keluarga, tinggal di panti asuhan dan disini merasakan kehangatan keluarga. Apa itu cinta dan apa itu pengkhianat. Minawari begitu memperlakukannya dengan baik dan menyayanginya setulus hati.

Saat Bebingah butuh uang untuk membantu krisis ekonomi di panti, dia mau membantu. Sampai pengobatan ibu panti.

Giliran dirinya membalas kebaikan, menikah dengan Devan bukan masalah yang serius. Awalnya ia memutuskan untuk tidak usah menikah, dari pada merepotkan hidup saja.

Tapi sekarang ia harus berbakti dan merawat Devan, orang menyebalkan yang selalu mengganggunya.

“Lu mau tidur dimana? Bini gue, lu sekarang tuh. Masa malam pertama nyokap gue di alam kubur, jadi malam pertama pernikahan kita? Yakin kita mau seneng-seneng di atas penderitaan nyokap gue di tanya banyak hal sama malaikat?!” Devan menyeletuk asal, saat membuat kopi.

Bebingah menggeleng. “Apapun keputusan mas Devan, aku ikut.”

“Bahkan kalau misalkan nih ya, nganu?”

Dahi Bebingah mengerut. “Nganu apa Mas?”

Devan memperagakan pecahan kaca. “Cere gimana?” Tapi tak di jawab. “Yaudah iya enggak kok, cuman nanya. Jalanin aja dulu, sapa tau lu emang jodoh gua.”

Pintu rumah di ketuk beberapa kali. Membuat Devan kesal berpikir itu Erwin datang lagi minta harta gono-gini. “Kagak ada, abis buat lu mah hartanya.”

“Ini saya.”

“Oh ipar gua itu mah anying,” celetuk Devan mendorong Bebingah membukakan pintu.

Karel langsung masuk membawa kresek besar. Isinya keperluan dan makanan Luz. Devan seneng, seperhatian itu dia ternyata.

“Luz mana? Sorry ya baru kesini, turut berduka cita.”

Devan melirik ke atas. “Dia nangis mulu dari tadi, samperin gih.”

“Ada air panas gak? Mau sekalian bawain susunya,” kata Karel, ia membuatkan susu dan menyiapkan buah potong terus ke kamar.

Pintunya tidak di kunci, tapi dia hanya memeluk guling. “Hai? Sedih ya. Gapapa nangis aja, ini gue bawain susu sama buah, makan ya.” Kasihan banget adiknya menangis separah itu sampai wajahnya kayak di sengat tawon.

Malam ini dia inisiatif untuk menghibur. Karel melakukan beberapa lelucon dari internet tapi Luz hanya bermuka datar.

Apalagi ya? Biar dia tersenyum, oh Karel tahu, dia bakalan cosplay jadi badut seandainya. Tapi tetep aja, dia malah makin murung.

“Yaudah gue peluk mau gak?”

Dia hanya diam. Sampe Karel ambil bantai dan mau jalan ke sofa, niatnya mau tidur disana tapi tangannya di tahan. Alhasil ia ikut duduk di sampingnya, cuman nemenin dia diem, sampe tidur dalam pangkuan Karel.

“Kasian juga, dia ngalamin masa hidupnya naik turun banget, mungkin dengan gue ada kasih pshycial touch begini, dia bisa tenang.” Karel bicara sendiri, ia pun mengusap kepalanya, terus ngelap air matanya sampe wajahnya kering.

Di susul, tangannya terulur, gemeteran mau merakh perut Luz. Katanya ibu hamil suka perutnya di elus-elus kayak lampu ajaib, ntar keluar jin gak ya?

Karel canggung, ia menarik kembali tangannya dan bingung. Tapi penasaran dan di coba berhasil. Awalnya aneh, lama-lama makin lancar. Sampe ada respon, gerakan kecil yang membuatnya tersenyum. “Hai, you can call me, Daddy, baby boy.” Sesuai tulisan di gelang yang terpasang di pergelangan tangannya.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!