Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Anna Pintar Memeras
"Ibu aku dari kemarin pengen banget ganti anting katanya," curhat Anna pada Arya. "Udah bosen katanya sama model yang lama, tapi mau ditukar tambah dan diganti ke model yang lebih baru belum ada waktu." modus Anna yang memang pandai sekali dalam memeras uang dari kekasihnya itu.
Iyalah udah dikasih semua apa yang Anna miliki, masa wanita itu mau rugi gitu aja tanpa ada timbal baliknya. Meski yang diincar itu adalah status Nyonya Arya selanjutnya, tapi sebelum jadi nyonya, bolehlah sudah menikmati uang seperti Nyonya Arya yang sedang menjabat.
"Ya udah beli aja sekalian buat ibu kamu, Sayang," tutur Arya yang memang begitu mudah masuk dalam tipu dayanya Anna.
Mungkin bukan Arya yang bodoh dan tidak menyadari dirinya sedang diporoti,tapi bisa saja lelaki itu tidak masalah untuk memenuhi semua keinginan dari kekasih gelapnya itu yang sebentar lagi akan dia jadikan istri sahnya setelah resmi bercerai dengan Nisa.
"Beneran, Mas?" tanya Anna memastikan dengan raut wajah yang berbinar.
"Tentu saja benar dong, Sayang. Ayo pilih aja mau beliin apa lagi buat ibu kamu," tawar Arya yang malah makin menjadi ingin membelikan barang lainnya juga. "Toh sebentar lagi ibu kamu juga akan jadi ibu mertuaku kan. Jadi aku harus memperlakukannya dengan baik juga."
"Uh, baik sekali sih pacar aku ini," ucap Anna sembari melendot dan memeluk manja Arya sekilas.
Arya memang berubah 180 derajat dari sikapnya pada Nisa dan mertuanya saat ini. Jika kepada ibunya Anna, dia begitu sangat perhatian, maka lain halnya dengan sikap Arya kepada kedua orang tua Nisa yang terkesan abai dan sangat cuek.
Semua kemewahan yang dinikmati oleh kedua orang tua Nisa itu kebanyakan diberikan oleh besan mereka. Dan jika pun ada pemberian dari Arya, hal itu juga awalnya karena suruhan dari kedua orang tua lelaki itu.
***
Di rumah keluarga kecil Arya, Nisa masih dinikmati tubuhnya oleh Andre yang masih penuh energinya sore ini.
Setelah mencapai pada puncaknya, baik Nisa maupun Andre sama-sama terkulai lemas dan berbaring bersebelahan.
Andre memang tidak langsung pergi karena tugasnya masih ada lagi yaitu kepergok oleh anggota keluarga dari wanita yang baru saja dia tiduri itu.
Andre pun memeluk tubuh Nisa agar saat dirinya tertidur nanti dan kedapatan oleh keluarga wanita itu terlihat sangat meyakinkan kalau mereka memang melakukannya atas dasar suka sama suka.
Di balik pintu masuk ruang kamar Nisa dan Arya, Alin dan Nurul ternyata sejak beberapa waktu lalu mengintip aktivitas kedua orang yang mulai terlelap dalam tidurnya itu.
Tugas mereka berdua untuk menyingkirkan ponsel Nisa pun sudah mereka selesaikan sejak tadi karena tugas membuang ponsel itu diserahkan kepada penjaga yang tadi mengantarkan Andre masuk ke dalam rumah ini.
"Njir, Bu Nisa beneran digarap sama si Mas ganteng itu," ucap Alin yang sangat mengiri sekali. "Kirain cuma buat foto-foto doang. Atau gimana gitu," lanjutnya menuturkan.
Plak!
Nurul menggeplak tubuh Alin.
"Lah gunanya obat p*rangsang buat apaan kalau si Ibu Nisa kagak digarap geblek," umpat Nurul kesan pada kebodohan rekannya itu.
"Eh iya ya, lupa, hehe," cengir Alin. "Tapi aku masih nggak menyangka kalau Pak Arya bisa setega itu ya sama istrinya," ucap ART itu yang sedikit merasa heran dengan kekejaman Arya.
"Bodo amat dah sama sikap Pak Arya yang penting bonus gede turun," timpal Nurul tak peduli.
"Betul juga sih," senyum Alin yang tidak jauh beda dengan rekannya itu.