NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

“Gue sayang sama lo.”

Kalimat itu terucap lirih, hampir seperti bisikan yang takut didengar dunia. Suara itu milik seorang laki-laki yang selama ini dikenal dingin, sulit ditebak, dan nyaris tidak pernah menunjukkan sisi rapuhnya kepada siapa pun.

Namun malam itu berbeda.

Di dalam ruangan rumah sakit yang berbau antiseptik, dengan cahaya lampu putih yang terasa terlalu terang untuk hati yang sedang gelap, laki-laki itu duduk di samping ranjang seorang gadis.

Nayla.

Gadis dengan mata hazel yang kini tertutup, dengan bekas tangis yang masih jelas tergurat di wajahnya. Wajah yang biasanya tegar, dingin, bahkan terkadang menyebalkan kini terlihat begitu rapuh. Begitu lemah. Begitu manusiawi.

Jevan menghela napas pelan.

Tangannya yang besar dan hangat bergerak perlahan, menyibakkan rambut Nayla yang menutupi sebagian wajahnya. Hati siapa yang tidak sakit melihat kondisi seperti ini?

Seragam sekolah yang masih melekat di tubuh Nayla tampak kotor, lusuh, dan penuh bercak darah. Beberapa bagian bahkan tampak sobek. Lengan kirinya dibalut perban tebal, meskipun masih terlihat sisa darah yang mengering di sekitarnya.

Jevan tahu.

Dia tahu luka itu bukan luka biasa.

Dia tahu itu bukan sekadar “jatuh” seperti alasan yang mungkin akan Nayla katakan nanti.

Dan itu yang membuat dadanya sesak.

“Kenapa lo selalu jadi yang paling hancur…” gumamnya pelan.

Tangannya bergerak, mengusap lembut pipi Nayla. Sentuhan yang sangat jarang ia berikan. Bahkan mungkin ini pertama kalinya.

Jevan bukan tipe kakak yang perhatian.

Dia bukan Devan yang vokal, meskipun kasar.

Dia bukan juga sosok yang hangat.

Dia hanya diam.

Mengamati.

Dan memendam.

Namun bukan berarti dia tidak peduli.

Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya.

Dan mungkin sudah terlambat.

Perlahan, Jevan menunduk. Keningnya menyentuh kening Nayla sesaat sebelum ia mengecupnya dengan lembut.

Singkat.

Tapi penuh arti.

“Maaf…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bukan karena dia melakukan kesalahan secara langsung.

Tapi karena dia tahu selama ini dia membiarkan semuanya terjadi.

Dia tahu Nayla disakiti.

Dia tahu Nayla diperlakukan tidak adil.

Tapi dia memilih diam.

Dan diamnya sama saja dengan menyakiti.

Jevan menegakkan tubuhnya kembali.

Matanya menatap wajah Nayla lebih lama.

Seolah mencoba menghafal setiap detailnya.

Seolah takut ini adalah terakhir kalinya.

Dari luar, suara langkah kaki mulai terdengar mendekat. Jevan langsung berdiri. Wajahnya kembali datar, ekspresinya kembali dingin seperti biasa.

Tidak ada yang boleh tahu.

Tidak ada yang boleh melihat sisi ini.

Terutama Nayla.

Dia tidak boleh tahu bahwa kakaknya peduli.

Tanpa suara, Jevan melangkah keluar dari ruangan itu.

Meninggalkan Nayla sendirian.

Seperti biasanya.

Beberapa saat kemudian, jari Nayla bergerak.

Pelan.

Lemah.

Seiring dengan itu, napasnya mulai berubah. Tidak lagi sedalam sebelumnya. Kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi ribuan batu.

“Ngh…”

Erangan pelan keluar dari bibirnya.

Perlahan, matanya terbuka.

Cahaya putih langsung menyambut penglihatannya, membuatnya sedikit menyipitkan mata.

“Gue… di mana…?”

Suara itu serak.

Kering.

Dan penuh kebingungan.

Nayla mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa lemas. Untungnya, sebuah tangan dengan sigap membantu menopang punggungnya.

“Hati-hati, jangan dipaksakan.”

Nayla menoleh.

Matanya langsung membesar.

“Jevan?”

Namun harapannya runtuh dalam hitungan detik.

Bukan Jevan.

Melainkan seorang suster yang tersenyum ramah padanya.

“Oh maaf…” gumam Nayla pelan, senyumnya tipis dan dipaksakan.

“Ini saya, bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?” tanya suster itu lembut.

Nayla tidak langsung menjawab.

Matanya justru bergerak cepat, mencari sesuatu.

Seseorang.

Pandangan itu berhenti di kursi kosong di samping ranjangnya.

“Tadi…” Nayla menunjuk ke arah kursi itu. “Tadi ada yang di situ, kan?”

Suster itu mengernyit bingung.

“Tidak ada, dari tadi hanya saya di sini.”

Nayla menggeleng cepat.

“Enggak! Ada! Kakak saya… dia di sini. Dia bahkan—”

Kalimatnya terhenti.

Pikirannya kembali memutar ingatan beberapa menit lalu.

Sentuhan itu.

Kehangatan itu.

Dan ciuman di keningnya. Itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.

“Dia di sini, sus… saya yakin…”

Suaranya mulai bergetar.

Matanya berkaca-kaca lagi.

Suster itu terlihat ragu, tapi tetap mencoba menenangkan.

“Mungkin kamu bermimpi. Kamu pingsan hampir dua jam.”

“Enggak!” Nayla membentak.

Refleks.

Tanpa sadar.

Dan itu membuat suster itu mundur kaget.

“Itu bukan mimpi…”

Suara Nayla melemah.

Lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada orang lain.

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka.

Seorang dokter perempuan masuk, wajahnya tenang namun penuh perhatian.

“Ada apa di sini?”

Suster itu menjelaskan singkat.

Dokter itu kemudian mendekat ke Nayla, menatapnya lembut.

“Kamu harus istirahat dulu ya. Kondisimu belum stabil.”

“Saya mau keluar.”

“Tidak bisa sekarang.”

“Saya harus cari kakak saya!”

Nada suaranya meninggi lagi.

Putus asa.

Penuh harap.

Dokter itu mencoba menahan tangannya.

“Jangan dipaksakan.”

“Tapi dia di sini!” Nayla hampir menangis lagi. “Dia pasti di sini!”

Namun tidak ada jawaban yang dia inginkan.

Tidak ada pembenaran.

Tidak ada kepastian.

Hanya tatapan kasihan.

Dan itu menyakitkan.

Akhirnya, dengan sisa tenaga yang dia punya, Nayla bangkit.

Melepas pegangan dokter dan suster.

Lalu berjalan keluar.

Langkahnya goyah.

Tapi tekadnya kuat.

Dia harus menemukan Jevan.

Dia harus memastikan.

Dia tidak mau percaya kalau itu hanya mimpi.

Koridor rumah sakit terasa panjang.

Langkah Nayla semakin cepat, meskipun tubuhnya menolak.

“Jevan…”

Dia memanggil pelan.

Berharap.

Namun tidak ada jawaban sampai akhirnya dia tiba di luar. Udara malam langsung menyambutnya.

Dingin.

Sepi.

Dan kosong seperti hatinya. Matanya menyapu area parkiran mencari sosok yang dia kenal. Yang dia yakini ada di sana tapi tidak ada.

Tidak ada Jevan.

Tidak ada siapa pun.

Harapannya runtuh lagi. Perlahan, tubuhnya melemas. Langkahnya terhenti. Air matanya jatuh.

“Jadi… beneran mimpi ya…”

Suaranya lirih hampir tidak terdengar. Nayla berjalan keluar dari area rumah sakit. Langkahnya pelan.

Lemas.

Tanpa arah. Namun tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depannya.

Pintu terbuka dan seseorang keluar.

“Nayla?”

Gadis itu menoleh, matanya sedikit membesar.

“Pak Dino…?”

Guru matematika itu terlihat terkejut sekaligus khawatir.

“Kamu kenapa di sini? Kamu sakit?”

Tatapannya langsung tertuju pada lengan Nayla yang diperban.

Nayla terdiam.

Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Dia tidak mungkin mengatakan kebenaran.

Tidak mungkin.

Akhirnya dia hanya menunduk.

Diam.

Pak Dino menghela napas.

Seolah mengerti.

“Masuk dulu, nanti kita bicara.”

Tanpa banyak pilihan, Nayla menurut.

Dia masuk ke dalam taksi.

Duduk diam.

Tangannya menggenggam ujung bajunya.

Gelisah.

Takut.

Dan lelah.

“Coba cerita ke bapak, kamu kenapa?” tanya Pak Dino lembut.

Nayla tersenyum kecil.

Palsu.

“Saya jatuh, pak.”

Kebohongan yang sudah terlalu sering dia gunakan.

Pak Dino menatapnya lama seolah tahu itu bukan kebenaran, tapi dia tidak memaksa.

“Lain kali izin ya.”

“Iya pak.”

Hening.

Beberapa saat.

Lalu Pak Dino kembali bertanya.

“Orang tua kamu ke mana?”

Pertanyaan itu…

Menusuk.

Langsung.

Tanpa ampun.

Nayla terdiam matanya menatap lurus ke depan.

Kosong.

Lalu perlahan, bibirnya bergerak.

“Mungkin… mereka lagi sibuk, pak.” Jawaban sederhana tapi penuh luka. Karena sebenarnya bukan “mungkin”. Melainkan "Selalu.”

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!