NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Keseimbangan Yin-Yang dan Tantangan Pedang Iblis

Langkah kaki Yu Fan bergema pelan di koridor sunyi menuju Ruang Dewan Tertinggi. Ruangan ini adalah jantung dari Akademi Langit Biru, tempat di mana keputusan-keputusan besar yang menentukan nasib ribuan murid diambil. Di depan pintu kayu ek raksasa yang diukir dengan simbol awan dan naga, Yu Fan menarik napas dalam, lalu mendorongnya perlahan.

Di dalam, cahaya remang dari lilin-lilin abadi menerangi sosok Dekan yang duduk tenang dan Wakil Dekan yang berdiri di dekat jendela besar. Yu Fan segera merapatkan tangannya dan membungkuk dalam sebuah penghormatan tulus kepada dua orang yang telah memberinya kesempatan hidup kedua.

"Murid Yu Fan memberi hormat kepada Dekan dan Wakil Dekan," ucapnya dengan suara rendah namun mantap. "Terima kasih telah memanggil saya. Apa yang ingin Senior bahas dengan saya?"

Wakil Dekan berbalik, sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya yang mulai berkerut oleh usia. "Jarang sekali ada murid yang mampu bersinar dengan begitu menyilaukan dalam waktu singkat, Yu Fan. Terutama di antara persaingan sekte-sekte besar yang haus akan prestise. Sepertinya Leluhur Jin Taixu tidak salah dalam menilai bakatmu."

Yu Fan sedikit tersentak. Matanya membelalak kecil. "Wakil Dekan... mengenal Leluhur Jin?"

"Mengenalnya?" Wakil Dekan tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas tua. "Dia adalah guruku sebelum aku memutuskan untuk mengabdikan diri di akademi ini. Teknik-teknik yang kau gunakan, aku mengenali jejak-jejak gerakannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda darimu."

Dekan kemudian menyambung, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Yu Fan, laporan yang kami terima dari Lin Xueru dan Senior Han tentang kejadian di Lembah Sunyi sangatlah mengkhawatirkan sekaligus menakjubkan. Mereka mengatakan kau berubah... rambutmu memutih, matamu berubah merah dengan bagian putih yang menghitam, dan aura yang kau pancarkan begitu pekat hingga mampu menghentikan napas Master Tingkat 5."

Yu Fan terdiam. Ia sendiri tidak mengingat banyak tentang momen itu, hanya sebuah rasa marah yang meluap-luap.

"Di dunia kultivasi saat ini, tampilan seperti itu tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun," lanjut Dekan. "Kami tidak ingin menebak sembarangan kekuatan apa itu.

Namun, dari pengamatanku, energi Yin di dalam tubuhmu sangatlah masif. Seharusnya energi itu murni karena pengaruh teknik pedangmu, tapi ada sedikit kabut kegelapan yang kental di dalamnya. Sayangnya, energi Yang milikmu tidak seimbang untuk menahannya."

Tanpa peringatan, Dekan mengangkat tangan kanannya. Sebuah bola cahaya keemasan yang murni dan hangat muncul di ujung jarinya, lalu melesat cepat ke arah dada Yu Fan. Yu Fan tidak menghindar, ia merasakan kehangatan yang luar biasa meresap ke dalam meridiannya.

"Aku telah menstabilkan energi Yang di dalam tubuhmu agar energi Yin itu tidak menelan akal sehatmu," ucap Dekan. "Di dunia ini, keseimbangan adalah kunci utama jika kau ingin mencapai puncak. Yin dan Yang harus selaras. Jika energi Yin-mu terus tumbuh tanpa kendali Yang, kau hanya akan menjadi makhluk iblis yang haus darah tanpa sisa-sisa kemanusiaan."

Yu Fan menunduk, merenungkan kata-kata itu. Ia tidak tahu bahwa jauh di dalam sel-sel darahnya, esensi Dewa Asura yang telah dihapus dari sejarah dunia sedang tertidur, menunggu momen untuk bangun sepenuhnya.

"Berbicara tentang sejarah," Wakil Dekan menyambung sambil menatap langit-langit, "Dunia fana ini penuh dengan hal tabu. Banyak keluarga kuno yang dulu mendominasi daratan ini menghilang tanpa jejak. Hanya ada satu sekte yang bertahan selama 50.000 tahun karena mereka berada di bawah naungan langsung sang Dewi.

Enam sekte lainnya? Mereka baru lahir sepuluh tahun yang lalu. Mengapa sejarah sebelum itu begitu kosong? Itu masih menjadi pertanyaan besar bagi kami para penuntut ilmu."

Yu Fan bertanya-tanya dalam hati, 50.000 tahun? Apa yang terjadi saat itu? Namun ia tetap diam, tidak ingin memicu kecurigaan.

"Namun, ada urusan yang lebih mendesak," ucap Dekan, memecah kesunyian. "Enam bulan lagi, akan diadakan Pertukaran Budaya dan Duel Persahabatan antar akademi. Kali ini, penantang kita adalah Akademi Saint-Aurelius dari wilayah Barat. Mereka adalah para ksatria yang menggunakan sihir fisik dan teknik tempur yang berbeda dari kita. Rata-rata murid mereka adalah Master Tingkat 4, dan pemimpin mereka mengendarai Sleipnir, kuda bertanduk perak tingkat 4."

"Kami menunjukmu sebagai perwakilan utama akademi," lanjut Dekan. "Kau harus berlatih lebih keras. Aku ingin kau mencapai Master Tingkat 4 sebelum hari itu tiba. Meskipun dengan kekuatan anehmu kau bisa menghabisi Master Tingkat 5, kita tidak bisa mengandalkan kemarahan untuk menang."

Yu Fan merasa beban di pundaknya bertambah, namun ia membungkuk mantap. "Murid tidak akan mengecewakan akademi."

"Pertemuan ini rahasia," tegas Wakil Dekan. "Jangan katakan pada siapa pun, bahkan pada orang terdekatmu sekalipun. Kami ingin kau menjadi perwakilan akademi yang akan memberikan pelajaran berharga bagi mereka yang meremehkan akademi kita."

...****************...

Keesokan harinya, matahari baru saja naik ketika Yu Fan sedang melakukan latihan pernapasan di lapangan belakang akademi. Tiba-tiba, sebuah tekanan udara yang tajam datang dari arah samping.

TANG!

Yu Fan menangkis sebuah belati latihan dengan jarinya. Di sana, berdiri Mo Han, murid jenius dari Sekte Pedang Iblis. Jubah ungu gelapnya berkibar, dan wajahnya menunjukkan keangkuhan yang sudah menjadi ciri khas sektenya.

"Yu Fan! Sampai kapan kau akan terus berlatih sendirian?" teriak Mo Han sambil mencabut pedang besarnya yang memancarkan hawa ungu pekat. "Orang-orang bilang kau adalah pahlawan setelah misi kemarin. Aku ingin membuktikan sendiri apakah pedangmu lebih tajam dari Pedang Iblisku!"

Kehadiran Mo Han segera menarik perhatian murid-murid lain. Dalam sekejap, lapangan itu dikerumuni penonton. Jin Yuexin muncul di barisan depan, wajahnya sudah merah padam.

"Mo Han! Dasar kau pria arogan! Yu Fan baru saja sembuh, jangan cari gara-gara!" omel Yuexin sambil menghentakkan kakinya.

Di sisi lain, Lin Xueru hanya berdiri tenang di atas dahan pohon, mengamati dengan mata jernihnya. Sementara itu, Mei Er, gadis penggoda dari Sekte Pesona, menyandarkan tubuhnya di pilar sambil memainkan rambutnya.

"Ah, dua pria tampan saling beradu pedang... sungguh tontonan yang menggairahkan," bisik Mei Er dengan suara manja yang khas. "Siapa pun yang menang, hatiku pasti akan bergetar, kan?"

Yu Fan berdiri tegak, menatap Mo Han. "Jika itu yang kau mau, Mo Han. Aku juga ingin tahu sejauh mana teknik Pedang Iblismu bisa menembus pertahananku."

"Bagus! Aku tidak akan menahan diri!" Mo Han berteriak. Ia melepaskan aura ungu pekat yang luar biasa besar, membentuk bayangan iblis samar di belakang punggungnya. "Tekanannnya... ini adalah Jurus Sembilan Gerhana Ungu!"

Duel dimulai dengan ledakan energi. Mo Han menyerang dengan ganas, pedangnya menebas udara hingga menciptakan robekan-robekan energi ungu. Yu Fan bergerak dengan efisien, menggunakan teknik Langkah Awan untuk menghindari serangan fatal.

"Jurus Ketiga, Tebasan Langit Ungu!" Mo Han melompat dan menghantamkan pedangnya ke tanah. Ledakan energi ungu menjalar seperti akar pohon yang meledak.

Yu Fan membalas dengan ketenangan. "Pedang Ilahi, Embun Yin Bergetar!" Pedang Yu Fan memancarkan cahaya dingin yang membekukan energi ungu Mo Han di udara. Pertarungan itu sangat epik; benturan energi hitam dan ungu menciptakan badai kecil di tengah lapangan.

Mo Han memiliki stamina yang luar biasa, terus menyerang tanpa henti. Namun, Yu Fan lebih unggul dalam taktik. Saat Mo Han bersiap melakukan tebasan ultimatenya, Yu Fan sengaja membiarkan satu celah terbuka.

Saat Mo Han menerjang, Yu Fan berputar dengan kecepatan kilat, menghindari mata pedang hanya dengan jarak satu inci, dan mengarahkan ujung pedangnya tepat ke urat nadi leher Mo Han.

Namun, Mo Han belum menyerah. Ia melepaskan aura ledakan ungu dari tubuhnya untuk memukul mundur Yu Fan. "Mati kau! Ultimatum Iblis: Penghancur Sukma!"

Yu Fan melihat energi itu terkumpul di titik-titik tertentu pada tubuh Mo Han. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal, Yu Fan menusukkan jarinya ke titik-titik meridian Mo Han, Teknik Pemutus Aliran, membuat energi ungu itu tiba-tiba meredup dan menghilang. Mo Han terjatuh ke tanah, napasnya tersengal-sengal, pedangnya terlepas dari genggaman.

Keheningan melanda lapangan. Yu Fan menjulurkan tangannya ke arah Mo Han yang masih terduduk lemas.

"Kau lawan yang hebat, Mo Han. Teknik pedangmu benar-benar membuatku berkeringat," ucap Yu Fan dengan senyum tulus.

Mo Han menatap tangan itu, lalu tertawa kecil meski wajahnya pucat. Ia menjabat tangan Yu Fan dan berdiri. "Kau... kau adalah monster, Yu Fan. Aku mengakui kekalahanku hari ini. Tapi jangan pikir aku akan berhenti mengejarmu!"

Seketika, sorak-sorai penonton pecah. Namun, kebahagiaan itu terputus oleh suara teriakan nyaring, lalu tak lama Mo Han pun pergi dari tempat latihan.

"YU FAAAANNN!!!"

Yuexin berlari ke arahnya dan PLAK! sebuah tendangan kecil mendarat di pantat Yu Fan. "Apa-apaan kau ini?! Baru saja sembuh sudah bertarung lagi! Apa kau ingin membuatku jantungan dua kali?!"

Semua orang tertawa melihat Yu Fan yang biasanya dingin kini dijewer telinganya oleh sang putri. "Aduh, aduh! Yuexin, ampuni aku! Aku hanya latihan!"

"Tidak ada latihan! Masuk ke dalam! Kau harus makan sup yang sudah kubuat!" Yuexin menyeret Yu Fan yang hanya bisa pasrah sambil meminta ampun.

...****************...

Malam harinya, Yu Fan kembali ke perpustakaan. Ia menemukan sebuah buku kuno dengan sampul kulit yang sudah mengelupas tentang "Aura Merah". Ia membacanya dengan teliti, namun kekecewaan melandanya saat melihat lembaran penting di tengah buku itu telah dikoyak paksa. Tidak ada penjelasan tentang Asura, hanya peringatan tentang "Kemurkaan Langit".

Lin Xueru datang membawa tumpukan buku yang sangat tebal. "Masih mencari jawaban atas dirimu sendiri, Yu Fan?"

"Sepertinya sejarah tidak ingin aku menemukannya," jawab Yu Fan. "Lalu, untuk apa buku sebanyak itu, Xueru?"

"Ini untuk persiapan ujian sekte dan pengetahuanku nanti. Banyak hal yang harus kupelajari jika aku ingin menjadi lebih kuat," jawab Xueru sambil tersenyum tipis.

"Lebih kuat? Kalau boleh aku bertanya? Apa sebenarnya asal-usul Sekte Teratai Putih?" tanya Yu Fan penasaran.

Xueru terdiam sejenak, matanya menatap kejauhan. "Sekte kami... adalah penjaga yang berdiri di antara cahaya dan kegelapan. Hanya itu saja, Yu Fan."

Setelah percakapan panjang itu, mereka berpamitan saat lonceng tengah malam berbunyi. Yu Fan kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Namun, saat ia melihat cincin dimensinya, ia teringat sesuatu.

Ia mengeluarkan kotak kue pemberian Yan Er. Kue-kue itu masih tampak cantik dan aromanya manis. Yu Fan memakannya satu per satu, meresapi rasa manis yang menyentuh lidahnya. Enak sekali... pikirnya.

Ia mengarahkan tangannya ke langit-langit kamar, membayangkan masa depan yang penuh badai. "Aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku harus menjadi yang terkuat... agar tidak ada lagi yang terluka karenaku."

Yu Fan merebahkan tubuhnya, menatap kegelapan. Ia bahagia memiliki teman-teman seperti Yuexin, Xueru, dan bahkan lawan seperti Mo Han. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa pencarian identitasnya baru saja dimulai. Siapakah dia sebenarnya? Dan mengapa dunia seolah takut pada namanya?

Dengan pertanyaan itu, Yu Fan memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam membawanya ke dalam mimpi tentang peperangan kuno yang tidak ia ingat.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!