NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Memilih Sibuk Daripada Hancur

Sudah lima hari sejak Joyce menerima foto itu. Lima hari sejak perempuan bernama Maya muncul kembali dalam hidupnya. Dan lima hari sejak Ardian terakhir kali melihatnya. Bukan karena mereka bertengkar. Bukan karena Joyce marah. Justru karena Joyce memilih menghilang. Menghilang untuk melupakan semua. Bahkan tidak memberi kesempatan pada otaknya untuk berpikir selain pekerjaan.

Pukul enam pagi.

Joyce sudah berada di ballroom sebuah hotel di kawasan Sudirman. Pukul sebelas siang. Ia menjadi moderator seminar nasional. Setelah acara selesai dan sukses, dia bahkan tidak ikut merayakannya. Pukul dua siang. Joyce sudah berpindah ke tempat lain. Meeting klien selama dua jam. Pukul lima sore. Dia sudah berada dia acara technical meeting untuk acara wedding. Pukul delapan malam. Menjadi MC gala dinner. Pukul sebelas malam. Masih menyelesaikan revisi proposal.

Dan keesokan harinya semua berulang kembali. Tanpa jeda. Tanpa istirahat. Seolah tubuhnya tidak mengenal lelah. Padahal kenyataannya...

Joyce sedang melarikan diri.

Rike dan Tania yang paling menyadari perubahan itu. Suatu malam, ketika mereka sedang berada di backstage sebuah acara, Rike dan Tania akhirnya kehilangan kesabaran.

"Joyce."

"Hm?"

"Kamu udah tidur berapa jam minggu ini?"

Joyce masih sibuk membuka laptop.

"Tidak tahu."

"Persis dugaanku."

Rike mendekat, dan tanpa ba bi bu.. ia menutup laptop itu dengan paksa.

Bruk.

Joyce langsung mengangkat kepala. Melihat ke arah Rike dan Tania bergantian

"Rike.. Tania."

"Kamu lagi ngapain?"

Dengan suara tegas, Rike menjawab

"Bekerja."

"Bohong."

Rike dan Tania menatap sahabatnya tajam.

"Kamu lagi kabur."

„Kamu lagi mencari pengalihan.”

Kalimat itu tepat sasaran. Terlalu tepat. Namun Joyce hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Aku baik-baik saja."

"Kalau kamu baik-baik saja, aku adalah Miss Universe."

Tiba-tiba seperti tanpa kontrol, air mata mengalir deras. Rike langsung memeluk sahabatnya itu, dan menyandarkan kepala ke dadanya.

“Kamu butuh istirahat Joy..” ucap Tania lirih

“Tumpahkan semuanya pada kami.”

Tanpa suara, Joyce hanya menangis di pelukan kedua sahabatnya.

***************

Sementara itu.

Di lantai tertinggi Gedung Aethera. Ardian sedang membaca laporan yang bahkan tidak benar-benar dibacanya. Pikirannya tidak berada di sana. Tatapannya terus tertuju pada layar ponsel.

Percakapan terakhir dengan Joyce. Lima hari lalu. Dan sejak saat itu... tidak ada lagi. Ia mengirim pesan. Tidak dibalas. Menelpon. Tidak diangkat. Mengirim bunga. Tidak ada respons. Mengirim makanan. Diterima satpam apartemen. Tidak pernah sampai ke Joyce.

“Aku rindu kamu Joy..” ucapnya lirih. Terlihat kelelahan di wajah tampan itu.

“Keceriaanmu, sikap masa bodohmu.”

“Semua menghilang.”

Raka masuk ke ruang kerja. Membawa beberapa dokumen. Namun baru dua langkah berjalan, ia langsung tahu bosnya sedang tidak fokus.

"Masih tidak dibalas?"

Ardian menatapnya datar.

"Saya tidak mengatakan apa-apa."

"Tuan."

Raka tersenyum kecil.

"Sudah tujuh tahun saya bekerja dengan Anda."

Ardian menghela napas panjang. Kemudian menyandarkan tubuh ke kursi.

"Aku tidak tahu harus bagaimana."

Kalimat itu begitu langka keluar dari mulut Ardian Mahendra. Pria yang selalu punya solusi. Selalu punya jawaban. Selalu punya kendali.

Namun tidak kali ini.

"Mungkin dia butuh waktu."

Kata Raka pelan.

"Aku tahu."

"Dia baru tahu hidupnya tidak seperti yang dia pikirkan selama ini."

Ardian menatap keluar jendela. Jakarta terlihat kecil dari lantai empat puluh itu.

"Tapi aku tidak suka dia menghadapi semuanya sendirian."

“Dia butuh aku.”

“Aku harus berada di sampingnya.”

Raka terdiam, tidak berkata apa-apa. Meskipun dalam hati berbicara jika boss nya terlalu ge er, namun dia tidak ada keberanian untuk mengatakan.

********************

Malam harinya.

Ardian tidak memiliki kesabaran, dan akhirnya mengambil keputusan. Ia mendatangi salah satu acara yang dipandu Joyce. Tanpa memberi tahu siapa pun. Tanpa menghubunginya terlebih dahulu.

Ballroom hotel dipenuhi ratusan tamu. Di atas panggung, Joyce tampil sempurna seperti biasa. Gaun hitam elegan. Senyum profesional. Suara yang tenang dan berwibawa. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menebak bahwa perempuan itu sedang berantakan. Termasuk para tamu yang memberikan tepuk tangan meriah.

Namun dari sudut ballroom... Ardian bisa melihatnya. Melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Joyce terlihat lebih kurus. Lebih lelah. Dan senyumnya terasa dipaksakan.

Acara berakhir hampir pukul sepuluh malam.

Joyce turun dari panggung. Dan langsung menuju backstage. Sampai langkahnya berhenti. Karena seseorang berdiri di sana. Menunggunya.

Ardian.

Beberapa detik. Mereka hanya saling menatap beberapa saat. Joyce terlihat terkejut. Kemudian ekspresinya berubah. Menjadi datar. Menjadi tertutup.

"Kamu ngapain di sini?"

Pertanyaan itu terdengar dingin. Sangat berbeda dari biasanya.

"Aku mau bertemu kamu."

"Aku sibuk."

Jawaban cepat. Pendek. Seolah ia sudah menyiapkannya. Ardian menghela nafas, dan memperhatikan wajahnya. Lingkar hitam di bawah mata. Tubuh yang terlihat lelah. Tatapan yang berusaha menghindar.

"Kamu belum makan malam."

"Bukan urusanmu."

Kalimat itu membuat Ardian terdiam. Karena untuk pertama kalinya... Joyce sengaja mendorongnya menjauh.

"Aku khawatir."

Kata Ardian pelan.

Namun Joyce tertawa kecil. Tawa yang terdengar lelah.

"Jangan."

"Aku baik-baik saja."

"Kamu tidak baik-baik saja."

Untuk pertama kalinya suara Ardian terdengar lebih tegas. Dan itu membuat Joyce menegang.

"Aku lihat kamu terus bekerja."

"Aku lihat jadwalmu."

"Aku lihat kamu bahkan tidak pulang ke apartemen selama dua malam."

Joyce langsung mengangkat kepala.

"Raka memberitahumu?"

"Aku yang menyuruhnya mencari tahu."

“Untuk apa..?”

“Bukannya aku butuh uang banyak Ardian.., untuk hidup layak.”

“Seperti kebanyakan orang di luaran sana.”

"Sehingga aku hadir bisa menatap dunia, bisa mendapat pengakuan.."

"Karena apa... aku butuh uang Ardian.."

Ardian kaget, Joyce seperti menyindirnya. Dimana dia sebagai cucu Ratih yang diharapkan, selalu bergelimang kemewahan sejak lahir. Sedangkan Joyce, dia harus berjuang sendiri.

Hening. Lalu sesuatu pecah di dalam diri Joyce.

"Bisa nggak sih semua orang berhenti mengurus hidupku?!"

Suara itu menggema di ruang backstage. Beberapa kru yang lewat langsung menoleh. Namun tidak ada yang berani mendekat.

"Aku capek!"

Mata Joyce mulai memerah.

"Aku capek semua orang tiba-tiba muncul dan bilang mereka peduli!"

Ardian terdiam. Tidak membela diri. Tidak menyela. Hanya mendengarkan.

"Aku nggak tahu siapa keluargaku."

Suaranya mulai bergetar.

"Aku nggak tahu siapa yang bohong."

"Aku nggak tahu siapa yang harus aku percaya."

Dia mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. Air mata mulai menggenang. Namun kali ini Joyce menahannya. Keras kepala seperti biasa.

"Lalu sekarang aku harus menghadapi kenyataan kalau orang yang paling aku percaya..."

Kalimat itu terhenti.

Karena ia tidak sanggup mengucapkannya. Bahwa orang itu adalah Ardian. Dan nama belakangnya adalah Mahendra. Nama yang kini menjadi sumber seluruh kekacauan dalam hidupnya.

Untuk beberapa detik. Tidak ada suara. Sampai akhirnya Ardian berkata pelan.

"Aku akan tetap di sini."

Joyce memalingkan wajah.

"Aku nggak minta."

"Aku tahu."

„Pergilah.. aku tidak butuh kamu dan keluargamu.”

"Tapi aku tetap akan di sini."

Dan entah kenapa... kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Joyce semakin sulit dipertahankan.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!