Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. PANIK
Cahaya lilin bergoyang pelan di dalam ruangan yang dipenuhi aroma dupa dan abu jimat. Keheningan yang menyesakkan menggantung di udara.
Di depan altar, Cecilia berdiri mematung dengan mata terbuka namun kosong. Tak ada fokus atau pun kesadaran. Tubuh gadis itu berdiri tegak seperti boneka yang kehilangan jiwanya, karena memang saat itu jiwanya sedang berada jauh di Alam Arwah.
Rowan berdiri beberapa langkah darinya. Sejak tadi ia tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Dadanya terasa semakin sesak setiap menit berlalu. Entah kenapa perasaan buruk terus menghantam pikirannya.
Sementara itu, di luar lingkaran garam yang mengelilingi altar situasi semakin mengerikan. Ratusan roh gentayangan kini memenuhi seluruh ruangan. Mereka berdiri di balik pembatas.
Lalu suara pertama terdengar, sebuah jeritan panjang menusuk telinga.
"Aaaaaaaahhhh!"
Disusul jeritan kedua.
Lalu ketiga.
Kemudian puluhan.
Ratusan.
Tempat itu berubah menjadi lautan suara mengerikan.
Roh-roh mulai meraung, menjerit, menggaruk udara. Mereka menghantam pembatas tak kasat mata yang diciptakan oleh lingkaran garam.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Para kesatria yang terbiasa menghadapi medan perang pun merasakan bulu kuduk mereka berdiri. Beberapa bahkan tanpa sadar mundur selangkah.
"Apa ini ..."
"Sial ...."
"Aku lebih memilih menghadapi seratus bandit dari pada melihat hal seperti ini." Salah seorang kesatria bergumam dengan wajah pucat.
Tak ada yang menertawakannya, karena semua orang merasakan hal yang sama.
Bahkan Alaric yang terkenal pemberani terlihat memasang rahang tegang.
Sementara Rowan masih terus menatap Cecilia.
Alaric menghela napas pelan, lalu menepuk pundak keponakannya.
"Tenangkan dirimu. Kau terlalu tegang dan khawatir, Rowan," kata Alaric.
"Perasaanku tidak enak, Paman. Jika terjadi sesuatu padanya di alam sana, aku tidak bisa membantu sama sekali. Itu yang membuatku semakin khawatir," ujar Rowan.
Alaric tidak langsung menjawab, mereka semua hanya bisa menunggu Cecilia kembali ... atau tak kembali sama sekali..
Mata Rowan membelalak.
Tubuh Cecilia yang tadi diam mendadak berguncang.
"Cecilia!"
Tubuh gadis itu goyah lalu ambruk.
Semua terjadi begitu cepat, bahkan sebelum siapa pun menyadarinya Rowan sudah berlari, tubuhnya melesat seperti anak panah. Dan tepat sebelum Cecilia menghantam lantai Rowan berhasil menangkapnya.
"CECILIA!"
Barulah semua orang tersentak.
"Apa?!"
"Nona Cecilia!"
"Gadis Dewa!"
Kekacauan langsung pecah.
Tubuh Cecilia bergetar hebat di dalam pelukan Rowan, matanya masih terbuka namun kosong. Lonceng yang berada di tangannya terlepas.
Pada saat yang sama energi yang menyelimuti tubuh Cecilia meledak.
WHOOSHH!
Angin spiritual memenuhi area.
Cermin Arwah yang tadi digunakan ikut bergetar keras. Karena panik menangkap Cecilia, Rowan menjatuhkannya ke sisi tubuh gadis itu. Cermin itu kini bergetar seperti hendak pecah.
Rowan memandang Garrick. "Apa yang terjadi?!"
Garrick yang melihat keadaan Cecilia langsung pucat. Ia berlari mendekat. Dan begitu melihat kondisi gadis itu wajahnya kehilangan seluruh warna.
"Gawat! Nona dalam bahaya di alam sana!" ujar Garrick.
Rowan merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Apa?! Lakukan sesuatu!" seru Rowan.
Garrick langsung mengeluarkan beberapa lembar jimat dan membakar kertas itu.
Asap tipis naik ke udara.
Garrick segera merapalkan mantra. "Nona? Nona, kembalilah. Nona Cecilia, kembalilah!"
Tubuh Cecilia terus bergetar.
"Anda terlalu jauh! Kembalilah!" seru Garrick yang terus merapalkan mantra yang pernah ia pelajari sebagai pendukung ritual.
Namu tidak ada respon dari Cecilia .
Di luar pembatas Roh-roh semakin menggila. Jeritan mereka kini terdengar jauh lebih keras, dan menghantam pembatas tanpa henti.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Lingkaran garam mulai bergetar. Para kesatria mencengkeram senjata mereka. Namun tak satu pun tahu apa yang harus dilakukan.
Alaric mengumpat pelan. "Sial. Jika manusia, aku bisa menggunakan pedangku. Tapi jika roh, aku bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambut pun dari mereka."
Ketidakberdayaan terasa sangat menyiksa.
Namun saat itulah Kaisar bergerak. Tatapan penguasa itu jatuh pada tumpukan jimat milik Garrick, lalu ia mengambil satu.
Semua orang menoleh.
Kaisar membakar kertas jimat itu, kemudian melemparkannya keluar pembatas.
WUSSH!
Jimat itu terbang dan ketika mengenai salah satu roh ....
"AARRGGHHH!"
Makhluk itu menjerit, tubuhnya mundur ketakutan. Disusul roh-roh lain yang ikut menjauh.
Semua orang terkejut.
Kaisar langsung memahami situasinya.
"Kesatria! Bakar jimat-jimat itu! Lemparkan kepada mereka semua! Jangan biarkan mereka mendekati pembatas! Dan hati-hati! Jangan sampai menyentuh atau merusak garamnya!" perintah sang Kaisar.
"Baik, Yang Mulia!"
Para kesatria segera bergerak.
Mereka mengambil jimat, membakarnya, lalu melemparkannya satu per satu.
Jeritan para roh bergema dan mundur menjauh.
Namun keadaan Cecilia justru semakin buruk, tubuhnya terus bergetar hebat, napasnya tidak beraturan.
Rowan merengkuh erat Cecilia seolah takut gadis itu akan menghilang dari pelukannya.
"Cecilia?"
Tak ada jawaban.
"Cecilia, sadarlah." Suara Rowan terdengar pecah
Lalu tubuh Cecilia tersentak keras.
Semua orang membeku.
Dan sesaat kemudian ...
"Aghh!"
Darah segar menyembur dari mulut Cecilia.
Rowan, Garrick dan semua orang membelalak melihatnya.
Darah merah mengalir di dagu gadis itu.
"CECILIA!" Rowan hampir berteriak.
"Nona!" Garrick menjadi orang pertama yang panik. Ia berlutut di samping Cecilia, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Tidak. Tidak. Cecilia." Rowan kini mengguncang tubuh gadis itu.
"Sesuatu menghalangi pintu keluar Alam Arwah! Nona diserang di sana!" beritahu Garrick panik.
"Apa ..." Rowan memucat mendengarnya. Yang ia takutkan terjadi.
"Tidak. Tidak, Nona. Kembalilah!" Garrick menggenggam rambutnya sendiri. Air mata mulai menggenang karena tidak tahu harus apa.
Rowan merasakan dunia di sekelilingnya menghilang, yang tersisa hanya Cecilia.
Tubuh gadis itu yang dingin. Darah di bibir Cecilia. Dan rasa takut yang perlahan mencekik Rowan.
Tiba-tiba kenangan lama muncul.
Dua tahun lalu. Seorang pria, orang yang mempercayainya. Orang yang mati dalam pangkuan Rowan, dan Rowan yang tidak mampu menyelamatkannya. Mimpi buruk itu menghantuinya setiap malam selama dua tahun.
Dan sekarang pemandangan yang sama muncul kembali.
Cecilia berada dalam pelukan Rowan. Tubuhnya melemah dengan darah mewarnai mulutnya. Dan semua ini karena Rowan, karena ia yang meminta Cecilia membantu.
Rasa bersalah menghantam Rowan begitu keras hingga nyaris membuatnya sesak napas.
"Cecilia. Maafkan aku. Kumohon, kembalilah," pinta Rowan dengan suara bergetar.
Lalu tiba-tiba sesuatu berubah.
Roh-roh di luar pembatas berhenti menyerang. Jeritan mereka lenyap seketika. Satu per satu mereka mundur dan menjauh.
Semua orang kebingungan.
"Apa yang terjadi?"
Lalu terdengar suara lonceng.
CING!
CING!
CING!
Namun bukan lonceng milik Cecilia, suara itu datang dari luar area.
Dan kemudian suara seorang wanita tua terdengar.
"Menyingkir kalian semua. Kembalilah ke tempat kalian. Jika tidak ingin kukirim kalian ke Alam Arwah." Suaranya tenang, namun memiliki wibawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
Dalam sekejap roh-roh semakin menjauh ketakutan.
Semua orang menoleh ke sumber suara.
Seorang wanita tua berjubah kelabu berjalan perlahan. Sebuah lentera tergantung di tangannya.
Namun entah kenapa tak seorang pun berani meremehkannya, para kesatria langsung waspada. Namun sesaat kemudian mereka terdiam, karena seseorang berjalan di belakang wanita itu.
"Duke Ravens?" ucap salah satu kesatria.
Alaric membelalak melihat putranya Evan yang seharusnya berjaga di sekitar istana kini datang bersama wanita tua itu.
"Evan? Siapa dia?" tanya Alaric penasaran.
"Tamu dari Aurelion untuk Kaisar," jawab Evan.
Namun kejutan sebenarnya datang dari Kaisar, karena begitu melihat wanita tersebut Sang Kaisar langsung memberi hormat.
Semua orang terperangah, dan para kesatria membungkukan tubuhnya rendah karena melihat Kaisar mereka merendahkan kepalanya untuk ke perempuan itu.
Siapa wanita itu hingga seorang Kaisar merendahkan kepalanya untuk menyambut wanita itu, pikir semua orang di sana.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/