"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Ceraikan aku!
Bab 25— Ceraikan aku!
•••
Zayn langsung memasukkan tubuh Varisha secara paksa ke dalam mobil. Pria itu langsung duduk diatas pangkuan Varisha. Tatapan Zayn begitu tajam sekali.
"Ada apa ini, mas?" tanya Varisha bingung.
Zayn yang datang tiba-tiba, menarik tangannya paksa hingga kesini.
"Ngapain loe bicara dengan cowok brengsek itu, hah?!" teriak Zayn meluap-luap.
"Dengan Antony?"
"Iya. Loe ingin jadi penghianat ya. Dia itu muuh gue, kenapa loe malah bicara dengannya? Loe ingin selingkuh, ya? Loe ingin tidur sama dia?"
Plak!
Varisha langsung menampar pipi Zayn.
"Astagfirullah’alazim, mas. Jaga ucapanmu. Aku bukan cewek murah kayak diluar sana!" tegas Varisha.
Zayn menyeka sudut bibir, ia tersenyum miring.
"Oh ya?" ia malah kini menarik ujung jilbab Varisha.
"Akh!" Varisha kesakitan sembari menahan tangan Zayn dari jilbabnya.
"Lepasin mas. Ini sakit!"
"Enggak akan. Sebelum loe memuaskan gue terlebih dahulu." Zayn langsung membuka pakaiannya dengan kasar.
Varisha tentu saja menolak.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tak ingin jadi pelampiasan amarahmu!"
"Loe harus mau!" Zayn langsung menarik jilbab yang dikenakan Varisha, hingga memperlihatkan lehernya yang putih mulus.
Varisha tentu saja kaget.
'nggak! Aku gak mau! Nggak akan aku biarkan harga diriku diinjak olehnya. Meski, aku istrinya. Ia tak boleh melakukan hal kasar lagi padaku.' ucap Varisha dalam hati.
Varisha berusaha untuk memberontak. Zayn dengan kekuatannya yang besar langsung mencium bibir Varisha.
Wanita malang itu berusaha keras memberontak. Dengan airmata berlinang, Varisha dengan sekuat tenaga mencakar punggung Zayn dengan kuku tangannya.
"Hentikan mas! Aku tidak mau."
"Kenapa? Apa loe lebih suka tidur dengan pria lain dibandingkan dengan gue, hah?" tanya Zayn disela ciuman mereka. Nada bicara terdengar aneh, lebih lemah.
Tapi, Varisha tak akan diam lagi.
"Kenapa harus denganku? Bukankah dulu kamu bilang tak sudi menyentuhku. Dan kini apa? Kenapa tidak dengan Adinda saja kamu lampiaskan, hah?"
Zayn sedikit kaget dengan ucapan Varisha. Ucapan wanita itu benar semuanya. Tapi, Zayn tak peduli.
"Adinda lebih berharga daripada loe.. Lebih baik loe yang gue rusak hingga hancur daripada kekasih gue itu." balas Zayn yang semakin membuat hati Varisha jadi perih.
'Apa salahku ya Allah ?' batin Varisha.
Rasanya ia ingin menangis mendengar ucapan Zayn barusan. Ia seolah hanyalah sebuah manusia tak berharga.
Ia langsung mendekatkan wajahnya ke leher Zayn dan mulai mengigitnya kuat.
"Akh!!" teriak Zayn kesakitan.
Dari luar mobil, orang-orang bisa melihat dengan jelas mobil tersebut yang sedang bergoyang. Entah aktivitas apa yang dilakukan di dalam sana. Nampak mencurigakan, itulah pikiran beberapa orang yang ada di lokasi parkiran.
"Gila! Siang bolong begini?"
"Hahaha... Dasar mesum!"
Begitulah ucapan orang sekitar.
Zayn langsung memengang area lehernya yang terasa pedih sekali. Melihat Zayn yang lengah, Varisha langsung memanfaatkan keadaan tersebut.
Ia langsung mendorong tubuh Zayn untuk menyingkir darinya. Dan tentu saja, dengan celah Varisha berhasil keluar dari dalam mobil.
Dengan langkah pincang, ia berusaha berlari cepat.
"VARISHA KEMBALI!" teriak Zayn.
Varisha membenarkan jilbab yang sudah ia kenakan. Ia berjalan cepat dengan kesusahan, sesekali menoleh takut ke belakang. Takut jika Zayn akan mengejar dirinya.
"Varisha!" panggil Zayn dari belakang.
Pria bertubuh 180 cm tersebut sudah berpakaian lengkap. Sorot matanya begitu tajam sekali. Rasanya Varisha sedang berada di ambang kematian. Pasti Zayn marah besar sekali padanya.
"Aku harus pergi cepat." Varisha berjalan menuju jalanan. Hingga ia melihat taksi lewat dan langsung menghentikannya.
"Awas kau Varisha." ujar Zayn sembari menyentuh bekas gigitan Varisha di lehernya.
•••
Didalam perjalanan, Varisha menangis segugukan.
'...lebih baik loe yang gue rusak sampai hancur daripada Adinda.'
Ucapan Zayn masih terngiang-ngiang di telinga Varisha.
'Ya Allah, aku tak sanggup lagi.' batin Varisha.
'Aku memang mencintainya. Tapi, kalau seperti ini sama saja seperti bunuh diri.'
Sang supir yang melihat Varisha menangis, hanya bisa diam saja.
"Kita mau kemana nona?" tanya sang supir.
"Antarkan saya ke Hotel Grand Hill ya pak."
"Baik."
'Aku akan mengatakannya pada ayah dan ibu. Aku menyerah, Aku menyerah dengan Mas Zayn.'
Varisha hanya melamun menatap jalanan kota yang cukup lenggang siang ini. Pelupuk matanya masih dipenuhi oleh airmatanya yang sewaktu-waktu bisa turun begitu saja.
"Kau payah Varisha. Kau terlalu cepat menyerah. Mungkin saja Zayn bisa berubah. Pria malang itu membutuhkanmu."
Suara lain muncul didalam otak Varisha.
Buru-buru Varisha langsung menggelengkan kepalanya.
Sepintas bayangan Zayn yang dulu dianggap remeh dan nakal oleh Tuan Faruq dan Nyonya Lestari kembali muncul dalam ingatannya.
"Kalau ada masalah, kau bisa cerita padaku dan Adam, Zayn." ujar Varisha kala itu.
"Kau jangan ikut campur. Urusi saja suamimu ini!" tunjuk Zayn pada Adam.
Dari dulu Zayn dan Adam memang tak akur. Karna, Tuan Faruq dan Nyonya Lestari terlalu mengedepankan Adam, membuat Zayn jadi tersisihkan.
Varisha kembali menepuk pipinya, saat ingatan itu muncul lagi.
"Kenapa harus muncul lagi sih? Dia yang malang atau nasibku yang sial?" tanya Varisha lagi pada dirinya.
"Kita sudah tiba nona." ujar sang supir.
Setelah memberikan selembaran uang, Varisha langsung turun. Ia langsung menuju lantai kamar dirinya dan Zayn. Atau lebih tepatnya kamar Zayn dan Adinda.
Varisha akan menarik gagang pintu kamar sembari tersenyum sinis. Tersenyum sinis pada dirinya, melihat Zayn yang bermesraan di hadapannya.
"Adinda!"
Mendengar nama Adinda, Varisha langsung menoleh. Dari kejauhan ia melihat Adinda dengan seorang pria. Dan itu bukan Zayn.
Adinda sedang berjalan dengan pinggangnya yang dirangkul oleh pria lain.
"Firasatku gak baik tentang dia. Kenapa dia dan—"
Ucapan Varisha tertahan tatkala melihat Adinda yang sedang berciuman mesra dengan pria asing tersebut.
"Astaga!" kaget Varisha sembari menutup mulut.
Hingga akhirnya, Adinda dan pria asing tersebut masuk kedalam sebuah kamar. Sebuah kamar yang jaraknya tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Dia selingkuh?" gumam Varisha.
Ia masih tak percaya. Bukankah Adinda sangat mencintai Zayn?
"Baguslah kau ada disini?"
Varisha kaget mendengar suara itu. Suara yang dihindari tadi, kini sudah berada tepat di belakangnya.
"Mas~"
Zayn langsung mendorong tubuh Varisha hingga masuk kedalam kamar. Pintu kamar langsung terkunci otomatis dari dalam.
Zayn langsung menarik tongkat Varisha dengan paksa, hingga wanita itu jatuh ke lantai.
"Loe harus membayar gigitan ini untuk gue.” ucap Zayn sembari menunjuk lehernya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Nggak akan!" teriak Varisha berusaha menjauhi Zayn yang berjalan perlahan.
"Loe gak bisa pergi kemanapun pincang!"
"Kamu udah gila, mas., lebih baik kamu urus saja pacarmu yang tukang selingkuh itu."
Mimik Zayn langsung berubah.
"Apa maksudmu?"
"Aku melihat Adinda berciuman dengan pria asing dan masuk kedalam kamar hotel."
Zayn menatap Varisha diam.
"Low udah berani bohong dan menuduh pacar gue hmm?"
"Aku berani bersumpah."
Zayn langsung mengendong tubuh Varisha hingga jatuh keatas ranjang.
"Loe pikir gue bakalan percaya?”
Zayn langsung membuka pakaiannya dengan kasar.
Varisha berusaha memberontak.
"CERAIKAN AKU!" teriak Varisha tak tahan lagi.
Zayn terdiam, rahangnya mengeras.
"Apa loe bilang?" Nada suara Zayn tak senang.
"CERAIKAN AKU TUAN ZAYN AL KAUTSAR yang terhormat.
Zayn malah menyeringai.
"Tidak semudah itu, pincang." Zayn langsung membungkam bibir Varisha.
To be continue...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya