Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di kantor pusat Wiratama Group terasa menyilaukan, namun Arkan tidak berpaling.
Ia berdiri tegak di depan cermin toilet pribadinya, menyemprotkan parfum mahal untuk menyamarkan sisa-sisa aroma alkohol yang mungkin masih menempel di pori-porinya. Matanya merah, bukan karena mabuk, tapi karena ia tidak memejamkan mata sedetik pun setelah insiden memilukan semalam.
Semalam, ia berlutut di kaki Kinanti seperti anjing yang meminta ampun. Namun pagi ini, saat ia mengenakan jas navy yang disetrika sempurna, Arkan menatap bayangannya dengan tatapan yang berbeda. Ada bara yang menyala di sana.
Ia tidak ingin terus menjadi robot. Ia ingin merebut kembali kendali hidupnya, dan cara satu-satunya adalah dengan merebut kembali takhta yang selama ini diam-diam telah digenggam penuh oleh Kinanti.
"Aku akan mengembalikanmu menjadi Kinanti yang dulu, Kin. Kinanti yang lembut, yang memujaku sebagai pusat dunianya. Tapi untuk itu, aku harus mematahkan tangan yang memegang benang kendaliku," batin Arkan.
Ruang rapat utama sudah penuh dengan para jajaran direksi dan komisaris ketika Arkan melangkah masuk. Kehadirannya memancarkan aura otoritas yang dingin.
Tidak ada yang menyangka bahwa pria yang berdiri gagah di depan mereka adalah pria yang beberapa jam lalu menangis tersedu-sedu di lantai marmer.
"Selamat pagi. Mari kita mulai," suara Arkan berat dan fokus.
Sepanjang rapat, Arkan menunjukkan performa luar biasa. Ia memaparkan strategi ekspansi ke luar negeri dengan detail yang tajam, menjawab setiap pertanyaan kritis dari para kolega dengan argumen yang tak terbantahkan.
Ia sengaja tampil sempurna. Ia ingin Kinanti, yang pasti akan mendengar laporan rapat ini merasa bahwa tahanannya sudah patuh dan bekerja dengan baik.
Tepat saat jam makan siang berdenting, Arkan menutup tabletnya. "Rapat selesai. Terima kasih atas waktunya."
Tanpa bicara pada siapa pun, Arkan berjalan menuju lift khusus. Alih-alih turun ke lobi atau kembali ke ruangannya, ia menekan tombol menuju lantai paling atas yaitu - rooftop gedung.
Di sana, angin kencang menerpa rambutnya. Di sudut balkon yang tersembunyi dari jangkauan kamera CCTV, seorang pria berusia empat puluhan sudah menunggu.
Dia adalah Yudha, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Arkan sejak ia memulai kariernya dari nol. Yudha adalah satu-satunya orang yang tidak berada di bawah payung Kinanti.
"Pak Arkan," Yudha mengangguk hormat.
Arkan berdiri membelakangi Yudha, menatap cakrawala Jakarta yang padat. "Kinanti sedang di mana sekarang?"
"Bu Kinanti sedang dalam perjalanan menuju restoran Le Petit di Jakarta Selatan, Pak. Beliau ada pertemuan makan siang dengan beberapa mitra strategis untuk proyek baru."
Arkan menarik napas panjang. Inilah saatnya.
"Yudha, aku sudah selesai menjadi boneka," Arkan berbalik, matanya berkilat tajam. "Selama ini, semua aset perusahaan, saham, bahkan properti yang aku kelola, semuanya dipindahkan atas nama Kinanti. Aku ingin semuanya kembali padaku. Semuanya, Yudha."
Yudha tampak terkejut, namun ekspresinya segera kembali tenang. "Itu bukan tugas yang mudah, Pak. Bu Kinanti memiliki otak dan pemikiran yang sangat kuat. Hampir semua akta kepemilikan sudah terkunci."
"Aku tidak peduli sesulit apa pun itu," potong Arkan, langkahnya mendekat ke arah Yudha. "Gunakan celah apa pun. Cari dokumen-dokumen lama sebelum amandemen kontrak pernikahan kita dilakukan secara sepihak. Aku ingin semua aset pribadi dan perusahaan kembali atas namaku, kecuali satu, rumah hadiah pernikahan kami. Biarkan rumah itu tetap miliknya sebagai tempat tinggalnya kelak jika semuanya berbalik."
Arkan mencengkeram bahu Yudha. "Lakukan ini dengan sangat senyap. Jangan sampai ada satu pun orang di departemen legal yang tahu. Jika Kinanti mencium aroma ini sebelum semuanya selesai, kita berdua akan hancur."
Yudha mengangguk mantap. "Saya mengerti, Pak. Saya akan menggunakan jaringan orang dalam saya untuk memproses perubahan data secara digital terlebih dahulu sebelum kita masuk ke dokumen fisik. Kita perlu waktu, tapi saya akan memastikan semuanya kembali ke tangan Anda."
"Bagus," bisik Arkan. "Aku ingin dia kembali menjadi istriku, bukan majikanku. Dan satu-satunya cara untuk menjinakkan wanita seperti Kinanti adalah dengan merampas kekuatan yang membuatnya merasa bisa menginjakku."
Sementara itu, di sebuah restoran ternama yang tenang dan eksklusif, Kinanti duduk dengan anggun di kursi beludru.
Ia menyesap anggurnya, menatap rekan bisnis di depannya dengan senyum yang penuh kemenangan. Namun, pikirannya sesekali melayang pada Arjuna, dan pada Arkan yang pagi tadi pergi tanpa kata.
Ia merasa puas. Semalam ia telah memberikan pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan suaminya. Baginya, cinta dan kekuasaan adalah dua hal yang sama. Ia mencintai Arkan, tapi Arkan harus berada di bawah kendalinya agar tidak lagi melakukan kesalahan yang memalukan seperti perselingkuhannya dengan Alana.
"Jadi, bagaimana menurut Anda, Bu Kinanti? Apakah Pak Arkan akan setuju dengan klausul baru ini?" tanya mitra bisnisnya.
Kinanti tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung arti mutlak. "Suami saya akan setuju dengan apa pun yang saya katakan baik untuk masa depan keluarga kami. Dia sangat fokus hari ini, bahkan saya dengar rapat pagi tadi berjalan sangat lancar."
Kinanti tidak tahu, bahwa di atas gedung pencakar langit sana, pria yang ia anggap sudah takluk sedang merancang skakmat yang akan meruntuhkan seluruh dunia emas yang ia bangun.
Arkan turun kembali ke ruangannya dengan langkah yang lebih ringan. Di mejanya, ada foto Arjuna. Ia mengusap bingkai foto itu.
"Tunggu Papa, Arjuna. Papa akan memberikanmu masa depan yang tidak dibangun di atas ancaman," bisiknya.
Arkan menyadari risiko permainannya. Ini adalah perjudian nyawa. Jika ia berhasil, ia akan menjadi raja kembali. Jika ia gagal, ia akan benar-benar menjadi sampah seperti yang dikatakan Kinanti semalam.
Namun bagi Arkan, lebih baik hancur mencoba merdeka daripada hidup selamanya sebagai bayangan di istananya sendiri.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.