Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Rahasia
Adam meninggalkan pintu yang diblokade, ia berlari pelan mengejar adiknya yang kembali memasuki celah kecil antar bangunan.
"Oi tunggu gua lah" Seru Adam sembari menetapkan kakinya memasuki gang gelap itu, telinganya mendengarkan langkah kecil Ziva yang berada jauh di depan.
Dia mengikutinya dengan cepat.
Hingga akhirnya, langkahnya terhenti. Berbagai bau yang membusuk menyebar di udara layaknya virus, membuat Adam menutup hidungnya tanpa sadar setelah hirupan pertama.
Adam menyaksikan Ziva yang tengah berdiri tenang menatap tumpukan tong sampah, dia menarik oversize yang dipinjamnya dari Rifana untuk melindungi hidungnya dari bebauan.
Meskipun bau itu tak sepenuhnya hilang, menutup hidungnya telah membuat intensitasnya sedikit berkurang.
Adam mendekat "Ngapain kita disini?"
"Lihat lebih dekat"
"Dekat mana? Tumpukan sampah itu? Memangnya ada ap-"
Adam berbicara selagi melihat tempat itu lebih dekat, dia hampir berpikir adiknya mengada-ngada, namun pikirannya berhenti sejenak.
Matanya menajam, dari balik tumpukan sampah terlihat kisi-kisi berlubang statis yang ditempatkan dengan kuat.
Ukurannya bahkan cukup besar, setidaknya pria dewasa bisa memasukinya dengan merangkak "Bagus, mundur sedikit, gua buka jalan dulu" Ucap Adam mendorong Ziva mundur perlahan.
Kemudian, dengan cekatan dia memindahkan tumpukan tong sampah besi yang tergeletak disana. Dia cukup kuat untuk melakukan semua pekerjaan itu seorang diri, namun tubuhnya kini dihuni oleh berbagai macam sisa mengerikan yang mencekik hidung.
"Sip, selesai" Tong terakhir telah dipindahkan membuka bidang tanah kecil di tempat itu, sekalipun telah dibersihkan sedikit, itu masih menyisakan bau tak sedap di seluruh tempat.
Beberapa sampah juga masih berserakan di tanah namun Adam tak repot-repot mengurusnya, dia meninggalkannya di tempat dan beralih ke kisi bergaris di hadapannya.
Terbuat dari besi campuran, benda itu menutup saluran ventilasi udara dengan ketat, dibaut rapi ke dinding gedung yang gelap dan dingin.
Jari-jemari Adam berputar diantara celah kisi, dengan kekuatannya dia menarik benda itu dengan perlahan.
Proses ini perlu dilakukan secara perlahan, dia tak bisa membuat keributan lagi, ditambah aktivitas pemindahan sebelumnya telah membuat beberapa suara bising bergema ke seluruh gang gelap.
Keringat telah turun di berbagai bagian tubuh Adam, dia harus cepat.
Makhluk mutan mungkin belum aktif di waktu ini, setidaknya itu yang terpikirkan oleh Ziva. Gadis itu tak hanya dia terpaku di belakang, selama proses pemindahan, gadis ini mengawasi lingkungan dengan seksama.
Telinganya dipasang dalam mode waspada tinggi, mendengarkan dunia hening di sekitarnya dengan fokus.
Baut-baut yang ditanam dalam spiral ditarik keluar secara paksa, meninggalkan lubang kosong kecil di tembok dengan dentingan kecil saat benda kecil itu menggelinding di tanah.
"Cepet masuk," Adam bergeser ke samping, dia masih menggenggam kisi penutup di tangannya "Cari jalannya Ziv, gua tutup kisinya dari belakang" Ucapnya selagi membiarkan Ziva menyusup.
"Ok" Gadis itu membalas singkat, dia melewati kakaknya dan dengan cepat menyelinap masuk ke ventilasi udara itu.
Adam celingak-celinguk kesana kemari, memastikan tak ada apapun yang mengikuti mereka. Dia akhirnya merunduk dan masuk ke ventilasi sempit itu.
Tubuhnya yang berotot membuatnya sedikit sesak tak bisa berbalik, ini membuatnya tak bisa mengembalikan penutup itu.
Adam berpikir cepat, dia keluar dari ventilasi dan kembali masuk dengan posisi yang berbeda.
Dia merangkak mundur dengan penutup di tangannya, beruntungnya itu berhasil. Adam menutup jalur itu kembali dengan kuat, mengaitkannya kembali ke tempat yang seharusnya.
Meski tak sekuat sebelumnya, benda ini akan menghalangi makhluk apapun untuk menyelinap masuk.
Adam tidak yakin dengan itu, namun lebih baik melakukannya daripada menyesal di masa mendatang.
Dia kemudian merangkak mundur di sepanjang lajur sempit itu selama beberapa menit.
"Gimana Ziv, dah nemu arahnya?" Ucap Adam kecil, kepalanya menunduk kebawah dengan bahunya yang ditekuk mendekat ke dadanya 'Tempat ini terlalu kecil'
Gadis yang merangkak di depan dengan leluasa menoleh ke belakang "Sabar dikit napa," Ucapnya sedikit kesal "banyak jalur bercabang nih, daripada ngeluh tiap gerak mending lu tunggu disini dulu. Gua cek jalannya satu-satu"
"Yah terserah deh" Hela Adam, terlalu sulit baginya untuk bergerak, apalagi beberapa jalur di tempat ini semakin mengecilkan ukurannya. Ini memaksa Adam semakin menekuk tubuhnya demi bisa menyelinap masuk lebih jauh.
Ziva berpaling dan mulai mengecek satu-persatu, jalur di depannya terpecah menjadi tiga cabang. Dengan satu jalur yang nampaknya hampir tak dapat dilalui oleh Adam, dengan tubuhnya yang besar.
Mengabaikan jalur kecil di tengah, Ziva berkelok ke kanan menelusuri sepanjang kotak itu. Ada belokan lainnya namun hanya satu tempat, dia terus merangkak ke ujung.
Kaki dan lengannya sudah lelah dan nyeri, setiap kali dia merangkak, tubuhnya bergetar tanpa daya.
Sesampainya di ujung, Ziva tanpa sadar bersyukur di dalam hatinya.
Tepat setelah jalur berbelok, terdapat kisi penutup sama dengan yang ditemukannya di luar gedung.
Ziva bergegas kembali ke tempat Adam yang tengah menggerutu kesakitan "Lewat sini, lu ikutin jalurnya, di ujung ada belokan, nah di belokan itu ada jalan keluarnya, lu tendang aja penutupnya" Ziva kemudian berpindah ke jalur kiri membiarkan Adam di depan untuk membuka penutup itu.
Ia hendak mengikuti Adam, namun karena penasaran, dia merangkak melalui jalur lain itu untuk mengecek keduanya.
Dan itu tak sia-sia, baguslah dia melakukannya, karena ternyata ventilasi kiri menghubungkan ke cabang lain yang mengarah ke luar gedung dan gedung sebelah.
Tempat ini bisa dijadikan jalur rahasia bagi mereka untuk menyelinap datang dan pergi, meskipun tak berguna dalam waktu lama, strategi bersembunyi akan berguna di tahap awal kiamat.
Ziva tanpa daya teringat akan Rifana, benaknya mempertanyakan 'Kenapa dia belum juga datang?' Adam hanya memberitahu Ziva kalau Rifana mengalihkan perhatian makhluk mutan, demi menyelamatkan mereka.
Dia juga mengatakan untuk bertemu di tempat tujuan secepatnya, namun ini sudah sangat lama.
Waktu terasa sangat kacau sekarang, mungkin sejam telah berlalu di kenyataan, namun persepsi Ziva akan waktu sangat keliru, dia merasa telah melalui puluhan jam lebih lama dibandingkan kenyataannya .
'Sebaiknya gua keluar dari sini' Dia terlalu memaksakan diri, tubuh Ziva sudah bergetar tanpa tenaga setelah menjelajahi tempat itu.
Dia harus keluar dari ventilasi secepatnya.
Apalagi dengan napasnya yang semakin berat, dia perlu istirahat.
Membawa tubuhnya dengan seluruh sisa tenaganya, Ziva akhirnya sampai di persimpangan sebelumnya.
Dia merangkak lurus dan berbelok ke kisi yang telah ditendang jatuh, kepalanya pusing, dan tanpa sadar tangannya melangkah keluar dan jatuh ke udara.
'Eh' Ziva ditarik oleh gravitasi bumi, terjun bebas dengan wajah menghadap ke lantai.
Untungnya, Adam datang dengan sigap menangkapnya.
Bruk!
Ziva jatuh di tangan Adam, dia sepertinya terkejut dan tertidur dalam sekejap.
"Ni bocah malah tidur!"
Adam menurunkan gadis itu ke lantai, mereka akan beristirahat sejenak, tak ada salahnya untuk itu.
Dia bersandar ke dinding saat matanya kembali menyorot ruangan di sekitarnya.
Berbagai macam barang ditumpuk di lemari kayu, kotak-kotak kardus disusun dalam pelukan debu yang berbau apek.
Beberapa set komputer dan monitor tergeletak di dalamnya, menyadarkan Adam tentang lokasinya.
"Ini, gudang Danz Hangout!"