Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 35: Kabut di Ujung Pelarian
Mereka bilang tidak ada yang lebih kejam dari orang tua yang rela membunuh anak kandungnya sendiri—tapi malam itu, saat Hartono menembaki mobil kami dengan senapan laras panjang, aku belajar bahwa kejahatan sejati adalah ketika seorang ayah dengan tenang menghitung detik kematian putranya sambil tersenyum, seolah itu hanya sebuah pertandingan bisnis yang harus dimenangkan.
---
Mobil melaju kencang di jalan tol menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aisha duduk di kursi belakang di samping Baskara yang masih tertidur—anak itu dibangunkan dari lelapnya pukul tiga pagi, diberi tahu bahwa mereka akan pergi liburan ke luar negeri. Baskara terlalu mengantuk untuk bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, naik ke mobil, dan tertidur lagi dalam hitungan menit.
Arka duduk di kursi depan bersama Tono yang menyetir. Kakinya yang terluka masih terbalut perban tebal, membuatnya tidak nyaman. Tapi tidak ada waktu untuk istirahat. Setiap detik adalah perbedaan antara hidup dan mati.
"Apa Ren sudah mengirim informasi penerbangannya?" tanya Arka.
Aisha membuka ponselnya. Ada pesan masuk dari Ren. Sebuah kode booking untuk empat tiket pesawat menuju Singapura, lalu lanjut ke Australia. Ren juga mengirim alamat rumah aman di pinggiran Melbourne, milik seorang teman lamanya yang bisa dipercaya.
"Sudah. Kita terbang jam delapan pagi. Ada waktu satu jam."
Tono mengangguk. "Aku akan antar kalian sampai ke ruang tunggu. Setelah itu, aku kembali ke Jakarta. Aku harus memantau gerak-gerik Hartono."
"Kau hati-hati, Tono," kata Aisha. "Dia tidak segan membunuh."
"Aku sudah terbiasa dengan bahaya, Bu. Ini bukan pertama kalinya aku berhadapan dengan monster."
Mobil memasuki area bandara. Tono memarkir di parkiran khusus, membantu menurunkan tas-tas kecil yang mereka bawa. Hanya barang-barang penting: pakaian secukupnya, beberapa dokumen, dan amplop bukti peninggalan Sari yang Aisha simpan di dalam tas pinggangnya, selalu dekat dengan tubuhnya.
Mereka berjalan cepat menuju check-in, dengan Aisha menggandeng Baskara dan Arka berjalan tertatih dengan tongkat. Mia dan Sari menyusul dari mobil lain, kedatangan mereka diatur terpisah untuk menghindari kecurigaan.
"Bu, aku ngantuk," keluh Baskara sambil mengucek mata.
"Sebentar lagi naik pesawat, Nak. Nanti Ibu belikan bantal leher biar kamu bisa tidur nyenyak."
"Kita liburan ke mana, Bu?"
"Ke Australia, Nak. Kita akan tinggal di sana sebentar."
"Lama?"
"Tidak tahu, Nak. Tapi yang penting kita semua bersama."
Baskara tersenyum kecil. "Aku seneng kita liburan bareng Ayah, Ibu, sama Bibi Mia. Siapa lagi yang ikut?"
"Ada Bibi Sari juga."
"Bibi Sari? Siapa itu?"
Aisha menghela napas. "Cerita nanti, Nak. Sekarang fokus jalan dulu."
---
Di ruang tunggu, mereka berkumpul di sudut yang cukup jauh dari keramaian. Sari tampak gelisah, matanya terus memindai setiap orang yang lewat.
"Apa kita akan baik-baik saja?" bisiknya pada Mia.
"Kita sudah selamat, Sari. Ren sudah mengatur semuanya."
"Tapi bagaimana kalau Hartono tahu kita ke sini?"
"Dia tidak tahu. Tidak ada yang tahu kecuali kita dan Tono."
Aisha mendengarkan percakapan mereka sambil memperhatikan Baskara yang mulai memainkan tabletnya. Ia tahu Mia benar—tidak ada yang tahu rencana ini selain mereka. Tapi rasa takut itu tidak bisa hilang begitu saja. Rasa takut yang selalu mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
Penerbangan diumumkan. Mereka berjalan menuju gerbang keberangkatan. Ketika Aisha hendak menyerahkan paspor ke petugas imigrasi, ponselnya berdering. Tono.
"Aisha, jangan naik pesawat!"
Jantung Aisha berhenti berdetak. "Apa? Kenapa?"
"Hartono tahu rencana kalian. Dia sudah mengirim orang ke bandara. Mereka menyamar sebagai petugas keamanan. Kalian dalam bahaya!"
Aisha menoleh ke petugas imigrasi di depannya. Petugas itu tersenyum ramah, tapi matanya—matanya tidak ramah. Matanya dingin, seperti mata Hartono.
"Aisha, cepat!" teriak Tono dari ujung telepon.
Dengan refleks yang tidak ia sadari, Aisha menarik tangan Baskara. "Lari!"
Arka, Mia, dan Sari tidak bertanya. Mereka langsung berlari mengikuti Aisha yang berbalik arah menjauhi gerbang keberangkatan.
"Ada apa, Bu?" teriak Baskara ketakutan.
"Diam, Nak! Jangan bicara! Lari!"
Mereka berlarian di antara kerumunan penumpang. Orang-orang menatap heran, tapi tidak ada yang berani menghalangi. Di belakang mereka, beberapa pria berjas mulai mengejar.
"Aisha, ke pintu darurat!" teriak Arka sambil menunjuk ke arah lorong yang sepi.
Mereka berbelok ke kiri, melewati pintu yang bertuliskan "Khusus Petugas". Aisha mendobrak pintu itu, alarm berbunyi keras. Mereka masuk ke lorong belakang bandara yang gelap dan sempit.
Lorong itu bau bahan kimia dan oli. Lantainya licin, beberapa kali Aisha hampir jatuh. Tapi ia terus berlari, tangannya tidak pernah melepaskan genggaman Baskara.
"Bu, aku takut banget," isak Baskara sambil menangis.
"Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini. Ibu akan jaga kamu."
Mereka keluar dari lorong menuju area parkir karyawan. Aisha melihat sebuah mobil box terbuka, sedang dimuati oleh seorang sopir paruh baya.
"Pak, tolong bawa kami ke luar!" teriak Aisha.
Sopir itu terkejut, tapi melihat ekspresi panik mereka, ia mengangguk. "Cepat naik!"
Mereka berlima naik ke bak mobil box yang kosong. Sopir itu menutup pintu belakang, lalu mobil melaju.
Di dalam kegelapan, mereka terdiam. Suara napas yang terengah-engah terdengar jelas. Aisha meraih tangan Arka di sampingnya.
"Apa kita selamat?" bisik Sari.
"Belum," jawab Arka lirih. "Tapi setidaknya kita tidak di bandara lagi."
---
Mobil box berhenti di sebuah pom bensin di pinggiran Jakarta. Sopir itu membantu mereka turun, menolak diberi uang.
"Bapak baik sekali," kata Aisha.
"Saya tidak suka lihat orang baik dianiaya orang jahat," jawab sopir itu singkat. "Semoga kalian selamat."
Mereka berlima berdiri di tepi jalan, kelelahan, bingung, tidak tahu harus ke mana.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Mia.
"Aku tidak tahu," Arka mengusap wajahnya. "Rencana gagal. Hartono tahu semua gerakan kita."
"Bagaimana dia bisa tahu?" Aisha menatap Arka tajam. "Kita hanya memberitahu Tono dan Ren. Tono tidak mungkin mengkhianati kita."
"Kau pikir Ren?"
Aisha tidak menjawab. Ia tidak ingin percaya bahwa Ren kembali mengkhianati mereka. Tapi faktanya, hanya Ren yang tahu jadwal penerbangan mereka. Hanya Ren yang tahu tujuan mereka.
"Aku harus mencari tahu," kata Aisha. "Aku harus hubungi Ren."
Aisha mengambil ponselnya, menekan nomor yang tadi digunakan Ren untuk menghubunginya. Panggilan tidak dijawab. Ia coba sekali lagi. Tetap sama.
"Dia tidak mengangkat."
"Dia pengkhianat," kata Sari getir. "Aku tahu dari awal tidak bisa percaya pada Ren."
"Tapi dia yang menyelamatkan kita dari vila," Arka mengingatkan.
"Atau dia hanya berpura-pura. Mungkin semua ini bagian dari rencana Hartono."
Mereka berdebat sebentar, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Arka memutuskan.
"Kita harus cari tempat aman dulu. Bukan di rumah kita. Bukan di rumah siapa pun yang dikenal Hartono. Kita butuh tempat yang tidak pernah dia duga."
"Di mana?"
"Ibu Arka. Di Surabaya."
"Kita sudah lari dari Surabaya karena Mia dulu," kata Aisha. "Apa aman?"
"Ibu dijaga oleh satpam 24 jam. Aku juga sudah memasang sistem keamanan baru di sana setelah kejadian dulu. Rumah itu sudah seperti benteng."
"Tapi itu rumah ibumu. Hartono bisa saja menyusup."
"Ibu tidak akan membiarkan siapa pun masuk tanpa izin. Aku tahu ibuku."
Aisha ragu, tapi tidak punya pilihan lain. Mereka pergi ke Surabaya dengan kereta. Jalur kereta lebih aman daripada pesawat. Hartono tidak mungkin menyewa seluruh gerbong hanya untuk menangkap mereka.
---
Perjalanan kereta memakan waktu delapan jam. Baskara tidur di pangkuan Aisha, sesekali bergumam dalam tidurnya. Aisha membelai rambut anak itu, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tidak karuan.
"Aisha," panggil Arka pelan.
"Apa?"
"Aku minta maaf. Aku gagal melindungi kalian. Aku gagal menjadi suami yang baik. Aku gagal menjadi ayah yang baik."
"Berhenti, Arka. Bukan salahmu. Ini semua ulah Hartono. Kita akan lawan dia bersama."
"Tapi bagaimana? Kita lari terus? Sampai kapan?"
"Tidak selamanya. Hingga kita menemukan celah. Hingga kita mengumpulkan cukup bukti untuk menjatuhkannya."
Arka menghela napas. "Aku lelah, Aisha. Aku lelah berlari."
"Aku juga lelah. Tapi kita tidak berhenti di sini. Untuk Baskara. Untuk Mia. Untuk Sari. Mereka pantas mendapatkan keadilan."
Arka meraih tangan Aisha, mengecupnya. "Aku bersyukur punya kau, Aisha."
"Aku juga bersyukur punya kau, Arka."
---
Mereka tiba di Surabaya malam hari. Ibu Arka, Bu Ratna, sudah menunggu di pintu. Wanita tua itu menangis melihat kondisi Arka—terluka, lelah, pucat.
"Nak, kenapa kau tidak bilang?" Bu Ratna memeluk Arka erat.
"Maaf, Bu. Aku tidak mau membebani Ibu."
"Kau bukan beban, Arka. Kau anakku."
Ibu Arka juga menyambut Aisha dengan hangat, meskipun ia tahu latar belakang perempuan ini. "Aisha, kau baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja, Bu. Maaf merepotkan."
"Omong kosong. Kalian keluarga. Masuklah."
Mereka masuk, disambut oleh aroma masakan khas Surabaya yang lezat. Bu Ratna sudah menyiapkan makan malam sejak siang, tidak tahu siapa yang akan datang, hanya tahu bahwa anaknya dalam kesulitan.
Makan malam berlangsung dalam kehangatan yang asing bagi mereka. Baskara lahap menyantap ayam goreng kesukaannya, sesekali bercerita tentang liburan impiannya ke Australia yang batal. Anak itu belum tahu bahwa mereka tidak sedang liburan, tapi sedang melarikan diri dari maut.
Setelah makan, Bu Ratna membawa mereka ke kamar-kamar yang sudah disiapkan. Aisha dan Arka di kamar utama, Mia dan Sari di kamar tengah, Baskara di kamar depan.
Aisha berbaring di tempat tidur, matanya menatap langit-langit. Arka di sampingnya, juga tidak bisa tidur.
"Arka, aku ingin kembali ke Jakarta."
"Untuk apa?"
"Aku tidak bisa terus bersembunyi. Hartono harus dihentikan. Dan satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah bukti yang kita pegang."
"Tapi bukti itu tidak cukup untuk menjatuhkannya. Dia punya koneksi."
"Setidaknya kita bisa membuat publik tahu. Media. LSM. Siapa pun yang mau mendengarkan."
Arka berpikir sejenak. "Kau yakin?"
"Aku yakin. Aku tidak akan membiarkan Hartono menghancurkan hidup orang lain lagi."
"Baik. Kita besok kembali ke Jakarta."
Mereka berdua memejamkan mata, berusaha tidur meski pikiran mereka gelisah.
---
Pukul dua dini hari, ponsel Aisha berdering. Ren.
"Aisha, aku minta maaf."
"Ren, apa yang terjadi? Kenapa Hartono tahu rencana kita?"
"Aku tidak tahu. Mungkin teleponku disadap. Atau mungkin salah satu dari kalian yang cerita pada orang yang salah."
"Aku tidak cerita pada siapa pun."
"Aku juga tidak. Tapi bukan itu yang penting. Yang penting, Hartono tahu kalian di Surabaya."
Jantung Aisha berdegup kencang. "Apa? Dia tahu kita di Surabaya?"
"Dia mengirim orang. Mereka akan sampai dalam beberapa jam. Kau harus keluar dari sana sekarang!"
Aisha melompat dari tempat tidur, membangunkan Arka. "Cepat! Hartono tahu kita di sini! Kita harus pergi!"
"Apa?" Arka langsung berdiri, meraih tongkatnya.
Mereka membangunkan semua orang. Bu Ratna, Mia, Sari, Baskara. Dalam lima belas menit, mereka sudah berkemas dan bersiap meninggalkan rumah.
Baskara menangis ketakutan. "Bu, kenapa kita terus lari? Aku capek, Bu."
Aisha memeluk anaknya erat. "Maafkan Ibu, Nak. Tapi Ibu harus lindungi kamu. Ibu tidak akan biarkan orang jahat menangkap kita."
"Kita akan ke mana lagi, Bu?"
"Ke tempat yang aman, Nak. Ibu janji."
Mobil melaju meninggalkan rumah Bu Ratna saat fajar mulai menyingsing. Di spion tengah, Aisha melihat lampu-lampu mobil lain mulai berdatangan ke arah rumah itu.
Hartono sudah tiba.