NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman para bapak

Tak ada angin tak ada hujan, Djiwa datang ke bengkel Dai dengan menggunakan mobil mewahnya. Melakukan iring-iringan mobil yang bertugas mengawalnya, berasa dia adalah pejabat negara yang sedang membawa sebongkah emas atau seabrek berlian di pangkuannya. Sehingga wajib mendapatkan pengawalan seketat itu.

"Hanya bengkel yang dipenuhi dengan sampah ternyata. Hancurkan semuanya." perintah Djiwa langsung di acc oleh anak buahnya.

Belasan orang turun dari beberapa mobil yang mengiring Djiwa tadi dan langsung menyerang apa saja yang dilihatnya.

"Woy anjing! Apa-apaan nih, bangsat?!" Abu maju tak terima, tempat kerjanya diobrak-abrik manusia berjas safari serba hitam begitu saja.

"Binatang! Maju lo semua, gue matiin lo satu-satu." kali ini Suga juga ikut berubah jadi pahlawan bertopeng demi mengamankan bengkel tempatnya mencari nafkah.

Dan Dai, dia yang mendengar keributan di bengkelnya berjalan tertatih dari arah ruang belakang menuju Badai Garage. Terkejut sudah pasti, ketika sampai di sana dia mendapati bengkelnya bak kapal pecah bahkan beberapa tumpuk ban baru sudah di bakar di depan bengkelnya. Dengan menggunakan kruk, dia menghajar para kacung bayaran bapak Djiwa.

Satu tumbang, tumbuh dua, dua tumbang tumbuh lima, Suga yang tak biasa berkelahi tampak kepayahan. Tapi tidak dengan Dai, meski fisiknya masih belum pulih namun kemampuan bela dirinya tak bisa diragukan. Tangan kanannya tak bisa menyerang dengan baik, dia pakai tangan kiri, kaki kanan masih belum stabil dibuat berjalan.. Dia gunakan kruk sebagai alat untuk menghantam lawan. Berbeda dengan dua orang temanya, Abu lebih gesit.. Lelaki yang dari kecil suka petakilan di pohon ini bahkan menggunakan kompresor untuk menyerang musuhnya. Disemprot, muter, membelitkan selang kompresor pada leher, lalu mengakhiri dengan sodokan keras dengan sikut ke perut lawan. Dia merasa keren karena berhasil menumbangkan orang-orang yang ngerusuh di bengkel Dai.

"Bu, awas Bu!" Dai berteriak memperingatkan Abu ketika ada orang di belakang Abu memegang kunci inggris dan ingin memukul kepala Abu dengan benda berbahaya tersebut.

Abu tidak langsung menoleh, refleks nya sangat bagus dengan menunduk lalu memutar kakinya ke belakang hingga membuat orang yang akan menyerangnya roboh. Dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung, Badai berjalan ke arah sumber masalah.. Djiwa.

Djiwa sedikit gentar melihat Dai mendekatinya dengan sorot mata tajam berapi-api, padahal jika dilihat secara fisik, Dai sungguh sangat rapuh.. Kruk tak ada di tangannya membuatnya berjalan pincang dan tertatih, bekas pukulan di rahangnya membuat sobekan tipis yang mengalirkan darah. Apalagi, baru saja Dai mendapat pukulan di punggung dengan tongkat sapu oleh anak buah Djiwa agar Dai tidak mendekati bos nya.. Makin membuat Dai kalah dalam segi kekuatan.

Namun nyatanya, Dai yang sempat jatuh dan sedikit mengerang akibat pukulan tadi kini berhasil bangun bak polisi India yang bahkan sudah ditembak kena jantungnya masih bisa berjoget ria baru tergeletak tak berdaya.

"Mau apa kamu? Jangan mendekat atau--" Djiwa tergagap memandang ngeri pada Dai, nyalinya ciut seketika di depan pemuda pujaan hati anaknya itu.

"Atau apa? Anda yang memulai duluan. Membuat keributan di tempat kerja saya. Menghancurkan peralatan dan merusak suku cadang di sini. Maksud anda apa berbuat seperti itu? Mau sok jago? Mau menunjukkan kekuatan? Bukan begitu caranya, calon mertua durjana!"

"Calon mertua? Jangan terlalu tinggi dalam bermimpi!" Djiwa mendesis, wajahnya merah padam. "Aku tidak sudi mempunyai menantu orang rendahan seperti mu!"

Dai menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan kiri. Dia berusaha berdiri lebih tegak, meski tumpuan kaki kanannya gemetar, Dai tetap tenang menguasai rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sorot matanya bahkan tidak menunjukkan rasa sakit, melainkan penghinaan yang begitu dalam. "Lihat sekeliling anda, Tuan Djiwa yang terhormat. Anda datang membawa pasukan seolah sedang menyerbu markas teroris, padahal anda hanya menyerang sebuah bengkel kecil milik pemuda biasa. Apa perusahaan besar anda sudah bangkrut sampai-sampai pemiliknya harus turun ke jalan jadi preman?" ejek Dai.

Djiwa melangkah maju, tangannya gemetar ingin menampar Dai, namun gerakannya tertahan saat melihat Abu dan Suga sudah berdiri di belakang Dai dengan napas tersengal dan tangan yang menggenggam kunci pas serta potongan besi. Belasan anak buah Djiwa memang banyak, tapi semangat tempur mereka ciut melihat 'tiga singa bengkel' ini tak kunjung tumbang.

"Kamu tidak tahu siapa saya, anak muda," ancam Djiwa dengan suara rendah. "Satu telepon dariku, dan seluruh bangunan sampah ini akan rata dengan tanah besok pagi."

Dai tertawa kecil, suara tawa yang kering dan menyakitkan telinga. "Lakukan saja. Ratakan semuanya. Tapi anda harus tahu satu hal.. semakin anda mencoba menghancurkan saya, semakin dunia tahu betapa pengecutnya seorang Djiwa Maharaja. Coba saya tebak.. Anda tidak bisa menghentikan Kilau untuk terus tertarik pada saya karena pesona saya memang luar biasa, maka anda menggunakan cara kotor seperti ini untuk menjauhkan saya dari putri anda. Itu artinya, di mata anda sendiri, saya jauh lebih kuat daripada anda. Anda takut pada saya, begitu?"

"Saya tidak takut pada sampah sepertimu!" teriak Djiwa kalap.

"Kalau tidak takut, kenapa harus membawa pasukan? Kenapa harus membakar ban? Kenapa merusak semua yang ada di sini?" Dai melangkah satu inci lebih dekat, membuat Djiwa refleks mundur selangkah. "Anda tahu kenapa Kilau lebih memilih menghabiskan waktu di bengkel 'sampah' ini daripada di rumah mewah anda yang dingin itu? Karena di sini ada manusia yang menghargainya, Tuan Djiwa. Sementara di rumah anda, hanya ada monster yang haus kuasa. Anda menyerang fisik saya hari ini, tapi anda baru saja membunuh sisa-sisa rasa hormat Kilau pada ayahnya sendiri. Selamat, anda menang dalam merusak tempat usaha saya, tapi anda kalah telak sebagai seorang ayah."

Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati Djiwa. Dia ingin membalas, ingin membentak, tapi lidahnya mendadak kelu. Keberaniannya menguap saat menyadari bahwa pemuda yang jalannya tertatih di depannya ini memiliki mental baja yang tidak bisa dibeli dengan saham MahaTech sekalipun.

"Pergi dari sini," usir Dai dingin. "Sebelum saya berubah pikiran dan melaporkan pada polisi kalau CEO MahaTech telah melakukan tindakan perusakan properti dan penganiayaan. Dan sampaikan pada Kilau, saya baik-baik saja. Luka ini tidak sebanding dengan rasa malu yang harus anda tanggung selamanya... Satu lagi, saya mencintainya tanpa tapi. Meski bapaknya titisan memedi, saya yakin putrinya punya sifat seperti bidadari."

"Anjaaay.." Abu berseloroh secara spontan.

Djiwa membalikkan badan dengan tangan mengepal. "Masuk mobil! Kita pergi!" teriaknya pada anak buahnya yang tersisa. Iring-iringan mobil mewah itu pergi meninggalkan debu dan asap hitam dari ban yang masih membara.

Sore harinya, Ibu kota diselimuti mendung tipis. Dai duduk di bangku kayu depan bengkelnya yang berantakan. Abu dan Suga sedang mencoba merapikan sisa-sisa kerusakan, sesekali mengumpat pelan. Tiba-tiba, tiga unit SUV hitam mengkilap, jauh lebih mewah dan lebih 'berbahaya' daripada milik Djiwa, berhenti tepat di depan gerbang Badai Garage.

Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal turun. Salah satunya, pria dengan rambut cepak dan ear-piece di telinga, melangkah mendekati Dai dan membungkuk hormat.

"Tuan Muda Badai Ananta Dewa, " ucapnya tegas.

Dai mengerutkan kening. "Ini lagi. Siapa kalian? Kalau mau servis, bengkel tutup. Kalau mau ngerusuh, besok aja. Sekarang libur dulu."

"Tuan Besar sudah tiba di Indonesia. Beliau meminta Anda untuk segera menemuinya di kediaman pribadinya," lanjut pria itu tanpa memedulikan ketidaksenangan Dai.

"Tuan Besar siapa? gue nggak kenal."

"Tuan Hiro Daichi. Ayah Anda."

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Dai. Nama itu... nama yang selama puluhan tahun terkubur dalam benci dan tanda tanya. Tanpa banyak bicara, para pria itu 'mengawal' Dai yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk berpamitan pada kedua temannya.

Perjalanan penuh kebisuan hingga mereka sampai di sebuah mansion megah di kawasan elit yang dijaga ketat. Bangunan itu lebih mirip istana modern dengan arsitektur minimalis yang angkuh. Dai dibawa masuk ke sebuah ruangan luas dengan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta.

Di sana, membelakangi pintu, berdiri seorang pria paruh baya dengan pundak yang tegak. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, namun auranya sangat dominan. Saat dia berbalik, Dai melihat wajah yang sering dia lihat di cermin.. versi tiga puluh tahun lebih tua.

"Kamu terlihat berantakan, Dai," suara berat itu terdengar. Hiro Daichi menatap luka di wajah putranya dengan ekspresi datar. "Kita baru saja bertemu, apa kamu tidak mau memeluk ayah mu?"

"Ayah? Butuh waktu puluhan tahun bagi anda untuk mengingat kata itu? Dan sekarang anda muncul hanya untuk mengomentari penampilan saya? Apa anda waras, pak?" tatapan kebencian itu tak bisa hilang dari netra Dai.

"Aku selalu memantaumu dari jauh. Aku tahu tentang bengkel mu, tentang gadismu, dan tentang gangguan dari pria bernama Djiwa tadi pagi," ucap Hiro tenang sembari menuangkan minuman ke gelas kristal. "Aku kembali untuk membawamu pulang ke tempat seharusnya. Ananta Corporation butuh pewarisnya,"

Dai tertawa sinis, langkah pincangnya membawa dia mendekat ke arah Hiro. "Tempat seharusnya apa maksud anda? Tempat saya adalah di bengkel itu, bersama orang-orang yang tidak membuang saya saat saya masih kecil! Anda pengecut, Hiro! Sama pengecutnya dengan Djiwa, bedanya anda punya lebih banyak uang daripada dirinya."

"Bicara lah sesukamu, kenyataannya darah yang mengalir di tubuh mu adalah darah yang sama dengan ku."

"Darah ini?" Dai menunjuk dadanya sendiri. "Kalau saya bisa memilih, saya lebih memilih memiliki ayah miskin tapi menyayangi keluarganya dari pada seorang kaya raya seperti anda tapi tega membuang anak istrinya sendiri."

Amarah yang terpendam selama bertahun-tahun meledak. Dai menerjang maju, melupakan kakinya yang sakit. Dengan gerakan cepat yang dipicu emosi, dia mencengkeram kerah kemeja mahal Hiro Daichi. Tangannya yang kuat hasil bertahun-tahun memutar kunci Inggris kini melilit leher ayah kandungnya sendiri.

"Pulang sana ke neraka! Seharusnya anda tidak pernah kembali ke sini!" desis Dai di depan wajah Hiro. Matanya memerah, tangannya gemetar karena kemarahan yang meluap-luap.

"Tuan Muda!" para bodyguard serentak merangsek maju, menodongkan senjata ke arah Dai.

Namun, Hiro mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya jangan bergerak. Dia menatap lurus ke dalam mata Dai yang penuh kebencian. Tidak ada rasa takut di mata Hiro, melainkan semacam kebanggaan yang aneh.

"Cekik saja jika itu membuatmu merasa lebih baik," bisik Hiro dengan napas tersengal. "Tapi ingat satu hal... jika aku mati sekarang, kamu akan mewarisi seluruh kekaisaranku detik ini juga. Kamu tidak akan bisa lari dari takdirmu sebagai seorang Ananta."

Cengkeraman Dai mengendur perlahan. Dia mendorong Hiro hingga pria tua itu terhuyung ke kursinya. Dai mundur beberapa langkah, menatap tangannya yang baru saja menyentuh orang yang paling dia benci.

"Aku bukan bagian darimu," ujar Dai dengan suara parau. "Aku adalah Badai. Dan badai akan menghancurkan apa saja yang mencoba mengurungnya, termasuk kamu dan kerajaan bisnis mu."

Dai berbalik, berjalan keluar dengan kaki terseret namun kepala tetap tegak. Di ruang tamu yang luas itu, dia meninggalkan Hiro Daichi yang kini tersenyum tipis sembari merapikan kerahnya.

"Dia benar-benar putraku," gumam Hiro pada dirinya sendiri. "Keras kepala, berbahaya, dan tidak bisa dijinakkan. Djiwa tidak tahu bahaya apa yang akan menghancurkannya."

Sementara itu, di luar mansion, Dai berdiri menatap langit malam ibu kota yang mulai menumpahkan rintik hujan. Dia merogoh ponselnya yang retak, melihat satu pesan masuk dari Kilau "Lo di mana, Dai? Gue khawatir."

Dai menarik napas panjang. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan hanya melawan Djiwa yang ingin menghancurkan hidupnya, tapi juga melawan bayang-bayang ayahnya yang ingin mengendalikan masa depannya. Satu hal yang pasti, Badai tidak akan pernah sudi menjadi pion di papan catur siapapun.

1
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
makin seru aja nih..
jadi makin gak sabar buat sllu nunggu lanjutannya..
smoga gak tiba² dibuat siyok kek Baga aja😌
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
jika saja identitas Badai sudah terbongkar, dunia pasti menertawakanmu wahai suDjiwa yg kek punya gangguan jiwa😤
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
org yg Anda bilang gembel itu justru yg bisa bikin Anda gembel dalam sekejap
Bulan-⁶
ngenes men uripmu dai,,, kalo miskin diinjek2 djiwa kalo mau kaya masih benci sama bapakmu😅
Bulan-⁶
ingat kata2 anda bapak djiwa jangan sampai kedepannya menjilat ludah sendiri saat tau kalo montir itu yang punya saham maha tech
Dewi kunti
kapal 😤😤😤😤
Badai pasti berkilau
Bravo Dai 👏

Ciutt tuhh nyali Djiwa 🤣🤣
Badai pasti berkilau
Bisa dibayangkan, gimana macho seorang Badai 😍
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
akhirnya up juga 🤭
pengen delok dapure djuwa pas eruh sek dimusuhi sek bakal ngrayakne perusahaannya hahahh
kiro2 langsung stroke ora ya
Badai pasti berkilau
Adohh romantisnya duo sejoli 😍
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
harusnya sblm kamu mau gombal gembel, iket dulu dah tuh penampakan².. klo dilepas liarkan jadinya ya gitu, merusak suasana😌
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
berjam² kamu berkutat dg laptop buat nyari siapa itu BAD, Ki.. pdhl sosoknya udah jelas terpampang di depan mata🙏 apa nanti kamu gak siyok pas tau kebenaran 😅
Bulan-⁶
kenapa teman dan anak buah gak ada yang waras sih dai???
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
🤣🤣🤣🤣 dilarung juga langsung dilepeh kayaknya 🤭
emoh danyange segoro kidul 🤣🤣🤣🤣
Bulan-⁶
jadi kacung gratisan ya ki😅
Badai pasti berkilau
Makin menarik ceritanya Thor 💪💪

Penasaran dengan Kilau, seandainya suatu saat nanti dia tau kalau BAD itu adalah Badai, gimana perasaannya makin cinta kah atau marahh 😎
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
Napa sih Ki sibuk nyari itublhobdidepan elo manusianya🤣🤣
Badai pasti berkilau
Seandainya Kilau tau, BAD itu ayank bebb nya, gimana perasaannya ya 😍
Badai pasti berkilau
Waduhh sesek ini, kalo sampe ibunya Dai tau 🤔
Bulan-⁶
bagaimana perasaan sang ibu kalo badai masih berhubungan dengan ayahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!