Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video yang bocor
“Action!”
Bandit yang tadi mundur—
kini wajahnya berubah.
“…berani sekali.”
Tatapannya mengeras.
“Hanya perempuan di dalam tandu—”
“—berani mengancam kami?!”
Beberapa bandit lain ikut maju.
“Turunkan dia!”
“Lihat siapa sebenarnya dia!”
Debu terangkat saat mereka mulai berlari.
Di dalam tandu—
Mireya tidak bergerak.
Tidak panik.
Tidak mundur.
Hanya—
diam.
Dan itu justru terasa… menekan.
Kaizar mengernyit.
“Berhenti—!”
Belum selesai.
WUSSH—!
Angin turun dari atas.
Bayangan jatuh.
Satu.
Dua.
Lima—
Beberapa sosok muncul dari langit.
GEDUBAK!
BRAK!
Gerakan cepat.
Tepat.
Tanpa suara berlebihan.
Para bandit bahkan tidak sempat bereaksi.
Dalam hitungan detik—
“ARGH—!”
Tali sudah melilit tangan mereka.
Senjata jatuh ke tanah.
“APA—?!”
Salah satu bandit mencoba melawan—
Brukk!
Langsung dijatuhkan.
Hening.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Teman masa kecil Kaizar terdiam.
“…apa itu tadi…”
Kaizar menatap tajam.
Penjaga…?
Di sekitar tandu—
tidak ada siapa-siapa lagi.
Para “penjaga bayangan”—
sudah menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
Angin kembali tenang.
Debu perlahan turun.
Hanya tersisa—
bandit yang terikat.
Dan—
tandu itu.
Kaizar melangkah maju.
Tatapannya serius.
“…terima kasih.”
Nada suaranya rendah.
Jujur.
Namun—
tidak ada jawaban.
Hanya hening.
Alisnya sedikit berkerut.
…diabaikan?
Sedikit kesal—
ia menghela napas.
“…setidaknya jawab—”
“Kurang ajar!”
Suara tajam memotong.
Seorang gadis melangkah maju dari sisi tandu.
Dayang.
Tatapannya tajam ke arah Kaizar.
“Beraninya kau berbicara seperti itu—”
“—kepada Nona kami!”
Kaizar langsung membalas tatapan itu.
“Bukankah wajar—”
“aku berterima kasih?”
Nada suaranya mulai naik.
Masih muda.
Masih panas.
Dayang itu hendak membalas—
Namun—
“…cukup.”
Suara lembut dari dalam tandu.
Semua langsung diam.
Bahkan angin pun terasa berhenti.
Dayang itu langsung menunduk.
“…baik, Nona.”
Hening.
Lalu—
suara itu kembali.
Pelan.
Tenang.
“Kami tidak punya waktu… untuk menerima rasa terima kasihmu.”
Kata-katanya halus.
Namun—
terdengar jauh.
“…”
Kaizar menatap tandu itu.
Tidak puas.
Namun—
tidak bisa membalas.
“Kami hanya lewat.”
“…dan membantu karena ada yang bandit itu mengganggu jalan kami.”
“Tidak lebih.”
Selesai.
Tanpa emosi.
Tanpa penjelasan untuk moral.
Hanya fakta.
Kain renda kembali jatuh menutup.
Tandu mulai bergerak.
Perlahan.
Melewati Kaizar.
Tanpa berhenti.
Tanpa menoleh.
Kaizar berdiri diam.
Tangannya sedikit mengepal.
…apa-apaan itu…
Teman masa kecilnya mendekat.
“…kau baik-baik saja?”
Kaizar tidak menjawab.
Matanya masih mengikuti tandu itu.
Perempuan aneh…
Namun—
di dalam hatinya—
sesuatu tertinggal.
“Cut!”
Suara sutradara langsung memecah suasana.
Beberapa detik—
semua masih diam.
Lalu—
“Bagus!”
“Ini dapet banget!”
“Timing-nya pas!”
Kru langsung bergerak lagi.
Di dalam tandu—
Mireya masih diam.
Matanya perlahan kembali normal.
Namun—
napasnya sedikit lebih dalam.
Di luar—
menatapnya.
Lebih lama dari sebelumnya.
Dia… bukan sekadar akting.
Sementara itu—
Luna menatap dari kejauhan.
Wajahnya menegang.
“…berisik banget sih semua orang.”
Namun—
tangannya sedikit mengepal.
Karena untuk pertama kalinya—
dia sadar.
Mireya…
bukan lawan yang bisa diremehkan.
...****************...
1 MINGGU BERLALU
Hari-hari berikutnya berjalan cepat.
Set berganti.
Kostum berganti.
Adegan berganti.
Kadang di dalam istana.
Kadang di jalan.
Kadang di ruang tertutup.
Dan di setiap scene—
Mireya…
selalu stabil.
Tidak terlalu mencolok.
Tapi—
tidak pernah gagal.
Di sisi lain— beberapa mata.
mulai memperhatikan lebih sering.
Kenapa dia selalu… pas?
Sementara itu—
bisik-bisik mulai muncul.
“Selir ke-11 itu…”
“Awalnya kupikir bakal hancur…”
“Eh malah enak dilihat…”
Namun—
tidak semua suka.
Di sudut lain—
Luna menatap dingin.
Tangannya mengepal.
Kenapa… dia lagi?
...****************...
HARI KE-7
Lokasi: set dalam istana (lagi)
Adegan: interaksi antar selir
Hari itu—
jadwal padat.
Beberapa selir utama hadir.
Dayang-dayang juga.
Termasuk—
Luna.
Mireya berdiri di sisi set.
Menunggu giliran.
Beberapa staf lewat.
Mereka masih istirahat makan siang.
Namun—
suara bisik mulai terdengar.
“Katanya dia dapat peran karena backing…”
“Manajernya itu loh…”
“Manager emas…”
“Ya jelas lah, mana mungkin langsung dapet peran segitu kalau nggak punya orang dalam…”
Mireya diam.
Seolah tidak mendengar.
Namun—
telinganya jelas menangkap semuanya.
Tiba-tiba—
suara Luna terdengar.
Tidak keras.
Tapi cukup jelas.
“Kalau cuma numpang nama…”
“…ya wajar sih cepat naik.”
Beberapa orang langsung diam.
Udara berubah.
Mireya perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Luna tersenyum tipis.
Manis.
Tapi tajam.
“Eh, aku nggak ngomong siapa-siapa kok.”
“Jangan GR ya.”
Beberapa orang terkekeh pelan.
Situasi jadi tidak nyaman.
Pixy langsung panik di belakang.
“Kak…”
Mireya mengangkat tangan sedikit.
Diam.
Ia melangkah maju.
Tidak cepat.
Tidak marah.
Tenang.
“Kalau kamu penasaran…”
Suaranya lembut.
“…kita bisa coba sekarang.”
Semua langsung menoleh.
Luna mengernyit.
“Maksudnya?”
Mireya menatapnya lurus.
“Adegan kita.”
“Latihan.”
“Tanpa kamera.”
Hening.
Beberapa kru mulai memperhatikan.
Ini menarik.
Luna tersenyum miring.
“…percaya diri juga.”
“Ya sudah.”
Ia melangkah maju.
“Sekalian saja aku lihat—”
“…seberapa bagus kamu tanpa bantuan kamera.”
......................
MINI SCENE (TANPA KAMERA)
Adegan:
Dayang (Luna) menyindir Aurelia.
Luna mulai duluan.
Nada suaranya—
cukup.
Tapi—
tidak menusuk.
Ekspresinya—
benar.
Tapi—
tidak hidup.
Beberapa orang mengangguk biasa saja.
“…oke.”
“Lumayan.”
Namun—
tidak ada yang benar-benar terpukau.
Giliran Mireya.
Ia diam sebentar.
Lalu—
mengangkat pandangan.
Dan—
berubah.
Aura itu kembali.
“…kau banyak bicara.”
"Apa hakmu yang hanya seorang dayang berbicara dengan ku"
Nada suaranya pelan.
Namun—
menusuk.
Bukan marah.
Bukan tinggi.
Tapi—
membuat orang diam.
Ia tidak bergerak banyak.
Hanya—
tatapan.
Dan sedikit senyum tipis.
“…atau memang hanya itu yang kau punya?”
Hening.
Beberapa kru langsung merinding.
“Anjir…”
“Ini beda…”
Bahkan—
yang lewat—
ikut berhenti.
Menonton.
Luna menegang.
Ia mencoba membalas—
Namun—
terlambat.
Momentumnya hilang.
“…aku—”
Tidak keluar.
Sutradara yang kebetulan lewat—
langsung angkat alis.
“…bagus.”
Satu kata.
Tapi cukup.
"Ayo cepat kembali ke tempat kita akan segera mulai syuting"
Ulang sutradara untuk membubarkan orang-orang.
...----------------...
AFTERMATH
Luna tersenyum.
“…lumayan.”
Namun— nada suaranya sama sekali tidak tulus.
tangannya mengepal.
Ia berbalik.
Pergi.
Tanpa berkata lagi.
Mireya kembali ke posisi.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun—
kali ini—
bisik-bisik berubah.
“Dia emang bisa…”
“Bukan cuma hoki…”
“Pantes dipilih…”
Di kejauhan—
Eirian menatapnya.
Lebih lama.
Ini… ancaman.
Namun—
bukan dengan rasa benci.
Melainkan—
tantangan.
Dan dari hari itu—
Mireya tidak lagi disebut “artis yang beruntung”.
Tapi—
aktris yang harus diperhitungkan.
Tapi masih banyak adegan yang lebih sulit daripada ini...
Waktu akan membuktikan.
...****************...
Awalnya—
hanya video biasa.
Direkam diam-diam.
Sudutnya tidak terlalu bagus.
Sedikit goyang.
Namun— cukup jelas.
Dua orang berdiri berhadapan.
Satu—
Luna.
Satu lagi—
Mireya.
“Kalau kamu penasaran…”
“…kita bisa coba sekarang.”
Potongan itu—
langsung menarik perhatian.
...----------------...
Beberapa jam kemudian
Video itu sudah diunggah.
Awalnya—
di forum kecil.
Lalu—
menyebar.
Cepat.
Sangat cepat.
“Eh ini siapa???”
“Ini drama baru itu kan??”
“ANJIR ini acting atau berantem beneran???”
Komentar mulai bermunculan.
“Yang pakai cadar itu siapa??”
“Matanya… serem tapi bagus??”
Like bertambah.
Share bertambah.
Boom.
Trending.
...----------------...
Versi edit mulai muncul
Potongan Luna—
dibandingkan dengan Mireya.
“Lihat ini…”
“Yang satu kayak baca skrip…”
“Yang satu… kayak hidup.”
“Selir ke-11 ini siapa sih??”
“GUE SALAH SELAMA INI???”
...----------------...
Komentar makin panas
“Ini aktris baru???”
“Kenapa jarang lihat???”
"Aktingnya bagus ya"
Nama Mireya mulai naik kembali.
“Oh ini Mireya!”
“Yang dulu sempet viral itu!”
“Pantesan muka familiar!”
“Tapi kenapa dulu redup??”
"Oh... yang pernah viral itu, dia baru viral bukan beberapa bulan yang lalu atau malah sebulan ya?"
"Iya... dia katanya ngambil project bukan? foto pakai baju selir ke-11 itu. Dan itu rame banget dibahas di kalangan pembaca novelnya..."
“Anjir… wasted talent???”
Fans novel ikut masuk
“WOI tunggu dulu—”
“ITU SELIR KE-11???”
“KENAPA DIA KELIHATAN… BENER???”
“Ini pertama kalinya gue nggak benci karakter itu…”
"Wah telat lu habis dari mana? orang udah pada bahas ini pas percobaan kostum"
"My bini ajalah"
Perbandingan brutal
“Maaf ya…”
“Tapi yang dayang kalah jauh.”
“Ini bukan soal cantik…”
“Ini soal aura.”
...----------------...
LOKASI SYUTING
Suasana… berbeda.
Beberapa kru mulai berbisik.
Beberapa aktor diam-diam melihat ponsel.
“…udah lihat?”
“Iya…”
“Gila sih…”
Pixy hampir lompat-lompat.
“KAK!! KAK!!”
Ia menunjukkan ponselnya ke Mireya.
“KAK VIRAL!!!
Mireya terdiam.
Matanya membaca cepat.
Komentar.
Like.
Video.
Semua tentang dirinya.
“…ini… dari mana… Siapa yang rekamin”
Pixy menggeleng cepat.
“Nggak tahu! Tapi udah kemana-mana!”
Di sisi lain—
Luna berdiri diam.
Tangannya memegang ponsel.
Wajahnya…
kaku.
Komentar demi komentar lewat.
Dan—
tidak ada yang memihaknya.
“…hah.”
Ia tertawa kecil.
Namun—
matanya dingin.
Di kejauhan—
Eirian Vale melihat layar ponselnya.
Video itu diputar ulang.
Lagi.
Dan lagi.
…ini bukan kebetulan aktingnya bagus dan ini mungkin sebuah keberuntungan bagi gadis itu.
Ia mengunci layar.
Menoleh ke arah Mireya.
Kalau ini terus naik…
dia bisa jadi pusat drama ini.
Tiba-tiba—
suara tegas terdengar.
“Semua simpan ponsel.”
Sutradara berteriak marah dari tengah lapangan.
Aura langsung berubah.
“Siapa yang rekam itu?”
“Mulai sekarang—”
“tidak ada ponsel di area set.”
Tidak ada yang menjawab.
Tatapannya tajam.
Di keributan seperti itu mana mungkin Rhea tidak datang.
Dan benar saja tidak lama rhea datang memanggil nya.
“Mireya—”
Ia menoleh ke Mireya.
“…ikut aku.”
...****************...
DI SUDUT SEPI
Rhea menatapnya lurus.
“Kamu tahu ini akan terjadi?”
Mireya menggeleng.
“…nggak.”
Rhea menghela napas.
“Bagus.”
“…karena kalau iya, aku yang akan marah.”
"Ini bisa ngaruh ke karir kamu apalagi sutradara sudah ngamuk"
Hening.
Lalu—
sudut bibir Rhea sedikit naik.
“Namun…”
“ini menguntungkan kami.”
Mireya terdiam.
“…hah?”
“Sekarang—”
“semua orang akan menonton kamu.”
Tatapannya tajam.
“Jangan gagal.”
...****************...
KEMBALI KE SET
Mireya berjalan kembali.
Kali ini— tatapan orang-orang berbeda.
Bukan meremehkan.
Bukan mengabaikan.
Tapi— memperhatikan.
Dan dari kejadian itu— perang tidak lagi hanya di dalam cerita.
Tapi juga— di dunia nyata.