Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Beberapa lama mereka saling bertaut dalam ciuman yang begitu dalam dan liar, hingga akhirnya keduanya melepaskan ikatan bibir itu perlahan, seolah berat untuk berpisah.
Rex menempelkan keningnya ke kening Maple. Napas mereka terdengar berat dan memburu, saling bersahutan setelah ledakan gairah yang baru saja mereka rasakan.
"I miss you," ucap Rex pelan, bibirnya masih nyaris menyentuh bibir Maple saat ia berbicara.
"Rex... Haa..." desah Maple lemah. Namun, air matanya mulai perlahan menetes, membasahi pipinya yang memerah.
Merasakan kelembapan air mata itu, Rex perlahan menjauhkan wajahnya dan menatap Maple lekat-lekat. Tanpa berkata banyak, ia langsung menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua terluka," bisik Rex tegas di telinga Maple. Ia tahu betul bahwa di balik ketenangan wanita itu, tersembunyi rasa takut yang begitu besar, namun Maple berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat.
Keduanya terhanyut dalam kehangatan pelukan, menikmati momen reuni yang penuh emosi setelah bertahun-tahun terpisah.
*
Di ruangan lain, tempat Orion, Sue, dan Storm berada, suasana terasa begitu hening. Tak ada percakapan yang terucap, masing-masing tenggelam dalam pikiran dan kekhawatiran mereka sendiri.
"Kau bisa istirahat di kamar yang ada di sebelah sana, Sue," ucap Orion akhirnya, memecahkan keheningan yang terasa kaku.
"Tidak perlu, aku akan menyusul Maple," jawab Sue singkat. Ia segera berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
"Jika kau menyusul mereka sekarang, bersiaplah untuk melihat adegan panas. Mereka pasti sedang melampiaskan rindu dengan liar setelah sekian lama tidak bertemu," celetuk Orion dengan nada santai namun membuat suasana menjadi cair.
Sue menghentikan langkahnya seketika mendengar ucapan itu, wajahnya sedikit memerah.
"Jadi... Rex benar ayah dari Rey?" tanya Storm penasaran.
"Hm... Bukankah wajah mereka berdua sangat mirip? Bahkan nama yang diberikan Maple pun memiliki kesan yang sama dengan Rex," jawab Orion santai.
"Jadi benar, dia pria brengsek yang membiarkan Maple sendirian saat mengandung anaknya!" umpat Sue kesal.
"Wah... Rex memang sahabatku yang agak keras kepala dan kadang berbuat salah. Tapi aku tidak setuju kalau kau bilang dia membiarkan Maple sendirian. Rex bahkan sama sekali tidak tahu kalau Maple mengandung anaknya. Wanita itu pergi begitu saja meninggalkannya, dan selama tujuh tahun ini Rex terus mencarinya ke mana-mana," jelas Orion membela temannya.
"Ya... Aku juga ingat betul kagetnya Rex saat pertama kali melihat Rey. Aku sendiri pun terkejut melihat betapa identiknya wajah mereka berdua," tambah Storm mengiyakan.
"Istirahatlah kalian. Biarkan Rex yang menyelesaikan masalah ini," ucap Orion mengakhiri pembicaraan.
"Bolehkah aku berkeliling melihat-lihat markas ini?" tanya Storm tiba-tiba.
"Kau mau ke mana?" tanya Sue heran.
"Aku hanya ingin melihat-lihat tempat ini, penasaran saja," jawab Storm pada Sue, lalu ia menoleh ke Orion dengan wajah memelas. "Boleh kan, Kakak Ipar?"
"Hmm... Pergilah," jawab Orion dengan senyum tipis.
"Makasih, Kakak Ipar!" seru Storm bersemangat. Ia menjulurkan lidahnya mengejek Sue sebelum bergegas lari keluar ruangan.
"Haaah..." Sue menghela napas panjang, geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang masih kekanak-kanakan.
"Kau mau menemaniku minum?" tawar Orion, menatap Sue dengan tatapan yang sedikit menggoda, gaya khas pria itu yang terlihat seperti playboy.
Namun Sue tak menghiraukan ajakan tersebut. Ia berjalan menuju kamar yang tadi ditunjukkan Orion untuk beristirahat.
BRAK...
Pintu kamar ditutup rapat dengan suara keras. Sue sedikit terkejut saat menyadari bahwa kamar ini sangat luas dan nyaman, lengkap dengan tempat tidur besar dan kamar mandi di dalamnya.
Ia tak bisa menampung kekagumannya. Fasilitas di kamar ini begitu lengkap dan mewah, jauh dari bayangannya tentang markas mafia yang biasanya terkesan gelap dan suram.
Merasa tubuhnya begitu lelah dan pikirannya penat, Sue memutuskan untuk berendam air hangat guna menenangkan diri dan melemaskan otot-otot yang tegang.
Ia mengisi bak mandi dengan air hangat dan menambahkan sedikit wewangian ke dalamnya. Setelahnya, ia melepaskan seluruh pakaiannya dan perlahan membenamkan tubuhnya ke dalam air yang menenangkan itu.
Setelah merasa cukup lama berendam dan tubuhnya terasa lebih segar, Sue segera membersihkan dirinya. Ia berjalan menuju lemari pakaian, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk tidur.
Namun, yang ada di dalam lemari hanyalah pakaian pria. Dengan terpaksa, Sue mengambil sebuah kaos putih longgar yang ia yakin pasti milik Orion, lalu memakainya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa begitu empuk dan nyaman. Benaknya kembali berpikir, tak menyangka bahwa tempat yang dianggap sebagai sarang kejahatan ini ternyata memiliki kenyamanan setara hotel bintang lima.
Karena rasa lelah yang mendera, tak butuh waktu lama bagi Sue untuk akhirnya terlelap dengan pulas.
*
Suara teriakan kesakitan menggema keras di ruangan bawah tanah yang pengap dan lembap. Orion duduk santai di kursi besar, menyaksikan dengan tatapan dingin bagaimana anak buahnya menyiksa pria yang tadi ia bawa.
Dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah tempat Orion duduk.
"Apa dia sudah mau bicara?" tanya suara berat Rex yang baru saja tiba di tempat itu.
"No... Dia masih tetap keras kepala dan tak mau mengeluarkan sepatah kata pun," jawab Orion malas. Ia lalu menoleh ke arah sahabatnya. "Apa rencanamu selanjutnya, Rex?"
"Aku harus membuat perjanjian dengan Ordo Wolf... atau menghabisi mereka semua," jawab Rex dingin, matanya menatap tajam ke arah tahanan yang sedang meringis kesakitan.
"Bagaimana dengan Maple?" tanya Orion lagi.
"Dia berusaha terlihat tenang dan kuat. Tapi aku tahu, di dalam hatinya dia sangat takut," sahut Rex pelan.
"Kau tidak merasa ada yang aneh dengan Maple? Maksudku... Dia dulu hanya seorang pelayan di beberapa tempat di London. Tapi bagaimana bisa dia dengan mudah membunuh Camille Vandross? Lalu bagaimana caranya dia bisa bersembunyi selama ini dari kejaran kita, bahkan dari kejaran Ordo Wolf dan keluarga Vandross yang begitu kuat? Bukankah itu semua terdengar tidak wajar?" tanya Orion mengutarakan isi pikirannya.
"Maksudmu... ada orang lain di belakangnya yang membantunya?" tebak Rex.
"Mungkin saja. Selama ini kita sudah mengerahkan seluruh sumber daya dan anak buah untuk mencari keberadaannya, tapi hasilnya nol besar. Lalu pertemuan kalian saat ini... apa kau yakin itu hanya kebetulan? Atau jangan-jangan memang sudah direncanakan? Seolah-olah Maple memang sengaja ingin kita menemukannya," ucap Orion penuh selidik.
"Haaah..." Rex menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa pening. "Aku juga sebenarnya berpikir seperti itu. Tapi saat ini... satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah mempercayainya."
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku mau istirahat dulu," ucap Orion sambil menepuk bahu Rex pelan. Ia pun berlalu meninggalkan ruangan itu, meninggalkan teriakan kesakitan yang masih terus terdengar di belakang mereka.