Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Keputusan Arsen
“Rose…bagaimana kau…?”
“Lupakan saja Arsen,” potong di seberang. “Sekarang kau jawab aku kenapa kau memata-mataiku?” Suara Rose begitu mengintimidasi.
Arsen memejamkan mata, untuk sesaat ia kehilangan kata-kata. Tujuannya menyuruh Daniel untuk mengikuti Rose sangat sederhana, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Selain itu, Arsen juga ingin tahu ke mana wanita itu pergi pagi-pagi sekali. Tetapi, belum sempat Daniel memberikan laporan, pria itu malah ketahuan.
“Emm…aku hanya khawatir terjadi sesuatu padamu,” ucap Arsen.
Suara tawa terdengar di seberang.
“Sebaiknya kau urus dirimu sendiri, Arsen. Pertimbangkan permintaanku kemarin dan lakukan segera, jika tidak, maka aku akan segera siapkan surat cerai!” Dengan tegas Rose mengancam.
“Rose, aku perlu waktu. Aku harus mencari pengganti Renata.”
“Waktumu 24 jam. Oh iya, orangmu boleh juga. Mulai saat ini dia akan jadi bodyguardku.”
“Rose…”
Tut
Panggilan ditutup oleh Yvone. Ia tersenyum menyeringai, lalu menatap pria di hadapannya. Wajahnya cukup tampan, kulitnya juga putih. Auranya sangat dingin.
“Hei, siapa namamu?” tanya Yvone yang memaksa Daniel mengangkat wajahnya.
Keningnya mengkerut, saling bertaut. Istri dari tuannya ini memang sangat aneh. Rose yang dulu sangat mengenal dirinya, dan seingat Daniel Rose adalah wanita yang lemah lembut, sopan dan santun.
Tetapi wanita di hadapannya ini sangat berbanding terbalik. Selain sikapnya yang kasar, dia juga mahir bela diri, Daniel sempat kuwalahan menghadapi Rose. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa dia bukan Rose.
“Nyonya,” panggil Daniel.
“Hmmm.” Yvone menatap pria tinggi di hadapannya.
“Siapa kau sebenarnya?”
Pertanyaan yang dilontarkan Daniel membuat Yvone seketika terdiam. Masalah yang muncul akhir-akhir ini membuat Yvone melupakan perannya sebagai Rose. Karena pria ini adalah orang kepercayaan Arsen, mungkin saja Rose mengenalnya.
Sedangkan dirinya justru bertanya soal nama.
‘Rose memang sangat payah,’ batin Yvone.
Tidak ingin membuat pria ini curiga, Yvone segera kembali pada perannya.
“Ah, lupakan saja.” Yvone mengibaskan tangan di depan wajah. “Mulai sekarang kau adalah bodyguardku, dan Arsen sudah menyetujuinya. Jadi kau tidak perlu melaporkan apa pun pada suamiku.”
Setelah mengatakan itu, Yvone segera berbalik. Melempar kunci mobil ke belakang yang segera ditangkap oleh Daniel.
Pria itu menangkap punggung Yvone yang mulai menjauh, ia yakin terjadi sesuatu pada istri majikannya dan ia harus menyelidikinya. Dan kesempatan menjadi bodyguard ini harus dimanfaatkan dengan sangat baik.
Arsen menghela napas panjang. Menatap berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Karena telpon dari Rose, Arsen jadi tidak bisa berkonsentrasi. Ia bahkan membatalkan rapat yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
Kini Arsen harus segera mengerjakan tugasnya, memeriksa berkas lalu memberikan tanda tangan. Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka. Renata muncul dengan secangkir kopi di tangan.
“Ini kopimu, Arsen,” ucap Renata sembari meletakkan cangkir di atas meja.
“Hmmm.” Arsen mengangguk saja, lantas teringat permintaan Rose. “Emm…Renata, sebaiknya kau segera mengemasi barang-barangmu,” ucap Arsen ragu. Ia bahkan tidak menatap wanita itu. Sebab rasa iba bisa saja membuyarkan keputusannya.
Mendengar itu, Renata segera mengangkat kepala. “Arsen, kau sungguh ingin melakukan itu?”
Renata menatap Arsen tak percaya. Ia pikir Arsen akan melupakan masalah ini, tetapi nyatanya seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
“Kau tenang saja, aku akan memberikan kompensasi yang sesuai. Kau juga bisa bekerja di perusahaan lain dengan mudah. Dan kau tidak perlu khawatir, soal ayahmu. Aku pastikan dia tidak menyiksamu,” ujar Arsen.
“Kau tidak tahu siapa ayahku, dia akan menghajarku jika aku tidak bekerja.” Renata mencoba memberikan pengertian kepada pria itu.
Tetapi sepertinya keputusan Arsen sudah mutlak. Arsen tidak ingin bercerai dari Rose. Itu sebabnya ia menuruti keinginan istrinya itu.
“Renata, aku akan membantumu untuk bisa diterima di perusahaan lain, aku yakin mereka akan menerimamu.”
“Arsen, aku takut mereka tidak bisa memperlakukanku sebaik dirimu,” bujuk Renata. Wajahnya tampak sendu. Berharap Arsen akan mengubah keputusannya.
“Kau belum mencobanya, Renata. Sudahlah sebaiknya kau kemasi dulu barang-barangmu, jangan mendebatku.”
Ucapan Arsen akhirnya membuat Renata menyerah. Ia menatap Arsen, sebelum meninggalkan ruangan ia pun berkata, “Maafkan aku, Arsen. Sebelum aku pergi biarkan aku melakukan tugasku dengan baik. Kau minum dulu kopinya, lalu aku akan membantumu memeriksa laporan ini.”
Mendengar itu, Arsen menghela napas lega. “Baiklah.”
Arsen meraih cangkir kopi itu lalu menyesap isinya dengan pelan. Saat cairan itu menyentuh lidah, Arsen merasa ingin menyesapnya, lagi dan lagi.
Renata memperhatikan Arsen, sebelah sudut bibirnya ditarik ke samping. Ia lantas melangkah ke sisi kanan meja kerja Arsen, meraih beberapa berkas.
Sementara Arsen melakukan hal yang sama. Ia meraih satu berkas dan memeriksanya, beberapa menit berlalu, Arsen merasa kepalanya sangat berat. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyerang. Tetapi bukan rasa kantuk.
Arsen memegang pelipisnya, dan memijitnya pelan.
“Kenapa aku tiba-tiba pusing?” gumam Arsen. Renata melihat itu segera mendekati Arsen.
“Arsen, kau baik-baik saja?” Renata memegang pundak pria itu, dan membuat Arsen seketika menatapnya.
Arsen merasa sebuah kabut tebal menghalangi penglihatannya. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Kepalanya terasa ditimpa batu besar.
Arsen merasa seisi ruangan kosong, hanya ada dirinya dan kesunyian. Tidak ada siapa pun. Tidak ada seorang pun yang peduli padanya.
“Arsen, apa kau bisa mendengarku?” tanya Renata lagi.
“Hmmm, jangan pergi. Temani aku di sini.”
Mendengar itu, Renata menyunggingkan senyumnya. “Bukankah kau ingin aku pergi?” tanya Renata memancing.
“Tidak, di sini sangat sepi. Aku sendirian.”
“Jadi kau ingin aku di sini.”
“Ya.” Setelah menjawab demikian, Arsen tiba-tiba tertidur.
Senyum Renata semakin lebar. Ia segera meminta salah satu bawahan untuk membantunya membawa Arsen pulang.
Di sisi lain, Yvone sedang berada dalam perjalanan pulang. Ia berencana untuk memberi pelajaran kepada Brighita dan juga Alexa yang sudah memberinya obat. Tidak, bukan obat, melainkan racun.
Sementara Daniel diam-diam memperhatikan Rose. Dilihat dari segi manapun, wanita di sampingnya ini memang Rose. Setelah menghilang selama beberapa bulan, Rose memang berubah menjadi langsing.
Ya, karena memang seperti itulah bentuk tubuh awalnya. Tetapi tetap saja Daniel merasa wanita itu adalah orang lain.
“Kau sudah bekerja dengan suamiku cukup lama ‘kan? Menurutmu, ada hubungan apa antara dia dengan Renata?” tanya Yvone memecah keheningan.
Pertanyaan itu, berhasil menarik perhatian Daniel. Selama ini, Rose sama sekali tidak mencurigai hubungan mereka, tetapi entah mengapa baru kali ini Rose mempertanyakannya.
“Menurut saya tidak ada yang aneh. Karena Tuan sangat mencintai Anda.”
Mendengar itu, Yvone merasa pipinya menghangat. Perasaan aneh itu kembali muncul.
“Kau pasti sengaja ingin menyenangkanku ‘kan?”
“Tentu tidak, Nyonya.”
“Lupakan, percuma saja bertanya padamu, kau pasti akan tetap membelanya.”
Beberapa menit berkendara, akhirnya Yvone tiba di rumah. Saat turun, ia melihat kendaraan Arsen terparkir di halaman.
“Dia sudah pulang.” Kebetulan sekali, ia harus mempertanyakan langsung kepada Arsen soal obat itu.
Yvone segera memasuki rumah, langkahnya tenang menuju ke kamar Arsen. Pintu dalam keadaan tertutup. Dengan cepat ia segera membukanya.
Alangkah terkejutnya Yvone saat melihat pemandangan di dalam sana.
“Apa yang kalian lakukan?”