Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 29: Senyum di Balik Kaca
Tiga hari setelah kejadian di ruang isolasi, Aisha masih belum bisa melupakan senyum aneh Mia. Senyum itu terus menghantuinya, muncul di setiap kesunyian, hadir di setiap kali ia memejamkan mata. Bukan senyum orang yang putus asa. Bukan senyum orang yang kehilangan akal. Itu adalah senyum kemenangan, senyum orang yang menyimpan rahasia dan tahu bahwa rahasianya akan segera terungkap.
Aisha sudah menanyakan pada Arka, tapi Arka hanya menggeleng. “Mungkin efek obat, Aisha. Obat penenang kadang membuat pasien tidak sadar dengan ekspresi wajahnya sendiri.”
Tapi Aisha tidak yakin. Ia sudah cukup sering berhadapan dengan Mia—ketika Mia mengancam, ketika Mia hampir membunuhnya, ketika Mia menangis minta maaf. Ia tahu senyum asli Mia. Dan senyum di balik kaca itu bukanlah senyum Mia yang ia kenal.
“Aku harus bicara dengan Mia,” desak Aisha pada Arka pagi itu.
“Dia belum stabil, Aisha. Suster bilang kita belum boleh masuk ke ruang isolasi.”
“Aku tidak harus masuk. Aku hanya ingin bicara dari balik kaca. Mungkin dia akan merespons jika dia mendengar suaraku.”
Arka ragu. Tapi ia tahu Aisha tidak akan menyerah. “Baik. Kita ke sana siang ini.”
---
Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa tampak lebih suram dari biasanya. Langit mendung, hampir hujan, dan angin berhembus kencang menerpa pepohonan di halaman. Aisha dan Arka berjalan cepat menuju ruang isolasi, ditemani Suster Dewi yang wajahnya tampak lelah.
“Kondisi Mia masih sama,” kata Suster Dewi. “Dia tidak mau makan, hanya mau minum air putih. Dia juga tidak mau bicara, hanya diam atau sesekali tersenyum seperti yang Ibu ceritakan.”
“Apakah dia membahayakan dirinya sendiri?” tanya Arka.
“Belakangan ini tidak. Dia hanya menarik diri. Tapi kami tetap memantaunya ketat.”
Mereka tiba di depan pintu kaca ruang isolasi. Mia terbaring di tempat tidur, posisi miring menghadap ke dinding. Tubuhnya yang kurus tampak semakin kecil di balik selimut tipis.
“Mia,” panggil Aisha lembut.
Mia tidak bergerak.
“Mia, ini Aisha. Aku datang menjengukmu. Arka juga di sini. Kami ingin tahu kabarmu.”
Mia masih diam. Aisha menekan telapak tangannya ke kaca, seolah bisa menyentuh Mia melalui kaca itu.
“Mia, jika kau mendengar suaraku, tolong tunjukkan. Aku tidak akan pergi sampai kau merespons.”
Keheningan. Lalu Mia menggerakkan kepalanya. Perlahan, ia membalikkan badan, menghadap ke arah kaca. Matanya terbuka, menatap Aisha. Tidak ada lagi tatapan kosong seperti beberapa hari lalu. Matanya jernih, fokus, seolah ia benar-benar sadar dan sengaja memilih untuk tidak bicara.
“Mia,” bisik Aisha.
Mia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum misterius yang membuat Aisha merinding.
“Mia, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau berhenti minum obat? Kenapa kau tidak memberi tahu kami?”
Mia menggerakkan bibirnya. Tidak ada suara, tapi Aisha bisa membaca gerakan bibir itu.
*“Ada yang mengawasi.”*
Aisha menoleh ke kiri dan kanan. Hanya ada Suster Dewi di belakangnya, dan Arka di sampingnya. Tidak ada orang lain di koridor itu.
“Siapa yang mengawasi, Mia?”
Mia menggeleng pelan. Ia menunjuk ke langit-langit dengan matanya, lalu ke arah Suster Dewi. Gerakan yang cepat, nyaris tidak terlihat. Tapi Aisha menangkapnya.
Jantung Aisha berdegup kencang. Apakah Mia mengisyaratkan bahwa Suster Dewi tidak bisa dipercaya? Atau ada kamera pengawas yang tidak mereka sadari? Atau Mia hanya paranoid, seperti yang sering terjadi pada pasien gangguan jiwa?
“Mia, aku tidak mengerti. Tolong bicara padaku.”
Mia menutup matanya. Ia memalingkan wajah ke dinding lagi. Tidak ada senyum, tidak ada respons. Seolah ia sudah mengatakan cukup.
Aisha menatap Arka, bingung. Arka menggeleng, juga tidak mengerti.
Suster Dewi mendekat. “Maaf, Bu Aisha. Sebaiknya Ibu dan Bapak pulang dulu. Pasien sudah mulai lelah.”
Aisha tidak punya pilihan. Mereka pamit, berjalan keluar dari ruang isolasi. Tapi di lorong, Aisha berhenti.
“Suster Dewi, apakah ada kamera pengawas di ruang isolasi?”
Suster Dewi mengerjap. “Ada, Bu. Untuk memantau pasien dari ruang perawat. Tapi gambar dari kamera itu tidak bisa diakses sembarangan.”
“Siapa saja yang bisa mengakses?”
“Hanya dokter dan perawat yang bertugas. Dan tentu saja, rekamannya disimpan sebagai arsip rumah sakit.”
Aisha mengangguk. “Boleh saya melihat rekamannya?”
“Maaf, Bu. Tidak bisa. Itu melanggar privasi pasien.”
Aisha tidak memaksa. Tapi ia bertekad untuk mencari tahu sendiri.
---
Di perjalanan pulang, Aisha bercerita pada Arka tentang gerakan bibir Mia.
“Dia bilang, 'Ada yang mengawasi,'” kata Aisha. “Lalu dia menunjuk ke atas dan ke arah Suster Dewi.”
Arka mengerutkan kening. “Mungkin dia paranoid, Aisha. Itu salah satu gejala psikotik.”
“Tapi matanya jernih, Arka. Tidak kosong seperti biasanya. Dia sadar. Dia sengaja memilih untuk tidak bicara.”
“Atau mungkin efek obat yang membuatnya seperti itu.”
“Aku tidak tahu, Arka. Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.”
Arka menghela napas. “Apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku ingin menyelidiki. Mencari tahu apakah Mia benar-benar paranoid atau ada sesuatu yang dia sembunyikan.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku akan bicara dengan tetangga Mia. Mungkin mereka tahu apa yang terjadi sebelum Mia dibawa ke rumah sakit.”
Arka terdiam. Ia tidak yakin itu ide bagus. Tapi ia juga tahu Aisha tidak akan mundur.
“Aku ikut,” kata Arka akhirnya. “Kita lakukan bersama.”
---
Keesokan harinya, Aisha dan Arka pergi ke rumah kontrakan Mia di kawasan Condet. Rumah itu kecil, dindingnya dicat hijau pudar, atapnya terbuat dari seng. Halaman depan ditumbuhi rumput liar dan beberapa pot tanaman yang mulai layu.
Tetangga Mia, seorang ibu paruh baya bernama Bu Euis, sedang menyapu halaman. Ia memandang curiga ketika Aisha dan Arka mendekat.
“Selamat pagi, Bu. Saya Aisha, adik ipar Mia. Ini suami saya, Arka, kakak kandung Mia. Kami ingin bertanya tentang kondisi Mia sebelum dia dibawa ke rumah sakit.”
Bu Euis menghela napas. “Wah, Mia itu. Sayang sekali. Orangnya baik, rajin, suka bagi-bagi kue. Tapi beberapa minggu terakhir, dia berubah.”
“Berubah seperti apa, Bu?” tanya Arka.
“Pertama, dia berhenti jualan kue. Kedua, dia jarang keluar rumah. Ketiga, dia sering duduk di teras sambil bicara sendiri. Kadang tertawa-tawa sendiri. Saya pikir dia stress karena usaha kuenya sepi pembeli.”
“Apakah ada tamu yang datang ke rumahnya?” tanya Aisha.
Bu Euis berpikir sejenak. “Ada. Beberapa minggu sebelum dia sakit, ada seorang pria datang ke rumahnya. Pria muda, pakai kacamata hitam, rambut pendek. Dia datang dua kali. Mia kelihatan takut. Saya lihat pintu rumahnya sering dikunci setelah pria itu datang.”
Jantung Aisha berdegup kencang. “Apa ciri-ciri pria itu, Bu?”
“Tinggi, kurus, pakai jaket hitam. Wajahnya tidak terlalu jelas karena dia selalu pakai topi dan kacamata hitam. Tapi ada satu yang saya ingat: dia bawa tas kulit cokelat, agak besar. Setiap kali datang, tas itu selalu dibawa.”
Arka dan Aisha saling berpandangan.
“Apakah Mia pernah cerita tentang pria itu?” tanya Arka.
“Pernah, tapi cuma sekilas. Mia bilang pria itu teman lamanya. Tapi dari raut wajahnya, Mia tidak suka kedatangan pria itu. Dia cemas, gelisah, dan setelah pria itu pergi, Mia sering menangis.”
“Terima kasih, Bu Euis. Informasi ini sangat membantu.”
---
Di mobil, Aisha dan Arka duduk diam beberapa saat. Masing-masing mencoba mencerna informasi dari Bu Euis.
“Seorang pria,” kata Arka akhirnya. “Mungkin Mia tidak kambuh. Mungkin dia dalam bahaya.”
“Tapi kenapa dia tidak bilang pada kita?” tanya Aisha.
“Mungkin dia tidak percaya pada kita. Atau mungkin dia takut.”
“Takut pada siapa? Pria itu? Atau seseorang di belakang pria itu?”
Arka mengusap wajahnya. “Aku harus mencari tahu siapa pria itu. Aku akan cek rekaman CCTV di sekitar rumah Mia. Mungkin ada yang merekam.”
“Aku akan kembali ke rumah sakit. Aku harus bicara dengan Mia, memintanya jujur.”
“Hati-hati, Aisha. Jika Mia benar-benar dalam bahaya, mungkin orang yang mengancamnya juga akan mengancammu.”
“Aku tidak akan terburu-buru. Aku hanya akan bicara dengannya, tidak lebih.”
---
Sore harinya, Aisha kembali ke Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa. Sendirian. Arka sedang mencari rekaman CCTV di kantor polisi.
Suster Dewi menyambutnya dengan senyum ramah, tapi Aisha merasa ada sesuatu yang aneh dari tatapan suster itu. Mungkin Mia benar. Mungkin ada yang mengawasi.
“Bu Aisha, Mia masih di ruang isolasi. Dia tidak mau makan siang tadi. Kami khawatir.”
“Boleh saya bicara dengannya? Sebentar saja.”
“Baik, Bu. Tapi Ibu tidak bisa masuk ke dalam. Hanya dari balik kaca.”
Aisha berjalan ke ruang isolasi. Mia terbaring di tempat tidur, posisi terlentang, mata terpejam. Aisha mengetuk kaca pelan.
“Mia.”
Mia membuka mata. Ia menatap Aisha, lalu tersenyum tipis.
“Aku tahu kau akan kembali,” bisik Mia, tapi suaranya cukup jelas terdengar dari balik kaca.
“Mia, apa yang terjadi padamu? Siapa pria yang datang ke rumahmu?”
Wajah Mia berubah. Senyumnya hilang, digantikan oleh ekspresi takut.
“Jangan bicara di sini,” bisik Mia. “Ada yang mendengarkan.”
“Suster Dewi?”
Mia menggeleng. “Bukan. Kamera. Mereka bisa mendengar.”
“Siapa 'mereka', Mia?”
Mia menutup matanya. Tangannya gemetar. “Tolong, Aisha. Jangan tanya di sini. Aku akan mati jika mereka tahu aku bicara.”
Aisha merasakan bulu kuduknya berdiri. “Baik. Aku tidak akan tanya di sini. Tapi bagaimana aku bisa membantu?”
Mia membuka mata. Ia menatap Aisha dengan mata penuh ketakutan. “Dengarkan baik-baik, Aisha. Ada seseorang yang akan menemuimu. Dia akan memberimu sesuatu. Sesuatu tentang masa laluku. Tentang Sari. Tentang Cahaya. Tentang keluarga angkat Arka.”
“Siapa orang itu?”
“Aku tidak tahu namanya. Dia bilang dia utusan Sari. Sari menyimpan sesuatu sebelum dia meninggal. Sesuatu yang tidak boleh dilihat oleh siapa pun.”
“Apa itu?”
Mia menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya. Tapi Sari bilang, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu padanya, benda itu harus diberikan pada Arka. Pria yang datang ke rumahku itu... dia yang menyimpan benda itu. Tapi dia tidak mau memberikannya padaku. Dia minta uang. Uang yang tidak aku punya.”
“Jadi pria itu memerasmu?”
Mia mengangguk, air matanya jatuh. “Dia mengancam akan memberitahu Arka bahwa aku yang menyebabkan kematian Cahaya.”
“Apa maksudmu?”
Mia tidak menjawab. Ia hanya menangis. “Pergilah, Aisha. Aku tidak bisa bicara lebih banyak. Mereka akan tahu.”
Aisha tidak memaksa. Ia berpamitan, keluar dari ruang isolasi dengan kepala penuh pertanyaan.
---
Di luar rumah sakit, Aisha duduk di mobil, mencoba menenangkan diri. Pria misterius. Benda peninggalan Sari. Ancaman bahwa Mia menyebabkan kematian Cahaya. Semua ini terlalu rumit, terlalu gelap.
Ponselnya berdering. Arka.
“Aisha, aku dapat rekaman CCTV dari tetangga Mia. Ada gambar pria itu. Wajahnya tidak jelas, tapi aku bisa lihat ciri-cirinya. Aku akan cari tahu siapa dia.”
“Arka, Mia bilang ada benda peninggalan Sari. Sesuatu yang seharusnya diberikan padamu. Pria itu yang menyimpannya. Dia memeras Mia.”
“Apa? Kenapa Mia tidak bilang?”
“Dia takut. Pria itu mengancam akan memberitahumu bahwa Mia yang menyebabkan kematian Cahaya.”
Arka terdiam lama. “Itu tidak mungkin. Sari tidak pernah bilang begitu padaku.”
“Aku tidak tahu, Arka. Tapi kita harus mencari pria itu. Dan kita harus mencari benda itu.”
“Aku akan cari. Tapi hati-hati, Aisha. Jika pria itu tahu kita mencarinya, dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya.”
“Aku akan hati-hati. Kau juga.”
Panggilan berakhir. Aisha memejamkan mata, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kencang.
Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis yang perlahan menjadi deras. Aisha menyalakan mobil, bersiap pulang. Tapi ketika ia hendak masuk ke jalan raya, ia melihat seseorang berdiri di pinggir jalan, tepat di luar gerbang rumah sakit.
Pria dengan jaket hitam, topi, dan kacamata hitam. Di tangannya, sebuah tas kulit cokelat.
Jantung Aisha berhenti berdetak.
Pria itu menatap ke arah mobil Aisha. Lalu ia tersenyum. Senyum yang familiar. Senyum yang tidak mungkin Aisha lupakan.
Ren.
Aisha membeku. Sebelum ia sempat bereaksi, pria itu berjalan mendekat. Mengetuk kaca jendela mobil.
“Buka, Aisha. Aku tidak akan menggigit.”
Dengan tangan gemetar, Aisha membuka kaca sedikit.
“Ren? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku datang untuk memberimu sesuatu. Sesuatu yang Sari titipkan untuk Arka.”
Ren mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kulitnya. Amplop itu tebal, agak lusuh, seolah sudah lama disimpan.
“Apa ini?” tanya Aisha.
“Kebenaran tentang kematian Cahaya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sari. Tentang keluarga angkat Arka.”
“Kenapa kau tidak memberikannya langsung pada Arka?”
“Karena Arka tidak akan percaya padaku. Tapi kau, Aisha... kau akan tahu apa yang harus dilakukan.”
Ren meletakkan amplop itu di tangan Aisha. Lalu ia berbalik, berjalan menjauh, dan menghilang di balik hujan.
Aisha memegang amplop itu, tangannya gemetar. Ia tidak tahu apakah harus membukanya sekarang atau menunggu Arka.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu. Amplop ini akan mengubah segalanya.