NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Keesokan harinya, kelas berjalan seperti biasa-lebih banyak ngobrol daripada belajar. Pembimbing malah sibuk menceritakan berbagai kasus di Charley Group, katanya biar jadi bahan pembelajaran.

Sejak insiden ribut besar di ruang makan, Marey, Febi, dan Desi sebenarnya tidak banyak berubah. Cuma agak kikuk di awal, tapi selebihnya ya tetap saja: cerewet dan sok sibuk.

Hari ini Kimi punya misi penting untuk mengumpulkan semua orang nanti malam. Begitu disampaikan, Marey langsung nyolot duluan.

"Emang mau bahas apa? Jangan soal yang kemarin ya. Gw udah males banget sumpah,"

Kimi buru-buru menggeleng. "Bukan. Ini soal keanehan di tempat ini. Mulai dari CCTV, sampai makanan yang tiba-tiba berubah. Kalian juga ngerasa kan?"

Ketiganya saling pandang, lalu mengangguk.

"Aku pikir mereka kehabisan stok," Desi mencoba masuk akal. "Mungkin karena udah mau akhir pelatihan."

"Tapi gak mungkin juga," Febi sedikit menepuk meja. "Biasanya menunya fancy banget, masa tiba-tiba jadi telur sama sayur doang.

"Apa ada yang ngadu kalau mau diet? Bukan gw ya," sahut Marey mengamankan diri. Karena sesuatu yang berhubungan dengan diet, pasti disangkut pautkan dengan dirinya.

Febi mendengus. "Emang siapa lagi yang paling heboh soal kalori di sini?"

"Sekelas Charley ngasih makan rumput ke peserta latihan? Emangnya itu masuk akal?" tiba-tiba Anela menimpali dari bangkunya tanpa ekspresi.

"Oke, terus kita mau ngapain?" tanya Desi.

" Nah, itu nanti yang mau dirembukin malam ini," jawab Kimi ringan.

"Kenapa gak sore aja?" tanya Marey.

"kata Uby, sore itu jam bebas. Pembimbing bisa curiga kalau kita gak keliatan di sekitar asrama. Malam lebih aman "

Marey mengangguk. "Masuk akal. Daripada tiba-tiba disidang Bu Rissa kayak kemarin, Gw eneg denger ceramahnya soal 'harmonisasi'."

Febi menguap, lalu menatap Kimi sambil tersenyum iseng. "Ngomong-ngomong, Kim... kamu tuh sejak kapan suka sama Ruby? Jangan-jangan dia sering main ke kamar kamu ya?"

Kimi langsung merengut. "Enggak. Aku yang sering ke kamar dia. Tiap dateng di jutekin mulu. Tapi lama-lama... kok malah bikin aku sayang."

Tiga pasang mata langsung menatapnya geli.

"Jadi mimpi kamu kemarin tuh nyindir Ruby?" Desi cekikikan. "Aku gak nyangka sih, dia sampe nolak terus ngusir kamu."

"Iya, gw juga. Gw pikir Ruby bakal nyosor aja. Apalagi Kimi gini, kayak tipe yang... ya udah, pasrah," sahut Marey tanpa dosa.

Kimi langsung mendelik. "Uby itu sopan banget tau. Dia gak aneh-aneh walaupun udah jadian."

"Oh, sopan banget sampe gak nyentuh kamu sama sekali," celetuk Febi.

Kimi terdiam sebentar, lalu wajahnya berubah sedih. "Apa aku kurang cantik ya? Jangan-jangan dia gak suka sama aku,"

Febi refleks menepuk pelan punggungnya. "Nggak gitu, Kim. Mungkin Ruby cuma gak mau ngerusak kepolosan kamu."

"Apa iya?" Mata Kimi sendu. "Kupikir.. dia gak napsu,"

"YAELAH" Marey langsung menepuk jidat. "Ini kenapa malah kayak lo yang frustrasi, bukan dia? Perlu gw samperin si Ruby sekalian? Bilang, 'Ru, Kimi jangan dianggurin'."

Kimi langsung gelagapan, "Jangan! Aku cuma becanda kok,"

Tapi ketiganya tahu, kimi jelas tidak bercanda. Gayanya lebih mirip istri yang insecure karena tak juga 'didekati' suaminya.

Sementara mereka heboh sendiri, Anela cuma duduk diam di tempatnya. Tatapannya datar, tapi penuh perhitungan. Ia memang sengaja menjaga jarak, biar tetap jadi pengamat, bukan bagian dari kekacauan itu. Dan itu juga alasan kenapa dulu ia meledak waktu kasus Ruby pecah.

**

Malam yang ditentukan akhirnya tiba. Semua sudah berkumpul di ruang santai. Beberapa sempat ogah- ogahan datang, tapi setelah dibujuk tiga orang duta besar-Febi, Desi, dan Marey-mereka akhirnya pasrah juga.

Wajah-wajah di ruangan itu setengah malas, setengah penasaran. Sampai Ruby buka suara supaya tidak bertele-tele.

"Ini soal menu makanan dan CCTV yang sempat mati di beberapa titik," katanya tenang.

Janu langsung menyilangkan tangan, wajahnya antara jengah dan skeptis.

"Gw udah paham, ujung-ujungnya lo mau bilang ini ulah orang dalam kan?"

Ruby mengangguk kecil. "Bisa juga ini bagian dari tes terakhir kita. Gw gak bilang si Chairman gabut, tapi feeling gw kejadian ini disetujui sama dia."

Beberapa peserta saling pandang. Nama Nyonya Verila melintas di kepala mereka, meski tak satu pun benar-benar tahu siapa dia. Tapi kenapa Ruby bisa dengan mudah menuduhnya seperti itu?

"Gw gak ngerti kenapa lo tiba-tiba sok jadi ketua, terus ngumpulin orang begini," celetuk Janu dengan nada sinis. "Asal lo tau, sejauh ini gak ada yang protes soal menu, "

Yang lain mengangguk setuju. Sebagian memang tenang-tenang saja, karena buat mereka, menu sederhana seperti sayur tumis dan ikan goreng justru bikin nostalgia rumah.

"Masalahnya bukan di enak-nggaknya, tapi perubahan yang tiba-tiba," lanjut Ruby. "Apa kalian gak merhatiin kalau yang kita makan cuma sayur yang jujur aja, buat gw asing. Gw rasa mereka ambil dari hutan. Ikan juga mereka pancing sendiri di kali."

"Aku setuju," sahut Mei lesu, "Kita masih dua minggu lagi. Kalau tiap hari makan itu-itu aja, bisa bosen juga."

"Aku sih gak masalah," sela Kimi riang. "Asal menunya bervariasi. Hari ini ikan terbang, besok ikan kebakaran, lusa ikan berenang-"

"Kim, sumpah. Gw gak paham," potong Juli, menatapnya dengan mata kosong.

"Maksudnya goreng, bakar, sama kuah," Ruby bantu menjelaskan.

Semua menatap Kimi dengan ekspresi campuran antara lelah dan geli. Juli berdeham. "Intinya, Charley gak mungkin pelit soal makan. Jadi kemungkinan ini memang bagian dari tes."

"Terserah deh," gumam Okta. "Jadi apa ide lo semua?"

Ruby menoleh ke Juli. "Jul, beberapa CCTV itu.. lo yang matiin kan?"

Juli refleks menegang. "Hah? Enggak-eh, maksudnya, cuma jalur yang gw lewatin doang."

Sejak awal Ruby sudah curiga. Juli anak IT. Walau tidak ada koneksi internet, tapi kalau punya akses dan dekat dengan Bu Salma... ya, segalanya bisa aja.

"Kurang kerjaan banget," omel Marey. " Jadi kesimpulannya apa nih?"

"Mereka sengaja biarin CCTV itu tetap mati. Gw yakin ada alasan di baliknya. Itu yang harus kita cari tau," ujar Ruby mantap.

Janu mengangkat alis. "Mungkin aja itu jalurbmereka bawa keluar bahan makanan. Tapi ke mana? Eh, bentar, repot amat sih? Lewat depan kan bisa."

Ruby menatapnya datar. "Gimana kalau bahan makanannya emang gak masuk dari awal?"

Hening.

Sampai akhirnya Kumi angkat tangan dengan ekspresi serius yang malah bikin semua Waspada. "Ayo kita bongkar kantor mereka!" katanya semangat. "Cari surat permintaan barang, atau email, atau apa aja! Kalau data bulan ini gak nyambung sama bulan sebelumnya, berarti ada yang korupsi!"

Semuanya langsung menatapnya. Kimi melirik kanan-kiri, mulai canggung. "Aku salah ngomong ya?"

Marey malah nyengir. "Enggak, sayangku. Lanjut. Caranya gimana?"

Kimi berpikir cepat, lalu menjelaskan dengan gaya ala detektif Teddy. "Yang lain bikin staf keamanan sibuk. Sebagian lagi masuk ke kantor. Anak IT pastiin komputer gak dikunci... atau digembok... ya aku gak ngerti sih. Pokoknya yang kayak data tersembunyi itu dimunculin lagi. Jangan suruh aku ya, aku cuma tau makan,"

Beberapa tertawa kecil, tapi ada juga yang mulai berpikir serius. Sampai akhirnya suasana cair lagi karena candaan.

"Nih anak otaknya jalan juga ternyata," celetuk Septi sambil nyengir.

"Jahat banget," Kimi manyun, lalu menoleh ke Ruby. "Aku disindir masa."

Ruby tersenyum kecil, mengusap kepala pacarnya lembut. "Good job, baby."

"Baby pala lo, Ru. Sok romantis lo, najis," sindir Janu langsung.

"Apa ini? Udah dapet nenen lo jadi sok manis gitu?" celetuk Juli tanpa sadar.

Semua langsung mendelik. Juli menutup mulut, baru sadar keceplosan.

"Emang gimana sih rasanya nyusu sama cewek?" Septi bertanya polos.

"Ih, bangsat nih anak. Jangan aneh-aneh lo ya," Agus langsung menepuk lengan Septi kesal.

Saat menoleh ke Marey-yang jadi pasangannya, Wajah gadis itu sedang mengernyit jijik.

"Apa lo?" Septi langsung melotot. "Jangan mikir gw mau nyusu ke lo ya. Haram hukumnya."

"Oh, lo pikir gw mau ngasi? Mulut lo aja rombeng gitu. Bisa kurapan pent*l gw," balas Marey tak kalah kesal.

"Halah, sok cantik banget lo, jamban," balas Septi.

"Woy, plis. Jangan bikin rapat ini berubah jadi ajang mual masal ya," ujar Agus geleng-geleng kepala.

"Oke. Fokus lagi," kata Janu, menepuk tangan. "Semua ini berhubungan dengan stok makanan. Artinya, kita gak bisa mati karena bosen sama makanan. Bagi tugas!"

Ajaibnya, rapat itu berakhir dengan damai tanpa ada sindiran dan pertengkaran, Kecuali beberapa peserta yang saling ejek.

.

1
Zye Rava
Baca deh cerinya gemesin.
Felafel
Thor ayo up aku nungguin ni
Benrycia_: Sabar ya zheyeng🙏 bab nya nyangkut mulu.
total 1 replies
Suka GL
Ceritqnya seru gak bosenin.
Suka GL
Ciee yang udah nyamperin mertua cemangad ambil hati mama sabrina ya uby 💪
Ayo lanjut agi thor jngn lama upnya🙏
Zye Rava
Uby ambil hati mama sabrina dong biar cepet direstuin
Inayah🥰
Ayo dong mama sabrina restuin ruby dan kimi 😍
Felafel
Makin seru ceritanya.
Lanjut ya thor
Aku padamu
Benrycia_
Bab nya nyangkut 😏
Suka GL: Semangat thor
total 1 replies
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Felafel
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!