update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DraftHampir Ceroboh - 1
Hari berikutnya datang lebih cepat dari yang Yinjia harapkan. Tubuhnya masih terasa lelah ketika ia berdiri di dalam lift gedung Guo Group. Tangannya memegang tas dengan sedikit lebih erat dari biasanya. Di dalam kepalanya, angka-angka dari dokumen kemarin masih seperti belum benar-benar hilang.
Namun hari ini berbeda. Song Jian sudah mengatakan dengan jelas—Ia tidak lagi hanya memeriksa data.
Hari ini, ia akan masuk ke bagian kontrak. Dan itu berarti satu hal. Kesalahan tidak lagi sekadar angka. Tapi bisa menyangkut isi perjanjian.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dua puluh tiga, suasana kantor sudah hidup seperti biasa. Beberapa karyawan berjalan cepat membawa map, suara telepon terdengar dari berbagai arah, dan layar komputer di setiap meja sudah menyala sejak pagi.
Yinjia berjalan ke mejanya tanpa banyak bicara. Ia belum sempat duduk ketika suara Song Jian terdengar dari depan. “Lin Yinjia. Ke sini.”
Yinjia langsung berhenti. “Baik, Pak.” Ia berjalan menuju meja manajer itu dengan langkah yang sedikit kaku.
Song Jian tidak melihatnya saat ia datang. Ia sedang membaca beberapa lembar dokumen dengan ekspresi serius.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia meletakkan dokumen itu di meja. “Mulai hari ini kau bantu tim kontrak.”
Ia mendorong satu map ke arah Yinjia. Map itu tidak setebal kemarin. Namun terasa lebih berat.
“Ini draft kontrak pengiriman untuk klien luar negeri. Periksa bagian angka dan detail pengiriman. Pastikan tidak ada yang bertentangan dengan data logistik.”
Yinjia membuka halaman pertama. Bahasanya formal. Kalimat panjang. Beberapa bagian menggunakan istilah hukum yang tidak biasa ia baca di kampus.
Ia menelan pelan. “Saya akan coba, Pak.”
Song Jian menatapnya singkat. “Bukan coba.”
Nada suaranya datar, tapi jelas. “Kerjakan dengan benar.”
Yinjia mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Ia kembali ke mejanya. Untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam sambil menatap dokumen itu. Ini berbeda dari kemarin. Kalau kemarin ia hanya membandingkan angka…
Hari ini ia harus memahami isi. Ia mulai membaca perlahan. Setiap kalimat terasa lebih berat dari yang ia kira. Istilah seperti delivery clause, liability, dan penalty agreement membuatnya harus berhenti beberapa kali untuk benar-benar memahami maksudnya.
Namun ia tidak berhenti. Tangannya mulai bergerak, mencatat bagian penting di kertas kecil. Waktu berjalan lebih cepat dari yang ia sadari. Sekitar satu jam kemudian, ia mulai menemukan sesuatu yang tidak sinkron. Tanggal pengiriman di halaman awal berbeda dengan jadwal di lampiran. Hanya selisih dua hari. Tapi tetap berbeda.
Yinjia menandai bagian itu dengan hati-hati. Lalu melanjutkan ke halaman berikutnya. Semakin lama ia membaca, semakin ia menyadari satu hal—
Dokumen ini tidak boleh salah. Satu kesalahan kecil bisa membuat seluruh kontrak bermasalah.
Di tengah fokusnya, seorang staf dari tim kontrak datang dan meletakkan beberapa map tambahan di mejanya. “Tolong bantu cek ini juga.”
Yinjia sedikit terkejut. “Semua?”
“Ya. Itu bagian revisi kemarin.” Staf itu sudah pergi sebelum Yinjia sempat bertanya lagi.
Yinjia menatap tumpukan baru itu. Lebih banyak dari yang ia bayangkan. Tangannya sedikit menegang. Namun ia tidak punya pilihan. Ia mulai membaca lagi.
Satu per satu. Dengan lebih cepat. Lebih fokus. Namun justru di situlah masalah mulai muncul. Sekitar pukul sebelas siang, ketika pikirannya mulai lelah, tangannya bergerak sedikit lebih ceroboh dari biasanya.
Ia berdiri untuk membawa dokumen yang sudah selesai ke meja tim kontrak.
Langkahnya cepat. Terlalu cepat. Di sudut lorong, seseorang baru saja keluar dari ruang rapat. Yinjia tidak melihatnya. Tubuh mereka hampir bertabrakan.
Dokumen di tangannya miring. Beberapa lembar kertas hampir terlepas. Refleks, Yinjia mencoba menahannya—
Namun justru membuat semuanya semakin tidak stabil. Kertas-kertas itu mulai jatuh.bDalam sepersekian detik, sebuah tangan menangkap bagian bawah map itu dengan kuat. Gerakan itu cepat. Tepat.
Dan cukup untuk menghentikan semuanya jatuh ke lantai. Yinjia membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Ia perlahan mengangkat kepala. Dan langsung bertemu dengan tatapan seseorang.
Guo Linghe.
Pria itu berdiri tepat di depannya. Tangannya masih menahan map yang hampir jatuh. Ekspresinya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Yinjia bahkan lupa bagaimana cara bicara. Sampai akhirnya ia sadar. “Maaf… saya—”
Kalimatnya terhenti. Linghe tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sebentar ke dokumen di tangan Yinjia. Lalu kembali ke wajahnya. “Kalau tidak bisa menjaga dokumen, jangan dibawa sambil berjalan cepat.”
Suaranya rendah. Datar. Tidak keras, tapi cukup membuat Yinjia merasa semakin gugup. “Saya… tidak sengaja.”
Linghe tidak bereaksi pada penjelasan itu. Ia melepaskan pegangannya dari map. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia berkata lagi “Di sini, hal seperti itu tidak disebut tidak sengaja.”
Yinjia terdiam. Kalimat itu sederhana. Tapi terasa seperti teguran langsung. Linghe sudah berjalan melewatinya. Langkahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun Yinjia masih berdiri di tempatnya.
Tangannya masih memegang map itu. Lebih erat dari sebelumnya. Ia menarik napas dalam. Lalu perlahan menghembuskannya.
Perasaan malu dan tegang bercampur jadi satu. Ia hampir saja menjatuhkan dokumen penting. Di depan presiden direktur. Itu bukan kesalahan kecil. Yinjia menunduk sebentar. Lalu kembali berjalan.
Namun kali ini langkahnya jauh lebih hati-hati. Ketika ia kembali ke meja, Song Jian sudah melihat semuanya. “apa yang terjadi ?”
Yinjia berhenti. “Tidak… apa-apa, Pak. Hanya hampir menjatuhkan dokumen.”
Song Jian menatapnya beberapa detik. Lalu berkata singkat. “Kalau jatuh, kau tidak perlu kembali besok.”
Yinjia menegang. “Baik, Pak.”
Ia duduk kembali. Tangannya perlahan membuka dokumen lagi. Namun kali ini pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Bayangan kejadian tadi masih jelas. Dan kalimat Linghe…
Masih terngiang. “Di sini, hal seperti itu tidak disebut tidak sengaja.”
Untuk pertama kalinya, Yinjia benar-benar merasa, Dunia ini tidak akan memberi ruang untuk kesalahan. Sekecil apa pun.