karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jurus Pisau Terbang
Lin Xue yang melihat Han Le mendekati pertarungan dua formasi itu segera menarik tangan han le
" Jangan kesana bisa bisa kita kena serangan nyasar!" Seru Lin Xue sambil mengajak Han Le kembali duduk di tempat bersemedi
" Bukan begitu LIn , aku sudah pulih, dan aku ingin membalaskan dendam ini dengan tangan ku sendiri" sahut Han Le
" Kau yakin?" tanya Lin xue tak percaya tadi saja ia sudah melihat Han Le terluka
" Tenang saja aku tak akan berlaku nekat" ucap Han Le, ia berdiri dan melesat ke tengah pertarungan barisan ang sengit itu
" Berhenti!" raung Han Le.
" Traaang"
" Traaaang"
" Traaaang
dengan belati Meteor di tangannya han Le masuk , para tetua Kaypang dengan cepat menghentikan serangan namun pendeta Dalai lama malah menyerang han Le, bagi mereka ini kesempatan membinasakan Han Le, Han Le menangkis dengan belati Meteornya
Akibatnya senjjata para Pendeta Dalai lama terpapas kutung oleh Belati Meteor milik Han Le
" Hati hati Senjata di tangannya bukan senjata biasa!" seru Lobsyang Hyano memperingatkan
" Gunakan Liong Ru Jue!" teriak mereka , dan langsung membentuk barisan barisan
Han Le juga bersiap, ia bergerak dengan jurus Pedang terbangnya,
Hiaaaaat
Pendeta Dalai lama yang berada di depan menghentakan kedua tangannya
Wush
Angin santar yang panas keluar dari telapak tangan nya
Han le tak menangkis serangan yang penuh kekuatan gabungan itu, ia mengelak dan menyerang bagian tengah barisan itu
Wuuut
dari arah samping sebuah cakram melesat berusaha menggagalkan serangan han Le, rupanya satu pendeta yang menjaga Lobsyang Hyano melemparkan dua senjata miliknya menggagalkan serangan Han le , karena ia tak menduga Han Le mengetahui titik lemah kekuatan Barisan mereka karena itu dengan panik dan melemparkan cakram miliknya ke arah Han Le. Cakram-cakram itu terbang berputar dengan suara mendengung yang memekakkan telinga, meluncur dari dua sudut yang berbeda untuk memenggal leher Han Le.
Han Le yang konsentarasinya sedang terarah pada Batisan Liong Ru Jue, tidak sempat menghindar dengan sempurna. Dalam keadaan genting itu, tangannya yang memegang Belati meteor mengibaskan belatinya
SYUUT!
Belati itu melesat menyambut cakram yang terbang ke arah Han Le
TING! TING!
Dua cakram baja itu hancur berantakan saat bersentuhan dengan Belati Meteor, tetapi Belati itu tidak berhenti, ia terus meluncur menembus bahu pendeta itu dan juga memapas lengan Lobsang Hyano, sebelum akhirnya kembali ke tangan Han Le seperti ditarik oleh benang tak terlihat.
"Aaghh!" Lobsyang dan pendeta itu menjerit kesakitan, pendeta itu memegangi bahunya yang terluka sedangkan Lobsang Hyano kehilangan lengan kanannya
" Hui To ( Pisau terbang)!" Para tetua Kaypang termasuk Tetua Lu dan juga para pendeta Dalai Lama kaget melihat serangan belati Han Le apalagi melihat Belati itu kembali ke tangan Han Le kembali
Han Le berdiri tegak dengan napas yang sedikit memburu. Belati Meteor di tangannya berkilau aneh, memantulkan cahaya bulan.
Lobsang Hyano , yang masih bernapas meskipun sekarat, menatap Han Le dengan mata membelalak.
" Darimana kau dapatkan ilmu itu!? " serunya menatap tak Percaya
" Kuil Shaolin! kini saatnya kalian membayar hutang beserta bunganya"seru han Le
" Cepat kau habisi dia!" Lobsang Hyano ketakutan dan memerintahkan Para adik seperguruannya agar segera membunuh Han Le
" Hiaaaaat"
Kini keempat Pendeta Dalai Lama itu mulai membentuk barisan lagi, kini di tangan mereka masing masing memegang Cakram di lengan kiri sedangkan lengan kanan menempel di punggung pendeta yang ada di depannya
" Taring Naga!" teriak Lobsang memberi aba aba sambil memegang lengannya yang buntung.
Wuus
Berbeda dengan gerakan pertama , para pendeta itu kini bergerak dengan cepat memutari Han Le
Syuut
Traaang
dari kepungan pendeta yang berlari memutari Han Le dengan kecepatan tinggi, satu cakram tiba tiba mencuat dan menyerang Han Le, han Le menangkis cakram itu,
namun dari sisi lain kembali mencuat menyerang Han le
Sriiing
cakram itu berputar dengan kecepatan tinggi, mengarah ke kepala Han Le
wuush
Traaang
kembali Han Le menangkis , selama beberapa waktu Han le hanya bisa menangkis cakram cakram itu
" Aku harus mengakhiri barisan ini kalau tidak aku bisa kehabisan tenaga" Gumam Han Le yang menyadari cara gerak Barisan ini untuk membuatnya kelelahan
" Hiaaaat" Han le mengerahkan sebagian besar tenaga dalam nya ke kedua kakinya, lalu ikut berlari mengikuti pergerakan Para Pendeta lama, saat gerakannya menyamai ia kini bisa melihat satu persatu lawannya yang yang sedang berlari
" Hati hati !" pendeta Dalai lama yang melihat itu menjadi kaget, namun terlambat Han Le sudah menggerakan Belati Meteornya
SYuuuuut
Craaaash
Craaaash
Aaaaaargh
Aaaaaargh
Dua pendeta tersungkur dan tewas setelah belati meteor Han Le memotong leher mereka dengan cepat, dua pendeta yang di belakang tak menyadari temannya sudah tewas, dan terus berlari
braak
gabruk
keduanya tersungkur saat lari mereka terhalang mayat kedua temannya sendiri
dengan mata terbelalak mereka menatap mayat kedua temannya yang sudah menjadi mayat dalam satu serangan
"Pergi!" dengan gerakan cepat mereka melompat dan berlari menjauh
" Tidak semudah itu !" Geram Han Le yang melihat kedua pendeta itu melarikan diri
Syuuut
Belati Meteor di tangan Han Le melesat mengejar kedua pendeta yang melarikan diri
slash
slash
Aaaaaargh
aaaaaaaa
Kedua pendeta itu menjerit sambil memegangi leher mereka, dendam Han Le sudah merasuk ke dalam sumsumnya ia tak akan pernah mengampuni mereka
" Kau jangan mendekat!?" Lobsang Hyano yang melihat Han Le berjalan mendekat berteriak ketakutan.
Han Le berjalan mendekati Lobsang. Ia menatap mantan penyiksanya itu dengan tatapan dingin.
" Apa kau ingat siapa aku!?" Tanya Han Le pelan di dekat Lobsang
Lobsang menatap wajah Han Le dengan seksama lalu menggelengkan kepala, ia benar benar baru bertemu dengan Han Le hari ini
" Pulau bangau, apa kau ingat dengan anak kecil yang kau bawa dan kau siksa di kapal itu!" UCap Han Le sambil menatap tajam ke arah Lobsang Hyano
" Kau kau anak dari Jawa Dwipa?" lobsang tergagap saat mendengar ucapan Han Le , ia memperhatikan lagi wajah Han Le tetapi yang ia lihat wajah asli pribumi Tiongkok
" Tidak, tidak mungkin anak itu telah tewas terjatuh di Ngarai Kali Gandaki"Ucap Lobsang Hyano tak percaya
" kini saatnya kau merasakan apa yang pernah kurasakan saat berada di kapal" ucap Han Le, ia mengangkat tangannya lalu melakukan totokan penghancur tenaga dalam agar Lobsang tidak bisa lagi melakukan kejahatan di masa depan.
" Kau akan mati tersiksa Han Le , Guruku pasti akan mencarimu untuk menuntut balas!" raung Lobsang Hyano saat merasakan tenaga dalamnya seperti udara di balon yang bocor
" Menagapa kau membiarkan dia hidup Han Le?" tanya Lin Xue heran , empat pendeta yang lain di binasakan dengan kejam
" biarkan ia menderita, aku yakin selama ini perbuatannya banyak menyakiti orang lain, biarkan mereka mengetahui dan membalaskan dendam mereka" sahut Han Le , Lin Xue terdiam
" Anak Muda, bisa kami berbicara dengan mu?" Tetua Lu berjalan mendekati Han Le dan Lin Xue
" Eh , Locianpwe, maaf aku tak sopan dan terima kasih sudah menolong kami" Han Le membungkukan badan sebagai rasa hormat pada yang tua dan rasa terima kasihnya
" Jangan sungkan, perkenalkan Aku Tetua Lu, ini tetua Sima, dan ini tetua Liu kami dari kaypang" tetua Lu memperkenalkan diri mereka
" Boanpwe, Han Le , dan ini Lin Siocia tetua" Han le menyebutkan namanya pada ketiga tetua Kaypang itu
" Panggil paman saja, Aku ingin bertanya, apa kau mengenal Tetua Han An?" tanya Tetua Lu sopan
" Kakek Han An, Pengemis Selatan, apa kakekku mempunyai masalah dengan kalian, aku akan menanggung kesalahannya" seru han Le cepat
" Bukan , Kami sedang mencarinya karena sebentar lagi ada pemilihan ketua Kaypang" sahut tetua Lu cepat agar Han Le tak salah paham
" dulu aku pernah bertemu di kaki gunung himalaya perbatasan Nepal, tetapi sekarang aku juga tak tahu kakek berada di mana?' sahut Han Le, karena setelah berpisah ia tak penah bertemu lagi, apalagi Kakek Han An yang mempunyai ilmu samaran yang lebih hebat dari Han Le karena Han Le juga mempelajari ilmu itu dari Kakek An
" Maaf berbincang di tempat seperti ini rasanya tak pantas paman, bagaimana jika kita ke kota Siangyang nanti bisa berbicara puas di rumahku" Saran Lin Xue
" Eh Iya, kita ke kota dulu masih banyak waktu untuk kita mengobrol" sahut Tetua Lu
" Iya , mari paman" Han Le mempersilahkan tiga tetua Kaypang itu berjalan duluan sedangkan ia bersama Lin Xue beriringan di belakang