NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Pagi itu, aroma rumah sakit yang steril terasa lebih menyesakkan bagi Dika. Dokter baru saja menyelesaikan visit dan melepas plester bekas infus di tangan Dinda. Secara fisik, Dinda dinyatakan cukup stabil untuk pulang, namun sorot matanya masih nampak kosong, seolah jiwanya tertinggal di pusara Dita.

"Kak, ayo kita pulang ke kontrakan saja," bisik Dika sambil mengemasi tas ransel mereka. "Aku sudah bicara dengan Pak RT, beliau bilang ada pekerjaan jaga malam di gudang beras. Gajinya cukup untuk kita makan sehari-hari. Kita nggak butuh bantuan pria itu, Kak. Kita mulai dari nol, tolong..."

Dinda menatap adiknya dengan tatapan yang sangat lelah. Ia memegang tangan Dika yang kasar karena kerja keras. "Dika... Kakak sudah lelah. Kakak sudah tidak punya kekuatan lagi untuk memulai dari nol di gang sempit itu."

"Tapi Kak—"

"Dengar, Dika," potong Dinda, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Ini bukan cuma soal kita. Ini soal Ayah. Apa kamu mau Maheswara Group selamanya terkubur sebagai perusahaan gagal? Apa kamu mau rumah tempat kita tumbuh besar dihuni oleh orang asing? Kakak melakukan ini demi mengembalikan apa yang seharusnya milikmu. Lakukan ini untuk Ayah, Dika. Tolong..."

Dika terdiam. Nama mendiang ayahnya selalu menjadi kelemahan terbesarnya. Ia mengepalkan tangan, menahan amarah yang bergejolak. "Aku benci ini, Kak. Aku benci harus melihat Kakak menyerahkan diri pada singa itu demi sebuah gedung dan nama perusahaan."

"Anggap saja ini penebusan untuk Dita yang tidak sempat merasakan kemewahan lagi di akhir hayatnya," bisik Dinda pedih.

Pintu ruangan terbuka. Alan melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna. Wajahnya nampak sedikit lebih lembut saat menatap Dinda, namun seketika mengeras saat melihat Dika.

"Mobil sudah siap di bawah. Semua administrasi sudah beres," ucap Alan singkat.

Dika menyambar tasnya dan berjalan mendahului mereka tanpa sepatah kata pun. Sepanjang jalan menuju parkiran, Dika tetap menjaga jarak. Saat di dalam mobil mewah Alan, Dika memilih duduk di kursi depan di samping sopir—posisi yang ia ambil hanya agar tidak perlu duduk bersebelahan dengan Alan di kursi belakang.

Alan mencoba bersikap baik. Ia mengulurkan botol air mineral pada Dika. "Minumlah, perjalanannya sedikit jauh."

Dika hanya menatap botol itu dengan pandangan jijik sebelum membuang muka ke arah jendela. Ia tidak membalas, tidak juga menyentuh pemberian Alan. Alan hanya menghela napas panjang, menyadari bahwa menaklukkan hati Dika akan jauh lebih sulit daripada mengakuisisi perusahaan mana pun.

**

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang sangat familiar. Dinda menahan napas. Ia menempelkan telapak tangannya di kaca mobil. Jantungnya berdegup kencang saat melihat pilar-pilar putih besar yang dulu menjadi tempatnya bermain petak umpet bersama Dika dan Dita.

"Mansion Maheswara..." gumam Dinda, air matanya mulai menetes.

Dika pun tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya. Ia turun dari mobil dan menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Rumah ini sempat disita bank sepuluh tahun lalu, lalu kabarnya terjual ke tangan kolektor properti misterius—yang ternyata adalah kaki tangan paman Alan.

Begitu pintu utama dibuka, Dinda menangis sesenggukan. "Tidak ada yang berubah... Dika, lihat! Lukisan Ayah dan Ibu masih di sana."

Meskipun sempat kosong bertahun-tahun, rumah itu kini nampak sangat bersih. Alan telah mengerahkan puluhan pekerja untuk membersihkannya dalam satu malam, memastikan debu-debu masa lalu tidak mengganggu kesehatan Dinda. Perabotan jati milik ayahnya, piano tua di sudut ruangan, bahkan foto keluarga mereka masih tertata di tempat yang sama.

"Aku membelinya kembali secara utuh, lengkap dengan isinya," ucap Alan yang berdiri di belakang Dinda. "Pemilik sebelumnya hanya menjadikannya aset investasi, jadi tidak ada yang berani mengubah satu pun tata letak di sini."

Dinda mengelus permukaan meja makan panjang tempat mereka dulu sering merayakan ulang tahun. "Kenapa Tuan melakukan ini?"

"Karena aku ingin kau merasa pulang, Dinda," jawab Alan lirih.

Dika masuk ke dalam rumah dengan langkah yang berat. Ia menyentuh bingkai foto kecil di atas meja console—foto mereka bertiga saat masih kecil, mengenakan baju kembaran. Di sana ada Dita yang tersenyum lebar.

Dika menoleh pada Alan, matanya masih memancarkan permusuhan yang murni. "Jangan pikir dengan mengembalikan rumah ini, aku akan memanggilmu 'kakak ipar' dengan tulus. Kamu mengembalikan rumah ini dengan harga yang sangat mahal: penderitaan kakakku."

"Aku tahu, Dika. Dan aku tidak mengharapkan pengampunanmu dalam waktu dekat," sahut Alan tenang. "Sekarang, bawalah kakakmu ke kamarnya. Dia butuh istirahat."

Dika menuntun Dinda menuju lantai dua. Setiap anak tangga yang mereka pijak membawa kembali memori-memori indah yang kini terasa menyakitkan karena Dita tidak ada di sini untuk menikmatinya.

Setelah Dinda beristirahat di kamarnya yang sudah rapi, Dika duduk di balkon rumah, menatap halaman luas yang dulu menjadi tempat Dita mengejar kupu-kupu. Ia mengeluarkan buku harian Dita dari tasnya.

"Dita, kita sudah di rumah sekarang. Tapi rasanya sepi sekali tanpa kamu," bisik Dika pada angin.

**

Setelah makan siang yang disajikan dengan sempurna oleh asisten rumah tangga yang telah disiapkan Alan, suasana di ruang makan mewah itu terasa kaku. Dika duduk dengan punggung tegak, hanya menyentuh sedikit makanannya seolah setiap suapan adalah racun yang berasal dari harta Alan. Dinda sendiri hanya mengaduk-aduk porsinya, matanya terus melirik ke arah kursi kosong yang biasanya diisi oleh tawa renyah Dita.

Alan meletakkan serbetnya, lalu menatap Dinda dengan intensitas yang membuat udara di ruangan itu mendadak berat.

"Aku harus kembali ke mansion utama sebentar," ucap Alan memecah kesunyian. "Istirahatlah. ART dan satpam di sini akan memenuhi semua kebutuhan kalian. Kalian aman di sini."

Alan berdiri, lalu melanjutkan dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Besok... adalah hari pernikahan kita. Aku sudah menyiapkan semuanya. Penghulu dan saksi akan datang ke sini pukul sepuluh pagi. Sederhana, hanya kita."

Dinda tersentak, sendok di tangannya berdenting menghantam piring porselen. "Besok? Tuan, bukankah ini terlalu cepat? Dita baru saja..."

"Lebih cepat lebih baik, Dinda," potong Alan, matanya berkilat penuh obsesi yang tertutup ketenangan. "Semakin cepat kau menjadi istriku secara sah, semakin cepat pula pengacara memproses balik nama aset Maheswara padamu. Aku memegang janjiku."

Dika membanting garpunya ke meja. "Kamu benar-benar tidak punya empati, ya? Adikku baru saja dikubur, dan kamu sudah memikirkan pesta pernikahan?"

"Bukan pesta, Dika. Hanya legalitas," sahut Alan dingin sambil melirik Dika. "Jika kau ingin kakakmu tenang, biarkan ini terjadi sesuai rencana. Sampai jumpa besok."

***

Satu jam kemudian, Alan melangkah masuk ke mansion utama Ryuga. Atmosfer di sana jauh lebih dingin. Nyonya Sofia sudah menunggunya di ruang tengah, duduk di singgasana kebesarannya dengan wajah yang mengeras.

Alan berdiri di hadapan ibunya, tangannya masuk ke saku celana. "Aku datang untuk berpamitan, Ma. Besok aku akan menikah dengan Adinda."

Sofia berdiri seketika, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. "KAU GILA, ALAN! Menikahi buruh pabrik itu? Apa yang akan dikatakan kolega bisnis kita? Kau menghancurkan reputasi yang dibangun Ayahmu selama puluhan tahun!"

"Ayah membangun reputasi itu di atas darah orang lain, Ma. Aku hanya mencoba menyeimbangkannya," jawab Alan dengan nada sarkasme yang tajam.

"Mama tidak akan merestui ini! Mama tidak akan datang, dan Mama tidak akan mengakui wanita itu sebagai menantu di rumah ini!" teriak Sofia, suaranya melengking memenuhi aula mansion.

Alan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak butuh restu Mama untuk menikahinya. Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalanku sendiri. Dan soal pengakuan... Mama tidak punya pilihan. Dia akan tetap menjadi Nyonya Allandra Ryuga, dengan atau tanpa kehadiran Mama besok."

Sofia terengah-engah karena marah. "Kenapa kau begitu keras kepala pada gadis itu? Apa istimewanya dia?!"

"Dia adalah segalanya yang tidak dimiliki keluarga ini, Ma. Kejujuran dan ketulusan," ucap Alan sebelum berbalik pergi.

Sofia menatap punggung putranya dengan dendam yang membara. Ia masih belum menyadari bahwa Dinda adalah putri kandung Mahesa—pria yang ia dan suaminya hancurkan sepuluh tahun lalu. Ia hanya menganggap Dinda sebagai gadis miskin yang menggoda anaknya. Jika ia tahu siapa Dinda sebenarnya, Sofia mungkin akan melakukan hal yang lebih mengerikan daripada sekadar tidak datang ke pernikahan.

***

Di Mansion Maheswara, malam terasa begitu panjang. Dika masuk ke kamar Dinda, mendapati kakaknya sedang duduk di depan meja rias tua milik ibu mereka, menatap pantulan dirinya yang nampak asing.

"Kak... apa benar-benar tidak ada jalan lain?" tanya Dika lirih, bersandar di pintu.

Dinda menoleh, mencoba tersenyum meski matanya sembab. "Ini jalan yang paling aman untukmu, Dika. Besok, setelah pernikahan ini, rumah ini akan resmi jadi milik kita lagi. Kamu tidak perlu takut diusir, kamu bisa kuliah dengan tenang."

"Tapi Kakak akan terikat selamanya dengan dia," Dika mendekat, berlutut di samping kakaknya. "Aku merasa seperti menjual Kakak untuk mendapatkan rumah ini."

Dinda mengusap pipi Dika. "Jangan pernah berpikir begitu. Kakak yang memilih ini. Anggap saja Kakak sedang menjalankan tugas untuk mengembalikan kejayaan Ayah. Kamu harus kuat, Dika. Belajarlah yang rajin, rebut kembali Maheswara Group dari dalam. Itu satu-satunya cara agar pengorbanan Kakak tidak sia-sia."

Malam itu, mereka berdua tidur di ranjang yang sama, seperti saat mereka masih kecil ketika takut pada petir. Di bawah atap rumah yang penuh kenangan itu, mereka mencoba mencari kekuatan untuk menghadapi hari esok—sebuah hari pernikahan yang tidak diawali dengan cinta, melainkan dengan air mata dan perjanjian hitam di atas putih.

Dinda menatap langit-langit kamar, berbisik dalam hati: "Dita, doakan Kakak kuat besok. Maafkan Kakak jika harus berbagi hidup dengan pria yang menyebabkan kita menderita. Ini demi Abangmu, demi masa depan kita."

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!