NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Mereka sedang berjalan ke sisi barat bangunan ketika Pak Arman menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Bu Elena." Nadanya berubah. "Ada sesuatu yang perlu Ibu lihat."

Elena menoleh.

Pak Arman membawanya ke salah satu kolom di area fondasi barat, kolom yang seharusnya sudah dicor minggu lalu tapi sampai hari ini belum selesai. Lebih dari itu ada sesuatu yang tidak beres dengan material yang digunakan.

Elena berlutut memeriksa fondasi itu. Tangannya menyentuh permukaannya. Lalu ia berdiri dan menatap Pak Arman dengan ekspresi yang berubah.

"Material ini bukan yang ada di spesifikasi."

Pak Arman mengangguk dengan wajah yang tidak nyaman. "Iya, Bu. Supplier bilang pengiriman material sesuai spesifikasi tapi waktu kami cek di lapangan...."

"Siapa yang approve pergantian material ini?"

"Itu yang sedang kami cari tahu, Bu. Tidak ada yang merasa approve. Tapi material ini sudah terlanjur masuk."

Elena berdiri tegak. Matanya menyapu area itu sekali, menghitung berapa banyak kolom yang terdampak, berapa besar kerugian kalau ini tidak segera ditangani.

Leon berdiri di belakangnya mendengarkan semuanya.

"Ini bukan kecelakaan." Elena berkata pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada Pak Arman. "Material sebesar ini tidak masuk tanpa ada yang mengizinkan."

"Kamu curiga ada yang menyabotase?" Leon bertanya dengan suara yang sama pelannya.

Elena tidak menjawab langsung. Tapi ada sesuatu di matanya yang bergerak, sesuatu yang menyimpan pertanyaan itu untuk dipikirkan nanti di tempat yang lebih tenang.

"Pak Arman," katanya. "Hentikan semua pengecoran di area barat sampai material ini diperiksa ulang. Aku mau laporan lengkap tentang bagaimana material ini bisa masuk ke lokasi sebelum besok siang."

"Baik, Bu."

"Dan jangan ada yang keluar masuk area ini sampai pemeriksaan selesai."

Pak Arman mengangguk cepat dan langsung bergerak.

Elena berdiri diam sebentar menatap kolom yang bermasalah itu.

Leon berdiri di sampingnya. Tidak bicara lagi, hanya diam menemani Elena.

Mereka sedang berjalan kembali ke kontainer lapangan ketika suara klakson mobil terdengar dari arah gerbang.

Elena tidak langsung menoleh.

Tapi kemudian suara itu terdengar, suara yang ia kenal, yang selalu membuat sesuatu di dalam dirinya mengencang bukan karena takut tapi karena lelah.

"Elena!"

Adrian berdiri di dekat gerbang proyek dengan kemeja yang tidak rapi, rambut yang tidak tersisir, mata yang merah dengan cara yang menunjukkan bahwa malam sebelumnya tidak ia habiskan dengan tidur. Di belakangnya Clara berdiri dengan blazer hitamnya dan senyum yang terpasang, senyum yang Elena sudah tahu artinya.

Para pekerja di sekitar mereka mulai memperhatikan.

Elena berhenti berjalan. Leon yang berjalan di sampingnya juga berhenti.

Adrian melangkah masuk ke area proyek dengan langkah yang tidak stabil, mata yang langsung menemukan Elena lalu bergeser ke Leon lalu kembali ke Elena dengan cara yang sangat jelas apa yang sedang ia pikirkan.

"Jadi ini yang kamu lakukan." Adrian berkata dengan suara yang sudah naik satu nada bahkan sebelum ia sampai di depan Elena. "Pergi ke sini berdua pagi-pagi."

"Adrian." Elena berkata dengan nada yang datar. "Ini area proyek. Kamu tidak bisa masuk tanpa izin."

"Aku tidak butuh izin untuk menemui istriku sendiri...."

"Kamu butuh izin untuk masuk area konstruksi." Elena memotong. "Ini bukan soal aku. Ini soal keselamatan."

Adrian berdiri di depannya sekarang, cukup dekat untuk Elena bisa melihat jelas matanya yang merah dan napasnya yang tidak teratur. "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di sini? Kamu pikir aku bodoh?"

"Adrian, kamu tidak memakai helm." Elena berkata tenang. "Kalau kamu mau bicara tunggu di luar gerbang."

"Jangan alihkan pembicaraan!" Adrian meninggikan suaranya. Beberapa pekerja sudah berhenti bekerja dan mulai memperhatikan. "Belum resmi cerai sudah kesana kemari sama laki-laki lain! Apa kamu tidak malu!"

"Adrian." Suara Leon keluar, rendah, tapi cukup untuk membuat Adrian berhenti di tengah kalimatnya.

Leon berdiri tenang di samping Elena dengan helm masih di kepalanya, ia tidak marah, tidak dramatis, hanya berdiri dengan cara yang menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi dari sana.

Adrian menatap Leon. Sesuatu di matanya berubah, kecemburuan yang sudah mendidih sejak Clara berbisik di telinganya dalam perjalanan semakin tidak terkendali.

"Kamu!" Adrian menunjuk Leon, dengan mata gelapnya. "Kamu terus muncul di sekitar istriku! kamu berniat merebut istri orang, hah!"

"Aku investor di proyek ini." Leon menjawab dengan nada yang sangat datar. "Dan ini jam kerja."

"Investor." Adrian tertawa, tawa yang tidak ada lucunya. "Investor yang pergi site visit berdua sama istri orang."

"Adrian cukup." Elena melangkah satu langkah ke depan menempatkan dirinya di antara Adrian dan Leon, bukan karena ia butuh dilindungi tapi karena ini urusannya dan ia tidak akan membiarkan orang lain menyelesaikannya untuknya. "Kamu mau bicara apa sebenarnya?"

Adrian menatapnya. Matanya bergerak-gerak, penuh dengan sesuatu yang terlalu banyak dan terlalu tidak teratur untuk bisa disebut satu perasaan saja. "Aku tidak akan tanda tangan surat cerai itu selama kamu terus dekat dengannya."

"Kamu tidak punya hak untuk mengatur apa yang aku lakukan, Adrian. Kamu kehilangan hak itu sejak lama." Elena mulai jengah dengan sikap Adrian.

"Aku suamimu!"

"Di atas kertas." Elena berkata. "Hanya di atas kertas. Dan itu pun karena kamu yang tidak mau tanda tangan."

Adrian membuka mulutnya lagi tapi di belakangnya Clara menyentuh lengannya pelan, sentuhan yang terlihat seperti menenangkan tapi Elena tahu bukan untuk itu.

"Adrian sayang." Suara Clara lembut seperti biasa. "Mungkin ini bukan waktu yang tepat."

"Jangan halangi aku!" Adrian menepisnya tanpa melihat ke arahnya, untuk kedua kalinya Clara ditepisnya di depan orang banyak tanpa ia sadari.

Wajah Clara tidak berubah. Tapi tangannya turun ke sisinya dengan cara yang sangat terkontrol.

Elena melihat itu. Lalu Elena menatap Adrian untuk terakhir kalinya pagi itu, menatap dengan cara yang tidak marah, tidak lelah, tidak apapun yang bisa Adrian gunakan sebagai bahan bakar untuk melanjutkan pertengkaran ini.

"Pak Arman." Elena memanggil supervisornya tanpa memalingkan pandangannya dari Adrian.

Pak Arman yang sudah berdiri tidak jauh dari sana mendekat. "Bu?"

"Tolong pastikan tamu tanpa helm dan tanpa izin ini keluar dari area proyek." Elena berkata dengan nada yang sama datar dan profesionalnya seperti saat ia meminta laporan harian tadi. "Dan catat bahwa ada pelanggaran keamanan hari ini."

Pak Arman mengangguk. "Baik, Bu."

Adrian menatap Elena, menatap dengan semua yang ada di matanya yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata, yang bahkan jika ia ucapkan tidak akan mengubah apapun. Lalu ia menatap Leon sekali lagi karena merasa tidak enak dan malu atas keributan yang terjadi.

Lalu ia berbalik dan berjalan ke arah gerbang.

Clara mengikutinya dengan langkah yang terukur, dengan punggung yang tegak, dengan senyum yang kembali terpasang sebelum ia sampai di gerbang.

Tapi matanya sempat melirik ke area proyek yang bermasalah di area barat, hanya sekejap, sebelum ia keluar dari gerbang.

Elena melihat lirikan itu. Dan sesuatu di dalam kepalanya mulai menyusun potongan-potongan yang selama ini belum terhubung.

Area proyek kembali bekerja seperti biasa, mesin berputar lagi, para pekerja kembali ke posisi masing-masing, suara bor dan dentang besi mengisi udara lagi seolah tidak ada yang terjadi sepuluh menit lalu.

Elena berdiri diam sebentar di tengah semua kebisingan itu. Leon berdiri di sampingnya.

"Material yang bermasalah di area barat." Elena berkata pelan, lebih seperti berpikir keras. "Sepertinya memang ada yang sabotase."

Leon tidak langsung menjawab. Ia menatap gerbang proyek yang sudah tertutup kembali.

"Kamu punya nama supplier material itu?" tanya Leon akhirnya.

Elena menoleh ke arahnya.

"Belum." Ia menjawab. "Tapi akan aku cari tahu."

Leon mengangguk sekali. "Kabari aku kalau sudah ada."

Elena menatapnya sebentar, lelaki yang pagi ini berdiri di sampingnya di tengah debu proyek dan drama yang tidak ia undang, yang tidak pergi, yang tidak banyak bicara tapi selalu ada di tempat yang tepat di waktu yang tidak terduga.

"Leon." Elena memanggil sebelum ia sempat berjalan.

Leon menoleh.

"Terima kasih." Elena berkata.

Leon menatapnya sebentar dengan cara yang tidak bisa langsung dibaca.

"Kamu tidak perlu terus berterima kasih untuk semua hal." Ia berkata akhirnya.

"Hal yang berbeda." Elena mengoreksi pelan.

Leon diam sebentar. Lalu ia mengangguk, anggukan kecil yang tidak perlu diterjemahkan.

Dan mereka berjalan kembali ke kontainer lapangan untuk menyelesaikan apa yang memang harus diselesaikan hari itu.

1
Lee Mbaa Young
pelakor memang bgitu lbih galak, mau bangkrut masih sombong ngancam. gk pernh tau rasanya hidup miskin dan kehilangan anak sih si Clara.
Lee Mbaa Young
Yup tinggal nunggu karma kalian saja, karma tak Semanis kurma tentunya
Ma Em
Benci banget sama si Adrian , harusnya Alena jgn buka identitas nya dulu bahwa Alena putrinya tuan Wirawan agar Adrian langsung mau tanda tangan untuk perceraian Alena dgn Adrian , sekarang Adrian sdh tau status Alena putri dari tuan Wirawan ya otomatis Adrian tdk akan mau melepaskan Alena karena Alena anak orang kaya .
sunaryati jarum
Adrian hanya ingin dompleng nama besar Hana,di depan Clara katanya hanya ada dia.
arniya
bakal ada persaingan.....,
sunaryati jarum
Belum jadi janda sudah dapat perhatian dari dua pria pebisnis handal
sunaryati jarum
Jangan memanasi hati yang baru mulai hangat
sunaryati jarum
Kehancuran Clara dimulai
sunaryati jarum
Pasti Clara yg bilang
Ovha Selvia
Jgn sampai elena kalah sama clara dan adrian.. Clara padahal org ketiga alias pelakor, tapi seperti istri sah aja yg merasa tersaingi dgn kembalinya elena. Dia yg merebut adrian, tapi knp dia juga yg benci & dendam ke elena. Kemungkinan yg sabotase itu clara deh, tapi lets see 🤔🤔
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!