Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
“Baiklah, saya mengerti,” jawab Liora pelan, berusaha tetap profesional meski suasana terasa aneh. Ia sedikit menunduk. “Kalau tidak ada urusan lagi, saya kembali ke kamar dulu.”
Nathan tidak menahannya. Ia hanya berdiri di tempat, menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh hingga pintu tertutup.
Sunyi.
Tatapannya tetap tertuju ke arah pintu, sorot matanya perlahan berubah lebih dalam. "Calista… kali ini aku akan melindungimu setiap saat," batinnya, "Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Mungkin… memang lebih baik kalau ingatanmu tidak pernah kembali."
***
Malam semakin larut.
Pukul 01.00.
Di dalam kamar, Liora terbangun. Ia menatap langit-langit beberapa saat, gelisah tanpa alasan yang jelas. Setelah menghela napas pelan, ia akhirnya bangkit dan berjalan keluar kamar.
Koridor sepi.
Langkahnya ringan saat menuju dapur, yang hanya diterangi lampu kecil berwarna kekuningan. Suasana terasa sunyi… hampir terlalu sunyi.
Liora mengambil gelas, lalu menuangkan air. Suara air yang mengalir menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu.
Namun tiba-tiba—
Gerakannya terhenti.
Tatapannya kosong.
Sebuah bayangan mendadak menyeruak di benaknya.
Seorang pria paruh baya… wajahnya samar, namun aura mengerikannya begitu nyata. Tangan pria itu mencengkeram lehernya kuat, menekan napasnya hingga sesak. Tubuhnya didorong ke atas kasur, tak berdaya.
Liora tidak mengenal pria itu.
Namun rasa takutnya… terasa begitu nyata.
Di saat yang sama, Nathan yang turun dari lantai atas menangkap pemandangan itu. Ia melihat Liora berdiri kaku di dapur, gelas di tangannya masih diisi air yang hampir meluap.
“Liora…” panggilnya pelan, langkahnya otomatis mempercepat.
Namun sebelum ia sampai....
Gelas itu terlepas.
Prang!
Pecah di lantai, serpihannya berserakan ke segala arah.
Liora tersentak, tersadar dari bayangan itu. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi.
Nathan sudah berada di dekatnya. “Liora!” serunya lebih tegas, langsung meraih tangannya untuk menjauhkan dari pecahan kaca.
Liora menoleh, masih sedikit linglung. “Tuan Han… maaf, aku tidak sengaja,” ucapnya cepat, meski suaranya terdengar bergetar.
“Jangan sentuh serpihan kaca,” potong Nathan tanpa memberi ruang, tangannya masih menggenggam pergelangan Liora dengan kuat namun terkendali. Ia segera membawanya menjauh dari dapur menuju ruang tamu.
“Aku ingin membersihkannya dulu,” kata Liora refleks, mencoba menarik tangannya, masih merasa bersalah.
“Biarkan pembantu yang melakukannya,” jawab Nathan tegas, kini sudah duduk bersamanya di sofa.
Ia mengangkat tangan Liora, memeriksa telapak tangannya dengan cermat. “Lebih penting memastikan kau tidak terluka.”
Liora sedikit terdiam, lalu perlahan menarik tangannya. “Aku tidak apa-apa… terima kasih,” ujarnya pelan.
Nathan tidak langsung melepaskan tatapannya. Ia mengamati wajah Liora yang masih pucat, napasnya belum sepenuhnya stabil.
“Apa yang terjadi?” tanyanya akhirnya, nada suaranya lebih rendah, namun serius. “Kenapa wajahmu jadi pucat seperti itu?”
Liora menunduk sejenak, seolah mencoba merangkai kata. “Hanya… bayangan,” jawabnya pelan. “Tiba-tiba muncul. Aku tidak tahu siapa dia.”
Nathan langsung menangkap detail itu. “Pria atau wanita?” tanyanya cepat, matanya sedikit menyipit.
“Pria paruh baya,” jawab Liora tanpa ragu, meski suaranya masih mengandung sisa ketakutan. “Menakutkan… dan terasa sangat nyata.”
Nathan terdiam.
Tatapannya mengeras, rahangnya menegang samar.
"Jangan-jangan… itu James," batinnya, "Orang yang meninggalkan luka terdalam dalam hidupnya…"
Namun di luar, ekspresinya tetap tenang.
Terlalu tenang.
“Jangan dipikirkan lagi,” kata Nathan singkat.
Liora menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia mengangguk kecil. “Iya… saya tidak apa-apa,” jawabnya, meski sorot matanya masih menyisakan ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.
Nathan memperhatikannya beberapa detik lebih lama
—
Keesokan harinya.
Suasana kantor Nathan terasa dingin dan formal seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, namun tidak cukup untuk menghangatkan atmosfer di dalam ruangan itu.
Nathan berdiri di dekat meja kerjanya, sementara Marcus berdiri tidak jauh darinya. Di hadapan mereka, seorang pria dengan jas rapi duduk santai—Evan Liu.
“Nathan, ada apa denganmu? Tiba-tiba saja memanggilku ke sini,” tanya Evan, sedikit mengernyit, jelas heran karena jarang sekali Nathan meminta bantuannya secara langsung.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke arah jendela, lalu berkata tanpa menoleh, “Seseorang yang kehilangan ingatan akibat tenggelam di laut… apakah kemungkinan besar ingatannya akan kembali?”
Evan mengangkat alis, berpikir sejenak sebelum menjawab dengan nada profesional, “Tentu saja bisa. Dalam banyak kasus, ingatan yang hilang hanya tertekan, bukan benar-benar hilang. Cepat atau lambat, pasti akan kembali… entah melalui pemicu emosional atau kejadian tertentu.” Ia menatap Nathan lebih tajam. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Nathan tetap diam beberapa detik, lalu perlahan berbalik. Tatapannya dingin, namun kali ini ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya.
“Apakah ada cara… agar ingatannya tidak kembali?” tanyanya datar.
Ruangan langsung hening.
Marcus yang berdiri di samping bahkan sedikit menegang, sementara Evan benar-benar terkejut hingga tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Ha? Untuk apa melakukan itu?” tanya Evan.
“Kalau ingatannya kembali,” ujarnya perlahan, setiap katanya terdengar berat, “hidupnya akan hancur untuk kedua kalinya.”
Nathan melanjutkan, suaranya lebih rendah, “Kalau aku bisa memilih… lebih baik dia kehilangan ingatannya seumur hidup. Memulai dari awal. Hidup dengan ingatan baru, tanpa harus mengingat semua yang menyakitkan itu.”
“Kau sadar tidak dengan apa yang kau katakan?” ucap Evan serius. “Menghilangkan kemungkinan seseorang untuk mengingat masa lalunya… itu sama saja seperti mengambil bagian dari dirinya.”
Nathan tidak menjawab.
Evan melanjutkan, nadanya kini lebih tegas, “Ingatan bukan cuma tentang rasa sakit. Itu juga tentang identitas, tentang siapa dia sebenarnya. Kalau kau menahannya… kau tidak sedang melindunginya. Kau hanya menunda sesuatu yang pasti akan datang.”
Tatapan Nathan sedikit berubah, namun ia tetap diam.
“Dan lagi,” tambah Evan, “tidak ada cara aman atau etis untuk ‘mencegah’ ingatan kembali secara permanen. Kalau pun ada metode tertentu… risikonya besar, dan bisa merusak kondisi mentalnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik berlalu sebelum Nathan akhirnya berbicara, “Kalau begitu… bagaimana cara memperlambatnya?”
Evan langsung menggeleng. “Kau tidak bisa mengontrol itu sepenuhnya. Tapi…” ia berhenti sejenak, lalu menatap Nathan dalam-dalam, “kau bisa mengontrol lingkungan di sekitarnya.”
Nathan mengangkat sedikit alis.
“Maksudku,” lanjut Evan, “hindari pemicu—orang, tempat, atau kejadian yang berkaitan dengan masa lalunya. Semakin sedikit pemicu, semakin kecil kemungkinan ingatan itu muncul dengan cepat.”
"Itu artinya suatu hari nanti ingatannya akan kembali juga," gumam Nathan.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???