NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH PERASAAN

Sudah hampir dua bulan, Iqbal tak lagi mengganggunya. Tidak ada pesan. Tidak ada motor yang mondar-mandir. Bahkan dalam dua kali sidang perceraian—pria itu tak pernah muncul.

"Karena tergugat tidak hadir dan mediasi tidak dapat dilakukan, maka sidang ditunda!"

Suara palu hakim mengetuk, memantul dingin di ruang sidang.

Rani keluar dari gedung itu dengan langkah lebih ringan dari biasanya.

Namun tetap, ada sesuatu yang mengganjal.

"Apa Mas Iqbal benar-benar menyerah?" gumamnya pelan.

Tidak. Itu bukan Iqbal yang ia kenal. Rani menggeleng cepat, mengusir pikirannya sendiri.

Ia harus pulang. Sudah lebih dari tiga jam ia keluar rumah dengan alasan “sebentar”.

Jika Farhan curiga … semuanya bisa berantakan.

Mobilnya melaju lebih cepat dari biasanya.

Tangannya menggenggam setir kemudi erat, keringat dingin mulai muncul di pelipis.

"Akhir-akhir ini… Mas Farhan susah ditebak…" bisiknya dalam hati.

Ia memacu mobilnya kencang. Makan siang sebentar lagi, ia takut jika Farhan tiba-tiba pulang. Akhir-akhir ini, Rani tak bisa menebak hati suaminya.

Kadang Farhan lembut, kadang dingin bahkan acuh. Setiap ditanya alasannya, Farhan mengaku banyak pikiran. Tapi perhatian sang suami tetap hangat jika menyangkut Claudia dan Rafna.

Kendaraan berwarna merah itu sampai di depan gerbang. Ia membunyikan klakson panjang. Pintu gerbang terbuka secara otomatis.

Mata Rani melebar melihat mobil suaminya sudah terparkir rapi di dalam. Ia memasukkan kendaraanya hati-hati.

Rani gegas keluar dari mobilnya dengan wajah pucat. Sampai dalam kejutan lain ia terima, Farhan tengah memegang amplop putih tanpa nama pengirim.

"Mas ...!" Farhan yang hendak membuka amplop itu menoleh, kegiatannya berhenti seketika.

"Itu apa?" tanya Rani sedikit gelisah. Ia berjalan mendekat.

"Aku tak tau. Ini tidak ada nama pengirimnya ...," jawab Farhan.

"Dan Mas mau buka gitu aja? Mas yakin jika itu bukan barang yang ...," Rani menghentikan ucapannya.

Serasa tersadar, Farhan menjatuhkan begitu saja surat itu. Rani sedikit lega, walau ia tak tau isi dari amplop itu. Tapi ia yakin, jika itu bersangkutan dengan dirinya.

"Astaga, aku hampir saja ceroboh!" gumam Farhan pelan.

"Biar aku saja yang buang surat itu nanti ...."

"Kamu dari mana?" tanya Farhan yang membuat jantung Rani langsung berdegup kencang.

"Tadi aku mau ke salon. Tapi sampai salon langganan ternyata tutup. Jadi aku muter-muter ibukota," jawab Rani ngelantur dan tentu saja bohong.

Farhan tidak berkata apapun, ia hanya mengangguk. Rani benar-benar gelisah dibuatnya.

Seandainya Farhan marah… mungkin ia masih bisa membaca arah.

Tapi diam seperti ini… jauh lebih menakutkan.

"Mama, Ayah ... Assalamualaikum!"

Suara Claudia yang ceria meredakan situasi yang tadi sempat tegang.

"Waalaikumsalam, eh si cantik udah pulang. Bagaimana tadi apa kamu berbuat baik?" tanya Farhan lembut pada Claudia. Pria itu begitu cepat berubah, Rani bisa membaca semuanya.

"Tentu dong Ayah. Tadi aku nolongin temen aku yang kesulitan ikat tali sepatu karena tangannya di gips!" jawab Claudia ceria.

"Ah ... Masyaallah baiknya anak Ayah! Kamu juga nggak berbohong kan?"

Deg! Pertanyaan Farhan membuat Rani pucat. Seakan-akan pertanyaan itu untuknya. Sementara Claudia menggeleng kuat.

"Nggak dong Ayah. Kan Ayah ajarin aku nggak boleh bohong. Bohong itu dosa dan bisa buat Allah marah!" jawab Claudia polos.

"Anak pintar! Sana ganti baju. Sebentar lagi kita makan ayam bakar mentega sama sayur capcay!" suruh Farhan.

"Baik Ayah!" sahut Claudia patuh.

"Mas," panggil Rani pelan.

"Hemm?" Farhan hanya berdehem menyahutinya.

"Aku ganti baju dulu," ujarnya ketika mendapat respon acuh dari suaminya.

Rani menaiki anak tangga dengan kaki yang terasa seberat timah. Punggung Farhan yang masih berdiri di ruang tamu terasa seperti tembok es yang siap runtuh menimpanya kapan saja.

Begitu sampai di kamar, Rani langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya, napasnya memburu tak beraturan.

Matanya tertuju pada cermin besar di sudut ruangan—melihat pantulan dirinya yang tampak seperti pesakitan, jauh dari citra "Nyonya Farhan" yang biasanya angkuh.

"Mas Farhan tahu sesuatu... aku yakin dia tahu," bisiknya dengan bibir bergetar.

Rani segera mengganti pakaiannya dengan daster sutra rumahan yang lebih santai, mencoba menghapus jejak debu dari gedung pengadilan.

Ia memoles sedikit lip cream agar bibirnya tidak terlihat pucat pasi. Ia harus turun. Jika terlalu lama di atas, kecurigaan Farhan akan semakin mengental.

Di bawah, suasana meja makan tampak begitu normal, namun bagi Rani, ini adalah panggung sandiwara yang melelahkan.

"Bi Asih, Rafna sudah disuapi?" tanya Farhan sambil menata piring untuk Claudia.

"Sudah, Tuan. Tadi habis banyak, sekarang sedang main sama mainan barunya," sahut Asih dari arah dapur.

Rani duduk di kursinya, mencoba meraih sendok sayur. Tetapi, matanya tak sengaja melirik ke arah meja kecil di sudut ruang tamu.

Amplop putih itu masih ada di sana. Tergeletak bisu, namun seolah memiliki mata yang terus mengawasi Rani.

"Sayang, kok kamu ambil makakanmu sendiri?'

Prang! Sendok yang dipegang Rani jatuh akibat terkejut. Sebenarnya, Farhan tidak pernah mempermasalahkan jika Rani tak melayaninya. Tapi Rani melupakan hal itu.

"Maaf ... Maaf Mas. Aku ... Aku sedikit pusing jadi nggak fokus," jawabnya terbata.

Melihat wajah istrinya yang pucat membuat Farhan merasa bersalah. Tapi yang ia inginkan hanyalah kejujuran istrinya.

"Mama akhir-akhir ini seperti nggak ada jiwa deh!" sela Claudia tiba-tiba.

Farhan dan Rani terdiam, Farhan mencoba meredakan situasi. Ia tak mau anak terseret arus masalah orang tua.

"Ayo makan, Ayah tadi hanya menggoda ibumu Nak!" ucapnya sambil tersenyum.

"Ayah ... Aku udah mau sebelas tahun loh. Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja!" protes Claudia.

"Sayang, sudah ya. Kan anak Ayah nggak boleh membantah. Ini persoalan orang tua. Kamu sebagai anak hanya boleh mendoakan jika Ayah dan Mama sehat dan baik-baik saja!" ujar Farhan menenangkan Claudia.

"Jadi Claudia dilarang protes? Claudia nggak boleh bilang nggak suka perlakuan Mama yang akhir-akhir ini hanya sibuk dengan dirinya sendiri?"

Mata Claudia berkaca-kaca, ia sangat ingin ibunya seperti dulu. Yang selalu melindunginya, menyayanginya.

"Mama tau. Hanya Ayah loh selama ini yang perhatian sama Claudia. Mama tau kan kalau Claudia bukan anak Ayah!" suara gadis kecil itu tercekat.

"Sayang ... Kamu anak Ayah!" seru Farhan.

"Ayah ... Katanya nggak boleh bohong!" sahut Claudia yang membungkam Farhan.

"Jujur Ayah, jika Mama terus begini. Ayah pasti akan marah pada Mama ... Lalu Ayah akan usir Mama ... Seperti Papa dulu ...."

"Nak ...!" Farhan berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Claudia.

Suasana di ruangan itu mendadak hening. Ayam bakar mentega dan sayur capcay mendadak tidak lagi nikmat di mata Rani.

Tangisan kecil Claudia menambah pilu ruangan itu.

Bersambung.

Apapun kelakuan ayah dan ibu ... Anak pasti jadi korbannya.

Next?

1
gina altira
Rani beneran ga bersyukur
gina altira
untung ada Asih,
nurry
lanjut kak Maya 🙏💪❤️
nurry
betul betul betul 👍
vania larasati
lanjut kak
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
dasar Rani.. kena karma tahu rasa
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sepertinya perselingkuhan akan dimulai
Serli Ati
Farhan dengar keluhan bi asih jadi iba dan tersentuh hatinya selingkuh lagi dech.....ingat ya Farhan didunia ini tidak ada yg sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT
vania larasati
lanjut kak
Anita Barus: kelakuan Rani bikin emosi Farhan sabar banget y.
total 1 replies
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!