Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Siang hari itu matahari sudah cukup tinggi ketika bel pulang akhirnya berbunyi. Anak-anak kembali berhamburan keluar dari kelas dengan wajah riang. Sebagian langsung berlari menuju gerbang, sementara yang lain masih bercanda dengan teman-temannya.
Andin seperti biasa mulai merapikan dagangannya. Beberapa kotak makanan yang tersisa ia masukkan kembali ke dalam tas besar miliknya.
Namun baru saja ia menutup tas itu, sebuah suara kecil terdengar dari sampingnya.
“Mbak Andin!”
Andin menoleh.Darrel berdiri di sana dengan wajah cerah sambil membawa tas sekolahnya.
“Kok belum dijemput Daddy?” tanya Andin lembut.
Darrel menggeleng.
“Daddy bilang hari ini agak telat.”
Andin mengangguk pelan. “Kalau begitu tunggu di sini saja, ya. Jangan lari-lari.”
“Iya.”
Namun anak itu tidak pergi.
Ia justru duduk di kursi kecil dekat warung Andin sambil memperhatikan perempuan itu merapikan barang-barang.
Beberapa detik kemudian Darrel kembali bersuara.
“Mbak Andin.”
“Iya?”
“Darrel boleh bantu?”
Andin tersenyum kecil.
“Kamu masih kecil, nanti malah capek.”
“Tapi Darrel mau.”
Anak itu akhirnya membantu dengan caranya sendiri—memasukkan sendok plastik ke dalam kotak kecil, dan juga beberapa camilan yang tersisa ia masukkan ke dalam kantong kresek, meniru gerakan perempuan dewasa itu.
Andin memperhatikannya dan tanpa sadar senyumnya semakin lembut. Pemandangan sederhana itu terasa hangat, tanpa ia sadari anak itu memang benar-benar baik.
"Darrel makasih ya," ucap Andin yang tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
"Sama-sama Mbak Mama," sahutnya keceplosan.
Darrel langsung menutup mulutnya sendiri. "Maaf Mbak," ucapnya pelan.
Andin tersenyum kecil, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan panggilan itu, namun ia takut panggilan itu akan menjadi bumerang apalagi jika keluarga besar Nathan mengetahui itu.
"Gak apa-apa," kata Andin. "Tapi Mbak Andin lebih nyaman dipanggil Mbak," lanjut perempuan itu sambil ketawa.
"Iya iya, aku tahu, kan Mbak, Andin memang masih single makanya gak mau dipanggil Mama," celetuk anak itu dan seketika tawa terdengar diantara keduanya.
Namun beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan sekolah. Nathan turun dari mobilnya. Pria itu sebenarnya datang lebih cepat dari biasanya.
Entah kenapa sejak pagi tadi pikirannya terus kembali ke sekolah ini.
Dan sekarang, saat ia melihat Darrel duduk di samping Andin sambil membantu merapikan dagangan, dan tertawa bersama entah apa yang mereka tertawakan, langkahnya langsung terhenti.
Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Pemandangan itu, terlihat seperti sebuah keluarga kecil.
Nathan menghela napas pelan sebelum akhirnya berjalan mendekat.
“Darrel.”
Anak itu langsung menoleh.
“Daddy!”
Darrel segera berdiri dan berlari menghampiri Nathan.
“Aku bantu Mbak Andin tadi!”
Nathan menatap ke arah Andin. Perempuan itu hanya mengangguk tipis.
“Terima kasih sudah menemani Darrel menunggu,” ucap Nathan.
Andin menutup tas besar miliknya.
“Dia yang tidak mau duduk diam.”
Darrel langsung menyela dengan wajah serius.
“Darrel bukan gak mau diam! Darrel mau bantu!”
Nathan tertawa kecil. “Iya, iya.”
Namun sebelum mereka pergi, Darrel tiba-tiba kembali menarik tangan Nathan.
“Dad.”
“Iya?”
“Besok kalah Daddy telat lagi aku nunggu di sini lagi ya."
Nathan mengangkat alis. “Memangnya Daddy akan sibuk terus?"
Darrel nyengir kuda. "Ya siapa tahu, kan aku ingin lama-lama terus dekat Mbak Andin," ucapnya pelan. "Kaya Daddy gak pingin saja dekat Mbak Andin," celetuk anak itu.
Andin langsung menunduk pura-pura sibuk merapikan sesuatu. Sementara Nathan menatap anaknya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Ya sudah kalau gitu besok-besok Daddy telat, kamu boleh sama Mbak Andin.”
Wajah Darrel langsung bersinar.
Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan sepasang mata memperhatikan semuanya dengan tatapan tidak suka.
Seorang wanita tua berdiri tidak jauh dari gerbang sekolah. Tatapannya tajam menatap Andin.
“Benar-benar ya gadis itu.”
Wanita itu menyipitkan matanya.
“Sepertinya aku harus mengingatkanmu kembali… tempatmu bukan di kehidupan anakku.”
☘️☘️☘️☘️
Nathan sudah membuka pintu mobil untuk Darrel. Anak itu segera naik dengan wajah cerah, namun sebelum duduk ia masih sempat menoleh ke arah Andin yang berdiri di dekat gerbang.
“Mbak Andin!” panggilnya dari dalam mobil.
Andin yang sedang merapikan tas dagangannya langsung menoleh.
“Iya?”
Darrel menyeringai lebar. “Besok Darrel cerita lagi ya!”
Andin tertawa kecil mendengar itu. “Cerita apa lagi?”
“Rahasia!” jawab Darrel cepat, lalu duduk dengan rapi di kursinya.
Nathan menutup pintu mobil itu perlahan. Ia sempat menatap Andin sekilas sebelum berjalan menuju kursi kemudi.
“Terima kasih,” katanya singkat.
Andin hanya mengangguk kecil. “Darrel anak yang baik.”
Nathan tidak menjawab. Ia hanya menatap perempuan itu beberapa detik sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Mesin mobil menyala. Darrel langsung menempelkan wajahnya di kaca jendela.
“Mbak Andin! Dadah!”
Andin mengangkat tangannya sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan.”
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman sekolah. Andin masih berdiri beberapa saat di tempatnya sampai kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangan. Setelah itu barulah ia menghela napas pelan dan mengangkat tas besar di bahunya.
Ia mulai berjalan keluar dari gerbang sekolah.
Namun tidak jauh dari sana, sebuah mobil lain terparkir di pinggir jalan. Kaca mobil itu gelap, membuat siapa pun di luar tidak bisa melihat ke dalam.
Di balik kaca itu, sepasang mata sedang memperhatikan semuanya dengan sangat jelas.
Vivian.
Wanita itu duduk bersandar dengan ekspresi dingin sejak tadi. Ia melihat bagaimana Darrel begitu ceria saat bersama Andin.
Melihat bagaimana Nathan berbicara dengan wanita itu. Bahkan melihat bagaimana Darrel terus melambaikan tangan pada Andin dari dalam mobil.
Tangan Vivian perlahan mengepal.
“Dulu ayahnya, sekarang kenapa harus cucuku," gumamnya pelan.
Matanya kembali mengikuti langkah Andin yang berjalan menjauh dari gerbang sekolah dengan tas besar di bahunya.
Penampilannya sangat sederhana, jauh dari ekspetasi Vivian. Namun justru itu yang membuat wanita itu heran kenapa anak dan cucunya begitu menggilai perempuan itu.
Seolah tidak ada kapoknya wanita paruh baya itu ingin membuat ulah kembali bersama perempuan itu.
“Menarik,” ucap Vivian pelan.
Ia menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi, tetapi matanya tetap mengikuti langkah Andin yang semakin menjauh dari gerbang sekolah.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Aku akan memberikan kamu pelajaran lagi, rupanya yang kemarin tidak membuatmu kapok."
Tatapan Vivian semakin tajam. Ia tentu masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu berani melawannya di rumah sakit. Sikap tenang Andin saat itu bahkan sempat membuatnya kesal.
Namun melihat pemandangan tadi. Bagaimana Darrel begitu dekat dengan Andin.
Bagaimana Nathan tidak menjauhkan wanita itu dari kehidupan mereka, membuat Vivian semakin geram.
“Sepertinya kamu belum benar-benar mengerti posisimu, Andin,” lanjutnya pelan.
Vivian menatap lurus ke arah jalan tempat Andin menghilang. Wajahnya kembali datar, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“Kalau begitu… aku yang akan mengingatkanmu.”
Mobil itu tetap diam di tempatnya beberapa saat sebelum akhirnya mesin dinyalakan. Namun satu hal sudah jelas. Vivian tidak akan membiarkan Andin terus berada di dekat Nathan dan Darrel.
Dan cepat atau lambat. Wanita itu pasti akan kembali bergerak.
Bersambung ....
.